<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tak Cuma Kayu, Hutan RI Simpan Potensi Ekonomi Bernilai Tinggi</title><description>Pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti komoditas unggulan daerah dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan nilai tambah&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/22/320/3231747/tak-cuma-kayu-hutan-ri-simpan-potensi-ekonomi-bernilai-tinggi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/22/320/3231747/tak-cuma-kayu-hutan-ri-simpan-potensi-ekonomi-bernilai-tinggi"/><item><title>Tak Cuma Kayu, Hutan RI Simpan Potensi Ekonomi Bernilai Tinggi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/22/320/3231747/tak-cuma-kayu-hutan-ri-simpan-potensi-ekonomi-bernilai-tinggi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/22/320/3231747/tak-cuma-kayu-hutan-ri-simpan-potensi-ekonomi-bernilai-tinggi</guid><pubDate>Rabu 22 Juli 2026 21:49 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/22/320/3231747/hutan-MRsV_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Potensi bisnis kehutanan di Indonesia tidak hanya bergantung pada hasil hutan kayu. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/22/320/3231747/hutan-MRsV_large.jpg</image><title>Potensi bisnis kehutanan di Indonesia tidak hanya bergantung pada hasil hutan kayu. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Potensi bisnis kehutanan di Indonesia tidak hanya bergantung pada hasil hutan kayu. Pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti komoditas unggulan daerah dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat sekitar hutan.&#13;
&#13;
Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Soewarso, pengelolaan hutan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada pemanfaatan hasil hutan kayu, tetapi perlu mengoptimalkan potensi lain seperti hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Transformasi kebijakan melalui Multiusaha Kehutanan yang mengintegrasikan pemanfaatan hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, dan jasa lingkungan akan menjadi arus utama pengelolaan hutan ke depan,&amp;rdquo; kata Soewarso, Rabu(22/7/2026).&#13;
&#13;
Menurutnya, pengembangan Multiusaha Kehutanan membutuhkan dukungan riset untuk mengidentifikasi komoditas unggulan yang sesuai dengan karakteristik ekologis, sosial, dan ekonomi masing-masing daerah.&#13;
&#13;
Maluku Utara, kata Soewarso, memiliki beragam potensi hasil hutan bukan kayu yang dapat dikembangkan untuk memperkuat kinerja usaha kehutanan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dukungan riset perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk mengembangkan komoditas unggulan hasil hutan bukan kayu, mulai dari aspek budi daya, pengolahan, peningkatan nilai tambah, hingga pengembangan pasar,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Untuk mendorong pengembangan tersebut, APHI bersama Universitas Khairun menjalin kerja sama pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi pengelolaan hutan berkelanjutan. Salah satu fokus kerja sama adalah pengembangan Hutan Pendidikan Universitas Khairun sebagai lokasi riset dan uji coba penerapan Multiusaha Kehutanan.&#13;
&#13;
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Khairun Hasan Hamid mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha diperlukan agar pengembangan sektor kehutanan berjalan sesuai kebutuhan industri sekaligus menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami menyambut baik kehadiran dan komitmen APHI dalam membangun kerja sama dengan Universitas Khairun. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia usaha, khususnya dalam menyiapkan lulusan kehutanan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan,&amp;rdquo; kata Hasan.&#13;
&#13;
Ia menambahkan, kerja sama tersebut juga diarahkan untuk memperkuat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama dalam mendukung pembangunan sektor kehutanan di Maluku Utara.&#13;
&#13;
Pengembangan kawasan juga dapat menjadi sarana untuk menguji berbagai peluang usaha kehutanan, mulai dari pemanfaatan hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, hingga jasa lingkungan.&#13;
&#13;
Jadi, penguatan riset dan inovasi kehutanan menjadi faktor penting dalam mendorong sektor kehutanan yang produktif dan berkelanjutan. Selain meningkatkan daya saing industri, pengembangan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar hutan.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Potensi bisnis kehutanan di Indonesia tidak hanya bergantung pada hasil hutan kayu. Pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti komoditas unggulan daerah dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat sekitar hutan.&#13;
&#13;
Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Soewarso, pengelolaan hutan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada pemanfaatan hasil hutan kayu, tetapi perlu mengoptimalkan potensi lain seperti hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Transformasi kebijakan melalui Multiusaha Kehutanan yang mengintegrasikan pemanfaatan hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, dan jasa lingkungan akan menjadi arus utama pengelolaan hutan ke depan,&amp;rdquo; kata Soewarso, Rabu(22/7/2026).&#13;
&#13;
Menurutnya, pengembangan Multiusaha Kehutanan membutuhkan dukungan riset untuk mengidentifikasi komoditas unggulan yang sesuai dengan karakteristik ekologis, sosial, dan ekonomi masing-masing daerah.&#13;
&#13;
Maluku Utara, kata Soewarso, memiliki beragam potensi hasil hutan bukan kayu yang dapat dikembangkan untuk memperkuat kinerja usaha kehutanan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dukungan riset perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk mengembangkan komoditas unggulan hasil hutan bukan kayu, mulai dari aspek budi daya, pengolahan, peningkatan nilai tambah, hingga pengembangan pasar,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Untuk mendorong pengembangan tersebut, APHI bersama Universitas Khairun menjalin kerja sama pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi pengelolaan hutan berkelanjutan. Salah satu fokus kerja sama adalah pengembangan Hutan Pendidikan Universitas Khairun sebagai lokasi riset dan uji coba penerapan Multiusaha Kehutanan.&#13;
&#13;
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Khairun Hasan Hamid mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha diperlukan agar pengembangan sektor kehutanan berjalan sesuai kebutuhan industri sekaligus menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami menyambut baik kehadiran dan komitmen APHI dalam membangun kerja sama dengan Universitas Khairun. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia usaha, khususnya dalam menyiapkan lulusan kehutanan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan,&amp;rdquo; kata Hasan.&#13;
&#13;
Ia menambahkan, kerja sama tersebut juga diarahkan untuk memperkuat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama dalam mendukung pembangunan sektor kehutanan di Maluku Utara.&#13;
&#13;
Pengembangan kawasan juga dapat menjadi sarana untuk menguji berbagai peluang usaha kehutanan, mulai dari pemanfaatan hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, hingga jasa lingkungan.&#13;
&#13;
Jadi, penguatan riset dan inovasi kehutanan menjadi faktor penting dalam mendorong sektor kehutanan yang produktif dan berkelanjutan. Selain meningkatkan daya saing industri, pengembangan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar hutan.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
