<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Produktivitas Melonjak 35,6%, Cara Ini Bikin Panen Padi Tembus 9,49 Ton per Hektare</title><description>Pola tersebut mengombinasikan penggunaan pupuk konvensional dengan pupuk hayati cair.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/07/320/3240597/produktivitas-melonjak-35-6-cara-ini-bikin-panen-padi-tembus-9-49-ton-per-hektare</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/09/07/320/3240597/produktivitas-melonjak-35-6-cara-ini-bikin-panen-padi-tembus-9-49-ton-per-hektare"/><item><title>Produktivitas Melonjak 35,6%, Cara Ini Bikin Panen Padi Tembus 9,49 Ton per Hektare</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/07/320/3240597/produktivitas-melonjak-35-6-cara-ini-bikin-panen-padi-tembus-9-49-ton-per-hektare</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/09/07/320/3240597/produktivitas-melonjak-35-6-cara-ini-bikin-panen-padi-tembus-9-49-ton-per-hektare</guid><pubDate>Senin 07 September 2026 13:08 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/07/320/3240597/panen-gDyL_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penerapan pola pemupukan berimbang pada budidaya padi di sejumlah daerah menunjukkan hasil produksi hingga 9,49 ton per hektare. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/07/320/3240597/panen-gDyL_large.jpg</image><title>Penerapan pola pemupukan berimbang pada budidaya padi di sejumlah daerah menunjukkan hasil produksi hingga 9,49 ton per hektare. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Penerapan pola pemupukan berimbang pada budidaya padi melalui kombinasi pupuk konvensional dan pupuk hayati cair menghasilkan produktivitas hingga 9,49 ton per hektare dalam uji demplot di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.&#13;
&#13;
Hasil tersebut diperoleh dari demplot Kelompok Tani Sumber Rezeki 4 di Blok Bojong, Desa Ciparay, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Dari lahan seluas 1,1 hektare, petani menghasilkan 10.444 kilogram atau 10,44 ton gabah, setara dengan produktivitas 9,49 ton per hektare.&#13;
&#13;
Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki 4 Haji Anang mengatakan produktivitas tersebut meningkat dibandingkan hasil panen sebelumnya yang berada di kisaran 5-7 ton per hektare. Jika menggunakan produktivitas 7 ton per hektare sebagai pembanding, kenaikannya mencapai sekitar 35,6 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hasil akhir perhitungan jumlah hasil panen dengan luas 1,1 hektare lahan di Blok Bojong diperoleh 10.444 kilogram (10,44 ton) atau 9,494 ton per hektare,&amp;quot; ujar Anang.&#13;
&#13;
Hasil panen tersebut juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan hasil ubinan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung yang mencapai 8,67 ton per hektare. Pengamatan di lahan demplot mencatat rata-rata 55 anakan per rumpun dan sekitar 160 bulir per malai pada padi varietas Cakra Buana.&#13;
&#13;
Di demplot Ciparay, pola pemupukan berimbang diterapkan dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen dan menambahkan pupuk hayati cair Pureplant sebanyak 6 liter per hektare.&#13;
&#13;
Apa Itu Pupuk Hayati?&#13;
&#13;
Direktur Utama PT Indoraya Mitra Persada 168 (IMP 168) Atik Chandra menjelaskan pupuk hayati berbeda dengan pupuk kimia karena mengandalkan mikroorganisme yang membantu menyediakan atau meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman serta mendukung kondisi biologis tanah.&#13;
&#13;
Menurut Atik, pupuk hayati dapat digunakan sebagai bagian dari pola pemupukan berimbang dan bukan semata-mata untuk menggantikan seluruh penggunaan pupuk konvensional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pupuk hayati ini pada dasarnya memanfaatkan mikroorganisme yang membantu memperbaiki kondisi tanah dan mendukung ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Karena itu, penggunaannya dapat dikombinasikan dengan pupuk konvensional sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan,&amp;quot; ujar Atik.&#13;
&#13;
Ia mengatakan penerapan pupuk hayati perlu disesuaikan dengan karakteristik lahan, jenis tanaman, serta dosis dan tata cara penggunaan yang dianjurkan. Pendekatan tersebut, kata dia, penting agar penggunaan pupuk tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga menjaga kondisi tanah dalam jangka panjang.&#13;
&#13;
Atik menambahkan, IMP 168 mengembangkan sejumlah produk pupuk hayati dan teknologi pertanian, salah satunya pupuk hayati cair Pureplant. Produk tersebut digunakan dalam pengembangan demplot bersama PT Intani Bumi Lestari (IBL).&#13;
&#13;
&amp;quot;Tujuannya bukan hanya mengejar produksi dalam satu kali panen, tetapi bagaimana tanah tetap sehat sehingga produktivitas dapat dipertahankan dalam jangka panjang,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Diterapkan di Tiga Daerah&#13;
&#13;
Pengembangan demplot dilakukan Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) bersama sejumlah pihak, termasuk Kementerian Pertanian dan mitra industri pertanian. Total lahan uji mencapai 15 hektare yang tersebar di tiga daerah, masing-masing seluas 5 hektare.&#13;
&#13;
Ketiga lokasi tersebut berada di Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat; Desa Plosogaden, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah; serta Nogosari, Trirenggo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.&#13;
&#13;
Anang mengatakan penerapan pola pemupukan berimbang di lahan demplot turut memberikan perubahan pada kondisi tanah dan pertumbuhan tanaman.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tanah sawah kami menjadi gembur, padi tumbuh subur, dan panen lebih cepat dibandingkan sawah lainnya,&amp;quot; tuturnya.&#13;
&#13;
Anggota Komisi IV DPR RI Dadang Naseer mengatakan penerapan pola pemupukan berimbang dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada pangan.&#13;
&#13;
Menurut Dadang, penggunaan pupuk perlu disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Hasil pengujian melalui demplot, kata dia, dapat menjadi bahan evaluasi sebelum pola tersebut dikembangkan lebih luas.&#13;
&#13;
Ketua Umum Intani Guntur Subagja Mahardika mengatakan pengembangan demplot merupakan bagian dari upaya mendorong praktik pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pola ini diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi tanah, meningkatkan produksi, sekaligus membuat biaya budidaya lebih efisien sehingga pendapatan petani dapat meningkat,&amp;quot; ujar Guntur.&#13;
&#13;
Sementara itu, demplot di Nogosari, Trirenggo, Bantul, memasuki masa menjelang panen. Tanaman padi di lokasi tersebut diperkirakan siap dipanen pada 15-20 September 2026.&#13;
&#13;
Hasil dari ketiga demplot tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat penerapan pola pemupukan berimbang pada kondisi lahan dan wilayah yang berbeda.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Penerapan pola pemupukan berimbang pada budidaya padi melalui kombinasi pupuk konvensional dan pupuk hayati cair menghasilkan produktivitas hingga 9,49 ton per hektare dalam uji demplot di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.&#13;
&#13;
Hasil tersebut diperoleh dari demplot Kelompok Tani Sumber Rezeki 4 di Blok Bojong, Desa Ciparay, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Dari lahan seluas 1,1 hektare, petani menghasilkan 10.444 kilogram atau 10,44 ton gabah, setara dengan produktivitas 9,49 ton per hektare.&#13;
&#13;
Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki 4 Haji Anang mengatakan produktivitas tersebut meningkat dibandingkan hasil panen sebelumnya yang berada di kisaran 5-7 ton per hektare. Jika menggunakan produktivitas 7 ton per hektare sebagai pembanding, kenaikannya mencapai sekitar 35,6 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hasil akhir perhitungan jumlah hasil panen dengan luas 1,1 hektare lahan di Blok Bojong diperoleh 10.444 kilogram (10,44 ton) atau 9,494 ton per hektare,&amp;quot; ujar Anang.&#13;
&#13;
Hasil panen tersebut juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan hasil ubinan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung yang mencapai 8,67 ton per hektare. Pengamatan di lahan demplot mencatat rata-rata 55 anakan per rumpun dan sekitar 160 bulir per malai pada padi varietas Cakra Buana.&#13;
&#13;
Di demplot Ciparay, pola pemupukan berimbang diterapkan dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen dan menambahkan pupuk hayati cair Pureplant sebanyak 6 liter per hektare.&#13;
&#13;
Apa Itu Pupuk Hayati?&#13;
&#13;
Direktur Utama PT Indoraya Mitra Persada 168 (IMP 168) Atik Chandra menjelaskan pupuk hayati berbeda dengan pupuk kimia karena mengandalkan mikroorganisme yang membantu menyediakan atau meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman serta mendukung kondisi biologis tanah.&#13;
&#13;
Menurut Atik, pupuk hayati dapat digunakan sebagai bagian dari pola pemupukan berimbang dan bukan semata-mata untuk menggantikan seluruh penggunaan pupuk konvensional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pupuk hayati ini pada dasarnya memanfaatkan mikroorganisme yang membantu memperbaiki kondisi tanah dan mendukung ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Karena itu, penggunaannya dapat dikombinasikan dengan pupuk konvensional sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan,&amp;quot; ujar Atik.&#13;
&#13;
Ia mengatakan penerapan pupuk hayati perlu disesuaikan dengan karakteristik lahan, jenis tanaman, serta dosis dan tata cara penggunaan yang dianjurkan. Pendekatan tersebut, kata dia, penting agar penggunaan pupuk tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga menjaga kondisi tanah dalam jangka panjang.&#13;
&#13;
Atik menambahkan, IMP 168 mengembangkan sejumlah produk pupuk hayati dan teknologi pertanian, salah satunya pupuk hayati cair Pureplant. Produk tersebut digunakan dalam pengembangan demplot bersama PT Intani Bumi Lestari (IBL).&#13;
&#13;
&amp;quot;Tujuannya bukan hanya mengejar produksi dalam satu kali panen, tetapi bagaimana tanah tetap sehat sehingga produktivitas dapat dipertahankan dalam jangka panjang,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Diterapkan di Tiga Daerah&#13;
&#13;
Pengembangan demplot dilakukan Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) bersama sejumlah pihak, termasuk Kementerian Pertanian dan mitra industri pertanian. Total lahan uji mencapai 15 hektare yang tersebar di tiga daerah, masing-masing seluas 5 hektare.&#13;
&#13;
Ketiga lokasi tersebut berada di Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat; Desa Plosogaden, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah; serta Nogosari, Trirenggo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.&#13;
&#13;
Anang mengatakan penerapan pola pemupukan berimbang di lahan demplot turut memberikan perubahan pada kondisi tanah dan pertumbuhan tanaman.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tanah sawah kami menjadi gembur, padi tumbuh subur, dan panen lebih cepat dibandingkan sawah lainnya,&amp;quot; tuturnya.&#13;
&#13;
Anggota Komisi IV DPR RI Dadang Naseer mengatakan penerapan pola pemupukan berimbang dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada pangan.&#13;
&#13;
Menurut Dadang, penggunaan pupuk perlu disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Hasil pengujian melalui demplot, kata dia, dapat menjadi bahan evaluasi sebelum pola tersebut dikembangkan lebih luas.&#13;
&#13;
Ketua Umum Intani Guntur Subagja Mahardika mengatakan pengembangan demplot merupakan bagian dari upaya mendorong praktik pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pola ini diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi tanah, meningkatkan produksi, sekaligus membuat biaya budidaya lebih efisien sehingga pendapatan petani dapat meningkat,&amp;quot; ujar Guntur.&#13;
&#13;
Sementara itu, demplot di Nogosari, Trirenggo, Bantul, memasuki masa menjelang panen. Tanaman padi di lokasi tersebut diperkirakan siap dipanen pada 15-20 September 2026.&#13;
&#13;
Hasil dari ketiga demplot tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat penerapan pola pemupukan berimbang pada kondisi lahan dan wilayah yang berbeda.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
