<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Berpeluang Jadi Negara Terdepan Implementasi Mobil Terbang</title><description>Indonesia memiliki peluang menjadi salah satu negara terdepan dalam implementasi eVTOL (electric Vertical Take-Off and Landing) atau sering disebut sebagai mobil terbang.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/23/320/3231824/indonesia-berpeluang-jadi-negara-terdepan-implementasi-mobil-terbang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/23/320/3231824/indonesia-berpeluang-jadi-negara-terdepan-implementasi-mobil-terbang"/><item><title>Indonesia Berpeluang Jadi Negara Terdepan Implementasi Mobil Terbang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/23/320/3231824/indonesia-berpeluang-jadi-negara-terdepan-implementasi-mobil-terbang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/23/320/3231824/indonesia-berpeluang-jadi-negara-terdepan-implementasi-mobil-terbang</guid><pubDate>Kamis 23 Juli 2026 11:56 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/23/320/3231824/inaca-zvH6_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia Berpeluang Jadi Negara Terdepan Implementasi Mobil Terbang (Foto: Dokumentasi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/23/320/3231824/inaca-zvH6_large.jpg</image><title>Indonesia Berpeluang Jadi Negara Terdepan Implementasi Mobil Terbang (Foto: Dokumentasi)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia memiliki peluang menjadi salah satu negara terdepan dalam implementasi eVTOL (electric Vertical Take-Off and Landing) atau sering disebut sebagai mobil terbang. Hal ini karena kebutuhan konektivitasnya berbeda dari kebanyakan negara lain.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pandangan tersebut disampaikan Chairman INACA dan Founder serta CEO Whitesky Group Denon Prawiraatmadja dalam rangkaian forum Advanced Air Mobility di Shanghai, China, Rabu 22 Juli 2026.&#13;
&#13;
Menurutnya, eVTOL tidak seharusnya hanya dikembangkan sebagai taksi udara untuk mobilitas masyarakat di kota-kota besar. Bagi Indonesia, teknologi ini bisa menjadi bagian dari solusi konektivitas negara kepulauan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Indonesia mempunyai peluang menjadi salah satu negara paling maju dalam implementasi eVTOL. Bukan hanya untuk mobilitas perkotaan, mendukung konektivitas antar pulau jarak pendek, wilayah terpencil, kawasan industri, dan pusat pertumbuhan ekonomi baru,&amp;quot; ujar Denon dalam keterangannya.&#13;
&#13;
Karakter geografis Indonesia menuntut pendekatan transportasi yang berbeda dari negara dengan jaringan jalan dan kereta yang telah terhubung menyeluruh. Pusat produksi, kawasan industri, destinasi pariwisata, dan wilayah sumber daya alam tersebar di berbagai pulau, sebagian membutuhkan perjalanan darat berjam-jam dari bandara atau pusat kota terdekat.&#13;
&#13;
Dalam kondisi ini, eVTOL dapat dikembangkan sebagai moda pelengkap untuk akses dari dan menuju bandara, perjalanan antarpulau jarak pendek, layanan darurat, konektivitas pariwisata, serta mobilitas menuju pusat-pusat pertumbuhan baru.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bagi Indonesia, eVTOL bukan sekadar produk teknologi. Ukuran keberhasilannya adalah apakah teknologi ini mampu memperpendek waktu perjalanan, membuka akses baru, dan menciptakan nilai ekonomi,&amp;quot; kata Denon.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Meski demikian, ia menegaskan ambisi tersebut tidak boleh mengesampingkan prinsip dasar industri penerbangan. Keselamatan, sertifikasi, kompetensi operator, sistem pemeliharaan, dan kesiapan infrastruktur harus dipenuhi sebelum eVTOL dapat dioperasikan secara komersial.&#13;
&#13;
&amp;quot;Teknologinya boleh berkembang, tetapi prinsip penerbangan tetap sama. Keselamatan harus menjadi fondasi utama sebelum kita berbicara mengenai skala operasi dan jumlah armada,&amp;quot; tegas Denon Prawiraatmadja.&#13;
&#13;
Dia mendorong agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar tujuan bagi produsen eVTOL global, tetapi juga ikut membangun model operasi, infrastruktur, pembiayaan, dan ekosistem yang sesuai dengan kebutuhan negara kepulauan.&#13;
&#13;
Layanan eVTOL juga perlu terhubung dengan bandara, transportasi darat, kawasan bisnis, dan platform digital agar perjalanan penumpang dapat berlangsung secara terintegrasi dari titik awal hingga tujuan akhir.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia memiliki peluang menjadi salah satu negara terdepan dalam implementasi eVTOL (electric Vertical Take-Off and Landing) atau sering disebut sebagai mobil terbang. Hal ini karena kebutuhan konektivitasnya berbeda dari kebanyakan negara lain.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pandangan tersebut disampaikan Chairman INACA dan Founder serta CEO Whitesky Group Denon Prawiraatmadja dalam rangkaian forum Advanced Air Mobility di Shanghai, China, Rabu 22 Juli 2026.&#13;
&#13;
Menurutnya, eVTOL tidak seharusnya hanya dikembangkan sebagai taksi udara untuk mobilitas masyarakat di kota-kota besar. Bagi Indonesia, teknologi ini bisa menjadi bagian dari solusi konektivitas negara kepulauan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Indonesia mempunyai peluang menjadi salah satu negara paling maju dalam implementasi eVTOL. Bukan hanya untuk mobilitas perkotaan, mendukung konektivitas antar pulau jarak pendek, wilayah terpencil, kawasan industri, dan pusat pertumbuhan ekonomi baru,&amp;quot; ujar Denon dalam keterangannya.&#13;
&#13;
Karakter geografis Indonesia menuntut pendekatan transportasi yang berbeda dari negara dengan jaringan jalan dan kereta yang telah terhubung menyeluruh. Pusat produksi, kawasan industri, destinasi pariwisata, dan wilayah sumber daya alam tersebar di berbagai pulau, sebagian membutuhkan perjalanan darat berjam-jam dari bandara atau pusat kota terdekat.&#13;
&#13;
Dalam kondisi ini, eVTOL dapat dikembangkan sebagai moda pelengkap untuk akses dari dan menuju bandara, perjalanan antarpulau jarak pendek, layanan darurat, konektivitas pariwisata, serta mobilitas menuju pusat-pusat pertumbuhan baru.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bagi Indonesia, eVTOL bukan sekadar produk teknologi. Ukuran keberhasilannya adalah apakah teknologi ini mampu memperpendek waktu perjalanan, membuka akses baru, dan menciptakan nilai ekonomi,&amp;quot; kata Denon.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Meski demikian, ia menegaskan ambisi tersebut tidak boleh mengesampingkan prinsip dasar industri penerbangan. Keselamatan, sertifikasi, kompetensi operator, sistem pemeliharaan, dan kesiapan infrastruktur harus dipenuhi sebelum eVTOL dapat dioperasikan secara komersial.&#13;
&#13;
&amp;quot;Teknologinya boleh berkembang, tetapi prinsip penerbangan tetap sama. Keselamatan harus menjadi fondasi utama sebelum kita berbicara mengenai skala operasi dan jumlah armada,&amp;quot; tegas Denon Prawiraatmadja.&#13;
&#13;
Dia mendorong agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar tujuan bagi produsen eVTOL global, tetapi juga ikut membangun model operasi, infrastruktur, pembiayaan, dan ekosistem yang sesuai dengan kebutuhan negara kepulauan.&#13;
&#13;
Layanan eVTOL juga perlu terhubung dengan bandara, transportasi darat, kawasan bisnis, dan platform digital agar perjalanan penumpang dapat berlangsung secara terintegrasi dari titik awal hingga tujuan akhir.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
