<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penanganan Satwa saat Karhutla Didorong ke Pusat, Ini Alasannya</title><description>Penanganan satwa ketika terjadi bencana besar seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai perlu memiliki komando yang lebih jelas dari pemerintah pusat. &#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/14/320/3241875/penanganan-satwa-saat-karhutla-didorong-ke-pusat-ini-alasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/09/14/320/3241875/penanganan-satwa-saat-karhutla-didorong-ke-pusat-ini-alasannya"/><item><title>Penanganan Satwa saat Karhutla Didorong ke Pusat, Ini Alasannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/14/320/3241875/penanganan-satwa-saat-karhutla-didorong-ke-pusat-ini-alasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/09/14/320/3241875/penanganan-satwa-saat-karhutla-didorong-ke-pusat-ini-alasannya</guid><pubDate>Senin 14 September 2026 11:04 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/14/320/3241875/karhutla-qEYR_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penanganan Satwa saat Karhutla Didorong ke Pusat, Ini Alasannya (Foto: BNPB)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/14/320/3241875/karhutla-qEYR_large.jpg</image><title>Penanganan Satwa saat Karhutla Didorong ke Pusat, Ini Alasannya (Foto: BNPB)</title></images><description>JAKARTA - Penanganan satwa ketika terjadi bencana besar seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai perlu memiliki komando yang lebih jelas dari pemerintah pusat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Guru Besar Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai luasnya dampak karhutla membuat perlindungan satwa tidak dapat hanya bergantung pada kemampuan masing-masing pemerintah daerah.&#13;
&#13;
Pemerintah pusat, kata dia, perlu memiliki mekanisme penyelamatan, termasuk kemampuan memindahkan satwa menuju lokasi yang lebih aman ketika habitatnya terancam. Menurutnya, mekanisme khusus dalam kondisi force majeure masih perlu diperkuat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Soal satwa pada umumnya memang ada, tapi yang namanya bencana atau karhutla kan tidak direncanakan, jadi harus dihadapi dengan serius kondisi force majeure ini, perlu diperkuat dan belum ada,&amp;rdquo; ujarnya dalam keterangannya, Jakarta, Senin (14//9/2026).&#13;
&#13;
Trubus mengatakan kebutuhan tersebut juga tidak hanya relevan untuk menghadapi kebakaran hutan. Berbagai bencana dan perubahan kondisi lingkungan dapat menempatkan satwa dalam posisi yang sama-sama rentan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Yang namanya bencana tidak hanya karhutla, misal isu lingkungan atau perubahan iklim di darat laut udara, gunung meletus, intinya hewan dan satwa itu harus lebih dahulu ditangani dan diselamatkan,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sementara, perhatian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terhadap kondisi satwa di tengah karhutla menurut Trubus menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat mekanisme tersebut.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dia berharap perhatian itu tidak berhenti pada kunjungan lapangan. &amp;nbsp;Momentum ini dapat digunakan untuk memperjelas standar penanganan satwa dalam berbagai situasi bencana.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita berharap bisa ambil satu langkah lebih lanjut terhadap penanganan yang lebih komprehensif soal lingkungan dan satwa,&amp;rdquo; kata Trubus.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Penanganan satwa ketika terjadi bencana besar seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai perlu memiliki komando yang lebih jelas dari pemerintah pusat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Guru Besar Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai luasnya dampak karhutla membuat perlindungan satwa tidak dapat hanya bergantung pada kemampuan masing-masing pemerintah daerah.&#13;
&#13;
Pemerintah pusat, kata dia, perlu memiliki mekanisme penyelamatan, termasuk kemampuan memindahkan satwa menuju lokasi yang lebih aman ketika habitatnya terancam. Menurutnya, mekanisme khusus dalam kondisi force majeure masih perlu diperkuat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Soal satwa pada umumnya memang ada, tapi yang namanya bencana atau karhutla kan tidak direncanakan, jadi harus dihadapi dengan serius kondisi force majeure ini, perlu diperkuat dan belum ada,&amp;rdquo; ujarnya dalam keterangannya, Jakarta, Senin (14//9/2026).&#13;
&#13;
Trubus mengatakan kebutuhan tersebut juga tidak hanya relevan untuk menghadapi kebakaran hutan. Berbagai bencana dan perubahan kondisi lingkungan dapat menempatkan satwa dalam posisi yang sama-sama rentan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Yang namanya bencana tidak hanya karhutla, misal isu lingkungan atau perubahan iklim di darat laut udara, gunung meletus, intinya hewan dan satwa itu harus lebih dahulu ditangani dan diselamatkan,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sementara, perhatian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terhadap kondisi satwa di tengah karhutla menurut Trubus menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat mekanisme tersebut.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dia berharap perhatian itu tidak berhenti pada kunjungan lapangan. &amp;nbsp;Momentum ini dapat digunakan untuk memperjelas standar penanganan satwa dalam berbagai situasi bencana.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita berharap bisa ambil satu langkah lebih lanjut terhadap penanganan yang lebih komprehensif soal lingkungan dan satwa,&amp;rdquo; kata Trubus.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
