<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Mentah Indonesia Naik ke USD112,81 per Barel Imbas Konflik AS-Iran</title><description>Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Pemerintah menetapkan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah Indonesia pada September 2026 sebesar USD112,81 per barel, naik USD23,38 dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar USD89,43 per barel.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/13/320/3247538/harga-minyak-mentah-indonesia-naik-ke-usd112-81-per-barel-imbas-konflik-as-iran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/13/320/3247538/harga-minyak-mentah-indonesia-naik-ke-usd112-81-per-barel-imbas-konflik-as-iran"/><item><title>Harga Minyak Mentah Indonesia Naik ke USD112,81 per Barel Imbas Konflik AS-Iran</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/13/320/3247538/harga-minyak-mentah-indonesia-naik-ke-usd112-81-per-barel-imbas-konflik-as-iran</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/13/320/3247538/harga-minyak-mentah-indonesia-naik-ke-usd112-81-per-barel-imbas-konflik-as-iran</guid><pubDate>Selasa 13 Oktober 2026 09:46 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/13/320/3247538/harga_minyak_mentah-1WR3_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga Minyak mentah (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/13/320/3247538/harga_minyak_mentah-1WR3_large.jpg</image><title>Harga Minyak mentah (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Pemerintah menetapkan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah Indonesia pada September 2026 sebesar USD112,81 per barel, naik USD23,38 dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar USD89,43 per barel.&#13;
&#13;
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan, kenaikan ICP mencerminkan tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan minyak global.&#13;
&#13;
&amp;quot;Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik menjadi USD112,81 per barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan,&amp;quot; ujar Laode di Kantor Ditjen Migas, Jakarta, Senin (12/10/2026).&#13;
&#13;
Menurut Laode, eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute strategis perdagangan minyak dunia.&#13;
&#13;
Tekanan terhadap pasokan terlihat dari penurunan ekspor minyak mentah melalui jalur tersebut yang sempat mencapai 28 persen dibandingkan Juli 2026. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak mentah internasional.&#13;
&#13;
Risiko pasokan juga meningkat akibat serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Salah satunya adalah penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi yang memiliki kapasitas 7 juta barel per hari setelah serangan drone. Penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan.&#13;
&#13;
Selain itu, penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah turut memperketat pasokan minyak mentah global.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Tekanan tersebut tercermin pada kenaikan berbagai harga acuan minyak internasional sepanjang September 2026. Harga Brent naik USD13,94 menjadi USD102,02 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat USD13,24 menjadi USD95,69 per barel.&#13;
&#13;
Harga Dated Brent bahkan melonjak USD25,93 menjadi USD116,77 per barel. Sementara itu, harga rata-rata minyak dalam keranjang OPEC naik USD24,29 menjadi USD110,73 per barel.&#13;
&#13;
Pemerintah memperkirakan ICP pada Oktober 2026 mulai melandai ke kisaran USD98&amp;ndash;103 per barel. Meski demikian, harga tersebut masih berada pada level tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik dan risiko gangguan pasokan energi global.&#13;
&#13;
Laode menegaskan, pemerintah akan terus mencermati perkembangan harga minyak dunia untuk menentukan langkah strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
ICP menjadi salah satu acuan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu minyak dan gas bumi serta penyusunan asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pergerakan harga minyak dunia karena itu menjadi perhatian pemerintah, baik dari sisi penerimaan negara maupun pengelolaan sektor energi di tengah gejolak pasar global.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Pemerintah menetapkan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah Indonesia pada September 2026 sebesar USD112,81 per barel, naik USD23,38 dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar USD89,43 per barel.&#13;
&#13;
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan, kenaikan ICP mencerminkan tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan minyak global.&#13;
&#13;
&amp;quot;Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik menjadi USD112,81 per barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan,&amp;quot; ujar Laode di Kantor Ditjen Migas, Jakarta, Senin (12/10/2026).&#13;
&#13;
Menurut Laode, eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute strategis perdagangan minyak dunia.&#13;
&#13;
Tekanan terhadap pasokan terlihat dari penurunan ekspor minyak mentah melalui jalur tersebut yang sempat mencapai 28 persen dibandingkan Juli 2026. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak mentah internasional.&#13;
&#13;
Risiko pasokan juga meningkat akibat serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Salah satunya adalah penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi yang memiliki kapasitas 7 juta barel per hari setelah serangan drone. Penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan.&#13;
&#13;
Selain itu, penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah turut memperketat pasokan minyak mentah global.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Tekanan tersebut tercermin pada kenaikan berbagai harga acuan minyak internasional sepanjang September 2026. Harga Brent naik USD13,94 menjadi USD102,02 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat USD13,24 menjadi USD95,69 per barel.&#13;
&#13;
Harga Dated Brent bahkan melonjak USD25,93 menjadi USD116,77 per barel. Sementara itu, harga rata-rata minyak dalam keranjang OPEC naik USD24,29 menjadi USD110,73 per barel.&#13;
&#13;
Pemerintah memperkirakan ICP pada Oktober 2026 mulai melandai ke kisaran USD98&amp;ndash;103 per barel. Meski demikian, harga tersebut masih berada pada level tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik dan risiko gangguan pasokan energi global.&#13;
&#13;
Laode menegaskan, pemerintah akan terus mencermati perkembangan harga minyak dunia untuk menentukan langkah strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
ICP menjadi salah satu acuan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu minyak dan gas bumi serta penyusunan asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pergerakan harga minyak dunia karena itu menjadi perhatian pemerintah, baik dari sisi penerimaan negara maupun pengelolaan sektor energi di tengah gejolak pasar global.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
