<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sinyal Ekonomi RI Menguat: Inflasi Terkendali, Ekspor Naik dan Manufaktur Ekspansi</title><description>Kondisi perekonomian Indonesia mencatatkan tren positif memasuki triwulan IV-2026.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/05/320/3246014/sinyal-ekonomi-ri-menguat-inflasi-terkendali-ekspor-naik-dan-manufaktur-ekspansi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/05/320/3246014/sinyal-ekonomi-ri-menguat-inflasi-terkendali-ekspor-naik-dan-manufaktur-ekspansi"/><item><title>Sinyal Ekonomi RI Menguat: Inflasi Terkendali, Ekspor Naik dan Manufaktur Ekspansi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/05/320/3246014/sinyal-ekonomi-ri-menguat-inflasi-terkendali-ekspor-naik-dan-manufaktur-ekspansi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/05/320/3246014/sinyal-ekonomi-ri-menguat-inflasi-terkendali-ekspor-naik-dan-manufaktur-ekspansi</guid><pubDate>Senin 05 Oktober 2026 12:03 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/05/320/3246014/manufkatur-yueb_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Geliat industri dalam negeri yang tercermin melalui PMI Manufaktur September 2026 yang melesat ke posisi 52,4. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/05/320/3246014/manufkatur-yueb_large.jpg</image><title>Geliat industri dalam negeri yang tercermin melalui PMI Manufaktur September 2026 yang melesat ke posisi 52,4. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Kondisi perekonomian Indonesia mencatatkan tren positif memasuki triwulan IV-2026. Di tengah ketidakpastian situasi global, laju inflasi tetap terkendali, kinerja perdagangan luar negeri semakin kuat, serta sektor manufaktur kembali menembus zona ekspansi.&#13;
&#13;
Rangkaian capaian tersebut tercermin dari rilis data inflasi September 2026, realisasi neraca perdagangan hingga Agustus 2026, serta Purchasing Managers&amp;rsquo; Index (PMI) Manufaktur September 2026.&#13;
&#13;
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, laju inflasi tahunan pada September 2026 berada di level 3,28 persen (yoy), masih dalam rentang target sasaran pemerintah, yakni 2,5 persen &amp;plusmn; 1 persen.&#13;
&#13;
Di saat bersamaan, inflasi inti melandai ke posisi 2,84 persen (yoy), sedangkan inflasi komponen harga yang diatur pemerintah (Administered Prices/AP) turun menjadi 3,25 persen (yoy), seiring normalnya mobilitas masyarakat setelah masa libur sekolah dan minimnya dampak penyesuaian tarif BBM nonsubsidi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Komponen Volatile Food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03 persen (yoy), dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam. Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga, khususnya menjelang akhir tahun,&amp;rdquo; kata Haryo dalam keterangan resmi, dikutip Senin (5/10/2026).&#13;
&#13;
Untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat sekaligus mengamankan ketahanan pangan, kata Haryo, pemerintah mempertegas langkah intervensi melalui akselerasi penyaluran PKH Tahap III, distribusi Bantuan Pangan Beras seberat 10 kilogram per bulan untuk periode Oktober-Desember 2026, serta percepatan program SPHP beras medium melalui Perum Bulog.&#13;
&#13;
Langkah perlindungan tersebut turut ditopang pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta Kerja Sama Antar Daerah (KAD). Di sisi hulu, penguatan produksi digenjot melalui pembenahan tata kelola air dan saluran irigasi, penataan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, pemetaan daerah rawan defisit, hingga penerapan sistem peringatan dini.&#13;
&#13;
Menilik kinerja perdagangan luar negeri, neraca dagang Indonesia mencatat surplus kumulatif sebesar USD7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026.&#13;
&#13;
Realisasi ekspor pada delapan bulan pertama didorong oleh komoditas besi dan baja senilai USD19,18 miliar yang tumbuh 4,88 persen, minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya sebesar USD17,75 miliar dengan pertumbuhan 6,57 persen, serta batu bara yang menyumbang USD16,58 miliar atau naik 4,31 persen.&#13;
&#13;
Pengapalan produk dari sektor industri pengolahan juga menorehkan kenaikan 6,62 persen, yang menegaskan kontribusi program hilirisasi dalam mendorong kinerja ekspor nasional.&#13;
&#13;
Pada struktur impor, barang baku atau penolong serta barang modal menjadi komponen paling dominan dengan nilai masing-masing USD133,38 miliar dan USD36,74 miliar, atau merepresentasikan 91,3 persen dari total barang yang didatangkan ke dalam negeri.&#13;
&#13;
Adanya lonjakan impor mesin dan peralatan mekanis sebesar 15,26 persen, dibarengi impor mesin atau perlengkapan elektrik yang melejit 22,94 persen, mengindikasikan semakin derasnya kebutuhan bahan baku penunjang dan aset modal sejalan dengan tingginya geliat produksi serta investasi domestik.&#13;
&#13;
Haryo juga menyoroti geliat industri dalam negeri yang tercermin melalui PMI Manufaktur September 2026 yang melesat ke posisi 52,4 setelah sempat berada di level 49,8 pada Agustus lalu. Kondisi tersebut menandai kembalinya sektor manufaktur ke fase ekspansi.&#13;
&#13;
Pemulihan ini dipicu oleh masuknya pesanan baru, peningkatan kapasitas produksi, naiknya pesanan dari pasar ekspor, bergulirnya proyek baru, serta membaiknya daya beli konsumen.&#13;
&#13;
Sepanjang September 2026, laju pertumbuhan pesanan baru mencatat rekor tercepat sejak Februari 2026, sementara permintaan ekspor menorehkan ekspansi paling pesat sejak Mei 2022. Tren ekspansif ini diiringi oleh kembali naiknya serapan tenaga kerja pabrikan, volume pembelian barang, hingga persediaan bahan baku.&#13;
&#13;
Dari sisi biaya, tekanan inflasi pada harga input maupun output melambat ke titik terendah dalam enam bulan terakhir, diiringi tingkat optimisme pelaku usaha yang tetap tinggi terhadap prospek produksi 12 bulan mendatang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ke depan, kebijakan pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,&amp;rdquo; urai Haryo.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kondisi perekonomian Indonesia mencatatkan tren positif memasuki triwulan IV-2026. Di tengah ketidakpastian situasi global, laju inflasi tetap terkendali, kinerja perdagangan luar negeri semakin kuat, serta sektor manufaktur kembali menembus zona ekspansi.&#13;
&#13;
Rangkaian capaian tersebut tercermin dari rilis data inflasi September 2026, realisasi neraca perdagangan hingga Agustus 2026, serta Purchasing Managers&amp;rsquo; Index (PMI) Manufaktur September 2026.&#13;
&#13;
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, laju inflasi tahunan pada September 2026 berada di level 3,28 persen (yoy), masih dalam rentang target sasaran pemerintah, yakni 2,5 persen &amp;plusmn; 1 persen.&#13;
&#13;
Di saat bersamaan, inflasi inti melandai ke posisi 2,84 persen (yoy), sedangkan inflasi komponen harga yang diatur pemerintah (Administered Prices/AP) turun menjadi 3,25 persen (yoy), seiring normalnya mobilitas masyarakat setelah masa libur sekolah dan minimnya dampak penyesuaian tarif BBM nonsubsidi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Komponen Volatile Food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03 persen (yoy), dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam. Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga, khususnya menjelang akhir tahun,&amp;rdquo; kata Haryo dalam keterangan resmi, dikutip Senin (5/10/2026).&#13;
&#13;
Untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat sekaligus mengamankan ketahanan pangan, kata Haryo, pemerintah mempertegas langkah intervensi melalui akselerasi penyaluran PKH Tahap III, distribusi Bantuan Pangan Beras seberat 10 kilogram per bulan untuk periode Oktober-Desember 2026, serta percepatan program SPHP beras medium melalui Perum Bulog.&#13;
&#13;
Langkah perlindungan tersebut turut ditopang pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta Kerja Sama Antar Daerah (KAD). Di sisi hulu, penguatan produksi digenjot melalui pembenahan tata kelola air dan saluran irigasi, penataan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, pemetaan daerah rawan defisit, hingga penerapan sistem peringatan dini.&#13;
&#13;
Menilik kinerja perdagangan luar negeri, neraca dagang Indonesia mencatat surplus kumulatif sebesar USD7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026.&#13;
&#13;
Realisasi ekspor pada delapan bulan pertama didorong oleh komoditas besi dan baja senilai USD19,18 miliar yang tumbuh 4,88 persen, minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya sebesar USD17,75 miliar dengan pertumbuhan 6,57 persen, serta batu bara yang menyumbang USD16,58 miliar atau naik 4,31 persen.&#13;
&#13;
Pengapalan produk dari sektor industri pengolahan juga menorehkan kenaikan 6,62 persen, yang menegaskan kontribusi program hilirisasi dalam mendorong kinerja ekspor nasional.&#13;
&#13;
Pada struktur impor, barang baku atau penolong serta barang modal menjadi komponen paling dominan dengan nilai masing-masing USD133,38 miliar dan USD36,74 miliar, atau merepresentasikan 91,3 persen dari total barang yang didatangkan ke dalam negeri.&#13;
&#13;
Adanya lonjakan impor mesin dan peralatan mekanis sebesar 15,26 persen, dibarengi impor mesin atau perlengkapan elektrik yang melejit 22,94 persen, mengindikasikan semakin derasnya kebutuhan bahan baku penunjang dan aset modal sejalan dengan tingginya geliat produksi serta investasi domestik.&#13;
&#13;
Haryo juga menyoroti geliat industri dalam negeri yang tercermin melalui PMI Manufaktur September 2026 yang melesat ke posisi 52,4 setelah sempat berada di level 49,8 pada Agustus lalu. Kondisi tersebut menandai kembalinya sektor manufaktur ke fase ekspansi.&#13;
&#13;
Pemulihan ini dipicu oleh masuknya pesanan baru, peningkatan kapasitas produksi, naiknya pesanan dari pasar ekspor, bergulirnya proyek baru, serta membaiknya daya beli konsumen.&#13;
&#13;
Sepanjang September 2026, laju pertumbuhan pesanan baru mencatat rekor tercepat sejak Februari 2026, sementara permintaan ekspor menorehkan ekspansi paling pesat sejak Mei 2022. Tren ekspansif ini diiringi oleh kembali naiknya serapan tenaga kerja pabrikan, volume pembelian barang, hingga persediaan bahan baku.&#13;
&#13;
Dari sisi biaya, tekanan inflasi pada harga input maupun output melambat ke titik terendah dalam enam bulan terakhir, diiringi tingkat optimisme pelaku usaha yang tetap tinggi terhadap prospek produksi 12 bulan mendatang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ke depan, kebijakan pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,&amp;rdquo; urai Haryo.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
