<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tak Lagi Dikucilkan, Inovasi Pertagas Bikin ODGJ Berkarya dan Hasilkan Cuan</title><description>Di tempat itu, mereka tidak hanya mendapatkan pendampingan, tetapi belajar membuat kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/17/320/3242642/tak-lagi-dikucilkan-inovasi-pertagas-bikin-odgj-berkarya-dan-hasilkan-cuan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/09/17/320/3242642/tak-lagi-dikucilkan-inovasi-pertagas-bikin-odgj-berkarya-dan-hasilkan-cuan"/><item><title>Tak Lagi Dikucilkan, Inovasi Pertagas Bikin ODGJ Berkarya dan Hasilkan Cuan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/17/320/3242642/tak-lagi-dikucilkan-inovasi-pertagas-bikin-odgj-berkarya-dan-hasilkan-cuan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/09/17/320/3242642/tak-lagi-dikucilkan-inovasi-pertagas-bikin-odgj-berkarya-dan-hasilkan-cuan</guid><pubDate>Kamis 17 September 2026 15:48 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/17/320/3242642/odgj-r2Sb_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">endopo sederhana di Desa Ganggangpanjang, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi ruang bagi pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) untuk berkegiatan. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/17/320/3242642/odgj-r2Sb_large.jpg</image><title>endopo sederhana di Desa Ganggangpanjang, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi ruang bagi pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) untuk berkegiatan. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Pendopo sederhana di Desa Ganggangpanjang, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi ruang bagi pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) untuk berkegiatan. Di tempat itu, mereka tidak hanya mendapatkan pendampingan, tetapi belajar membuat kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.&#13;
&#13;
Perubahan tersebut menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat PT Pertamina Gas (Pertagas) &amp;nbsp;yang dikembangkan melalui program Kidung Tanggulangin. Program ini mendorong pasien kesehatan jiwa untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat dalam kegiatan produktif sesuai kondisi masing-masing.&#13;
&#13;
Ketua Kader Kesehatan Jiwa (Keswa) Kecamatan Tanggulangin, Abu Amar, mengatakan pendampingan terhadap pasien kesehatan jiwa telah dilakukan masyarakat bersama fasilitas kesehatan sejak 2018-2019. Namun, penguatan kegiatan kader dan pendampingan mulai berjalan lebih efektif sejak 2022.&#13;
&#13;
Saat ini, terdapat sekitar 246 pasien kesehatan jiwa yang telah tercatat di Kecamatan Tanggulangin. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena tidak seluruh pasien atau keluarga bersedia melaporkan kondisi mereka.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurut Abu, pendampingan tidak bisa dilakukan dengan memaksakan pasien mengikuti kegiatan. Kondisi kesehatan setiap pasien berbeda sehingga aktivitas diberikan ketika kondisi mereka stabil.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau stabil, baru kita ajak. Kita tidak memaksa mereka karena bisa membuat kondisinya kambuh,&amp;rdquo; ujar Abu, Kamis (17/9/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pendekatan tersebut menjadi penting karena pengobatan pasien kesehatan jiwa tidak berhenti pada pemberian obat. Pendampingan keluarga dan lingkungan juga dibutuhkan agar pasien dapat menjalani aktivitas secara rutin.&#13;
&#13;
Di Pendopo Sehati, sebagian pasien kemudian diarahkan mengikuti aktivitas yang disesuaikan dengan kemampuan mereka. Ada yang membuat kemoceng, keset, mengolah sampah menjadi ecobrick, membuat kompos, hingga terlibat dalam kegiatan produksi minuman.&#13;
&#13;
Community Development Officer Pertagas OEJA, Al Rosyid Anggi, mengatakan program tersebut berangkat dari gagasan untuk mengubah cara pandang terhadap pasien kesehatan jiwa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Awalnya mereka menjadi objek penerima dana sosial. Kami kemudian melihat bagaimana mereka bisa menjadi subjek yang menghasilkan nilai ekonomi dari kegiatan yang mereka lakukan,&amp;rdquo; kata Rosyid.&#13;
&#13;
Menurut dia, kegiatan produktif juga menjadi salah satu cara untuk menyalurkan energi positif pasien melalui aktivitas yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.&#13;
&#13;
Pertagas bersama kader kemudian memfasilitasi pelatihan, menyediakan peralatan produksi, serta membangun pendopo sebagai ruang kegiatan dan usaha. Pendekatan tersebut juga diperkuat dengan menggandeng akademisi Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) untuk melihat perkembangan pasien setelah mengikuti kegiatan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pasien tidak hanya menjadi objek, tetapi bisa menjadi subjek yang menghasilkan nilai ekonomis. Dengan adanya kegiatan ini, mereka bisa mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas yang mereka lakukan,&amp;rdquo; ujar Anggi.&#13;
&#13;
Saat ini, lebih dari 200 pasien kesehatan jiwa tercatat dalam pendampingan di wilayah tersebut. Namun, tidak seluruhnya mengikuti kegiatan di pendopo.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Aktivitas pun dibuat fleksibel. Pasien yang belum memungkinkan mengikuti kegiatan di pendopo dapat mengerjakan bahan atau kerajinan dari rumah. Pendekatan ini dilakukan agar kegiatan tidak menjadi tekanan bagi pasien.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kegiatan ini juga didapat dari saran psikolog yang kita datangkan. Jadi dinilai tepat untuk melakukan kegiatan dan manfaatnya ada,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Hasil karya pasien kemudian dibeli oleh pengurus atau kader untuk selanjutnya dikelola dan dipasarkan. Dengan pola tersebut, aktivitas yang semula hanya ditujukan sebagai kegiatan pendampingan perlahan memiliki nilai produktif.&#13;
&#13;
Mengubah Cara Pandang Masyarakat&#13;
&#13;
Perubahan tidak hanya dirasakan oleh pasien dan keluarganya. Program tersebut juga perlahan mengubah cara masyarakat memandang ODGJ.&#13;
&#13;
Istiana, dari Bidang Pembinaan Desa Ganggangpanjang, mengatakan masyarakat kini mulai lebih memahami kondisi pasien kesehatan jiwa. Jika sebelumnya sebagian warga merasa takut atau menjaga jarak, kini mereka mulai menerima dan ikut memberikan dukungan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Perkembangannya jauh lebih baik. Mereka bukan hanya didampingi untuk minum obat, tetapi juga mulai diakui dan diterima oleh masyarakat,&amp;rdquo; kata Istiana.&#13;
&#13;
Menurut dia, sejumlah pasien bahkan mulai menunjukkan keinginan untuk kembali menjalani aktivitas pendidikan maupun pekerjaan.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ada pasien yang mulai memiliki keinginan untuk kuliah atau kembali bersekolah. Ada pula yang ingin bekerja. Namun, pendampingan tetap harus menyesuaikan kondisi masing-masing pasien agar aktivitas yang diberikan tidak justru memicu kekambuhan.&#13;
&#13;
Bagi kader, proses tersebut membutuhkan kesabaran. Salah satu tantangan adalah memastikan pasien tetap mendapatkan pengobatan secara rutin, terutama ketika kondisi mereka menurun dan enggan beraktivitas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau sedang down, kadang satu sampai dua minggu tidak mau minum obat. Saat seperti itu, pendampingan menjadi penting,&amp;rdquo; ujar Istiana.&#13;
&#13;
Karena itu, kegiatan di Pendopo Sehati tidak ditempatkan sebagai pengganti pengobatan medis. Aktivitas produktif menjadi bagian dari pendampingan agar pasien memiliki rutinitas, ruang berinteraksi, sekaligus kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.&#13;
&#13;
Anggi mengatakan Pertagas melihat kegiatan tersebut sebagai sebuah laboratorium sosial. Pasien diberi ruang untuk beraktivitas, sementara kader dan masyarakat belajar memahami kondisi kesehatan jiwa secara lebih dekat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Harapannya, program ini bisa menembus batas. Ada kader yang mendampingi, masyarakat juga mulai memahami. Mereka yang sebelumnya hanya dilihat sebagai pasien kini bisa diajak berkegiatan dan berkontribusi,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Bagi Abu, perubahan paling sederhana justru terlihat ketika pasien mulai mau berkomunikasi dan berkumpul bersama orang lain.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mereka sekarang sudah bisa diajak ngobrol dan senang ketika berkegiatan bersama,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Dari sebuah pendopo, perubahan itu perlahan dibangun.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Bagi Pertagas, energi yang dihasilkan dari proses tersebut bukan sekadar nilai ekonomi. Energi itu tumbuh dari keberanian pasien untuk kembali beraktivitas, keluarga yang terus mendampingi, kader yang tidak menyerah, dan masyarakat yang perlahan membuka ruang bagi mereka untuk kembali menjadi bagian dari kehidupan sosial.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Pendopo sederhana di Desa Ganggangpanjang, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi ruang bagi pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) untuk berkegiatan. Di tempat itu, mereka tidak hanya mendapatkan pendampingan, tetapi belajar membuat kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.&#13;
&#13;
Perubahan tersebut menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat PT Pertamina Gas (Pertagas) &amp;nbsp;yang dikembangkan melalui program Kidung Tanggulangin. Program ini mendorong pasien kesehatan jiwa untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat dalam kegiatan produktif sesuai kondisi masing-masing.&#13;
&#13;
Ketua Kader Kesehatan Jiwa (Keswa) Kecamatan Tanggulangin, Abu Amar, mengatakan pendampingan terhadap pasien kesehatan jiwa telah dilakukan masyarakat bersama fasilitas kesehatan sejak 2018-2019. Namun, penguatan kegiatan kader dan pendampingan mulai berjalan lebih efektif sejak 2022.&#13;
&#13;
Saat ini, terdapat sekitar 246 pasien kesehatan jiwa yang telah tercatat di Kecamatan Tanggulangin. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena tidak seluruh pasien atau keluarga bersedia melaporkan kondisi mereka.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurut Abu, pendampingan tidak bisa dilakukan dengan memaksakan pasien mengikuti kegiatan. Kondisi kesehatan setiap pasien berbeda sehingga aktivitas diberikan ketika kondisi mereka stabil.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau stabil, baru kita ajak. Kita tidak memaksa mereka karena bisa membuat kondisinya kambuh,&amp;rdquo; ujar Abu, Kamis (17/9/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pendekatan tersebut menjadi penting karena pengobatan pasien kesehatan jiwa tidak berhenti pada pemberian obat. Pendampingan keluarga dan lingkungan juga dibutuhkan agar pasien dapat menjalani aktivitas secara rutin.&#13;
&#13;
Di Pendopo Sehati, sebagian pasien kemudian diarahkan mengikuti aktivitas yang disesuaikan dengan kemampuan mereka. Ada yang membuat kemoceng, keset, mengolah sampah menjadi ecobrick, membuat kompos, hingga terlibat dalam kegiatan produksi minuman.&#13;
&#13;
Community Development Officer Pertagas OEJA, Al Rosyid Anggi, mengatakan program tersebut berangkat dari gagasan untuk mengubah cara pandang terhadap pasien kesehatan jiwa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Awalnya mereka menjadi objek penerima dana sosial. Kami kemudian melihat bagaimana mereka bisa menjadi subjek yang menghasilkan nilai ekonomi dari kegiatan yang mereka lakukan,&amp;rdquo; kata Rosyid.&#13;
&#13;
Menurut dia, kegiatan produktif juga menjadi salah satu cara untuk menyalurkan energi positif pasien melalui aktivitas yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.&#13;
&#13;
Pertagas bersama kader kemudian memfasilitasi pelatihan, menyediakan peralatan produksi, serta membangun pendopo sebagai ruang kegiatan dan usaha. Pendekatan tersebut juga diperkuat dengan menggandeng akademisi Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) untuk melihat perkembangan pasien setelah mengikuti kegiatan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pasien tidak hanya menjadi objek, tetapi bisa menjadi subjek yang menghasilkan nilai ekonomis. Dengan adanya kegiatan ini, mereka bisa mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas yang mereka lakukan,&amp;rdquo; ujar Anggi.&#13;
&#13;
Saat ini, lebih dari 200 pasien kesehatan jiwa tercatat dalam pendampingan di wilayah tersebut. Namun, tidak seluruhnya mengikuti kegiatan di pendopo.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Aktivitas pun dibuat fleksibel. Pasien yang belum memungkinkan mengikuti kegiatan di pendopo dapat mengerjakan bahan atau kerajinan dari rumah. Pendekatan ini dilakukan agar kegiatan tidak menjadi tekanan bagi pasien.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kegiatan ini juga didapat dari saran psikolog yang kita datangkan. Jadi dinilai tepat untuk melakukan kegiatan dan manfaatnya ada,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Hasil karya pasien kemudian dibeli oleh pengurus atau kader untuk selanjutnya dikelola dan dipasarkan. Dengan pola tersebut, aktivitas yang semula hanya ditujukan sebagai kegiatan pendampingan perlahan memiliki nilai produktif.&#13;
&#13;
Mengubah Cara Pandang Masyarakat&#13;
&#13;
Perubahan tidak hanya dirasakan oleh pasien dan keluarganya. Program tersebut juga perlahan mengubah cara masyarakat memandang ODGJ.&#13;
&#13;
Istiana, dari Bidang Pembinaan Desa Ganggangpanjang, mengatakan masyarakat kini mulai lebih memahami kondisi pasien kesehatan jiwa. Jika sebelumnya sebagian warga merasa takut atau menjaga jarak, kini mereka mulai menerima dan ikut memberikan dukungan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Perkembangannya jauh lebih baik. Mereka bukan hanya didampingi untuk minum obat, tetapi juga mulai diakui dan diterima oleh masyarakat,&amp;rdquo; kata Istiana.&#13;
&#13;
Menurut dia, sejumlah pasien bahkan mulai menunjukkan keinginan untuk kembali menjalani aktivitas pendidikan maupun pekerjaan.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ada pasien yang mulai memiliki keinginan untuk kuliah atau kembali bersekolah. Ada pula yang ingin bekerja. Namun, pendampingan tetap harus menyesuaikan kondisi masing-masing pasien agar aktivitas yang diberikan tidak justru memicu kekambuhan.&#13;
&#13;
Bagi kader, proses tersebut membutuhkan kesabaran. Salah satu tantangan adalah memastikan pasien tetap mendapatkan pengobatan secara rutin, terutama ketika kondisi mereka menurun dan enggan beraktivitas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau sedang down, kadang satu sampai dua minggu tidak mau minum obat. Saat seperti itu, pendampingan menjadi penting,&amp;rdquo; ujar Istiana.&#13;
&#13;
Karena itu, kegiatan di Pendopo Sehati tidak ditempatkan sebagai pengganti pengobatan medis. Aktivitas produktif menjadi bagian dari pendampingan agar pasien memiliki rutinitas, ruang berinteraksi, sekaligus kesempatan untuk mengembangkan kemampuan.&#13;
&#13;
Anggi mengatakan Pertagas melihat kegiatan tersebut sebagai sebuah laboratorium sosial. Pasien diberi ruang untuk beraktivitas, sementara kader dan masyarakat belajar memahami kondisi kesehatan jiwa secara lebih dekat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Harapannya, program ini bisa menembus batas. Ada kader yang mendampingi, masyarakat juga mulai memahami. Mereka yang sebelumnya hanya dilihat sebagai pasien kini bisa diajak berkegiatan dan berkontribusi,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Bagi Abu, perubahan paling sederhana justru terlihat ketika pasien mulai mau berkomunikasi dan berkumpul bersama orang lain.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mereka sekarang sudah bisa diajak ngobrol dan senang ketika berkegiatan bersama,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Dari sebuah pendopo, perubahan itu perlahan dibangun.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Bagi Pertagas, energi yang dihasilkan dari proses tersebut bukan sekadar nilai ekonomi. Energi itu tumbuh dari keberanian pasien untuk kembali beraktivitas, keluarga yang terus mendampingi, kader yang tidak menyerah, dan masyarakat yang perlahan membuka ruang bagi mereka untuk kembali menjadi bagian dari kehidupan sosial.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
