<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menperin Bidik Kontribusi Manufaktur Tembus 25 Persen PDB</title><description>Menteri Perindustrian Sarmuji menekankan upaya pemerintah untuk mengembalikan industri manufaktur sebagai lokomotif utama pertumbuhan ekonomi nasional. &#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/12/320/3247421/menperin-bidik-kontribusi-manufaktur-tembus-25-persen-pdb</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/12/320/3247421/menperin-bidik-kontribusi-manufaktur-tembus-25-persen-pdb"/><item><title>Menperin Bidik Kontribusi Manufaktur Tembus 25 Persen PDB</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/12/320/3247421/menperin-bidik-kontribusi-manufaktur-tembus-25-persen-pdb</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/12/320/3247421/menperin-bidik-kontribusi-manufaktur-tembus-25-persen-pdb</guid><pubDate>Senin 12 Oktober 2026 15:27 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/12/320/3247421/menperin_sarmuji-yvEl_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menperin Sarmuji (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/12/320/3247421/menperin_sarmuji-yvEl_large.jpeg</image><title>Menperin Sarmuji (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Perindustrian Sarmuji menekankan upaya pemerintah untuk mengembalikan industri manufaktur sebagai lokomotif utama pertumbuhan ekonomi nasional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ia mematok laju ekspansi sektor industri mampu melampaui pertumbuhan ekonomi makro, dengan target kenaikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) dari kisaran 19 persen saat ini menjadi di atas 20 persen, bahkan menembus rentang 21 hingga 25 persen.&#13;
&#13;
Untuk merealisasikan target tersebut, Kemenperin terus memperkokoh ekosistem usaha agar sektor pengolahan dapat melaju lebih cepat.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita menargetkan supaya pertumbuhan industri lebih tinggi lagi, melebihi pertumbuhan ekonomi. Kenapa? Karena industri inilah sebenarnya yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi,&amp;quot; kata Sarmuji dalam keterangan resmi dikutip Senin (12/10/2026).&#13;
&#13;
Sarmuji memaparkan bahwa lompatan kontribusi industri sangat penting dalam memperkuat postur perekonomian, menciptakan nilai tambah komoditas di dalam negeri, sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita ingin industri kita bangkit kembali. Jangan sampai industri kita layu sebelum mencapai puncaknya,&amp;quot; tegasnya.&#13;
&#13;
Ia mengambil perbandingan dengan fenomena di negara-negara maju, tempat pangsa industri memang kerap menyusut seiring dominasi sektor jasa. Kendati demikian, peralihan di negara maju terjadi pasca-industri mereka menginjak fase kematangan, bukan dipicu oleh kerapuhan manufaktur.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sehingga, kata Sarmuji, mengingatkan agar geliat manufaktur domestik tidak melandai sebelum menyentuh fase matang tersebut.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan sendiri secara konsisten menjadi kontributor lapangan usaha terbesar dalam struktur PDB Indonesia dengan pangsa berkisar 18,67 persen hingga 19,07 persen. Sektor ini juga menjadi motor pertumbuhan terbesar dengan andil rata-rata melampaui 1bpersen basis poin terhadap pertumbuhan ekonomi tahunan, ditopang oleh kinerjabsubsektor unggulan seperti makanan dan minuman, logam dasar, kimia-farmasi, serta alat angkutan.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Sarmuji menilai pelaku usaha di tanah air sejatinya memiliki kapasitas yang mumpuni dalam berproduksi, berinovasi, hingga memperluas penetrasi pasar ekspor maupun domestik. Kendati demikian, capaian pelaku usaha tetap membutuhkan topangan iklim usaha yang kondusif, terutama regulasi pemerintah yang menjamin kepastian serta kemudahan perizinan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tugas utama kita sebenarnya menciptakan ekosistem yang baik bagi tumbuhnya industri. Kegiatan usaha dan produksi dijalankan oleh pelaku industri sendiri, tetapi ekosistem industri tidak bisa diciptakan oleh pelaku industri sendiri. Itu harus menjadi tanggung jawab pemerintah,&amp;quot; ungkap Sarmuji.&#13;
&#13;
Berangkat dari prinsip tersebut, Sarmuji bilang pemerintah berfokus menyelaraskan berbagai regulasi agar sesuai dengan kebutuhan riil pelaku manufaktur, mulai dari penajaman efektivitas aturan, percepatan layanan birokrasi, hingga penguatan koordinasi lintas pemangku kepentingan.&#13;
&#13;
Perhatian utama Kemenperin salah satunya diarahkan pada penguatan standardisasi lewat Standar Nasional Indonesia (SNI) guna mengerek mutu barang, melindungi hak konsumen, dan memperkokoh daya saing produk lokal di pasar.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, Sarmuji mengingatkan bahwa penerapan sertifikasi mutu tersebut harus dijalankan secara cermat serta selektif dengan mempertimbangkan kesiapan karakteristik tiap subsektor industri.&#13;
&#13;
&amp;quot;Standardisasi penting supaya industri kita semakin berkualitas dan sesuai dengan harapan masyarakat. Konsumen juga harus dilindungi. Tetapi kita juga harus teliti dan melihat kembali penerapannya agar jangan sampai justru menjadi hambatan bagi industri kita sendiri,&amp;quot; tuturnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Perindustrian Sarmuji menekankan upaya pemerintah untuk mengembalikan industri manufaktur sebagai lokomotif utama pertumbuhan ekonomi nasional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ia mematok laju ekspansi sektor industri mampu melampaui pertumbuhan ekonomi makro, dengan target kenaikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) dari kisaran 19 persen saat ini menjadi di atas 20 persen, bahkan menembus rentang 21 hingga 25 persen.&#13;
&#13;
Untuk merealisasikan target tersebut, Kemenperin terus memperkokoh ekosistem usaha agar sektor pengolahan dapat melaju lebih cepat.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita menargetkan supaya pertumbuhan industri lebih tinggi lagi, melebihi pertumbuhan ekonomi. Kenapa? Karena industri inilah sebenarnya yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi,&amp;quot; kata Sarmuji dalam keterangan resmi dikutip Senin (12/10/2026).&#13;
&#13;
Sarmuji memaparkan bahwa lompatan kontribusi industri sangat penting dalam memperkuat postur perekonomian, menciptakan nilai tambah komoditas di dalam negeri, sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita ingin industri kita bangkit kembali. Jangan sampai industri kita layu sebelum mencapai puncaknya,&amp;quot; tegasnya.&#13;
&#13;
Ia mengambil perbandingan dengan fenomena di negara-negara maju, tempat pangsa industri memang kerap menyusut seiring dominasi sektor jasa. Kendati demikian, peralihan di negara maju terjadi pasca-industri mereka menginjak fase kematangan, bukan dipicu oleh kerapuhan manufaktur.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sehingga, kata Sarmuji, mengingatkan agar geliat manufaktur domestik tidak melandai sebelum menyentuh fase matang tersebut.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan sendiri secara konsisten menjadi kontributor lapangan usaha terbesar dalam struktur PDB Indonesia dengan pangsa berkisar 18,67 persen hingga 19,07 persen. Sektor ini juga menjadi motor pertumbuhan terbesar dengan andil rata-rata melampaui 1bpersen basis poin terhadap pertumbuhan ekonomi tahunan, ditopang oleh kinerjabsubsektor unggulan seperti makanan dan minuman, logam dasar, kimia-farmasi, serta alat angkutan.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Sarmuji menilai pelaku usaha di tanah air sejatinya memiliki kapasitas yang mumpuni dalam berproduksi, berinovasi, hingga memperluas penetrasi pasar ekspor maupun domestik. Kendati demikian, capaian pelaku usaha tetap membutuhkan topangan iklim usaha yang kondusif, terutama regulasi pemerintah yang menjamin kepastian serta kemudahan perizinan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tugas utama kita sebenarnya menciptakan ekosistem yang baik bagi tumbuhnya industri. Kegiatan usaha dan produksi dijalankan oleh pelaku industri sendiri, tetapi ekosistem industri tidak bisa diciptakan oleh pelaku industri sendiri. Itu harus menjadi tanggung jawab pemerintah,&amp;quot; ungkap Sarmuji.&#13;
&#13;
Berangkat dari prinsip tersebut, Sarmuji bilang pemerintah berfokus menyelaraskan berbagai regulasi agar sesuai dengan kebutuhan riil pelaku manufaktur, mulai dari penajaman efektivitas aturan, percepatan layanan birokrasi, hingga penguatan koordinasi lintas pemangku kepentingan.&#13;
&#13;
Perhatian utama Kemenperin salah satunya diarahkan pada penguatan standardisasi lewat Standar Nasional Indonesia (SNI) guna mengerek mutu barang, melindungi hak konsumen, dan memperkokoh daya saing produk lokal di pasar.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, Sarmuji mengingatkan bahwa penerapan sertifikasi mutu tersebut harus dijalankan secara cermat serta selektif dengan mempertimbangkan kesiapan karakteristik tiap subsektor industri.&#13;
&#13;
&amp;quot;Standardisasi penting supaya industri kita semakin berkualitas dan sesuai dengan harapan masyarakat. Konsumen juga harus dilindungi. Tetapi kita juga harus teliti dan melihat kembali penerapannya agar jangan sampai justru menjadi hambatan bagi industri kita sendiri,&amp;quot; tuturnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
