<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mentrans Sebut Daging Buah Pala Kini Bisa Jadi Cuan, Ini Caranya</title><description>Daging buah pala yang selama ini dibiarkan terbuang begitu saja, kini bisa diolah menjadi sirup dan teh rempah yang bisa dijual. &#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/17/320/3248585/mentrans-sebut-daging-buah-pala-kini-bisa-jadi-cuan-ini-caranya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/17/320/3248585/mentrans-sebut-daging-buah-pala-kini-bisa-jadi-cuan-ini-caranya"/><item><title>Mentrans Sebut Daging Buah Pala Kini Bisa Jadi Cuan, Ini Caranya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/17/320/3248585/mentrans-sebut-daging-buah-pala-kini-bisa-jadi-cuan-ini-caranya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/17/320/3248585/mentrans-sebut-daging-buah-pala-kini-bisa-jadi-cuan-ini-caranya</guid><pubDate>Sabtu 17 Oktober 2026 22:37 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/17/320/3248585/mentrans-pYfT_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mentrans Iftitah (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/17/320/3248585/mentrans-pYfT_large.jpg</image><title>Mentrans Iftitah (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Daging buah pala yang selama ini dibiarkan terbuang begitu saja, kini bisa diolah menjadi sirup dan teh rempah yang bisa dijual.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Warga kampung Weri-Saharey menjadikannya sebagai sumber pendapatan tambahan setelah dilatih oleh Tim 2 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (Unhas).&#13;
&#13;
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pendampingan seperti ini membuktikan potensi warga yang selama ini terabaikan bisa jadi sumber penghasilan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Segala sesuatu yang dinilai oleh masyarakat biasa tidak ada harganya, oleh orang-orang yang berilmu, berpengetahuan bisa dibantu untuk menghasilkan sesuatu produk menjadi uang,&amp;rdquo; kata Mentrans Iftitah dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (17/10/2026).&#13;
&#13;
Warga Kampung Weri dan Saharey menyebut daging buah pala sebagai &amp;#39;kulit&amp;#39; karena bagian itu membungkus biji. Ibu Wantamo, warga Kampung Saharey asal Buton, merasakan sendiri betapa banyak pala yang terbuang percuma selama ini.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau kulitnya ini, dibuang saja di bawah pohon. Saya sendiri belum tahu manfaatnya ini mau bikin apa, tidak tahu,&amp;rdquo; ujar Ibu Wantamo.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Harapan besar juga disampaikan Marlin Kolatfeka, masyarakat Kampung Weri.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya di sini berharap, kami ibu-ibu Weri, ketika kakak-kakak sudah pulang, kami bisa melanjutkan usaha ini untuk kehidupan kami,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Ia juga berterima kasih kepada Kementerian Transmigrasi karena telah mengirim mahasiswa hingga ke kampung yang jauh dari Jakarta.&#13;
&#13;
Ketua Tim 2 Ekspedisi Patriot Unhas, Prof Makkarennu, menjelaskan program ini lahir dari prinsip &amp;ldquo;satu pohon banyak manfaat&amp;rdquo;, yaitu mengolah bagian pala yang selama ini terbuang, terutama daging buahnya, menjadi produk yang bisa dijual.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Masyarakat di sana memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada hanya sekadar menjual biji pala,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Tim 2 Ekspedisi Patriot Unhas melatih warga membuat sirup dan teh rempah dari daging buah pala secara bertahap, mulai dari kelembagaan, pelatihan produk, pengendalian mutu, hingga pengemasan dan strategi usaha.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pelatihan sirup pala didahulukan karena bahan dan caranya lebih mudah dipahami warga, baru kemudian teh rempah. Pelatihan ini diikuti sekitar 20 mama-mama dari dua kampung, Weri dan Saharey, didampingi LSM Wewo Lestari yang sudah berpengalaman mendampingi warga mengolah pala di tempat lain.&#13;
&#13;
Peserta pelatihan terbilang antusias. Mereka bahkan mulai menyiapkan bahan baku secara mandiri dan berencana membuat produk sendiri di kampung masing-masing begitu musim panen pala tiba pada pertengahan Oktober ini. Setiap kampung bahkan sudah punya nama merek sendiri untuk produk sirup dan tehnya.&#13;
&#13;
Langkah Tim Unhas ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong hasil pertanian rakyat diolah menjadi produk bernilai tambah, bukan sekadar dijual mentah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita tidak mau sekadar jual bahan baku. Kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia,&amp;rdquo; kata Presiden Prabowo saat meresmikan proyek hilirisasi pertanian di Cilacap.&#13;
&#13;
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pembangunan kawasan transmigrasi juga harus membangun ekosistem ekonomi warganya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pembangunan kewilayahan yang kita lakukan tidak hanya sebatas infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi masyarakatnya melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi yang tepat guna,&amp;rdquo; kata Menko AHY dalam Rapat Koordinasi Nasional Pembangunan Kewilayahan pada Selasa (22/09/2026).&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Daging buah pala yang selama ini dibiarkan terbuang begitu saja, kini bisa diolah menjadi sirup dan teh rempah yang bisa dijual.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Warga kampung Weri-Saharey menjadikannya sebagai sumber pendapatan tambahan setelah dilatih oleh Tim 2 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (Unhas).&#13;
&#13;
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pendampingan seperti ini membuktikan potensi warga yang selama ini terabaikan bisa jadi sumber penghasilan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Segala sesuatu yang dinilai oleh masyarakat biasa tidak ada harganya, oleh orang-orang yang berilmu, berpengetahuan bisa dibantu untuk menghasilkan sesuatu produk menjadi uang,&amp;rdquo; kata Mentrans Iftitah dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (17/10/2026).&#13;
&#13;
Warga Kampung Weri dan Saharey menyebut daging buah pala sebagai &amp;#39;kulit&amp;#39; karena bagian itu membungkus biji. Ibu Wantamo, warga Kampung Saharey asal Buton, merasakan sendiri betapa banyak pala yang terbuang percuma selama ini.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau kulitnya ini, dibuang saja di bawah pohon. Saya sendiri belum tahu manfaatnya ini mau bikin apa, tidak tahu,&amp;rdquo; ujar Ibu Wantamo.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Harapan besar juga disampaikan Marlin Kolatfeka, masyarakat Kampung Weri.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya di sini berharap, kami ibu-ibu Weri, ketika kakak-kakak sudah pulang, kami bisa melanjutkan usaha ini untuk kehidupan kami,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Ia juga berterima kasih kepada Kementerian Transmigrasi karena telah mengirim mahasiswa hingga ke kampung yang jauh dari Jakarta.&#13;
&#13;
Ketua Tim 2 Ekspedisi Patriot Unhas, Prof Makkarennu, menjelaskan program ini lahir dari prinsip &amp;ldquo;satu pohon banyak manfaat&amp;rdquo;, yaitu mengolah bagian pala yang selama ini terbuang, terutama daging buahnya, menjadi produk yang bisa dijual.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Masyarakat di sana memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada hanya sekadar menjual biji pala,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Tim 2 Ekspedisi Patriot Unhas melatih warga membuat sirup dan teh rempah dari daging buah pala secara bertahap, mulai dari kelembagaan, pelatihan produk, pengendalian mutu, hingga pengemasan dan strategi usaha.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pelatihan sirup pala didahulukan karena bahan dan caranya lebih mudah dipahami warga, baru kemudian teh rempah. Pelatihan ini diikuti sekitar 20 mama-mama dari dua kampung, Weri dan Saharey, didampingi LSM Wewo Lestari yang sudah berpengalaman mendampingi warga mengolah pala di tempat lain.&#13;
&#13;
Peserta pelatihan terbilang antusias. Mereka bahkan mulai menyiapkan bahan baku secara mandiri dan berencana membuat produk sendiri di kampung masing-masing begitu musim panen pala tiba pada pertengahan Oktober ini. Setiap kampung bahkan sudah punya nama merek sendiri untuk produk sirup dan tehnya.&#13;
&#13;
Langkah Tim Unhas ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong hasil pertanian rakyat diolah menjadi produk bernilai tambah, bukan sekadar dijual mentah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita tidak mau sekadar jual bahan baku. Kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia,&amp;rdquo; kata Presiden Prabowo saat meresmikan proyek hilirisasi pertanian di Cilacap.&#13;
&#13;
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pembangunan kawasan transmigrasi juga harus membangun ekosistem ekonomi warganya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pembangunan kewilayahan yang kita lakukan tidak hanya sebatas infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi masyarakatnya melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi yang tepat guna,&amp;rdquo; kata Menko AHY dalam Rapat Koordinasi Nasional Pembangunan Kewilayahan pada Selasa (22/09/2026).&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
