<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekspor CPO Terdampak Penerapan B50 dan El Nino</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya (HS 1511) tetap mengalami pertumbuhan&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/08/03/320/3233905/ekspor-cpo-terdampak-penerapan-b50-dan-el-nino</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/08/03/320/3233905/ekspor-cpo-terdampak-penerapan-b50-dan-el-nino"/><item><title>Ekspor CPO Terdampak Penerapan B50 dan El Nino</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/08/03/320/3233905/ekspor-cpo-terdampak-penerapan-b50-dan-el-nino</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/08/03/320/3233905/ekspor-cpo-terdampak-penerapan-b50-dan-el-nino</guid><pubDate>Senin 03 Agustus 2026 20:13 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/08/03/320/3233905/cpo-ezyV_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Nilai ekspor CPO pada semester I-2026 tumbuh sebesar 7,32 persen. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan pada semester I-2025. (foto ;okezone.com/Kemenkop)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/08/03/320/3233905/cpo-ezyV_large.jpg</image><title>Nilai ekspor CPO pada semester I-2026 tumbuh sebesar 7,32 persen. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan pada semester I-2025. (foto ;okezone.com/Kemenkop)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya (HS 1511) tetap mengalami pertumbuhan pada semester I-2026, meski lajunya melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.&#13;
&#13;
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, nilai ekspor CPO pada semester I-2026 tumbuh sebesar 7,32 persen. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan pada semester I-2025 yang mencapai 24,80 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini artinya nilai ekspor CPO pada semester I masih mengalami kenaikan ya, tadi 7,3 persen. Namun saya ulangin, jika pertumbuhannya dibandingkan dengan semester I tahun 2025, maka pertumbuhan pada semester I tahun 2026 mengalami perlambatan. Jadi kalau tadinya tumbuh cepat, sekarang tumbuh di bawahnya. Sama-sama tumbuh, tetapi pertumbuhannya mengalami perlambatan,&amp;quot; kata Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, Senin (3/8/2026).&#13;
&#13;
Terkait kebijakan mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang mulai diimplementasikan pada Juli 2026, BPS menilai kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi volume ekspor produk kelapa sawit Indonesia, khususnya pada paruh kedua tahun ini.&#13;
&#13;
Meski demikian, BPS tidak memberikan estimasi kuantitatif mengenai besarnya penurunan ekspor dan menekankan pentingnya kajian lebih lanjut berdasarkan data realisasi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Namun untuk penerapan B50 yang akan dimulai, kita tahu bersama pada bulan Juli 2026, ini cenderung berpotensi akan memengaruhi volume ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia, khususnya nanti pada semester II tahun 2026,&amp;quot; ujar Ateng.&#13;
&#13;
Ia menambahkan, dampak pasti dari penerapan B50 akan bergantung pada sejumlah variabel industri.&#13;
&#13;
&amp;quot;Seberapa banyak pengaruhnya kita tunggu saja nanti pada rilis berikutnya. Hal ini tentunya perlu dikaji lebih lanjut, antara lain melibatkan berbagai informasi seperti produksi dan persediaan minyak sawit. Kemudian juga bagaimana peningkatan permintaan atau demand di dalam negeri, serta harga minyak sawit di domestik dan juga di internasional,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Untuk memantau dampak penerapan B50 sekaligus ancaman fenomena iklim El Nino terhadap industri kelapa sawit nasional, BPS memetakan beberapa indikator utama yang perlu terus dicermati oleh pelaku pasar dan pemangku kepentingan.&#13;
&#13;
Indikator tersebut mencakup produksi Tandan Buah Segar (TBS) beserta tingkat produktivitasnya, total produksi minyak sawit, hingga penyerapan dalam negeri untuk program biodiesel.&#13;
&#13;
&amp;quot;Yang pertama produksi TBS ya, termasuk juga pada saat kita mencermati TBS, tolong lihat termasuk produktivitas TBS-nya. Kemudian juga produksi minyak sawit tentunya. Yang berikutnya bagaimana serapannya untuk domestik ya, terutama untuk biodiesel. Kemudian bagaimana stok atau persediaan akhirnya, serta harga minyak sawit, baik di domestik maupun di internasional,&amp;quot; pungkas Ateng.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya (HS 1511) tetap mengalami pertumbuhan pada semester I-2026, meski lajunya melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.&#13;
&#13;
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, nilai ekspor CPO pada semester I-2026 tumbuh sebesar 7,32 persen. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan pada semester I-2025 yang mencapai 24,80 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini artinya nilai ekspor CPO pada semester I masih mengalami kenaikan ya, tadi 7,3 persen. Namun saya ulangin, jika pertumbuhannya dibandingkan dengan semester I tahun 2025, maka pertumbuhan pada semester I tahun 2026 mengalami perlambatan. Jadi kalau tadinya tumbuh cepat, sekarang tumbuh di bawahnya. Sama-sama tumbuh, tetapi pertumbuhannya mengalami perlambatan,&amp;quot; kata Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, Senin (3/8/2026).&#13;
&#13;
Terkait kebijakan mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang mulai diimplementasikan pada Juli 2026, BPS menilai kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi volume ekspor produk kelapa sawit Indonesia, khususnya pada paruh kedua tahun ini.&#13;
&#13;
Meski demikian, BPS tidak memberikan estimasi kuantitatif mengenai besarnya penurunan ekspor dan menekankan pentingnya kajian lebih lanjut berdasarkan data realisasi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Namun untuk penerapan B50 yang akan dimulai, kita tahu bersama pada bulan Juli 2026, ini cenderung berpotensi akan memengaruhi volume ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia, khususnya nanti pada semester II tahun 2026,&amp;quot; ujar Ateng.&#13;
&#13;
Ia menambahkan, dampak pasti dari penerapan B50 akan bergantung pada sejumlah variabel industri.&#13;
&#13;
&amp;quot;Seberapa banyak pengaruhnya kita tunggu saja nanti pada rilis berikutnya. Hal ini tentunya perlu dikaji lebih lanjut, antara lain melibatkan berbagai informasi seperti produksi dan persediaan minyak sawit. Kemudian juga bagaimana peningkatan permintaan atau demand di dalam negeri, serta harga minyak sawit di domestik dan juga di internasional,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Untuk memantau dampak penerapan B50 sekaligus ancaman fenomena iklim El Nino terhadap industri kelapa sawit nasional, BPS memetakan beberapa indikator utama yang perlu terus dicermati oleh pelaku pasar dan pemangku kepentingan.&#13;
&#13;
Indikator tersebut mencakup produksi Tandan Buah Segar (TBS) beserta tingkat produktivitasnya, total produksi minyak sawit, hingga penyerapan dalam negeri untuk program biodiesel.&#13;
&#13;
&amp;quot;Yang pertama produksi TBS ya, termasuk juga pada saat kita mencermati TBS, tolong lihat termasuk produktivitas TBS-nya. Kemudian juga produksi minyak sawit tentunya. Yang berikutnya bagaimana serapannya untuk domestik ya, terutama untuk biodiesel. Kemudian bagaimana stok atau persediaan akhirnya, serta harga minyak sawit, baik di domestik maupun di internasional,&amp;quot; pungkas Ateng.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
