<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tabungan Kelas Menengah Melambat, Simpanan di Atas Rp5 Miliar Naik</title><description>LPS mengungkapkan adanya tren perlambatan pertumbuhan tabungan pada kelompok masyarakat kelas menengah dalam tiga bulan terakhir,&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/21/455/3231304/tabungan-kelas-menengah-melambat-simpanan-di-atas-rp5-miliar-naik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/21/455/3231304/tabungan-kelas-menengah-melambat-simpanan-di-atas-rp5-miliar-naik"/><item><title>Tabungan Kelas Menengah Melambat, Simpanan di Atas Rp5 Miliar Naik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/21/455/3231304/tabungan-kelas-menengah-melambat-simpanan-di-atas-rp5-miliar-naik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/21/455/3231304/tabungan-kelas-menengah-melambat-simpanan-di-atas-rp5-miliar-naik</guid><pubDate>Selasa 21 Juli 2026 07:46 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/21/455/3231304/rekening_bank-rCF5_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tabungan Kelas Menengah Melambat, Simpanan di Atas Rp5 Miliar Naik (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/21/455/3231304/rekening_bank-rCF5_large.jpg</image><title>Tabungan Kelas Menengah Melambat, Simpanan di Atas Rp5 Miliar Naik (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, mengungkapkan adanya tren perlambatan pertumbuhan tabungan pada kelompok masyarakat kelas menengah dalam tiga bulan terakhir, meski secara tahunan (year-on-year) nominal dan jumlah rekening masih menunjukkan kenaikan tipis.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya hanya memotret saja bahwa jumlah nominal jumlah rekening naik, itu saja khususnya year-on-year. Memang 3 bulan terakhir itu ada perlambatan, tetap naik,&amp;rdquo; ujar Anggito dikutip, Jakarta, Selasa (21/7/2026).&#13;
&#13;
Meski mencatat perlambatan, Anggito belum memberikan rincian angka pasti mengenai penurunan pertumbuhan tersebut.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi dinamika ini adalah semakin sedikitnya jumlah penduduk usia produktif (15-69 tahun) yang belum memiliki akses perbankan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Saat ini, jumlah penduduk yang belum memiliki rekening tersisa sekitar 15 juta jiwa, dengan angka penurunan rata-rata 2 juta orang setiap tahunnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jumlah penduduk yang tidak punya rekening semakin kecil sekarang. Kan setiap tahun saya monitor, turun sekitar 2 jutaan. Sekarang tinggal 15 juta. Berarti kan masyarakat punya rekening untuk beraktivitas. Terus rekening yang aktif, itu masih semakin banyak setahun terakhir ini,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
&#13;
Data tersebut, kata Anggito, mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat secara umum masih berjalan normal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sedangkan, LPS mencatat anomali pada segmen nasabah kaya, di mana jumlah rekening dengan saldo di atas Rp5 miliar justru mengalami peningkatan signifikan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sampai yang paling tinggi, yang paling besar, Rp5 miliar itu naiknya tinggi sekali. Potretnya mengatakan bahwa jumlah nominal, jumlah rekening naik,&amp;rdquo; kata dia.&#13;
&#13;
Menanggapi adanya pandangan mengenai rendahnya pertumbuhan kredit UMKM yang hanya berada di kisaran 0,5 persen hingga 1,6 persen,&amp;nbsp;&#13;
Anggito menilai kondisi ekonomi mikro sebenarnya masih cukup baik. Dia mengajak untuk melihat lebih jauh indikator-indikator lain di luar angka pertumbuhan kredit tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kok rendah sekali? Tapi kalau kita bedah lagi, sebetulnya masih banyak indikator yang bisa menunjukkan bahwa sektor mikronya juga baik,&amp;rdquo; kata Anggito.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, mengungkapkan adanya tren perlambatan pertumbuhan tabungan pada kelompok masyarakat kelas menengah dalam tiga bulan terakhir, meski secara tahunan (year-on-year) nominal dan jumlah rekening masih menunjukkan kenaikan tipis.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya hanya memotret saja bahwa jumlah nominal jumlah rekening naik, itu saja khususnya year-on-year. Memang 3 bulan terakhir itu ada perlambatan, tetap naik,&amp;rdquo; ujar Anggito dikutip, Jakarta, Selasa (21/7/2026).&#13;
&#13;
Meski mencatat perlambatan, Anggito belum memberikan rincian angka pasti mengenai penurunan pertumbuhan tersebut.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi dinamika ini adalah semakin sedikitnya jumlah penduduk usia produktif (15-69 tahun) yang belum memiliki akses perbankan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Saat ini, jumlah penduduk yang belum memiliki rekening tersisa sekitar 15 juta jiwa, dengan angka penurunan rata-rata 2 juta orang setiap tahunnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jumlah penduduk yang tidak punya rekening semakin kecil sekarang. Kan setiap tahun saya monitor, turun sekitar 2 jutaan. Sekarang tinggal 15 juta. Berarti kan masyarakat punya rekening untuk beraktivitas. Terus rekening yang aktif, itu masih semakin banyak setahun terakhir ini,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
&#13;
Data tersebut, kata Anggito, mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat secara umum masih berjalan normal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sedangkan, LPS mencatat anomali pada segmen nasabah kaya, di mana jumlah rekening dengan saldo di atas Rp5 miliar justru mengalami peningkatan signifikan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sampai yang paling tinggi, yang paling besar, Rp5 miliar itu naiknya tinggi sekali. Potretnya mengatakan bahwa jumlah nominal, jumlah rekening naik,&amp;rdquo; kata dia.&#13;
&#13;
Menanggapi adanya pandangan mengenai rendahnya pertumbuhan kredit UMKM yang hanya berada di kisaran 0,5 persen hingga 1,6 persen,&amp;nbsp;&#13;
Anggito menilai kondisi ekonomi mikro sebenarnya masih cukup baik. Dia mengajak untuk melihat lebih jauh indikator-indikator lain di luar angka pertumbuhan kredit tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kok rendah sekali? Tapi kalau kita bedah lagi, sebetulnya masih banyak indikator yang bisa menunjukkan bahwa sektor mikronya juga baik,&amp;rdquo; kata Anggito.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
