<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Jahja Setiaatmadja Hidup dengan Diabetes Selama 26 Tahun, Sering Menjamu Nasabah</title><description>Ia mengaku pertama kali didiagnosis mengidap penyakit tersebut pada 2000, ketika masih aktif menjalankan pekerjaannya di industri perbankan.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/13/320/3247629/cerita-jahja-setiaatmadja-hidup-dengan-diabetes-selama-26-tahun-sering-menjamu-nasabah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/13/320/3247629/cerita-jahja-setiaatmadja-hidup-dengan-diabetes-selama-26-tahun-sering-menjamu-nasabah"/><item><title>Cerita Jahja Setiaatmadja Hidup dengan Diabetes Selama 26 Tahun, Sering Menjamu Nasabah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/13/320/3247629/cerita-jahja-setiaatmadja-hidup-dengan-diabetes-selama-26-tahun-sering-menjamu-nasabah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/13/320/3247629/cerita-jahja-setiaatmadja-hidup-dengan-diabetes-selama-26-tahun-sering-menjamu-nasabah</guid><pubDate>Selasa 13 Oktober 2026 16:56 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/13/320/3247629/jahja-7W0u_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg"> Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja membagikan pengalamannya hidup dengan diabetes selama 26 tahun. (Foto: Okezone.com/IMG)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/13/320/3247629/jahja-7W0u_large.jpeg</image><title> Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja membagikan pengalamannya hidup dengan diabetes selama 26 tahun. (Foto: Okezone.com/IMG)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja membagikan pengalamannya hidup dengan diabetes selama 26 tahun. Ia mengaku pertama kali didiagnosis mengidap penyakit tersebut pada 2000, ketika masih aktif menjalankan pekerjaannya di industri perbankan.&#13;
&#13;
Jahja mengatakan diabetes yang dialaminya bukan disebabkan faktor keturunan, melainkan berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup saat bekerja, terutama kebiasaannya menjamu nasabah (entertain).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya dari tahun 2000 tuh sudah kena diabetes. Dari 2000 sampai sekarang kan udah 26 tahun. 26 tahun tuh bukan waktu yang singkat juga ya. Kenapa kena diabetes? Bukan dari keturunan,&amp;rdquo; kata Jahja dalam acara Indonesia Knowledge Forum (IKF) XV di Jakarta, Selasa (13/10/2026).&#13;
&#13;
Jahja menjelaskan, gejala diabetes mulai dialaminya menjelang usia 50 tahun. Saat itu, intensitas menjamu nasabah pada siang dan malam hari membuatnya kerap mengonsumsi makanan dan minuman manis, termasuk jus buah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya di umur 50 waktu itu ya, 50 kurang dikit ya. Karena banyak entertain. Nah, kan siang malam nasabah berjubel gitu kan, tahun 2000. Itu siang malam entertain dan enggak mungkin kasih nasabah makanan yang enggak enak. Pasti yang enak dan waduh itu ngaco, gulanya juga bertubi-tubi. Biasanya jus tadi tuh, saya baru inget dulu waduh kita selalu tawarin jus. Padahal tawarin racun sebenernya,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Belajar dari pengalaman tersebut, Jahja mengaku kini lebih disiplin menjaga pola hidup untuk mengendalikan diabetes dan mengurangi risiko komplikasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nah, jadi itu background. Tapi saya sudah tahun demi tahun sangat hati-hati. Karena mendengar bahwa diabetesnya aja sih enggak apa-apa katanya. Tapi komplikasinya dong. Dampak dari diabetes itu bisa ke pinggang, bisa ke kaki busuk, bisa ke mata. Banyak yang bisa merusak tubuh kita,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Jahja juga menekankan pentingnya menjaga kadar gula darah agar tidak terlalu rendah atau mengalami hipoglikemia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi dan berisiko memicu pingsan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Gula itu perlu karena gula itu diubah oleh insulin, dibantu insulin masuk ke sel kita menjadi energi. Jadi kalau kita low glucose, hypoglycemia, enggak ada energi. Makanya bisa pingsan, saya pernah mengalami itu,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
&#13;
Selain membagikan pengalaman kesehatannya, Jahja memiliki perjalanan karier lebih dari tiga dekade di BCA. Ia bergabung dengan bank tersebut pada 1990 sebagai Senior Vice President Regional Division setelah berpengalaman di bidang keuangan perusahaan manufaktur dan Indomobil.&#13;
&#13;
Pada 1999, Jahja bergabung dengan jajaran direksi BCA dan berperan dalam pemulihan kinerja perseroan setelah krisis keuangan Asia 1997&amp;ndash;1998. Pada 2005, ia diangkat menjadi Wakil Presiden Direktur BCA untuk memperkuat strategi bisnis perbankan transaksi dan komersial.&#13;
&#13;
Jahja kemudian menjabat sebagai Presiden Direktur BCA pada 2011. Selama memimpin hingga 2025, ia mengawal pengembangan layanan digital perbankan dan penguatan posisi BCA di industri perbankan nasional.&#13;
&#13;
Setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden Direktur pada 2025, Jahja menjabat sebagai Presiden Komisaris BCA untuk memberikan arahan strategis bagi keberlanjutan bisnis perseroan.&#13;
&#13;
Anggie&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja membagikan pengalamannya hidup dengan diabetes selama 26 tahun. Ia mengaku pertama kali didiagnosis mengidap penyakit tersebut pada 2000, ketika masih aktif menjalankan pekerjaannya di industri perbankan.&#13;
&#13;
Jahja mengatakan diabetes yang dialaminya bukan disebabkan faktor keturunan, melainkan berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup saat bekerja, terutama kebiasaannya menjamu nasabah (entertain).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya dari tahun 2000 tuh sudah kena diabetes. Dari 2000 sampai sekarang kan udah 26 tahun. 26 tahun tuh bukan waktu yang singkat juga ya. Kenapa kena diabetes? Bukan dari keturunan,&amp;rdquo; kata Jahja dalam acara Indonesia Knowledge Forum (IKF) XV di Jakarta, Selasa (13/10/2026).&#13;
&#13;
Jahja menjelaskan, gejala diabetes mulai dialaminya menjelang usia 50 tahun. Saat itu, intensitas menjamu nasabah pada siang dan malam hari membuatnya kerap mengonsumsi makanan dan minuman manis, termasuk jus buah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya di umur 50 waktu itu ya, 50 kurang dikit ya. Karena banyak entertain. Nah, kan siang malam nasabah berjubel gitu kan, tahun 2000. Itu siang malam entertain dan enggak mungkin kasih nasabah makanan yang enggak enak. Pasti yang enak dan waduh itu ngaco, gulanya juga bertubi-tubi. Biasanya jus tadi tuh, saya baru inget dulu waduh kita selalu tawarin jus. Padahal tawarin racun sebenernya,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Belajar dari pengalaman tersebut, Jahja mengaku kini lebih disiplin menjaga pola hidup untuk mengendalikan diabetes dan mengurangi risiko komplikasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nah, jadi itu background. Tapi saya sudah tahun demi tahun sangat hati-hati. Karena mendengar bahwa diabetesnya aja sih enggak apa-apa katanya. Tapi komplikasinya dong. Dampak dari diabetes itu bisa ke pinggang, bisa ke kaki busuk, bisa ke mata. Banyak yang bisa merusak tubuh kita,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Jahja juga menekankan pentingnya menjaga kadar gula darah agar tidak terlalu rendah atau mengalami hipoglikemia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi dan berisiko memicu pingsan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Gula itu perlu karena gula itu diubah oleh insulin, dibantu insulin masuk ke sel kita menjadi energi. Jadi kalau kita low glucose, hypoglycemia, enggak ada energi. Makanya bisa pingsan, saya pernah mengalami itu,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
&#13;
Selain membagikan pengalaman kesehatannya, Jahja memiliki perjalanan karier lebih dari tiga dekade di BCA. Ia bergabung dengan bank tersebut pada 1990 sebagai Senior Vice President Regional Division setelah berpengalaman di bidang keuangan perusahaan manufaktur dan Indomobil.&#13;
&#13;
Pada 1999, Jahja bergabung dengan jajaran direksi BCA dan berperan dalam pemulihan kinerja perseroan setelah krisis keuangan Asia 1997&amp;ndash;1998. Pada 2005, ia diangkat menjadi Wakil Presiden Direktur BCA untuk memperkuat strategi bisnis perbankan transaksi dan komersial.&#13;
&#13;
Jahja kemudian menjabat sebagai Presiden Direktur BCA pada 2011. Selama memimpin hingga 2025, ia mengawal pengembangan layanan digital perbankan dan penguatan posisi BCA di industri perbankan nasional.&#13;
&#13;
Setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden Direktur pada 2025, Jahja menjabat sebagai Presiden Komisaris BCA untuk memberikan arahan strategis bagi keberlanjutan bisnis perseroan.&#13;
&#13;
Anggie&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
