<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>GOTO Masih Cetak Laba Di Tengah Tantangan Komisi 8 Persen</title><description>Capaian ini diraih GoTo di tengah industri ride-hailing memasuki babak baru, pasca kebijakan komisi 8 persen yang diberlakukan sejak 1 Juli 2026.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/29/11/3233086/goto-masih-cetak-laba-di-tengah-tantangan-komisi-8-persen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/29/11/3233086/goto-masih-cetak-laba-di-tengah-tantangan-komisi-8-persen"/><item><title>GOTO Masih Cetak Laba Di Tengah Tantangan Komisi 8 Persen</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/29/11/3233086/goto-masih-cetak-laba-di-tengah-tantangan-komisi-8-persen</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/29/11/3233086/goto-masih-cetak-laba-di-tengah-tantangan-komisi-8-persen</guid><pubDate>Rabu 29 Juli 2026 21:31 WIB</pubDate><dc:creator>Anindita Trinoviana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/29/11/3233086/goto_masih_cetak_laba_di_tengah_tantangan_komisi_8_persen-G2Ma_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">GOTO Masih Cetak Laba Di Tengah Tantangan Komisi 8 Persen. (Foto: Arif Julianto/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/29/11/3233086/goto_masih_cetak_laba_di_tengah_tantangan_komisi_8_persen-G2Ma_large.jpg</image><title>GOTO Masih Cetak Laba Di Tengah Tantangan Komisi 8 Persen. (Foto: Arif Julianto/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Perusahaan teknologi yang menaungi Gojek dan GoPay, PT GoTo Gojek Tokopedia TBK (GoTo) kembali mencetak laba bersih di kuartal II-2026. Pencapaian ini diraih GoTo di tengah industri ride-hailing yang tengah memasuki babak baru, pasca kebijakan komisi 8 persen&amp;nbsp;yang diberlakukan sejak 1 Juli 2026.&#13;
&#13;
GoTo mencatatkan laba bersih sebesar Rp252 miliar di kuartal II-2026, meningkat 47 persen&amp;nbsp;dari kuartal sebelumnya. Pendapatan bersih grup juga tercatat meningkat 31% secara tahunan (year-on-year) mencapai Rp5,7 triliun.&#13;
&#13;
Direktur Utama GoTo Hans Patuwo mengungkapkan perusahaan harus menerapkan beberapa penyesuaian, sebab layanan angkutan roda dua menyumbang 7 persen&amp;nbsp;terhadap pendapatan bersih grup. Meski demikian Hans memastikan perusahaan berhasil mempertahankan kondisi bisnis tetap stabil.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil. Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya,&amp;rdquo; ucap Hans dalam keterangan resminya, Rabu (29/7/2026).&#13;
&#13;
Sebagai dampak dari kebijakan komisi 8 persen, Hans mengungkapkan perseroan memutuskan untuk menurunkan pedoman kinerja On-demand Services (lini bisnis yang menaungi layanan angkutan roda dua, roda empat, serta layanan delivery), dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun menjadi Rp1,4 - 1,5 triliun.&#13;
&#13;
Meskipun demikian pedoman EBITDA Group yang disesuaikan setahun penuh tetap dipertahankan, yakni Rp3,2-2,4 triliun. Hal ini diraih meningkatkan pedoman kinerja lini bisnis teknologi keuangan GoPay menjadi Rp1,7-1,8 triliun dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, di tengah ketidakpastian industri ride-hailing, lini bisnis On-Demand-Service masih mampu bertumbuh. Di kuartal II-2026 tercatat Gross Transaction Value atau GTV lini bisnis On-Demand-Service naik 2,0 persen&amp;nbsp;secara tahunan mencapai Rp16,7 triliun. Segmen affluent market atau pengguna berpengeluaran sangat tinggi berkontribusi besar terhadap pencapaian ini.&#13;
&#13;
Hans memastikan pencapaian yang diraih akan kembali diinvestasikan untuk mendukung mitra driver Gojek. Sejalan dengan komitmen perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan mitra, Gojek akan terus memperluas berbagai Program Apresiasi Mitra dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan dan pendidikan.&#13;
&#13;
Sejumlah program yang telah berjalan antara lain pemberian beasiswa, serta BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan untuk mitra dan keluarga, hingga kesempatan Umrah gratis.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,&amp;rdquo; tutur&amp;nbsp;Hans.&#13;
&#13;
Sebelumnya, pemerintah resmi memberlakukan kebijakan komisi 8 persen&amp;nbsp;sejak 1 Juli 2026. Dengan kebijakan ini, aplikator menerima 8 persen&amp;nbsp;potongan aplikasi dari biaya perjalanan, sementara 92 persen&amp;nbsp;bagiannya akan menjadi pendapatan mitra driver. Perubahan skema bagi hasil ini diakui sejumlah aplikator seperti Gojek dan Grab membawa penyesuaian untuk perusahaan agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Perusahaan teknologi yang menaungi Gojek dan GoPay, PT GoTo Gojek Tokopedia TBK (GoTo) kembali mencetak laba bersih di kuartal II-2026. Pencapaian ini diraih GoTo di tengah industri ride-hailing yang tengah memasuki babak baru, pasca kebijakan komisi 8 persen&amp;nbsp;yang diberlakukan sejak 1 Juli 2026.&#13;
&#13;
GoTo mencatatkan laba bersih sebesar Rp252 miliar di kuartal II-2026, meningkat 47 persen&amp;nbsp;dari kuartal sebelumnya. Pendapatan bersih grup juga tercatat meningkat 31% secara tahunan (year-on-year) mencapai Rp5,7 triliun.&#13;
&#13;
Direktur Utama GoTo Hans Patuwo mengungkapkan perusahaan harus menerapkan beberapa penyesuaian, sebab layanan angkutan roda dua menyumbang 7 persen&amp;nbsp;terhadap pendapatan bersih grup. Meski demikian Hans memastikan perusahaan berhasil mempertahankan kondisi bisnis tetap stabil.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil. Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya,&amp;rdquo; ucap Hans dalam keterangan resminya, Rabu (29/7/2026).&#13;
&#13;
Sebagai dampak dari kebijakan komisi 8 persen, Hans mengungkapkan perseroan memutuskan untuk menurunkan pedoman kinerja On-demand Services (lini bisnis yang menaungi layanan angkutan roda dua, roda empat, serta layanan delivery), dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun menjadi Rp1,4 - 1,5 triliun.&#13;
&#13;
Meskipun demikian pedoman EBITDA Group yang disesuaikan setahun penuh tetap dipertahankan, yakni Rp3,2-2,4 triliun. Hal ini diraih meningkatkan pedoman kinerja lini bisnis teknologi keuangan GoPay menjadi Rp1,7-1,8 triliun dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, di tengah ketidakpastian industri ride-hailing, lini bisnis On-Demand-Service masih mampu bertumbuh. Di kuartal II-2026 tercatat Gross Transaction Value atau GTV lini bisnis On-Demand-Service naik 2,0 persen&amp;nbsp;secara tahunan mencapai Rp16,7 triliun. Segmen affluent market atau pengguna berpengeluaran sangat tinggi berkontribusi besar terhadap pencapaian ini.&#13;
&#13;
Hans memastikan pencapaian yang diraih akan kembali diinvestasikan untuk mendukung mitra driver Gojek. Sejalan dengan komitmen perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan mitra, Gojek akan terus memperluas berbagai Program Apresiasi Mitra dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan dan pendidikan.&#13;
&#13;
Sejumlah program yang telah berjalan antara lain pemberian beasiswa, serta BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan untuk mitra dan keluarga, hingga kesempatan Umrah gratis.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,&amp;rdquo; tutur&amp;nbsp;Hans.&#13;
&#13;
Sebelumnya, pemerintah resmi memberlakukan kebijakan komisi 8 persen&amp;nbsp;sejak 1 Juli 2026. Dengan kebijakan ini, aplikator menerima 8 persen&amp;nbsp;potongan aplikasi dari biaya perjalanan, sementara 92 persen&amp;nbsp;bagiannya akan menjadi pendapatan mitra driver. Perubahan skema bagi hasil ini diakui sejumlah aplikator seperti Gojek dan Grab membawa penyesuaian untuk perusahaan agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
