<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Purbaya Ungkap &amp;#039;Sosok&amp;#039; yang Bayar Utang Pemerintah Rp10.293 Triliun</title><description>Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan strategi untuk membayar utang pemerintah yang menembus Rp10.000 triliun.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/08/13/320/3235795/purbaya-ungkap-039-sosok-039-yang-bayar-utang-pemerintah-rp10-293-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/08/13/320/3235795/purbaya-ungkap-039-sosok-039-yang-bayar-utang-pemerintah-rp10-293-triliun"/><item><title> Purbaya Ungkap &amp;#039;Sosok&amp;#039; yang Bayar Utang Pemerintah Rp10.293 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/08/13/320/3235795/purbaya-ungkap-039-sosok-039-yang-bayar-utang-pemerintah-rp10-293-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/08/13/320/3235795/purbaya-ungkap-039-sosok-039-yang-bayar-utang-pemerintah-rp10-293-triliun</guid><pubDate>Kamis 13 Agustus 2026 07:32 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/08/13/320/3235795/purbaya-2W8U_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Purbaya Ungkap &amp;#039;Sosok&amp;#039; yang Bayar Utang Pemerintah Rp10.293 Triliun (Foto: Kemenkeu)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/08/13/320/3235795/purbaya-2W8U_large.jpg</image><title> Purbaya Ungkap &amp;#039;Sosok&amp;#039; yang Bayar Utang Pemerintah Rp10.293 Triliun (Foto: Kemenkeu)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan strategi untuk membayar utang pemerintah yang menembus Rp10.000 triliun.&#13;
&#13;
Berdasarkan data terbaru, posisi utang pemerintah per akhir Juni 2026 tembus Rp10.293 trilun, atau setara 41,26 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Komposisi utang itu terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp8.966,79 triliun atau sekitar 87,1 persen, dan pinjaman sebesar Rp1.326,90 triliun atau sekitar 12,9 persen.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Purbaya menjelaskan, salah satu strategi pemerintah untuk membayar utang tersebut melalui pembenahan pengumpulan pajak melalui sistem coretax, serta mengoptimalkan penerimaan bukan pajak seperti pemanfaatan dividen BUMN.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Strateginya kita akan batasin defisit supaya nggak tinggi-tinggi amat. Terus kita akan efektifkan tax collection kita. Bukan naikin pajak ya, tapi kita bersihkan cara kita beroperasi mengumpulkan pajak,&amp;quot; ujar Purbaya saat ditemui usai sidang debottlenecking di kantornya, Rabu (12/8/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Purbaya menambahkan, jumlah akumulasi utang negara itu seharusnya bisa lebih turun lagi di akhir tahun, sehingga diharapkan bisa makin menjauhi batas maksimal rasio utang pemerintah terhadap PDB adalah 60 persen, berdasarkan Undang-Undang tentang Keuangan Negara.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Kan belum berakhir tahunnya, nanti kita lihat akhir tahun pertumbuhannya seperti apa. Harusnya sih akan bisa turun lagi sedikit. Dan kalau kita lihat kan, masih di bawah 60 persen, jauh,&amp;quot; lanjutnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain penarikan pajak, Purbaya mengatakan kalau sebagian keuntungan Danantara bakal ditarik ke kas negara. Tujuannya agar meningkatkan efisiensi penerimaan negara dari luar pos pajak.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada ide Presiden untuk menempatkan sebagai keuntungan Danantara untuk cadangan Pemerintah, sehingga itu yang bisa mengurangi utang kita juga. Nanti kita tentukan bentuknya ke depan,&amp;quot; tambahnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sekedar informasi tambahan, total utang pemerintah yang terakumulasi Rp10 ribu triliun hingga akhir Juni lalu tercatat meningkat sekitar Rp373,27 triliun dibandingkan posisi akhir Maret 2026 lalu sebesar Rp9.920 triliun.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sejalan dengan peningkatan utang pemerintah, APBN pada paruh pertama 2026 justru mengalami defisit 0,76 persen terhadap PDB. Pendapatan negara hingga akhir Juni tercatat Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara tembus Rp1.656 triliun.&amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan strategi untuk membayar utang pemerintah yang menembus Rp10.000 triliun.&#13;
&#13;
Berdasarkan data terbaru, posisi utang pemerintah per akhir Juni 2026 tembus Rp10.293 trilun, atau setara 41,26 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Komposisi utang itu terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp8.966,79 triliun atau sekitar 87,1 persen, dan pinjaman sebesar Rp1.326,90 triliun atau sekitar 12,9 persen.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Purbaya menjelaskan, salah satu strategi pemerintah untuk membayar utang tersebut melalui pembenahan pengumpulan pajak melalui sistem coretax, serta mengoptimalkan penerimaan bukan pajak seperti pemanfaatan dividen BUMN.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Strateginya kita akan batasin defisit supaya nggak tinggi-tinggi amat. Terus kita akan efektifkan tax collection kita. Bukan naikin pajak ya, tapi kita bersihkan cara kita beroperasi mengumpulkan pajak,&amp;quot; ujar Purbaya saat ditemui usai sidang debottlenecking di kantornya, Rabu (12/8/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Purbaya menambahkan, jumlah akumulasi utang negara itu seharusnya bisa lebih turun lagi di akhir tahun, sehingga diharapkan bisa makin menjauhi batas maksimal rasio utang pemerintah terhadap PDB adalah 60 persen, berdasarkan Undang-Undang tentang Keuangan Negara.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Kan belum berakhir tahunnya, nanti kita lihat akhir tahun pertumbuhannya seperti apa. Harusnya sih akan bisa turun lagi sedikit. Dan kalau kita lihat kan, masih di bawah 60 persen, jauh,&amp;quot; lanjutnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain penarikan pajak, Purbaya mengatakan kalau sebagian keuntungan Danantara bakal ditarik ke kas negara. Tujuannya agar meningkatkan efisiensi penerimaan negara dari luar pos pajak.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada ide Presiden untuk menempatkan sebagai keuntungan Danantara untuk cadangan Pemerintah, sehingga itu yang bisa mengurangi utang kita juga. Nanti kita tentukan bentuknya ke depan,&amp;quot; tambahnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sekedar informasi tambahan, total utang pemerintah yang terakumulasi Rp10 ribu triliun hingga akhir Juni lalu tercatat meningkat sekitar Rp373,27 triliun dibandingkan posisi akhir Maret 2026 lalu sebesar Rp9.920 triliun.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sejalan dengan peningkatan utang pemerintah, APBN pada paruh pertama 2026 justru mengalami defisit 0,76 persen terhadap PDB. Pendapatan negara hingga akhir Juni tercatat Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara tembus Rp1.656 triliun.&amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
