<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Daftar Gebrakan Purbaya selama Menkeu, Setahun Menjabat Kini Dicopot&amp;nbsp;</title><description>Kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan telah resmi berakhir setelah jabatan Menteri Keuangan diserahterimakan kepada Suahasil Nazara.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/14/320/3242059/daftar-gebrakan-purbaya-selama-menkeu-setahun-menjabat-kini-dicopot-nbsp</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/09/14/320/3242059/daftar-gebrakan-purbaya-selama-menkeu-setahun-menjabat-kini-dicopot-nbsp"/><item><title>Daftar Gebrakan Purbaya selama Menkeu, Setahun Menjabat Kini Dicopot&amp;nbsp;</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/14/320/3242059/daftar-gebrakan-purbaya-selama-menkeu-setahun-menjabat-kini-dicopot-nbsp</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/09/14/320/3242059/daftar-gebrakan-purbaya-selama-menkeu-setahun-menjabat-kini-dicopot-nbsp</guid><pubDate>Senin 14 September 2026 21:18 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/14/320/3242059/purbaya-jlhY_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gebrakan Purbaya (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/14/320/3242059/purbaya-jlhY_large.jpg</image><title>Gebrakan Purbaya (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan telah resmi berakhir setelah jabatan Menteri Keuangan diserahterimakan kepada Suahasil Nazara.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Adapun Serah Terima Jabatan Purbaya dan Suahasil bakal digelar Selasa (15/9/2026) pukul 10.30 WIB di Aula Gedung Djuanda 1 Kemenkeu.&#13;
&#13;
Selama masa pengabdiannya, Purbaya meninggalkan rekam jejak kebijakan fiskal pro-growth yang berfokus pada dorongan likuiditas sektor riil, penataan ketat penerimaan negara, hingga utang Kereta Cepat Whoosh.&#13;
&#13;
Berdasarkan data yang dihimpun Okezone, Senin (14/9/2026) berikut gebrakan Purbaya:&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. &amp;nbsp;Pindahkan Rp200 Triliun dari BI ke bank-bank BUMN&#13;
&#13;
Ini bisa disebut sebagai gebrakan pertama dan paling kontroversial Purbaya.&#13;
&#13;
Tak lama setelah menjabat, Purbaya memindahkan sekitar Rp200 triliun dana pemerintah yang sebelumnya ditempatkan di Bank Indonesia ke bank-bank BUMN.&#13;
&#13;
Tujuannya, menambah likuiditas perbankan agar kredit mengalir lebih deras ke sektor riil, sehingga konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi terdorong.&#13;
&#13;
Kebijakan ini kemudian menjadi ciri khas pendekatan Purbaya yang lebih pro-growth dan agresif dibanding pendekatan fiskal konservatif sebelumnya.&#13;
&#13;
Bahkan pada Agustus 2026, pemerintah memutuskan memperpanjang penempatan Rp200 triliun tersebut sampai Juli 2027.&#13;
&#13;
Di bawah komandonya, Kementerian Keuangan menempuh berbagai langkah strategis di bidang perpajakan, kepabeanan, perbankan, hingga pengelolaan tata kelola APBN.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Kejar Pertumbuhan Ekonomi Dekati 6%&#13;
&#13;
Purbaya tidak puas dengan target resmi pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar sekitar 5,4%.&#13;
&#13;
Ia secara terbuka memasang target ekonomi Indonesia mendekati 6%, bahkan mengatakan dirinya siap bertanggung jawab jika target tersebut gagal dicapai.&#13;
&#13;
Ini menjadi semacam &amp;quot;kontrak politik-ekonomi&amp;quot; Purbaya dengan publik.&#13;
&#13;
Ia bahkan pernah mengatakan bahwa jika dalam waktu enam bulan ekonomi tidak bergerak ke arah yang benar, publik boleh mengkritiknya.&#13;
&#13;
Purbaya datang dengan target tinggi: 6% atau mundur.&#13;
&#13;
3. Mengubah Paradigma APBN&#13;
&#13;
Purbaya berulang kali mengatakan kebijakan fiskalnya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan, bukan sekadar menjaga defisit dan stabilitas fiskal.&#13;
&#13;
Kementerian Keuangan pada Februari 2026 bahkan menyebut kebijakan fiskal pro-growth yang ditempuh sejak paruh kedua 2025 berhasil membalikkan arah perekonomian.&#13;
&#13;
Pendekatan ini menjadi salah satu perbedaan paling mencolok dibanding era Sri Mulyani yang dikenal lebih menekankan kehati-hatian fiskal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
4. Berani menekan biaya dana perbankan&#13;
&#13;
Purbaya tidak hanya menempatkan dana pemerintah di bank.&#13;
&#13;
Pada 2026, ia juga mendorong lembaga-lembaga di bawah Kementerian Keuangan yang memiliki dana besar untuk menempatkan dana dengan tingkat bunga lebih rendah.&#13;
&#13;
Targetnya adalah menurunkan cost of fund bank, sehingga bank memiliki ruang lebih besar untuk memberikan kredit dengan bunga yang lebih murah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ini merupakan bagian dari strategi besarnya untuk membuat likuiditas benar-benar masuk ke perekonomian.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
5. Perpanjang Amunisi Rp200 triliun&#13;
&#13;
Pada awalnya penempatan Rp200 triliun dirancang sampai akhir 2026.&#13;
&#13;
Namun pada Agustus, Purbaya memutuskan memperpanjang Rp200 triliun tersebut hingga Juli 2027.&#13;
&#13;
Pemerintah juga meningkatkan total dana pemerintah yang ditempatkan di bank-bank BUMN hingga mendekati Rp400 triliun, meskipun hanya Rp200 triliun yang diperpanjang hingga 2027. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
6. &amp;nbsp;Berani Hadapi kritik investor dan lembaga rating&#13;
&#13;
Gaya Purbaya juga berbeda dari Menkeu sebelumnya dalam menghadapi kritik.&#13;
&#13;
Kebijakannya mendapat perhatian dari investor internasional dan lembaga pemeringkat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Fitch kemudian menurunkan outlook Indonesia menjadi negative, sementara kekhawatiran mengenai disiplin fiskal dan ketidakpastian kebijakan juga muncul dari pelaku pasar.&#13;
&#13;
Namun Purbaya tetap mempertahankan pendekatannya dan mengatakan bahwa hasil kebijakannya akan terlihat dari pertumbuhan ekonomi.&#13;
&#13;
Ia bahkan dikenal dengan gaya komunikasi yang sangat blak-blakan dan oleh Reuters disebut sebagai cowboy finance minister karena pendekatannya yang tidak konvensional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
7. &amp;nbsp;Mengambil sikap keras soal pajak&#13;
&#13;
Purbaya juga beberapa kali menyampaikan bahwa pemerintah tidak perlu terburu-buru menaikkan tarif pajak ketika ekonomi belum tumbuh kuat.&#13;
&#13;
Logikanya: jangan sampai peningkatan penerimaan negara justru menekan aktivitas ekonomi ketika pemerintah sedang berusaha mengejar pertumbuhan.&#13;
&#13;
Pendekatan ini konsisten dengan filosofi Purbaya bahwa pertumbuhan ekonomi harus didorong terlebih dahulu, kemudian basis penerimaan negara ikut membesar.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
8. &amp;nbsp;Menyusun ulang strategi pembiayaan proyek Whoosh&#13;
&#13;
Menjelang akhir masa jabatannya, Purbaya juga mengumumkan bahwa pemerintah akan mengalihkan pengendalian proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) kepada entitas pemerintah.&#13;
&#13;
Pemerintah menyiapkan opsi INA atau PT Sarana Multi Infrastruktur sebagai pemegang kendali 60%, sementara pihak China tetap memegang 40%.&#13;
&#13;
Pemerintah juga harus menangani utang proyek tersebut, termasuk pinjaman sekitar USD4,5 miliar dari China Development Bank.&#13;
&#13;
Purbaya ikut meninggalkan pekerjaan besar: restrukturisasi dan pengelolaan utang Whoosh.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan telah resmi berakhir setelah jabatan Menteri Keuangan diserahterimakan kepada Suahasil Nazara.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Adapun Serah Terima Jabatan Purbaya dan Suahasil bakal digelar Selasa (15/9/2026) pukul 10.30 WIB di Aula Gedung Djuanda 1 Kemenkeu.&#13;
&#13;
Selama masa pengabdiannya, Purbaya meninggalkan rekam jejak kebijakan fiskal pro-growth yang berfokus pada dorongan likuiditas sektor riil, penataan ketat penerimaan negara, hingga utang Kereta Cepat Whoosh.&#13;
&#13;
Berdasarkan data yang dihimpun Okezone, Senin (14/9/2026) berikut gebrakan Purbaya:&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. &amp;nbsp;Pindahkan Rp200 Triliun dari BI ke bank-bank BUMN&#13;
&#13;
Ini bisa disebut sebagai gebrakan pertama dan paling kontroversial Purbaya.&#13;
&#13;
Tak lama setelah menjabat, Purbaya memindahkan sekitar Rp200 triliun dana pemerintah yang sebelumnya ditempatkan di Bank Indonesia ke bank-bank BUMN.&#13;
&#13;
Tujuannya, menambah likuiditas perbankan agar kredit mengalir lebih deras ke sektor riil, sehingga konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi terdorong.&#13;
&#13;
Kebijakan ini kemudian menjadi ciri khas pendekatan Purbaya yang lebih pro-growth dan agresif dibanding pendekatan fiskal konservatif sebelumnya.&#13;
&#13;
Bahkan pada Agustus 2026, pemerintah memutuskan memperpanjang penempatan Rp200 triliun tersebut sampai Juli 2027.&#13;
&#13;
Di bawah komandonya, Kementerian Keuangan menempuh berbagai langkah strategis di bidang perpajakan, kepabeanan, perbankan, hingga pengelolaan tata kelola APBN.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Kejar Pertumbuhan Ekonomi Dekati 6%&#13;
&#13;
Purbaya tidak puas dengan target resmi pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar sekitar 5,4%.&#13;
&#13;
Ia secara terbuka memasang target ekonomi Indonesia mendekati 6%, bahkan mengatakan dirinya siap bertanggung jawab jika target tersebut gagal dicapai.&#13;
&#13;
Ini menjadi semacam &amp;quot;kontrak politik-ekonomi&amp;quot; Purbaya dengan publik.&#13;
&#13;
Ia bahkan pernah mengatakan bahwa jika dalam waktu enam bulan ekonomi tidak bergerak ke arah yang benar, publik boleh mengkritiknya.&#13;
&#13;
Purbaya datang dengan target tinggi: 6% atau mundur.&#13;
&#13;
3. Mengubah Paradigma APBN&#13;
&#13;
Purbaya berulang kali mengatakan kebijakan fiskalnya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan, bukan sekadar menjaga defisit dan stabilitas fiskal.&#13;
&#13;
Kementerian Keuangan pada Februari 2026 bahkan menyebut kebijakan fiskal pro-growth yang ditempuh sejak paruh kedua 2025 berhasil membalikkan arah perekonomian.&#13;
&#13;
Pendekatan ini menjadi salah satu perbedaan paling mencolok dibanding era Sri Mulyani yang dikenal lebih menekankan kehati-hatian fiskal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
4. Berani menekan biaya dana perbankan&#13;
&#13;
Purbaya tidak hanya menempatkan dana pemerintah di bank.&#13;
&#13;
Pada 2026, ia juga mendorong lembaga-lembaga di bawah Kementerian Keuangan yang memiliki dana besar untuk menempatkan dana dengan tingkat bunga lebih rendah.&#13;
&#13;
Targetnya adalah menurunkan cost of fund bank, sehingga bank memiliki ruang lebih besar untuk memberikan kredit dengan bunga yang lebih murah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ini merupakan bagian dari strategi besarnya untuk membuat likuiditas benar-benar masuk ke perekonomian.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
5. Perpanjang Amunisi Rp200 triliun&#13;
&#13;
Pada awalnya penempatan Rp200 triliun dirancang sampai akhir 2026.&#13;
&#13;
Namun pada Agustus, Purbaya memutuskan memperpanjang Rp200 triliun tersebut hingga Juli 2027.&#13;
&#13;
Pemerintah juga meningkatkan total dana pemerintah yang ditempatkan di bank-bank BUMN hingga mendekati Rp400 triliun, meskipun hanya Rp200 triliun yang diperpanjang hingga 2027. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
6. &amp;nbsp;Berani Hadapi kritik investor dan lembaga rating&#13;
&#13;
Gaya Purbaya juga berbeda dari Menkeu sebelumnya dalam menghadapi kritik.&#13;
&#13;
Kebijakannya mendapat perhatian dari investor internasional dan lembaga pemeringkat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Fitch kemudian menurunkan outlook Indonesia menjadi negative, sementara kekhawatiran mengenai disiplin fiskal dan ketidakpastian kebijakan juga muncul dari pelaku pasar.&#13;
&#13;
Namun Purbaya tetap mempertahankan pendekatannya dan mengatakan bahwa hasil kebijakannya akan terlihat dari pertumbuhan ekonomi.&#13;
&#13;
Ia bahkan dikenal dengan gaya komunikasi yang sangat blak-blakan dan oleh Reuters disebut sebagai cowboy finance minister karena pendekatannya yang tidak konvensional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
7. &amp;nbsp;Mengambil sikap keras soal pajak&#13;
&#13;
Purbaya juga beberapa kali menyampaikan bahwa pemerintah tidak perlu terburu-buru menaikkan tarif pajak ketika ekonomi belum tumbuh kuat.&#13;
&#13;
Logikanya: jangan sampai peningkatan penerimaan negara justru menekan aktivitas ekonomi ketika pemerintah sedang berusaha mengejar pertumbuhan.&#13;
&#13;
Pendekatan ini konsisten dengan filosofi Purbaya bahwa pertumbuhan ekonomi harus didorong terlebih dahulu, kemudian basis penerimaan negara ikut membesar.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
8. &amp;nbsp;Menyusun ulang strategi pembiayaan proyek Whoosh&#13;
&#13;
Menjelang akhir masa jabatannya, Purbaya juga mengumumkan bahwa pemerintah akan mengalihkan pengendalian proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) kepada entitas pemerintah.&#13;
&#13;
Pemerintah menyiapkan opsi INA atau PT Sarana Multi Infrastruktur sebagai pemegang kendali 60%, sementara pihak China tetap memegang 40%.&#13;
&#13;
Pemerintah juga harus menangani utang proyek tersebut, termasuk pinjaman sekitar USD4,5 miliar dari China Development Bank.&#13;
&#13;
Purbaya ikut meninggalkan pekerjaan besar: restrukturisasi dan pengelolaan utang Whoosh.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
