<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kurikulum Pendidikan Bisnis Perlu Disesuaikan dengan Kebutuhan Industri</title><description>Ignasius Jonan menilai perubahan tersebut perlu dimulai dari penguatan peran praktisi di lingkungan perguruan tinggi&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/08/23/320/3237864/kurikulum-pendidikan-bisnis-perlu-disesuaikan-dengan-kebutuhan-industri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/08/23/320/3237864/kurikulum-pendidikan-bisnis-perlu-disesuaikan-dengan-kebutuhan-industri"/><item><title>Kurikulum Pendidikan Bisnis Perlu Disesuaikan dengan Kebutuhan Industri</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/08/23/320/3237864/kurikulum-pendidikan-bisnis-perlu-disesuaikan-dengan-kebutuhan-industri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/08/23/320/3237864/kurikulum-pendidikan-bisnis-perlu-disesuaikan-dengan-kebutuhan-industri</guid><pubDate>Minggu 23 Agustus 2026 20:03 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/08/23/320/3237864/veo-TmSc_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perguruan tinggi perlu mempercepat transformasi pendidikan bisnis agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. (Foto: Okezone.com/CEO Talk)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/08/23/320/3237864/veo-TmSc_large.jpg</image><title>Perguruan tinggi perlu mempercepat transformasi pendidikan bisnis agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. (Foto: Okezone.com/CEO Talk)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Perguruan tinggi perlu mempercepat transformasi pendidikan bisnis agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).&#13;
&#13;
Ignasius Jonan menilai perubahan tersebut perlu dimulai dari penguatan peran praktisi di lingkungan perguruan tinggi. Menurut dia, sedikitnya sepertiga pengajar di perguruan tinggi, khususnya pada program pascasarjana, perlu berasal dari kalangan praktisi yang relevan dengan kebutuhan industri.&#13;
&#13;
Praktisi tersebut, kata Jonan, dapat berperan sebagai dosen pengampu mata kuliah pokok maupun asisten pengajar. Selain itu, peningkatan kesejahteraan tenaga kependidikan (Tendik) menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pendidikan tinggi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sistem pendidikan yang unggul tidak dapat berjalan tanpa kesejahteraan pengelola yang layak. Jika penghasilan dan kompensasi tidak mendukung, kualitas yang ditargetkan mustahil tercapai,&amp;quot; kata Jonan.&#13;
&#13;
Jonan mencontohkan standar operasional institusi pendidikan bisnis global, seperti London Business School, yang menurut dia dapat menjadi salah satu rujukan dalam memperkuat tata kelola dan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.&#13;
&#13;
Sementara itu, CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan transformasi kurikulum perlu diarahkan pada kesiapan kerja (job readiness) dan penguatan keterampilan nonteknis (soft skills).&#13;
&#13;
Menurut Neneng, kemudahan memperoleh pengetahuan dan teori melalui AI membuat kemampuan interpersonal, pemikiran kritis, serta adaptabilitas menjadi semakin penting bagi lulusan perguruan tinggi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Transformasi ini sangat mendesak. Teori kini bisa dipelajari dari mana saja menggunakan AI, namun soft skills dan pengalaman praktis tidak dapat digantikan,&amp;quot; ujar Neneng.&#13;
&#13;
Karena itu, Neneng mendorong perguruan tinggi tidak hanya menyediakan program magang berkualitas bagi mahasiswa, tetapi juga membuka kesempatan bagi dosen untuk memperoleh pengalaman langsung di dunia industri melalui program faculty immersion.&#13;
&#13;
&amp;quot;Para dosen juga perlu terjun langsung menjadi bagian dari dinamika perusahaan (faculty immersion) agar memiliki pemikiran yang lebih terbuka terhadap kebutuhan nyata industri,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan dunia usaha dinilai menjadi kunci untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan, memimpin, dan berinovasi menghadapi perubahan global.&#13;
&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Perguruan tinggi perlu mempercepat transformasi pendidikan bisnis agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).&#13;
&#13;
Ignasius Jonan menilai perubahan tersebut perlu dimulai dari penguatan peran praktisi di lingkungan perguruan tinggi. Menurut dia, sedikitnya sepertiga pengajar di perguruan tinggi, khususnya pada program pascasarjana, perlu berasal dari kalangan praktisi yang relevan dengan kebutuhan industri.&#13;
&#13;
Praktisi tersebut, kata Jonan, dapat berperan sebagai dosen pengampu mata kuliah pokok maupun asisten pengajar. Selain itu, peningkatan kesejahteraan tenaga kependidikan (Tendik) menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pendidikan tinggi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sistem pendidikan yang unggul tidak dapat berjalan tanpa kesejahteraan pengelola yang layak. Jika penghasilan dan kompensasi tidak mendukung, kualitas yang ditargetkan mustahil tercapai,&amp;quot; kata Jonan.&#13;
&#13;
Jonan mencontohkan standar operasional institusi pendidikan bisnis global, seperti London Business School, yang menurut dia dapat menjadi salah satu rujukan dalam memperkuat tata kelola dan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.&#13;
&#13;
Sementara itu, CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan transformasi kurikulum perlu diarahkan pada kesiapan kerja (job readiness) dan penguatan keterampilan nonteknis (soft skills).&#13;
&#13;
Menurut Neneng, kemudahan memperoleh pengetahuan dan teori melalui AI membuat kemampuan interpersonal, pemikiran kritis, serta adaptabilitas menjadi semakin penting bagi lulusan perguruan tinggi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Transformasi ini sangat mendesak. Teori kini bisa dipelajari dari mana saja menggunakan AI, namun soft skills dan pengalaman praktis tidak dapat digantikan,&amp;quot; ujar Neneng.&#13;
&#13;
Karena itu, Neneng mendorong perguruan tinggi tidak hanya menyediakan program magang berkualitas bagi mahasiswa, tetapi juga membuka kesempatan bagi dosen untuk memperoleh pengalaman langsung di dunia industri melalui program faculty immersion.&#13;
&#13;
&amp;quot;Para dosen juga perlu terjun langsung menjadi bagian dari dinamika perusahaan (faculty immersion) agar memiliki pemikiran yang lebih terbuka terhadap kebutuhan nyata industri,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan dunia usaha dinilai menjadi kunci untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan, memimpin, dan berinovasi menghadapi perubahan global.&#13;
&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
