<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kelas Menengah RI Makan Tabungan, Simpanan Orang Kaya Makin Banyak</title><description>Riset Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mencatat rata-rata nominal tabungan masyarakat pada kelompok simpanan di bawah Rp100 juta terus merosot.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/31/622/3233379/kelas-menengah-ri-makan-tabungan-simpanan-orang-kaya-makin-banyak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/07/31/622/3233379/kelas-menengah-ri-makan-tabungan-simpanan-orang-kaya-makin-banyak"/><item><title>Kelas Menengah RI Makan Tabungan, Simpanan Orang Kaya Makin Banyak</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/07/31/622/3233379/kelas-menengah-ri-makan-tabungan-simpanan-orang-kaya-makin-banyak</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/07/31/622/3233379/kelas-menengah-ri-makan-tabungan-simpanan-orang-kaya-makin-banyak</guid><pubDate>Jum'at 31 Juli 2026 13:36 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/31/622/3233379/rekening_bank-N5n6_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kelas Menengah RI Makan Tabungan, Simpanan Orang Kaya Makin Banyak (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/31/622/3233379/rekening_bank-N5n6_large.jpg</image><title>Kelas Menengah RI Makan Tabungan, Simpanan Orang Kaya Makin Banyak (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Riset Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mencatat rata-rata nominal tabungan masyarakat pada kelompok simpanan di bawah Rp100 juta terus merosot dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memicu maraknya fenomena &amp;quot;makan tabungan&amp;quot; untuk memenuhi kebutuhan harian.&#13;
&#13;
Berdasarkan data Perbanas, rata-rata saldo rekening pada segmen di bawah Rp100 juta masih berada di angka Rp3,1 juta per rekening pada 2018. Angka tersebut menyusut menjadi Rp1,8 juta per rekening pada 2024 dan kembali turun hingga menyentuh Rp1,7 juta per rekening per Mei 2026.&#13;
&#13;
Chief Economist Perbanas Winang Budoyo mengatakan, meskipun akumulasi total dana simpanan pada segmen tersebut secara umum masih tumbuh, nilai tabungan per individu memperlihatkan tren penurunan yang nyata.&#13;
&#13;
&amp;quot;Artinya lebih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dibandingkan kemampuan mereka untuk mengakumulasi tabungan. Di situlah muncul fenomena yang kami sebut sebagai &amp;#39;makan tabungan&amp;#39;,&amp;quot; ujar Winang dalam Kelas Jurnalis Perbanas (KJP) di Jakarta, Kamis (30/7/2026).&#13;
&#13;
Kondisi bertolak belakang terjadi pada kelompok nasabah bermodal besar dengan simpanan di atas Rp10 miliar. Nilai tabungan pada segmen ini terus menunjukkan kenaikan, terutama pada simpanan berdenominasi valuta asing (valas), khususnya dolar Amerika Serikat (AS).&#13;
&#13;
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juni 2026 mencatat jumlah rekening dolar AS melesat 185,5 persen secara year on year (YoY).&#13;
&#13;
Sejalan dengan tren tersebut, total nominal simpanan valas bertumbuh dua digit hingga mencapai Rp1.741,46 triliun, atau naik 19,5 persen YoY.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurut Winang, lonjakan simpanan valas ini dipicu oleh dorongan pemilik modal untuk mencari aset lindung nilai (hedging) di tengah dinamika pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.&#13;
&#13;
&amp;quot;Karena Rupiah melemah, masyarakat mencari rasa aman dengan menyimpan uangnya dalam bentuk dolar,&amp;quot; jelas Winang.&#13;
&#13;
Winang menambahkan, pengalihan instrumen simpanan ini tidak mengubah esensi perputaran uang secara mendasar, melainkan menjadi langkah preventif nasabah dalam menjaga nilai riil aset mereka.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dari sisi perputaran uang sebenarnya tetap sama. Hanya saja, dana tersebut dikonversi dari rupiah ke dolar untuk menjaga keamanan nilai uang mereka,&amp;quot; kata Winang.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Riset Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mencatat rata-rata nominal tabungan masyarakat pada kelompok simpanan di bawah Rp100 juta terus merosot dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memicu maraknya fenomena &amp;quot;makan tabungan&amp;quot; untuk memenuhi kebutuhan harian.&#13;
&#13;
Berdasarkan data Perbanas, rata-rata saldo rekening pada segmen di bawah Rp100 juta masih berada di angka Rp3,1 juta per rekening pada 2018. Angka tersebut menyusut menjadi Rp1,8 juta per rekening pada 2024 dan kembali turun hingga menyentuh Rp1,7 juta per rekening per Mei 2026.&#13;
&#13;
Chief Economist Perbanas Winang Budoyo mengatakan, meskipun akumulasi total dana simpanan pada segmen tersebut secara umum masih tumbuh, nilai tabungan per individu memperlihatkan tren penurunan yang nyata.&#13;
&#13;
&amp;quot;Artinya lebih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dibandingkan kemampuan mereka untuk mengakumulasi tabungan. Di situlah muncul fenomena yang kami sebut sebagai &amp;#39;makan tabungan&amp;#39;,&amp;quot; ujar Winang dalam Kelas Jurnalis Perbanas (KJP) di Jakarta, Kamis (30/7/2026).&#13;
&#13;
Kondisi bertolak belakang terjadi pada kelompok nasabah bermodal besar dengan simpanan di atas Rp10 miliar. Nilai tabungan pada segmen ini terus menunjukkan kenaikan, terutama pada simpanan berdenominasi valuta asing (valas), khususnya dolar Amerika Serikat (AS).&#13;
&#13;
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juni 2026 mencatat jumlah rekening dolar AS melesat 185,5 persen secara year on year (YoY).&#13;
&#13;
Sejalan dengan tren tersebut, total nominal simpanan valas bertumbuh dua digit hingga mencapai Rp1.741,46 triliun, atau naik 19,5 persen YoY.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurut Winang, lonjakan simpanan valas ini dipicu oleh dorongan pemilik modal untuk mencari aset lindung nilai (hedging) di tengah dinamika pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.&#13;
&#13;
&amp;quot;Karena Rupiah melemah, masyarakat mencari rasa aman dengan menyimpan uangnya dalam bentuk dolar,&amp;quot; jelas Winang.&#13;
&#13;
Winang menambahkan, pengalihan instrumen simpanan ini tidak mengubah esensi perputaran uang secara mendasar, melainkan menjadi langkah preventif nasabah dalam menjaga nilai riil aset mereka.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dari sisi perputaran uang sebenarnya tetap sama. Hanya saja, dana tersebut dikonversi dari rupiah ke dolar untuk menjaga keamanan nilai uang mereka,&amp;quot; kata Winang.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
