<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bapanas Buka Suara soal Kenaikan Harga Bawang Putih</title><description>Badan Pangan Nasional (Bapanas) buka suara soal kenaikan harga bawang putih yang sempat menjadi penyumbang inflasi pangan. Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Brigjen Pol. Hermawan, mengatakan pemerintah telah menggelar dua rapat koordinasi guna memastikan pasokan tetap terjaga dan harga kembali stabil.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/08/05/320/3234337/bapanas-buka-suara-soal-kenaikan-harga-bawang-putih</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/08/05/320/3234337/bapanas-buka-suara-soal-kenaikan-harga-bawang-putih"/><item><title>Bapanas Buka Suara soal Kenaikan Harga Bawang Putih</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/08/05/320/3234337/bapanas-buka-suara-soal-kenaikan-harga-bawang-putih</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/08/05/320/3234337/bapanas-buka-suara-soal-kenaikan-harga-bawang-putih</guid><pubDate>Rabu 05 Agustus 2026 15:34 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/08/05/320/3234337/harga_bawang_putih-kp7K_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga Bawang Putih (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/08/05/320/3234337/harga_bawang_putih-kp7K_large.jpg</image><title>Harga Bawang Putih (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) buka suara soal kenaikan harga bawang putih yang sempat menjadi penyumbang inflasi pangan. Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Brigjen Pol. Hermawan, mengatakan pemerintah telah menggelar dua rapat koordinasi guna memastikan pasokan tetap terjaga dan harga kembali stabil.&#13;
&#13;
Rapat koordinasi pertama dipimpin Wakil Kepala Polri dengan melibatkan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian serta kementerian dan lembaga terkait. Pertemuan tersebut membahas percepatan produksi bawang putih dalam negeri sebagai upaya memperkuat pasokan nasional.&#13;
&#13;
Selanjutnya, Bapanas menggelar rapat koordinasi yang berfokus pada kondisi pasokan dan harga di dua pasar induk utama. Hermawan mengklaim bahwa hasil pemantauan menunjukkan pasokan bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati mencapai 109 ton atau meningkat 153,49 persen, dengan harga stabil di kisaran Rp23.000 per kilogram.&#13;
&#13;
Sementara di Pasar Induk Tanah Tinggi, harga juga relatif stabil di sekitar Rp29.000 per kilogram. Meski demikian, Hermawan mengungkapkan distributor menyampaikan masukan terkait pengaturan kuota impor.&#13;
&#13;
&amp;quot;Meski pasokan dan harga di kedua pasar induk relatif terkendali, ada masukan dari distributor terkait pengaturan kuota impor. Keterbatasan pasokan berpotensi menekan ruang distribusi dan marjin usaha apabila kenaikan harga tidak dapat diteruskan kepada pedagang maupun konsumen,&amp;quot; ujar&amp;nbsp;Hermawan, Selasa (5/8/2026).&#13;
&#13;
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga bawang putih pada Juli mencapai 248 daerah. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Juni yang mencapai 261 kabupaten/kota, menandakan tekanan harga mulai mereda.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Untuk meningkatkan akurasi pemantauan harga, Bapanas meminta pemerintah daerah membedakan pencatatan bawang putih jenis honan atau bonggol dengan jenis kating. Menurut Hermawan, kedua jenis bawang putih tersebut memiliki karakteristik dan tingkat harga yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan dalam pelaporan.&#13;
&#13;
Sebagai tindak lanjut, Bapanas meminta BUMN Pangan melakukan intervensi distribusi dan pasokan, terutama di wilayah yang harga bawang putihnya masih berada di atas harga acuan. Pemerintah daerah juga didorong melakukan intervensi yang tepat sasaran sesuai kondisi pasokan di lapangan.&#13;
&#13;
Selain membahas bawang putih, Bapanas turut mencermati perkembangan harga sejumlah komoditas pangan strategis di tingkat produsen. Gabah kering panen tercatat mencapai Rp7.029 per kilogram atau 8,14 persen di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sedangkan beras medium di tingkat penggilingan mencapai Rp13.224 per kilogram atau 10,20 persen di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Harga cabai rawit juga masih relatif tinggi, yakni Rp34.594 per kilogram.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kondisi kenaikan harga gabah dan beras di tingkat penggilingan ini harus terus dicermati agar tidak berlanjut menjadi tekanan harga beras di tingkat konsumen. Begitu pula pasokan dan distribusi cabai rawit perlu terus dipantau, terutama di wilayah yang mencatat harga tinggi,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru memerlukan perlindungan harga di tingkat produsen. Bawang merah tercatat hanya Rp21.525 per kilogram, jauh di bawah harga yang layak. Harga sapi hidup berada di kisaran Rp56.341 per kilogram, dan ayam ras pedaging hidup sekitar Rp23.486 per kilogram.&#13;
&#13;
Perhatian khusus, kata Hermawan, perlu diberikan pada harga telur ayam ras di tingkat produsen yang tercatat Rp23.237 per kilogram, atau 12,31 persen di bawah harga acuan sebesar Rp26.500 per kilogram.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pengendalian inflasi tidak boleh hanya berorientasi pada harga murah. Harga yang terlalu rendah dapat merugikan petani dan peternak, mengurangi kemampuan produksi, dan pada akhirnya berpotensi menimbulkan kekurangan pasokan pada periode berikutnya,&amp;quot; tegas Hermawan.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) buka suara soal kenaikan harga bawang putih yang sempat menjadi penyumbang inflasi pangan. Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Brigjen Pol. Hermawan, mengatakan pemerintah telah menggelar dua rapat koordinasi guna memastikan pasokan tetap terjaga dan harga kembali stabil.&#13;
&#13;
Rapat koordinasi pertama dipimpin Wakil Kepala Polri dengan melibatkan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian serta kementerian dan lembaga terkait. Pertemuan tersebut membahas percepatan produksi bawang putih dalam negeri sebagai upaya memperkuat pasokan nasional.&#13;
&#13;
Selanjutnya, Bapanas menggelar rapat koordinasi yang berfokus pada kondisi pasokan dan harga di dua pasar induk utama. Hermawan mengklaim bahwa hasil pemantauan menunjukkan pasokan bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati mencapai 109 ton atau meningkat 153,49 persen, dengan harga stabil di kisaran Rp23.000 per kilogram.&#13;
&#13;
Sementara di Pasar Induk Tanah Tinggi, harga juga relatif stabil di sekitar Rp29.000 per kilogram. Meski demikian, Hermawan mengungkapkan distributor menyampaikan masukan terkait pengaturan kuota impor.&#13;
&#13;
&amp;quot;Meski pasokan dan harga di kedua pasar induk relatif terkendali, ada masukan dari distributor terkait pengaturan kuota impor. Keterbatasan pasokan berpotensi menekan ruang distribusi dan marjin usaha apabila kenaikan harga tidak dapat diteruskan kepada pedagang maupun konsumen,&amp;quot; ujar&amp;nbsp;Hermawan, Selasa (5/8/2026).&#13;
&#13;
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga bawang putih pada Juli mencapai 248 daerah. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Juni yang mencapai 261 kabupaten/kota, menandakan tekanan harga mulai mereda.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Untuk meningkatkan akurasi pemantauan harga, Bapanas meminta pemerintah daerah membedakan pencatatan bawang putih jenis honan atau bonggol dengan jenis kating. Menurut Hermawan, kedua jenis bawang putih tersebut memiliki karakteristik dan tingkat harga yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan dalam pelaporan.&#13;
&#13;
Sebagai tindak lanjut, Bapanas meminta BUMN Pangan melakukan intervensi distribusi dan pasokan, terutama di wilayah yang harga bawang putihnya masih berada di atas harga acuan. Pemerintah daerah juga didorong melakukan intervensi yang tepat sasaran sesuai kondisi pasokan di lapangan.&#13;
&#13;
Selain membahas bawang putih, Bapanas turut mencermati perkembangan harga sejumlah komoditas pangan strategis di tingkat produsen. Gabah kering panen tercatat mencapai Rp7.029 per kilogram atau 8,14 persen di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sedangkan beras medium di tingkat penggilingan mencapai Rp13.224 per kilogram atau 10,20 persen di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Harga cabai rawit juga masih relatif tinggi, yakni Rp34.594 per kilogram.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kondisi kenaikan harga gabah dan beras di tingkat penggilingan ini harus terus dicermati agar tidak berlanjut menjadi tekanan harga beras di tingkat konsumen. Begitu pula pasokan dan distribusi cabai rawit perlu terus dipantau, terutama di wilayah yang mencatat harga tinggi,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru memerlukan perlindungan harga di tingkat produsen. Bawang merah tercatat hanya Rp21.525 per kilogram, jauh di bawah harga yang layak. Harga sapi hidup berada di kisaran Rp56.341 per kilogram, dan ayam ras pedaging hidup sekitar Rp23.486 per kilogram.&#13;
&#13;
Perhatian khusus, kata Hermawan, perlu diberikan pada harga telur ayam ras di tingkat produsen yang tercatat Rp23.237 per kilogram, atau 12,31 persen di bawah harga acuan sebesar Rp26.500 per kilogram.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pengendalian inflasi tidak boleh hanya berorientasi pada harga murah. Harga yang terlalu rendah dapat merugikan petani dan peternak, mengurangi kemampuan produksi, dan pada akhirnya berpotensi menimbulkan kekurangan pasokan pada periode berikutnya,&amp;quot; tegas Hermawan.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
