<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tak Cukup Andalkan Investasi, Ini Syarat Indonesia Bisa Jadi Negara Maju</title><description>Melalui Danantara pemerintah mendorong investasi pada sektor strategis yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/28/320/3232788/tak-cukup-andalkan-investasi-ini-syarat-indonesia-bisa-jadi-negara-maju</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/28/320/3232788/tak-cukup-andalkan-investasi-ini-syarat-indonesia-bisa-jadi-negara-maju"/><item><title>Tak Cukup Andalkan Investasi, Ini Syarat Indonesia Bisa Jadi Negara Maju</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/28/320/3232788/tak-cukup-andalkan-investasi-ini-syarat-indonesia-bisa-jadi-negara-maju</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/28/320/3232788/tak-cukup-andalkan-investasi-ini-syarat-indonesia-bisa-jadi-negara-maju</guid><pubDate>Selasa 28 Juli 2026 16:05 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/28/320/3232788/investasi-kSm2_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan investasi asing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah transisi menuju ekonomi hijau. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/28/320/3232788/investasi-kSm2_large.jpg</image><title>Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan investasi asing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah transisi menuju ekonomi hijau. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan investasi asing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah transisi menuju ekonomi hijau. Penguasaan teknologi, inovasi, serta lahirnya perusahaan nasional berkelas global menjadi kunci agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan menjadi negara maju.&#13;
&#13;
Menurut Wakil Koordinator Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi Dimas Muhamad, pembangunan industri harus menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Menurutnya, pengalaman Korea Selatan dan Vietnam menunjukkan bahwa transformasi ekonomi hanya dapat dicapai melalui penguatan sektor industri yang mampu menguasai teknologi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau kita ingin menjadi negara maju dan menghadirkan lapangan kerja berkualitas, kita harus memiliki industri yang kokoh sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi,&amp;quot; ujar Dimas, Selasa (28/7/2026).&#13;
&#13;
Dimas menegaskan, keberhasilan industrialisasi tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk ke Indonesia. Yang lebih penting adalah kemampuan perusahaan nasional menyerap teknologi, berinovasi, dan mampu bersaing di pasar global.&#13;
&#13;
&amp;quot;Made in Indonesia saja belum cukup. Yang kita butuhkan adalah Made by Indonesia. Kita harus memiliki perusahaan nasional yang mampu menyerap teknologi, berinovasi, dan menjadi global champion,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Menurut Dimas, negara yang berhasil melakukan transformasi industri tidak hanya mengandalkan investasi (investment), tetapi juga mampu menyerap teknologi (infusion) dan menghasilkan inovasi (innovation). Karena itu, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mendukung pengembangan industri strategis sekaligus menciptakan ruang bagi inovasi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau kita sepakat Indonesia harus melakukan industrialisasi hijau, maka kita juga harus membangun koalisi yang sama kuatnya. Ini bukan sekadar membantu industri, tetapi menciptakan lapangan kerja berkualitas dan menjadikan Indonesia bangsa yang produktif serta mampu menciptakan teknologinya sendiri,&amp;quot; tuturnya.&#13;
&#13;
Senada, Managing Director Industrialization Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Ardy Muawin menilai tidak ada negara maju yang memiliki industri lemah atau bergantung pada teknologi negara lain.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tidak ada satu pun negara maju di dunia yang memiliki industri lemah dan tidak menguasai teknologi. Industrialisasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal membangun masa depan bangsa,&amp;quot; ujar Ardy.&#13;
&#13;
Ia menilai Indonesia selama ini masih terlalu bergantung pada ekspor sumber daya alam dan keunggulan tenaga kerja murah. Menurutnya, pola tersebut tidak cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau kita hanya mengikuti mekanisme pasar, Indonesia akan terus menjual sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Pertanyaannya, apakah itu masa depan yang kita inginkan sebagai sebuah bangsa?&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Ardy menjelaskan, melalui Danantara pemerintah mendorong investasi pada sektor strategis yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Fokusnya tidak hanya pada hilirisasi sumber daya alam, tetapi juga pembangunan industri baru yang didukung transfer teknologi, pengembangan talenta, dan penguatan rantai pasok nasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami tidak hanya mencari investor. Pertanyaan kami selalu sama, apa teknologi yang bisa dibawa ke Indonesia dan bagaimana teknologi itu dapat ditransfer agar kita mampu membangun kemampuan sendiri,&amp;quot; ucapnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, President Director Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya F. Arif mengatakan penguasaan teknologi menjadi tantangan utama dalam membangun industri baterai nasional. Menurutnya, kemitraan dengan perusahaan global merupakan langkah awal untuk mempelajari teknologi dan proses manufaktur baterai.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita memulai dari kemitraan dengan pemain global untuk belajar mengoperasikan teknologi. Tetapi kami tidak boleh berhenti di sana. Target akhirnya adalah membangun kapabilitas dan memiliki teknologi sendiri,&amp;quot; ujar Aditya.&#13;
&#13;
Ia menambahkan, industri baterai berkembang sangat cepat sehingga Indonesia perlu memperkuat riset, inovasi, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi guna menyiapkan talenta yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Yang kami bangun bukan sekadar pabrik baterai, tetapi kemampuan teknologi Indonesia. Oleh karena itu, IBC tidak hanya berarti Indonesia Battery Corporation. Bagi kami, IBC juga berarti Indonesia Battery Champion,&amp;quot; tutupnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan investasi asing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah transisi menuju ekonomi hijau. Penguasaan teknologi, inovasi, serta lahirnya perusahaan nasional berkelas global menjadi kunci agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan menjadi negara maju.&#13;
&#13;
Menurut Wakil Koordinator Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi Dimas Muhamad, pembangunan industri harus menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Menurutnya, pengalaman Korea Selatan dan Vietnam menunjukkan bahwa transformasi ekonomi hanya dapat dicapai melalui penguatan sektor industri yang mampu menguasai teknologi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau kita ingin menjadi negara maju dan menghadirkan lapangan kerja berkualitas, kita harus memiliki industri yang kokoh sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi,&amp;quot; ujar Dimas, Selasa (28/7/2026).&#13;
&#13;
Dimas menegaskan, keberhasilan industrialisasi tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk ke Indonesia. Yang lebih penting adalah kemampuan perusahaan nasional menyerap teknologi, berinovasi, dan mampu bersaing di pasar global.&#13;
&#13;
&amp;quot;Made in Indonesia saja belum cukup. Yang kita butuhkan adalah Made by Indonesia. Kita harus memiliki perusahaan nasional yang mampu menyerap teknologi, berinovasi, dan menjadi global champion,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Menurut Dimas, negara yang berhasil melakukan transformasi industri tidak hanya mengandalkan investasi (investment), tetapi juga mampu menyerap teknologi (infusion) dan menghasilkan inovasi (innovation). Karena itu, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mendukung pengembangan industri strategis sekaligus menciptakan ruang bagi inovasi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau kita sepakat Indonesia harus melakukan industrialisasi hijau, maka kita juga harus membangun koalisi yang sama kuatnya. Ini bukan sekadar membantu industri, tetapi menciptakan lapangan kerja berkualitas dan menjadikan Indonesia bangsa yang produktif serta mampu menciptakan teknologinya sendiri,&amp;quot; tuturnya.&#13;
&#13;
Senada, Managing Director Industrialization Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Ardy Muawin menilai tidak ada negara maju yang memiliki industri lemah atau bergantung pada teknologi negara lain.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tidak ada satu pun negara maju di dunia yang memiliki industri lemah dan tidak menguasai teknologi. Industrialisasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal membangun masa depan bangsa,&amp;quot; ujar Ardy.&#13;
&#13;
Ia menilai Indonesia selama ini masih terlalu bergantung pada ekspor sumber daya alam dan keunggulan tenaga kerja murah. Menurutnya, pola tersebut tidak cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau kita hanya mengikuti mekanisme pasar, Indonesia akan terus menjual sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Pertanyaannya, apakah itu masa depan yang kita inginkan sebagai sebuah bangsa?&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Ardy menjelaskan, melalui Danantara pemerintah mendorong investasi pada sektor strategis yang mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Fokusnya tidak hanya pada hilirisasi sumber daya alam, tetapi juga pembangunan industri baru yang didukung transfer teknologi, pengembangan talenta, dan penguatan rantai pasok nasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami tidak hanya mencari investor. Pertanyaan kami selalu sama, apa teknologi yang bisa dibawa ke Indonesia dan bagaimana teknologi itu dapat ditransfer agar kita mampu membangun kemampuan sendiri,&amp;quot; ucapnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, President Director Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya F. Arif mengatakan penguasaan teknologi menjadi tantangan utama dalam membangun industri baterai nasional. Menurutnya, kemitraan dengan perusahaan global merupakan langkah awal untuk mempelajari teknologi dan proses manufaktur baterai.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita memulai dari kemitraan dengan pemain global untuk belajar mengoperasikan teknologi. Tetapi kami tidak boleh berhenti di sana. Target akhirnya adalah membangun kapabilitas dan memiliki teknologi sendiri,&amp;quot; ujar Aditya.&#13;
&#13;
Ia menambahkan, industri baterai berkembang sangat cepat sehingga Indonesia perlu memperkuat riset, inovasi, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi guna menyiapkan talenta yang mampu mengikuti perkembangan teknologi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Yang kami bangun bukan sekadar pabrik baterai, tetapi kemampuan teknologi Indonesia. Oleh karena itu, IBC tidak hanya berarti Indonesia Battery Corporation. Bagi kami, IBC juga berarti Indonesia Battery Champion,&amp;quot; tutupnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
