<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menko Airlangga Buka Suara soal MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Saham RI ke Standalone Market </title><description>Menko Koorrdinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mempertanyakan sikap Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mendadak mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/16/278/3248284/menko-airlangga-buka-suara-soal-msci-ancam-turunkan-status-pasar-saham-ri-ke-standalone-market</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/16/278/3248284/menko-airlangga-buka-suara-soal-msci-ancam-turunkan-status-pasar-saham-ri-ke-standalone-market"/><item><title>Menko Airlangga Buka Suara soal MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Saham RI ke Standalone Market </title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/16/278/3248284/menko-airlangga-buka-suara-soal-msci-ancam-turunkan-status-pasar-saham-ri-ke-standalone-market</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/16/278/3248284/menko-airlangga-buka-suara-soal-msci-ancam-turunkan-status-pasar-saham-ri-ke-standalone-market</guid><pubDate>Jum'at 16 Oktober 2026 13:46 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/16/278/3248284/menko_airlangga-7jU0_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menko Airlangga (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/16/278/3248284/menko_airlangga-7jU0_large.jpg</image><title>Menko Airlangga (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mempertanyakan sikap Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mendadak mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.&#13;
&#13;
Menurutnya, aksi MSCI tersebut menimbulkan tanda tanya besar, mengingat isu yang dimunculkan tidak dibahas dalam pertemuan antara sejumlah pemangku kepentingan sektor keuangan Indonesia dan MSCI di Bangkok, Thailand, pada Selasa (13/10/2026).&#13;
&#13;
&amp;quot;Kenapa sudah ketemu di Thailand kemarin tak bicara pasal ini? Bukan ini kan ada tanda tanya besar. Kemarin di Thailand kok gak ngomong yang ini, padahal yang kemarin itu seminggu juga belum. Ya tentu kita lihat aja tapi kita tidak boleh suudzon,&amp;quot; kata Airlangga saat dijumpai, Jumat (16/10/2026).&#13;
&#13;
Ia juga mempertanyakan alasan MSCI terus memberikan tenggat waktu terkait penilaian pasar saham Indonesia. Menurut Airlangga, persoalan yang disoroti MSCI justru tidak menjadi perhatian lembaga pemeringkat lainnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kenapa rating agency yang lain tidak mempersoalkan hal ini, dan kenapa MSCI secara sistematik selalu membuka atau membuat deadline, apalagi kemarin yang ketemu di Bangkok kan pimpinannya, bukan analisnya,&amp;quot; sebutnya.&#13;
&#13;
Di sisi lain, Airlangga menegaskan bahwa fundamental perekonomian Indonesia masih dalam kondisi kuat. Ia menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sentimen.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Kembali lagi, kemarin kita sudah sampaikan bahwa sebetulnya kita punya fundamental ekonomi kuat tetapi yang dimainkan kan sekarang faktor sentimental,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Terkait potensi risiko dari pengumuman MSCI, termasuk dampaknya terhadap nilai tukar rupiah, Airlangga menyebut pemerintah masih akan membahas persoalan tersebut lebih lanjut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ya itu kan namanya nanti kita bahas,&amp;quot; ucapnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mempertanyakan sikap Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mendadak mempertimbangkan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.&#13;
&#13;
Menurutnya, aksi MSCI tersebut menimbulkan tanda tanya besar, mengingat isu yang dimunculkan tidak dibahas dalam pertemuan antara sejumlah pemangku kepentingan sektor keuangan Indonesia dan MSCI di Bangkok, Thailand, pada Selasa (13/10/2026).&#13;
&#13;
&amp;quot;Kenapa sudah ketemu di Thailand kemarin tak bicara pasal ini? Bukan ini kan ada tanda tanya besar. Kemarin di Thailand kok gak ngomong yang ini, padahal yang kemarin itu seminggu juga belum. Ya tentu kita lihat aja tapi kita tidak boleh suudzon,&amp;quot; kata Airlangga saat dijumpai, Jumat (16/10/2026).&#13;
&#13;
Ia juga mempertanyakan alasan MSCI terus memberikan tenggat waktu terkait penilaian pasar saham Indonesia. Menurut Airlangga, persoalan yang disoroti MSCI justru tidak menjadi perhatian lembaga pemeringkat lainnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kenapa rating agency yang lain tidak mempersoalkan hal ini, dan kenapa MSCI secara sistematik selalu membuka atau membuat deadline, apalagi kemarin yang ketemu di Bangkok kan pimpinannya, bukan analisnya,&amp;quot; sebutnya.&#13;
&#13;
Di sisi lain, Airlangga menegaskan bahwa fundamental perekonomian Indonesia masih dalam kondisi kuat. Ia menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sentimen.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Kembali lagi, kemarin kita sudah sampaikan bahwa sebetulnya kita punya fundamental ekonomi kuat tetapi yang dimainkan kan sekarang faktor sentimental,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Terkait potensi risiko dari pengumuman MSCI, termasuk dampaknya terhadap nilai tukar rupiah, Airlangga menyebut pemerintah masih akan membahas persoalan tersebut lebih lanjut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ya itu kan namanya nanti kita bahas,&amp;quot; ucapnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
