<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sampah Jakarta Diolah Jadi Biogas, 500 Kg Limbah Bisa Diproses Tiap Hari</title><description>Bagi Jakarta, sampah bukan sekadar persoalan kebersihan. Ketika limbah organik tidak tertangani sejak dari sumbernya, sampah dapat berujung menjadi beban lingkungan.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/08/11/320/3235434/sampah-jakarta-diolah-jadi-biogas-500-kg-limbah-bisa-diproses-tiap-hari</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/08/11/320/3235434/sampah-jakarta-diolah-jadi-biogas-500-kg-limbah-bisa-diproses-tiap-hari"/><item><title>Sampah Jakarta Diolah Jadi Biogas, 500 Kg Limbah Bisa Diproses Tiap Hari</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/08/11/320/3235434/sampah-jakarta-diolah-jadi-biogas-500-kg-limbah-bisa-diproses-tiap-hari</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/08/11/320/3235434/sampah-jakarta-diolah-jadi-biogas-500-kg-limbah-bisa-diproses-tiap-hari</guid><pubDate>Selasa 11 Agustus 2026 15:13 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/08/11/320/3235434/sampah-pCEJ_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sampah Jakarta Diolah Jadi Biogas, 500 Kg Limbah Bisa Diproses Tiap Hari (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/08/11/320/3235434/sampah-pCEJ_large.jpg</image><title>Sampah Jakarta Diolah Jadi Biogas, 500 Kg Limbah Bisa Diproses Tiap Hari (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Bagi Jakarta, sampah bukan sekadar persoalan kebersihan. Ketika limbah organik tidak tertangani sejak dari sumbernya, sampah dapat berujung menjadi beban lingkungan. Namun, teknologi kini membuka jalan lain, sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan, tetapi bisa diolah menjadi energi.&#13;
&#13;
Salah satu teknologi yang mulai dikembangkan adalah biodigester komunal. Teknologi ini memungkinkan sampah organik diolah menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan, sekaligus menghasilkan residu yang bisa digunakan sebagai pupuk organik.&#13;
&#13;
Langkah tersebut mulai diterapkan di Jakarta Utara. Dua unit biodigester akan dibangun di Rusunawa Rorotan, Cilincing, dan TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama di Rusunawa Rorotan, Senin (10/8).&#13;
&#13;
Bank Jakarta bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengembangkan fasilitas tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah organik dari sumber.&#13;
&#13;
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H Widodo mengatakan, pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pemindahan sampah, tetapi juga pengolahan dan pemanfaatan kembali.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pembangunan biodigester di Rorotan merupakan bentuk kontribusi nyata Bank Jakarta untuk turut menjawab tantangan pengelolaan sampah di Jakarta. Kami ingin program yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan Jakarta,&amp;rdquo; ujar Agus dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (11/8/2026).&#13;
&#13;
Secara teknis, setiap biodigester dirancang mampu mengolah hingga 250 kilogram sampah organik per hari. Dengan dua unit, kapasitas pengolahan mencapai 500 kilogram (kg) sampah organik setiap hari.&#13;
&#13;
Dari proses tersebut, kedua biodigester diproyeksikan menghasilkan sekitar 37,5 meter kubik biogas per hari. Selain menghasilkan energi, proses pengolahan juga menghasilkan residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.&#13;
&#13;
Teknologi tersebut juga memberikan manfaat dari sisi lingkungan. Berdasarkan kajian teknis, pengoperasian dua unit biodigester diproyeksikan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 423 kilogram CO2e per hari atau sekitar 154,4 ton CO2e dalam setahun.&#13;
&#13;
Artinya, sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan dapat dialihkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi mengatakan, pengelolaan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas pengolahan. Keberlanjutan program dan kolaborasi dengan pemerintah serta masyarakat menjadi faktor penting.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Melalui pembangunan biodigester ini, Bank Jakarta mengambil bagian dalam upaya pengelolaan sampah organik dari sumber sekaligus mendorong agar sampah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi bagian penting agar upaya penanganan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi,&amp;rdquo; kata Arie.&#13;
&#13;
Pengembangan biodigester di Jakarta Utara bukan menjadi langkah pertama. Sebelumnya, Bank Jakarta telah mendukung pembangunan instalasi biodigester komunal di Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang diresmikan pada November 2025.&#13;
&#13;
Pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk memperluas pemanfaatan teknologi pengolahan sampah organik di wilayah lain.&#13;
&#13;
Tantangannya kini bukan hanya bagaimana mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan, tetapi juga bagaimana mengubah pola pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.&#13;
&#13;
Biodigester menawarkan pendekatan berbeda: sampah organik dipilah, diolah, lalu dikembalikan menjadi sesuatu yang berguna.&#13;
&#13;
Dua fasilitas di Jakarta Utara memang baru mampu mengolah hingga 500 kilogram sampah organik per hari. Namun, model ini menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat ditangani dengan pendekatan yang lebih produktif, mengubah limbah menjadi energi sekaligus menghasilkan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.&#13;
&#13;
Bagi Jakarta, langkah tersebut menjadi bagian dari pencarian solusi atas persoalan sampah yang semakin membutuhkan pengelolaan berbasis teknologi, kolaborasi, dan pemanfaatan kembali.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Bagi Jakarta, sampah bukan sekadar persoalan kebersihan. Ketika limbah organik tidak tertangani sejak dari sumbernya, sampah dapat berujung menjadi beban lingkungan. Namun, teknologi kini membuka jalan lain, sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan, tetapi bisa diolah menjadi energi.&#13;
&#13;
Salah satu teknologi yang mulai dikembangkan adalah biodigester komunal. Teknologi ini memungkinkan sampah organik diolah menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan, sekaligus menghasilkan residu yang bisa digunakan sebagai pupuk organik.&#13;
&#13;
Langkah tersebut mulai diterapkan di Jakarta Utara. Dua unit biodigester akan dibangun di Rusunawa Rorotan, Cilincing, dan TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama di Rusunawa Rorotan, Senin (10/8).&#13;
&#13;
Bank Jakarta bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengembangkan fasilitas tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah organik dari sumber.&#13;
&#13;
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H Widodo mengatakan, pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pemindahan sampah, tetapi juga pengolahan dan pemanfaatan kembali.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pembangunan biodigester di Rorotan merupakan bentuk kontribusi nyata Bank Jakarta untuk turut menjawab tantangan pengelolaan sampah di Jakarta. Kami ingin program yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan Jakarta,&amp;rdquo; ujar Agus dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (11/8/2026).&#13;
&#13;
Secara teknis, setiap biodigester dirancang mampu mengolah hingga 250 kilogram sampah organik per hari. Dengan dua unit, kapasitas pengolahan mencapai 500 kilogram (kg) sampah organik setiap hari.&#13;
&#13;
Dari proses tersebut, kedua biodigester diproyeksikan menghasilkan sekitar 37,5 meter kubik biogas per hari. Selain menghasilkan energi, proses pengolahan juga menghasilkan residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.&#13;
&#13;
Teknologi tersebut juga memberikan manfaat dari sisi lingkungan. Berdasarkan kajian teknis, pengoperasian dua unit biodigester diproyeksikan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 423 kilogram CO2e per hari atau sekitar 154,4 ton CO2e dalam setahun.&#13;
&#13;
Artinya, sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi persoalan lingkungan dapat dialihkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi mengatakan, pengelolaan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas pengolahan. Keberlanjutan program dan kolaborasi dengan pemerintah serta masyarakat menjadi faktor penting.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Melalui pembangunan biodigester ini, Bank Jakarta mengambil bagian dalam upaya pengelolaan sampah organik dari sumber sekaligus mendorong agar sampah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi bagian penting agar upaya penanganan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi,&amp;rdquo; kata Arie.&#13;
&#13;
Pengembangan biodigester di Jakarta Utara bukan menjadi langkah pertama. Sebelumnya, Bank Jakarta telah mendukung pembangunan instalasi biodigester komunal di Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang diresmikan pada November 2025.&#13;
&#13;
Pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk memperluas pemanfaatan teknologi pengolahan sampah organik di wilayah lain.&#13;
&#13;
Tantangannya kini bukan hanya bagaimana mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan, tetapi juga bagaimana mengubah pola pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.&#13;
&#13;
Biodigester menawarkan pendekatan berbeda: sampah organik dipilah, diolah, lalu dikembalikan menjadi sesuatu yang berguna.&#13;
&#13;
Dua fasilitas di Jakarta Utara memang baru mampu mengolah hingga 500 kilogram sampah organik per hari. Namun, model ini menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat ditangani dengan pendekatan yang lebih produktif, mengubah limbah menjadi energi sekaligus menghasilkan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.&#13;
&#13;
Bagi Jakarta, langkah tersebut menjadi bagian dari pencarian solusi atas persoalan sampah yang semakin membutuhkan pengelolaan berbasis teknologi, kolaborasi, dan pemanfaatan kembali.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
