<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kapasitas Pelabuhan Naik, Ekosistem Logistik Darat Diperkuat </title><description>Peningkatan kapasitas pelabuhan peti kemas perlu diikuti penguatan simpul logistik di sisi darat.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/24/11/3243972/kapasitas-pelabuhan-naik-ekosistem-logistik-darat-diperkuat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/09/24/11/3243972/kapasitas-pelabuhan-naik-ekosistem-logistik-darat-diperkuat"/><item><title>Kapasitas Pelabuhan Naik, Ekosistem Logistik Darat Diperkuat </title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/09/24/11/3243972/kapasitas-pelabuhan-naik-ekosistem-logistik-darat-diperkuat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/09/24/11/3243972/kapasitas-pelabuhan-naik-ekosistem-logistik-darat-diperkuat</guid><pubDate>Kamis 24 September 2026 15:54 WIB</pubDate><dc:creator>Agustina Wulandari </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/24/11/3243972/kapasitas_pelabuhan_naik-ZXgC_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kapasitas pelabuhan naik. (Foto: dok Pelindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/24/11/3243972/kapasitas_pelabuhan_naik-ZXgC_large.jpeg</image><title>Kapasitas pelabuhan naik. (Foto: dok Pelindo)</title></images><description>SURABAYA - Peningkatan kapasitas pelabuhan peti kemas perlu diikuti penguatan&amp;nbsp;simpul logistik di sisi darat. Hal ini perlu dilakukan agar percepatan bongkar muat tidak justru&amp;nbsp;memindahkan titik hambatan ke rantai distribusi berikutnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, Prof. Kuncoro Harto Widodo,&amp;nbsp; mengatakan pertumbuhan arus peti kemas perlu diimbangi dengan penguatan seluruh simpul&amp;nbsp;dalam ekosistem logistik. Menurutnya, peningkatan layanan logistik tidak hanya bergantung&amp;nbsp; pada infrastruktur fisik, tetapi juga integrasi data, kapasitas sumber daya manusia, dan&amp;nbsp; dukungan regulasi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pakar manajemen logistik dan rantai pasok itu mengatakan volume arus peti kemas nasional&amp;nbsp; mengalami pertumbuhan positif dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat&amp;nbsp; penguatan kapasitas dan keterhubungan antarsimpul menjadi semakin penting.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Hambatan&amp;nbsp; pada satu simpul akan berdampak pada simpul lainnya,&amp;rdquo; ujar Kuncoro.&#13;
&#13;
Karena itu, Kuncoro mendorong integrasi data antara terminal, perusahaan pelayaran, depo,&amp;nbsp; trucking, kawasan industri, dan pemerintah. Pemanfaatan National Logistics Ecosystem&amp;nbsp; (NLE) juga perlu terus dioptimalkan agar pergerakan informasi dapat mengikuti bahkan&amp;nbsp; mendahului pergerakan barang.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Yang diidealkan itu aliran informasi mestinya setiap saat bahkan kalau bisa mendahului aliran&amp;nbsp; barang,&amp;rdquo; katanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selain integrasi sistem informasi, Kuncoro menilai pengembangan angkutan barang berbasis&amp;nbsp; kereta api perlu diperkuat sebagai alternatif distribusi menuju pelabuhan. Pengembangan&amp;nbsp; moda tersebut juga dapat mendukung upaya penanganan kendaraan over dimension overload (ODOL) di jalur darat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pandangan mengenai pentingnya keterhubungan antarsimpul juga disampaikan praktisi&amp;nbsp; kepelabuhanan serta logistik dari Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Wahyono&amp;nbsp; Bimarso.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurutnya, kemampuan terminal peti kemas di Indonesia pada dasarnya sudah&amp;nbsp; semakin baik dan memenuhi standar internasional. Namun, peningkatan produktivitas di&amp;nbsp; dalam terminal tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak diikuti kesiapan&amp;nbsp; fasilitas setelah kontainer keluar dari pelabuhan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Terminal peti kemas kita sebenarnya sudah berstandar internasional. Persoalan utama justru&amp;nbsp; muncul setelah kontainer keluar dari pelabuhan. Kecepatan bongkar muat tidak akan&amp;nbsp; berdampak maksimal apabila depo, gudang, jalan, dan sistem distribusi di sisi darat tidak&amp;nbsp; berkembang dengan kecepatan yang sama,&amp;rdquo; kata Wahyono.&#13;
&#13;
Pria yang juga Kaprodi Teknik Kelautan ITL Trisakti ini mencontohkan kondisi di Merauke.&amp;nbsp; Meskipun fasilitas pelabuhan dinilai sudah memadai, keterbatasan lapangan penumpukan&amp;nbsp; dan gudang di belakang pelabuhan masih menjadi persoalan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Pelabuhannya sudah bagus, peralatannya lengkap, tetapi dari sana belum ada lapangan&amp;nbsp; penumpukan atau gudang di belakang pelabuhan,&amp;quot; katanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurut Wahyono, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas terminal&amp;nbsp; perlu direncanakan bersama dengan kesiapan simpul logistik lainnya. Jika tidak, antrean dan&amp;nbsp; kepadatan berpotensi berpindah dari terminal menuju depo, trucking, gudang maupun&amp;nbsp; jaringan jalan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Produktivitas Terminal&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
Produktivitas Terminal. (Foto: dok Pelindo)&#13;
&#13;
&#13;
Dari sisi pelayaran, peningkatan kapasitas dan produktivitas terminal tetap dinilai penting&amp;nbsp; untuk mendukung efisiensi operasional kapal. Ketua DPC INSA Semarang,Hari Ratmoko,&amp;nbsp;mengatakan produktivitas terminal peti kemas saat ini sebenarnya sudah cukup baik. Namun,&amp;nbsp; peningkatan kapasitas dermaga dan kedalaman alur tetap diperlukan untuk mengakomodasi&amp;nbsp; pertumbuhan trafik kapal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Semakin lancar bongkar muat, maka akan semakin efisien dan efektif waktunya dan shipping&amp;nbsp; line akan senang. Waktu sandar di Pelabuhan Tanjung Emas cepat, bongkar cepat, memuat&amp;nbsp; cepat dan bisa menuju ke pelabuhan berikutnya sesuai schedule,&amp;rdquo; ujarnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Peningkatan produktivitas di terminal harus berjalan beriringan dengan kesiapan fasilitas&amp;nbsp; penyangga di luar terminal. Dalam konteks tersebut, depo kontainer memiliki peran penting&amp;nbsp; dalam menjaga kelancaran rantai pasok.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Depo kontainer itu cukup punya peran penting dalam supply chain,&amp;rdquo; katanya. Depo tidak&amp;nbsp; hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan kontainer kosong, tetapi juga dapat menjadi&amp;nbsp; buffer ketika lapangan penumpukan di dalam pelabuhan mulai mengalami kepadatan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara, Ketua DPC Aptrindo Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Supriyono,&amp;nbsp; mengatakan kondisi pada awal semester II 2026 di sisi darat Pelabuhan Tanjung Emas&amp;nbsp; Semarang saat ini relatif lancar. Perputaran truk tidak lagi menghadapi kepadatan seperti&amp;nbsp; pada awal tahun.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sekarang sudah lancar untuk perputaran truk di Pelabuhan Tanjung Emas. Tidak ada&amp;nbsp; kendala lagi karena kondisi yard di pelabuhan juga tidak sepadat di awal-awal tahun,&amp;rdquo; ucapnya.&#13;
&#13;
Meski demikian, menurut Supriyono, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi&amp;nbsp; untuk menjaga kelancaran operasional. Salah satunya perubahan jadwal kapal yang dapat&amp;nbsp; membuat truk harus menunggu lebih lama.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Begitu pula dengan implementasi Terminal&amp;nbsp; Booking System (TBS) yang masih bisa dioptimalkan terkait ketersediaan slot kendaraan.&amp;nbsp; Aptrindo turut mendorong agar depo kontainer di Semarang dapat beroperasi selama 24 jam&amp;nbsp; sehingga pergerakan kontainer dapat lebih fleksibel dan antrean kendaraan dapat ditekan.&#13;
&#13;
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelancaran terminal tidak hanya ditentukan oleh&amp;nbsp; kemampuan alat bongkar muat, tetapi juga oleh koordinasi jadwal kapal, ketersediaan slot&amp;nbsp; kendaraan, serta kesiapan fasilitas setelah kontainer meninggalkan terminal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Tantangan di Kawasan Timur&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Persoalan kesiapan simpul darat terjadi di kawasan timur Indonesia. Kepala Cabang PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke Puji Hermoko mengatakan kebutuhan paling&amp;nbsp; mendesak di wilayah tersebut adalah keberadaan depo kontainer di luar kawasan pelabuhan&amp;nbsp; sebagai fasilitas penyangga.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kontainer harus bisa keluar, dalam arti harus ada backup depo di luar karena Merauke 100 persen&amp;nbsp; deponya di dalam,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Menurut Puji, keterbatasan ruang penumpukan berdampak pada meningkatnya biaya logistik.&amp;nbsp;SPIL beberapa kali menurunkan muatan di Timika sebelum kemudian digabungkan dengan&amp;nbsp; kapal lain menuju Merauke. Selain menambah biaya dan memperpanjang rantai distribusi,&amp;nbsp;kondisi tersebut juga meningkatkan risiko terhadap komoditas, khususnya muatan pangan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Harapan kami, ada kebijakan dari Pemda maupun Pemprov sehingga kami bisa membuat&amp;nbsp; depo di luar,&amp;rdquo; katanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kebutuhan penguatan simpul logistik di Merauke juga menjadi perhatian pengelola TPK&amp;nbsp; Merauke. Terminal Head TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, mengatakan pihaknya&amp;nbsp;menyiapkan revitalisasi lapangan penumpukan seluas 1,4 hektare untuk meningkatkan&amp;nbsp; kapasitas pelayanan peti kemas.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Revitalisasi tersebut mencakup perbaikan infrastruktur, penguatan akses, serta penambahan&amp;nbsp; peralatan bongkar muat berupa rubber tyred gantry crane (RTG). Pekerjaan tersebut saat ini&amp;nbsp; masih dalam proses lelang di kantor pusat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pekerjaan revitalisasi itu nanti luasannya 1,4 hektare yang mau diperbaiki. Untuk penguatan,&amp;nbsp; perbaikan akses, pembuatan jalur alat RTG. Dengan adanya RTG itu, kami berharap&amp;nbsp; kapasitas bertambah ke atas,&amp;rdquo; ujar Rasul saat dihubungi Rabu (23/9/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selain revitalisasi, Rasul menilai keberadaan depo di luar kawasan pelabuhan diperlukan agar&amp;nbsp; aktivitas penumpukan tidak membebani ruang operasional terminal. Namun,&amp;nbsp; pengembangannya masih menghadapi kendala investasi serta daya dukung jalan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Depo itu sebenarnya lini dua, memang harus di luar pelabuhan. Kami berharap perusahaan&amp;nbsp; pelayaran membuat depo di luar pelabuhan. Namun, ada beberapa kendala, mulai dari&amp;nbsp; kebutuhan investasi hingga izin pemerintah untuk lintas jalan keluar karena daya dukung&amp;nbsp; jalan,&amp;rdquo; ucapnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurut Rasul, pemerintah daerah telah menawarkan lokasi untuk pengembangan depo.&amp;nbsp; Pihaknya berharap dukungan Pemda dapat mempercepat penyediaan depo eksternal&amp;nbsp; sekaligus pengembangan kawasan pelabuhan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau kita mau melakukan pengembangan, ada Rencana Induk Pelabuhan atau RIP. Ini&amp;nbsp; sementara disusun untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Penyusunannya juga&amp;nbsp; melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk KSOP dan perhubungan laut,&amp;rdquo; terang&amp;nbsp; Rasul.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Gambaran mengenai pentingnya kesinambungan arus peti kemas juga terlihat di TPK New&amp;nbsp; Makassar. Terminal Head TPK New Makassar, Teguh Firdaus, mengatakan operasional&amp;nbsp; terminal sejauh ini berjalan dengan baik. Saat ini TPK Makassar berperan sebagai salah satu&amp;nbsp; hub utama distribusi menuju kawasan timur Indonesia.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Makassar jadi hub untuk Indonesia Timur. Jadi simpul utama distribusi berbagai komoditas&amp;nbsp; yang bergerak menuju kawasan timur Indonesia,&amp;rdquo; ucapnya.&#13;
&#13;
Teguh mengatakan Pelindo berfokus menjaga kesiapan infrastruktur dan peralatan bongkar&amp;nbsp;muat agar pelayanan terminal dapat berlangsung secara konsisten. Namun, kelancaran&amp;nbsp;distribusi tidak hanya ditentukan oleh aktivitas bongkar muat di dermaga. Pergerakan&amp;nbsp;kontainer setelah keluar dari terminal juga perlu dijaga agar tidak terjadi penumpukan pada&amp;nbsp;simpul berikutnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Agar kelancaran distribusi kontainer bisa terjaga. Karena kelancaran distribusi tidak hanya&amp;nbsp; bergantung pada kecepatan bongkar muat di dermaga, tetapi juga kesinambungan&amp;nbsp; pergerakan kontainer setelah keluar dari kapal menuju sisi darat,&amp;rdquo; tuturnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Teguh mengatakan kapasitas yang tersedia di Makassar saat ini masih memadai untuk&amp;nbsp; mendukung sirkulasi peti kemas. Dalam menjaga kelancaran tersebut, koordinasi antara&amp;nbsp; operator terminal, shipping line, perusahaan trucking, pengelola depo, hingga pemilik barang&amp;nbsp; menjadi bagian penting dalam kesinambungan rantai logistik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara itu, di TPK Ambon, Pelindo berupaya mengantisipasi potensi bottleneck di sisi&amp;nbsp; darat dengan memperkuat koordinasi bersama para pemangku kepentingan. Koordinasi dan&amp;nbsp; evaluasi dilakukan secara berkala bersama stakeholder maupun pengguna jasa untuk&amp;nbsp; memastikan kelancaran arus barang dan logistik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pelindo selalu koordinasi dan evaluasi dengan beberapa stakeholder dan customer terhadap&amp;nbsp; kelancaran arus barang atau logistik,&amp;rdquo; ujar Terminal Head TPK Ambon, Yandi Sofyan Hadi,&amp;nbsp; dalam keterangan tertulis.&#13;
&#13;
Menurut Yandi, salah satu kebutuhan infrastruktur yang mendesak untuk mengimbangi&amp;nbsp; pertumbuhan arus peti kemas di TPK Ambon adalah peremajaan peralatan. Langkah tersebut&amp;nbsp; diperlukan untuk memastikan ketersediaan peralatan yang andal dan siap beroperasi.&#13;
&#13;
Pelindo&amp;nbsp; juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Ambon untuk mendukung penambahan&amp;nbsp; kapasitas lapangan penumpukan guna mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas.&#13;
</description><content:encoded>SURABAYA - Peningkatan kapasitas pelabuhan peti kemas perlu diikuti penguatan&amp;nbsp;simpul logistik di sisi darat. Hal ini perlu dilakukan agar percepatan bongkar muat tidak justru&amp;nbsp;memindahkan titik hambatan ke rantai distribusi berikutnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, Prof. Kuncoro Harto Widodo,&amp;nbsp; mengatakan pertumbuhan arus peti kemas perlu diimbangi dengan penguatan seluruh simpul&amp;nbsp;dalam ekosistem logistik. Menurutnya, peningkatan layanan logistik tidak hanya bergantung&amp;nbsp; pada infrastruktur fisik, tetapi juga integrasi data, kapasitas sumber daya manusia, dan&amp;nbsp; dukungan regulasi.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pakar manajemen logistik dan rantai pasok itu mengatakan volume arus peti kemas nasional&amp;nbsp; mengalami pertumbuhan positif dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat&amp;nbsp; penguatan kapasitas dan keterhubungan antarsimpul menjadi semakin penting.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Hambatan&amp;nbsp; pada satu simpul akan berdampak pada simpul lainnya,&amp;rdquo; ujar Kuncoro.&#13;
&#13;
Karena itu, Kuncoro mendorong integrasi data antara terminal, perusahaan pelayaran, depo,&amp;nbsp; trucking, kawasan industri, dan pemerintah. Pemanfaatan National Logistics Ecosystem&amp;nbsp; (NLE) juga perlu terus dioptimalkan agar pergerakan informasi dapat mengikuti bahkan&amp;nbsp; mendahului pergerakan barang.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Yang diidealkan itu aliran informasi mestinya setiap saat bahkan kalau bisa mendahului aliran&amp;nbsp; barang,&amp;rdquo; katanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selain integrasi sistem informasi, Kuncoro menilai pengembangan angkutan barang berbasis&amp;nbsp; kereta api perlu diperkuat sebagai alternatif distribusi menuju pelabuhan. Pengembangan&amp;nbsp; moda tersebut juga dapat mendukung upaya penanganan kendaraan over dimension overload (ODOL) di jalur darat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pandangan mengenai pentingnya keterhubungan antarsimpul juga disampaikan praktisi&amp;nbsp; kepelabuhanan serta logistik dari Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Wahyono&amp;nbsp; Bimarso.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurutnya, kemampuan terminal peti kemas di Indonesia pada dasarnya sudah&amp;nbsp; semakin baik dan memenuhi standar internasional. Namun, peningkatan produktivitas di&amp;nbsp; dalam terminal tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak diikuti kesiapan&amp;nbsp; fasilitas setelah kontainer keluar dari pelabuhan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Terminal peti kemas kita sebenarnya sudah berstandar internasional. Persoalan utama justru&amp;nbsp; muncul setelah kontainer keluar dari pelabuhan. Kecepatan bongkar muat tidak akan&amp;nbsp; berdampak maksimal apabila depo, gudang, jalan, dan sistem distribusi di sisi darat tidak&amp;nbsp; berkembang dengan kecepatan yang sama,&amp;rdquo; kata Wahyono.&#13;
&#13;
Pria yang juga Kaprodi Teknik Kelautan ITL Trisakti ini mencontohkan kondisi di Merauke.&amp;nbsp; Meskipun fasilitas pelabuhan dinilai sudah memadai, keterbatasan lapangan penumpukan&amp;nbsp; dan gudang di belakang pelabuhan masih menjadi persoalan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Pelabuhannya sudah bagus, peralatannya lengkap, tetapi dari sana belum ada lapangan&amp;nbsp; penumpukan atau gudang di belakang pelabuhan,&amp;quot; katanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurut Wahyono, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas terminal&amp;nbsp; perlu direncanakan bersama dengan kesiapan simpul logistik lainnya. Jika tidak, antrean dan&amp;nbsp; kepadatan berpotensi berpindah dari terminal menuju depo, trucking, gudang maupun&amp;nbsp; jaringan jalan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Produktivitas Terminal&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
Produktivitas Terminal. (Foto: dok Pelindo)&#13;
&#13;
&#13;
Dari sisi pelayaran, peningkatan kapasitas dan produktivitas terminal tetap dinilai penting&amp;nbsp; untuk mendukung efisiensi operasional kapal. Ketua DPC INSA Semarang,Hari Ratmoko,&amp;nbsp;mengatakan produktivitas terminal peti kemas saat ini sebenarnya sudah cukup baik. Namun,&amp;nbsp; peningkatan kapasitas dermaga dan kedalaman alur tetap diperlukan untuk mengakomodasi&amp;nbsp; pertumbuhan trafik kapal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Semakin lancar bongkar muat, maka akan semakin efisien dan efektif waktunya dan shipping&amp;nbsp; line akan senang. Waktu sandar di Pelabuhan Tanjung Emas cepat, bongkar cepat, memuat&amp;nbsp; cepat dan bisa menuju ke pelabuhan berikutnya sesuai schedule,&amp;rdquo; ujarnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Peningkatan produktivitas di terminal harus berjalan beriringan dengan kesiapan fasilitas&amp;nbsp; penyangga di luar terminal. Dalam konteks tersebut, depo kontainer memiliki peran penting&amp;nbsp; dalam menjaga kelancaran rantai pasok.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Depo kontainer itu cukup punya peran penting dalam supply chain,&amp;rdquo; katanya. Depo tidak&amp;nbsp; hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan kontainer kosong, tetapi juga dapat menjadi&amp;nbsp; buffer ketika lapangan penumpukan di dalam pelabuhan mulai mengalami kepadatan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara, Ketua DPC Aptrindo Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Supriyono,&amp;nbsp; mengatakan kondisi pada awal semester II 2026 di sisi darat Pelabuhan Tanjung Emas&amp;nbsp; Semarang saat ini relatif lancar. Perputaran truk tidak lagi menghadapi kepadatan seperti&amp;nbsp; pada awal tahun.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sekarang sudah lancar untuk perputaran truk di Pelabuhan Tanjung Emas. Tidak ada&amp;nbsp; kendala lagi karena kondisi yard di pelabuhan juga tidak sepadat di awal-awal tahun,&amp;rdquo; ucapnya.&#13;
&#13;
Meski demikian, menurut Supriyono, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi&amp;nbsp; untuk menjaga kelancaran operasional. Salah satunya perubahan jadwal kapal yang dapat&amp;nbsp; membuat truk harus menunggu lebih lama.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Begitu pula dengan implementasi Terminal&amp;nbsp; Booking System (TBS) yang masih bisa dioptimalkan terkait ketersediaan slot kendaraan.&amp;nbsp; Aptrindo turut mendorong agar depo kontainer di Semarang dapat beroperasi selama 24 jam&amp;nbsp; sehingga pergerakan kontainer dapat lebih fleksibel dan antrean kendaraan dapat ditekan.&#13;
&#13;
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelancaran terminal tidak hanya ditentukan oleh&amp;nbsp; kemampuan alat bongkar muat, tetapi juga oleh koordinasi jadwal kapal, ketersediaan slot&amp;nbsp; kendaraan, serta kesiapan fasilitas setelah kontainer meninggalkan terminal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Tantangan di Kawasan Timur&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Persoalan kesiapan simpul darat terjadi di kawasan timur Indonesia. Kepala Cabang PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke Puji Hermoko mengatakan kebutuhan paling&amp;nbsp; mendesak di wilayah tersebut adalah keberadaan depo kontainer di luar kawasan pelabuhan&amp;nbsp; sebagai fasilitas penyangga.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kontainer harus bisa keluar, dalam arti harus ada backup depo di luar karena Merauke 100 persen&amp;nbsp; deponya di dalam,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Menurut Puji, keterbatasan ruang penumpukan berdampak pada meningkatnya biaya logistik.&amp;nbsp;SPIL beberapa kali menurunkan muatan di Timika sebelum kemudian digabungkan dengan&amp;nbsp; kapal lain menuju Merauke. Selain menambah biaya dan memperpanjang rantai distribusi,&amp;nbsp;kondisi tersebut juga meningkatkan risiko terhadap komoditas, khususnya muatan pangan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Harapan kami, ada kebijakan dari Pemda maupun Pemprov sehingga kami bisa membuat&amp;nbsp; depo di luar,&amp;rdquo; katanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kebutuhan penguatan simpul logistik di Merauke juga menjadi perhatian pengelola TPK&amp;nbsp; Merauke. Terminal Head TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, mengatakan pihaknya&amp;nbsp;menyiapkan revitalisasi lapangan penumpukan seluas 1,4 hektare untuk meningkatkan&amp;nbsp; kapasitas pelayanan peti kemas.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Revitalisasi tersebut mencakup perbaikan infrastruktur, penguatan akses, serta penambahan&amp;nbsp; peralatan bongkar muat berupa rubber tyred gantry crane (RTG). Pekerjaan tersebut saat ini&amp;nbsp; masih dalam proses lelang di kantor pusat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pekerjaan revitalisasi itu nanti luasannya 1,4 hektare yang mau diperbaiki. Untuk penguatan,&amp;nbsp; perbaikan akses, pembuatan jalur alat RTG. Dengan adanya RTG itu, kami berharap&amp;nbsp; kapasitas bertambah ke atas,&amp;rdquo; ujar Rasul saat dihubungi Rabu (23/9/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Selain revitalisasi, Rasul menilai keberadaan depo di luar kawasan pelabuhan diperlukan agar&amp;nbsp; aktivitas penumpukan tidak membebani ruang operasional terminal. Namun,&amp;nbsp; pengembangannya masih menghadapi kendala investasi serta daya dukung jalan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Depo itu sebenarnya lini dua, memang harus di luar pelabuhan. Kami berharap perusahaan&amp;nbsp; pelayaran membuat depo di luar pelabuhan. Namun, ada beberapa kendala, mulai dari&amp;nbsp; kebutuhan investasi hingga izin pemerintah untuk lintas jalan keluar karena daya dukung&amp;nbsp; jalan,&amp;rdquo; ucapnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurut Rasul, pemerintah daerah telah menawarkan lokasi untuk pengembangan depo.&amp;nbsp; Pihaknya berharap dukungan Pemda dapat mempercepat penyediaan depo eksternal&amp;nbsp; sekaligus pengembangan kawasan pelabuhan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau kita mau melakukan pengembangan, ada Rencana Induk Pelabuhan atau RIP. Ini&amp;nbsp; sementara disusun untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Penyusunannya juga&amp;nbsp; melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk KSOP dan perhubungan laut,&amp;rdquo; terang&amp;nbsp; Rasul.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Gambaran mengenai pentingnya kesinambungan arus peti kemas juga terlihat di TPK New&amp;nbsp; Makassar. Terminal Head TPK New Makassar, Teguh Firdaus, mengatakan operasional&amp;nbsp; terminal sejauh ini berjalan dengan baik. Saat ini TPK Makassar berperan sebagai salah satu&amp;nbsp; hub utama distribusi menuju kawasan timur Indonesia.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Makassar jadi hub untuk Indonesia Timur. Jadi simpul utama distribusi berbagai komoditas&amp;nbsp; yang bergerak menuju kawasan timur Indonesia,&amp;rdquo; ucapnya.&#13;
&#13;
Teguh mengatakan Pelindo berfokus menjaga kesiapan infrastruktur dan peralatan bongkar&amp;nbsp;muat agar pelayanan terminal dapat berlangsung secara konsisten. Namun, kelancaran&amp;nbsp;distribusi tidak hanya ditentukan oleh aktivitas bongkar muat di dermaga. Pergerakan&amp;nbsp;kontainer setelah keluar dari terminal juga perlu dijaga agar tidak terjadi penumpukan pada&amp;nbsp;simpul berikutnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Agar kelancaran distribusi kontainer bisa terjaga. Karena kelancaran distribusi tidak hanya&amp;nbsp; bergantung pada kecepatan bongkar muat di dermaga, tetapi juga kesinambungan&amp;nbsp; pergerakan kontainer setelah keluar dari kapal menuju sisi darat,&amp;rdquo; tuturnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Teguh mengatakan kapasitas yang tersedia di Makassar saat ini masih memadai untuk&amp;nbsp; mendukung sirkulasi peti kemas. Dalam menjaga kelancaran tersebut, koordinasi antara&amp;nbsp; operator terminal, shipping line, perusahaan trucking, pengelola depo, hingga pemilik barang&amp;nbsp; menjadi bagian penting dalam kesinambungan rantai logistik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara itu, di TPK Ambon, Pelindo berupaya mengantisipasi potensi bottleneck di sisi&amp;nbsp; darat dengan memperkuat koordinasi bersama para pemangku kepentingan. Koordinasi dan&amp;nbsp; evaluasi dilakukan secara berkala bersama stakeholder maupun pengguna jasa untuk&amp;nbsp; memastikan kelancaran arus barang dan logistik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pelindo selalu koordinasi dan evaluasi dengan beberapa stakeholder dan customer terhadap&amp;nbsp; kelancaran arus barang atau logistik,&amp;rdquo; ujar Terminal Head TPK Ambon, Yandi Sofyan Hadi,&amp;nbsp; dalam keterangan tertulis.&#13;
&#13;
Menurut Yandi, salah satu kebutuhan infrastruktur yang mendesak untuk mengimbangi&amp;nbsp; pertumbuhan arus peti kemas di TPK Ambon adalah peremajaan peralatan. Langkah tersebut&amp;nbsp; diperlukan untuk memastikan ketersediaan peralatan yang andal dan siap beroperasi.&#13;
&#13;
Pelindo&amp;nbsp; juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Ambon untuk mendukung penambahan&amp;nbsp; kapasitas lapangan penumpukan guna mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
