<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OJK Buka-bukaan soal Kondisi Perbankan di RI</title><description>OJK menyampaikan kinerja dan profil risiko industri perbankan nasional tetap berada dalam kondisi aman serta terkendali pada kuartal III-2026.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/10/320/3241342/ojk-buka-bukaan-soal-kondisi-perbankan-di-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/09/10/320/3241342/ojk-buka-bukaan-soal-kondisi-perbankan-di-ri"/><item><title>OJK Buka-bukaan soal Kondisi Perbankan di RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/10/320/3241342/ojk-buka-bukaan-soal-kondisi-perbankan-di-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/09/10/320/3241342/ojk-buka-bukaan-soal-kondisi-perbankan-di-ri</guid><pubDate>Kamis 10 September 2026 19:34 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/10/320/3241342/ojk-13Sj_large.png" expression="full" type="image/jpeg">OJK Buka-bukaan soal Kondisi Perbankan di RI (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/10/320/3241342/ojk-13Sj_large.png</image><title>OJK Buka-bukaan soal Kondisi Perbankan di RI (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kinerja dan profil risiko industri perbankan nasional tetap berada dalam kondisi aman serta terkendali pada kuartal III-2026. Ketahanan fundamental ini berlangsung di tengah eskalasi ketidakpastian perekonomian global dan domestik yang dipicu oleh dinamika pasar keuangan internasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hasil survei membuktikan optimisme perbankan tetap kuat terhadap prospek usaha, di mana perbankan memiliki keyakinan penuh untuk menjaga risiko operasional maupun pasar tetap terkendali,&amp;quot; ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (10/9/2026).&#13;
&#13;
Dian menjelaskan, soal keyakinan tersebut tercermin dari hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) OJK kuartal III-2026 yang dilaksanakan pada Juli 2026 dengan melibatkan 99 bank responden. Partisipasi bank-bank tersebut mewakili 97,91 persen dari total aset bank umum di Indonesia berdasarkan data posisi Juni 2026.&#13;
&#13;
Survei tersebut mencatat Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) berada pada zona optimis di level 56. Capaian ini disokong oleh ekspektasi kinerja yang kuat di tengah kecermatan industri terhadap dinamika makroekonomi kuartal berjalan dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama menyangkut potensi kenaikan inflasi dan arah suku bunga acuan global.&#13;
&#13;
Persepsi industri terhadap manajemen risiko konsisten berada pada jalur positif berkat terjaganya kualitas pembiayaan serta kehati-hatian dalam mengelola eksposur valuta asing. Kondisi tersebut diperkuat oleh ketersediaan alat likuid serta penghimpunan dana simpanan yang diproyeksikan melaju lebih kencang daripada penyaluran pinjaman.&#13;
&#13;
&amp;quot;Mayoritas perbankan meyakini kualitas portofolio kredit tetap aman dan posisi devisa neto berada di level rendah berstatus long position, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga yang solid turut mempertebal arus kas bersih,&amp;quot; kata Dian.&#13;
&#13;
Kondisi tersebut tecermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) yang bertengger dibzona optimis pada level 57. Mayoritas bank memastikan risiko likuiditas tetap termitigasi dengan baik, ditopang oleh Posisi Devisa Netto (PDN) yang terjaga rendah dengan nilai aset dan tagihan valas yang melampaui kewajiban valuta asing.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Di samping itu, akselerasi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diproyeksikan melampaui laju kredit kian memperkuat ketersediaan alat likuid serta arus kas bersih perbankan.&#13;
&#13;
Di sisi pencapaian usaha, prospek intermediasi diproyeksikan tetap melesatbdidorong oleh tingginya permintaan pembiayaan baru yang sudah masuk ke dalam daftar rencana kredit. Penyaluran dana perbankan pun tercatat mengalir deras ke sektor riil yang menjadi motor utama perekonomian domestik.&#13;
&#13;
&amp;quot;Indeks ekspektasi kinerja menembus level 83 seiring terbukanya ruang ekspansi kredit, khususnya di sektor industri pengolahan yang mendominasi pembiayaan dan tumbuh 16,85 persen secara tahunan,&amp;quot; jelas Dian.&#13;
&#13;
Optimisme ekspansi ini tergambar dari Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) yang mencapai angka 83 di zona optimis. Peningkatan pembiayaan didorong oleh realisasi portofolio pada cadangan komitmen yang telah disiapkan bank, terutama pada sektor Industri Pengolahan yang menjadi kontributor kredit terbesar nasional dengan pertumbuhan tahunan 16,85 persen (year-on-year/yoy) perJuli 2026.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Untuk menopang ekspansi sekaligus menjaga bantalan likuiditas, perbankan terus mengoptimalkan penghimpunan DPK melalui berbagai saluran pendanaan.&#13;
&#13;
Meskipun seluruh indikator permodalan dan likuiditas berada dalam kondisi prima, perbankan tetap menaruh kewaspadaan ekstra terhadap gejolak global yang berisiko berlangsung berkepanjangan. Keberlanjutan kontribusi intermediasi perbankan kini menuntut dukungan ekosistem makroekonomi yang sehat, produktif, dan berdaya saing.&#13;
&#13;
&amp;quot;Fundamental perbankan saat ini sangat kokoh untuk memitigasi rambatan risiko eksternal, asalkan momentum stabilitas ekonomi nasional terus terjaga demi mendukung pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,&amp;quot; kata Dian.&#13;
&#13;
OJK mencatat seluruh responden bank umum menyadari dinamika pemburukan ekonomi global berimplikasi langsung terhadap prospek ekonomi domestik. Kendati demikian, ketahanan industri perbankan nasional hingga saat ini dibuktikan oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta laju kredit yang terus positif.&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kinerja dan profil risiko industri perbankan nasional tetap berada dalam kondisi aman serta terkendali pada kuartal III-2026. Ketahanan fundamental ini berlangsung di tengah eskalasi ketidakpastian perekonomian global dan domestik yang dipicu oleh dinamika pasar keuangan internasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hasil survei membuktikan optimisme perbankan tetap kuat terhadap prospek usaha, di mana perbankan memiliki keyakinan penuh untuk menjaga risiko operasional maupun pasar tetap terkendali,&amp;quot; ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (10/9/2026).&#13;
&#13;
Dian menjelaskan, soal keyakinan tersebut tercermin dari hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) OJK kuartal III-2026 yang dilaksanakan pada Juli 2026 dengan melibatkan 99 bank responden. Partisipasi bank-bank tersebut mewakili 97,91 persen dari total aset bank umum di Indonesia berdasarkan data posisi Juni 2026.&#13;
&#13;
Survei tersebut mencatat Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) berada pada zona optimis di level 56. Capaian ini disokong oleh ekspektasi kinerja yang kuat di tengah kecermatan industri terhadap dinamika makroekonomi kuartal berjalan dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama menyangkut potensi kenaikan inflasi dan arah suku bunga acuan global.&#13;
&#13;
Persepsi industri terhadap manajemen risiko konsisten berada pada jalur positif berkat terjaganya kualitas pembiayaan serta kehati-hatian dalam mengelola eksposur valuta asing. Kondisi tersebut diperkuat oleh ketersediaan alat likuid serta penghimpunan dana simpanan yang diproyeksikan melaju lebih kencang daripada penyaluran pinjaman.&#13;
&#13;
&amp;quot;Mayoritas perbankan meyakini kualitas portofolio kredit tetap aman dan posisi devisa neto berada di level rendah berstatus long position, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga yang solid turut mempertebal arus kas bersih,&amp;quot; kata Dian.&#13;
&#13;
Kondisi tersebut tecermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) yang bertengger dibzona optimis pada level 57. Mayoritas bank memastikan risiko likuiditas tetap termitigasi dengan baik, ditopang oleh Posisi Devisa Netto (PDN) yang terjaga rendah dengan nilai aset dan tagihan valas yang melampaui kewajiban valuta asing.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Di samping itu, akselerasi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diproyeksikan melampaui laju kredit kian memperkuat ketersediaan alat likuid serta arus kas bersih perbankan.&#13;
&#13;
Di sisi pencapaian usaha, prospek intermediasi diproyeksikan tetap melesatbdidorong oleh tingginya permintaan pembiayaan baru yang sudah masuk ke dalam daftar rencana kredit. Penyaluran dana perbankan pun tercatat mengalir deras ke sektor riil yang menjadi motor utama perekonomian domestik.&#13;
&#13;
&amp;quot;Indeks ekspektasi kinerja menembus level 83 seiring terbukanya ruang ekspansi kredit, khususnya di sektor industri pengolahan yang mendominasi pembiayaan dan tumbuh 16,85 persen secara tahunan,&amp;quot; jelas Dian.&#13;
&#13;
Optimisme ekspansi ini tergambar dari Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) yang mencapai angka 83 di zona optimis. Peningkatan pembiayaan didorong oleh realisasi portofolio pada cadangan komitmen yang telah disiapkan bank, terutama pada sektor Industri Pengolahan yang menjadi kontributor kredit terbesar nasional dengan pertumbuhan tahunan 16,85 persen (year-on-year/yoy) perJuli 2026.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Untuk menopang ekspansi sekaligus menjaga bantalan likuiditas, perbankan terus mengoptimalkan penghimpunan DPK melalui berbagai saluran pendanaan.&#13;
&#13;
Meskipun seluruh indikator permodalan dan likuiditas berada dalam kondisi prima, perbankan tetap menaruh kewaspadaan ekstra terhadap gejolak global yang berisiko berlangsung berkepanjangan. Keberlanjutan kontribusi intermediasi perbankan kini menuntut dukungan ekosistem makroekonomi yang sehat, produktif, dan berdaya saing.&#13;
&#13;
&amp;quot;Fundamental perbankan saat ini sangat kokoh untuk memitigasi rambatan risiko eksternal, asalkan momentum stabilitas ekonomi nasional terus terjaga demi mendukung pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,&amp;quot; kata Dian.&#13;
&#13;
OJK mencatat seluruh responden bank umum menyadari dinamika pemburukan ekonomi global berimplikasi langsung terhadap prospek ekonomi domestik. Kendati demikian, ketahanan industri perbankan nasional hingga saat ini dibuktikan oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta laju kredit yang terus positif.&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
