<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Cara RI Perkuat Investasi Hulu Migas demi Produksi dan Ketahanan Energi</title><description>Penguatan iklim investasi, harmonisasi kebijakan fiskal dan percepatan komersialisasi menjadi faktor penting dalam mengubah potensi minyak dan gas bumi (migas) Indonesia menjadi produksi nyata.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/20/320/3249159/ini-cara-ri-perkuat-investasi-hulu-migas-demi-produksi-dan-ketahanan-energi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/20/320/3249159/ini-cara-ri-perkuat-investasi-hulu-migas-demi-produksi-dan-ketahanan-energi"/><item><title>Ini Cara RI Perkuat Investasi Hulu Migas demi Produksi dan Ketahanan Energi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/20/320/3249159/ini-cara-ri-perkuat-investasi-hulu-migas-demi-produksi-dan-ketahanan-energi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/20/320/3249159/ini-cara-ri-perkuat-investasi-hulu-migas-demi-produksi-dan-ketahanan-energi</guid><pubDate>Selasa 20 Oktober 2026 21:51 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/20/320/3249159/migas-v4uj_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ini Cara RI Perkuat Investasi Hulu Migas demi Produksi dan Ketahanan Energi (Foto: PHE)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/20/320/3249159/migas-v4uj_large.jpg</image><title>Ini Cara RI Perkuat Investasi Hulu Migas demi Produksi dan Ketahanan Energi (Foto: PHE)</title></images><description>JAKARTA - Penguatan iklim investasi, harmonisasi kebijakan fiskal dan percepatan komersialisasi menjadi faktor penting dalam mengubah potensi minyak dan gas bumi (migas) Indonesia menjadi produksi nyata. Upaya tersebut semakin mendesak di tengah kesenjangan antara kebutuhan energi nasional dan kemampuan produksi domestik.&#13;
&#13;
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti menegaskan pentingnya membangun wadah komunikasi dan kolaborasi untuk merespons berbagai tantangan industri hulu migas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami mendorong pembangunan wadah komunikasi, sinergi, dan kolaborasi untuk merespons berbagai tantangan industri hulu migas, seperti IPA bagi pelaku usaha hulu migas,&amp;rdquo; ujar Desti dalam konferensi pers FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026).&#13;
&#13;
Menurut Desti, peningkatan produksi atau lifting migas dan pencapaian target nasional merupakan mandat yang harus dikawal bersama. Karena itu, kepastian hukum, iklim investasi yang kondusif, serta kebijakan fiskal yang kompetitif menjadi faktor penting untuk mendorong investor terus melakukan eksplorasi dan menemukan cadangan baru.&#13;
&#13;
Dia menambahkan, pengembangan industri hulu migas membutuhkan pendekatan yang adaptif, termasuk melalui penguatan skema pembiayaan dan sinergi antar pemangku kepentingan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bagaimana mengubah potensi menjadi produksi merupakan pertanyaan penting yang harus kita jawab bersama. Kami berharap FOREK dapat terlaksana dengan baik dan menghasilkan solusi yang mendukung pencapaian target nasional,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Investasi Besar untuk Menjawab Kesenjangan Energi&#13;
&#13;
Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Bayu Kusuma Dewanto mengatakan, penguatan ketahanan energi Indonesia membutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan. Pasalnya, kebutuhan energi nasional masih jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi domestik. Kebutuhan minyak Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta brrel per hari, sedangkan produksi nasional masih di atas 600.000 barel per hari.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau bicara angka hari ini, kebutuhan minyak kita itu sekitar 1,6 juta barrel per hari. Sedangkan produksi minyak kita ada di atas 600.000. Jadi ada kesenjangan yang cukup besar dari apa yang dibutuhkan oleh Indonesia dan apa yang bisa kita produksi,&amp;rdquo; ujar Bayu.&#13;
&#13;
Menurut Bayu, Indonesia memiliki potensi migas yang besar, tetapi sebagian masih menunggu untuk dikembangkan. Realisasi potensi tersebut membutuhkan investasi besar, teknologi, dukungan pembiayaan, serta koordinasi lintas sektor.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Komitmen kami sebagai pelaku usaha hulu migas adalah bekerja sama mencari solusi untuk ketahanan energi Indonesia. Kita memiliki potensi besar, tetapi sebagian masih menunggu untuk dikembangkan. Ini tidak mudah dan tidak murah, sehingga perlu kita pecahkan bersama,&amp;rdquo; ujar Bayu.&#13;
&#13;
Dia menjelaskan, investasi hulu migas memiliki karakteristik jangka panjang. Sejak tahap eksplorasi hingga minyak dapat diproduksikan, suatu proyek dapat membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun, bergantung pada karakteristik lapangan, kompleksitas pengembangan, dan kesiapan infrastruktur.&#13;
&#13;
Di sisi lain, banyak lapangan migas Indonesia telah memasuki fase matang dan menghadapi penurunan produksi alamiah. Kondisi tersebut menuntut investasi baru untuk menemukan cadangan, mengembangkan lapangan, serta menjaga keberlanjutan produksi dari aset yang telah beroperasi.&#13;
&#13;
Bayu menegaskan, kebutuhan investasi yang besar tidak dapat dipenuhi oleh satu perusahaan atau institusi saja. Dukungan pemerintah, SKK Migas, perbankan, investor, dan mitra strategis lainnya diperlukan untuk memastikan proyek dapat dikembangkan dengan skema pembiayaan yang tepat dan risiko yang terkelola.&#13;
&#13;
Selain pembiayaan, pengembangan proyek hulu migas juga menghadapi berbagai tantangan teknis dan operasional yang membutuhkan perencanaan matang serta kepastian aspek pendukung agar dapat bekerja secara optimal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Investasi ini sangat kompleks. Kita tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Dibutuhkan dukungan luar biasa, terutama dari SKK Migas, pemerintah, perbankan, investor, dan seluruh pihak terkait. Kami berharap melalui forum ini, solusi atas tantangan industri hulu migas dapat ditemukan bersama,&amp;rdquo; kata Bayu.&#13;
&#13;
Menurut dia, investasi yang dilakukan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi Indonesia, baik melalui peningkatan produksi, penguatan pasokan energi domestik, maupun kontribusi terhadap penerimaan negara.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Potensi Besar, Produksi Perlu Ditingkatkan&#13;
&#13;
Indonesia memiliki potensi geologi migas yang besar, tetapi pengembangannya masih membutuhkan percepatan. Dari 128 cekungan sedimen yang teridentifikasi, baru 20 cekungan yang telah dikembangkan secara komersial. Selain itu, terdapat 279 struktur temuan migas yang belum dikembangkan dan masih menunggu keputusan investasi.&#13;
&#13;
Hal yang menjadi latar belakang &amp;nbsp;penyelenggaraan FOREK adalah produksi minyak nasional masih di bawah target APBN 2026. Melalui FOREK 2026 diharapkan potensi yang ada bisa diubah menjadi produksi dengan mendorong percepatan investasi yang di tahun 2026 ditargetkan mencapai USD16 miliar agar produksi minyak dapat terus ditingkatkan untuk mencapai target tahun ini.&#13;
&#13;
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan energi tidak cukup hanya melalui peningkatan kegiatan eksplorasi. Diperlukan kesinambungan dari penemuan sumber daya, keputusan investasi, pengembangan fasilitas produksi, hingga penyerapan hasil produksi di pasar domestik.&#13;
&#13;
Karena itu, kepastian keekonomian proyek, efektivitas perizinan, kesiapan infrastruktur, dan kepastian komersialisasi menjadi bagian penting dalam mempercepat pengembangan potensi migas Indonesia.&#13;
&#13;
Perkuat Sinergi dan Solusi Industri&#13;
&#13;
Sementara, Ketua Organizing Committee FOREK Hulu Migas 2026 Nyimas Fauziah Rikani mengatakan, forum ini hadir di tengah tantangan industri hulu migas yang semakin kompleks. Menurut dia, diskusi formal saja tidak cukup untuk menjawab persoalan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;FOREK Hulu Migas hadir di tengah tantangan industri hulu migas saat ini. Kami menyadari bahwa untuk menjawab tantangan tersebut, diskusi formal saja tidak cukup. Diperlukan wadah kolaborasi yang mempertemukan berbagai pihak untuk duduk bersama, membangun perspektif yang sama, dan menghasilkan solusi konkret yang bisa ditindaklanjuti,&amp;rdquo; ujar Nyimas.&#13;
&#13;
Dia menjelaskan, FOREK Hulu Migas 2026 akan berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan sekitar 50 narasumber yang terbagi dalam tiga sesi pleno. Jumlah partisipan yang telah mencapai sekitar 1.100 orang juga melampaui estimasi awal sebanyak 750 peserta.&#13;
&#13;
Antusiasme tersebut mencerminkan besarnya perhatian terhadap berbagai isu keuangan, komersial, dan tata kelola yang memengaruhi keputusan investasi serta pengembangan industri hulu migas.&#13;
&#13;
Penyelenggara berharap forum ini dapat dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi/Menteri Energi dan sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia serta dihadiri Menteri Keuangan, Suahasil Nazara. Kehadiran para pemangku kebijakan diharapkan memperkuat dialog lintas sektor dalam merumuskan solusi untuk meningkatkan daya saing investasi hulu migas Indonesia.&#13;
&#13;
Sekadar informasi, Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Minyak dan Gas Bumi (FOREK Hulu Migas) 2026 akan diselenggarakan pada 28-29 Oktober 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta. Forum ini menjadi wadah kolaborasi bagi pemerintah, regulator, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), investor, lembaga pembiayaan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk merumuskan solusi dalam memperkuat iklim investasi serta meningkatkan produksi migas nasional.&#13;
&#13;
Melalui diskusi strategis dan pertukaran pandangan antar pakar serta pemangku kepentingan, forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang konkret dan implementatif untuk memperkuat kebijakan serta menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
3 Agenda Strategis&amp;nbsp;&#13;
&#13;
FOREK Hulu Migas 2026 akan berfokus pada tiga agenda utama yang saling berkaitan dalam mendukung penguatan industri hulu migas Indonesia. Pertama, penguatan daya saing investasi melalui transformasi kebijakan dan tata kelola yang terintegrasi. Agenda ini menitikberatkan pada pentingnya keselarasan kebijakan, kepastian berusaha, dan tata kelola yang efektif untuk meningkatkan daya tarik investasi.&#13;
&#13;
Kedua, penguatan komersialisasi untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Pembahasan diarahkan pada optimalisasi pemanfaatan hasil produksi migas melalui skema komersialisasi yang adaptif, kepastian penyerapan produksi, dan dukungan infrastruktur yang memadai.&#13;
&#13;
Ketiga, penguatan kemitraan dan pembiayaan industri hulu migas. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, perbankan, investor, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan memperluas dukungan pendanaan serta mempercepat realisasi proyek.&#13;
&#13;
Ketiga agenda tersebut diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang menjembatani kebutuhan regulator dan pelaku usaha, sekaligus memperkuat koordinasi dalam mengatasi hambatan investasi.&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Penguatan iklim investasi, harmonisasi kebijakan fiskal dan percepatan komersialisasi menjadi faktor penting dalam mengubah potensi minyak dan gas bumi (migas) Indonesia menjadi produksi nyata. Upaya tersebut semakin mendesak di tengah kesenjangan antara kebutuhan energi nasional dan kemampuan produksi domestik.&#13;
&#13;
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Desti Melanti menegaskan pentingnya membangun wadah komunikasi dan kolaborasi untuk merespons berbagai tantangan industri hulu migas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami mendorong pembangunan wadah komunikasi, sinergi, dan kolaborasi untuk merespons berbagai tantangan industri hulu migas, seperti IPA bagi pelaku usaha hulu migas,&amp;rdquo; ujar Desti dalam konferensi pers FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026).&#13;
&#13;
Menurut Desti, peningkatan produksi atau lifting migas dan pencapaian target nasional merupakan mandat yang harus dikawal bersama. Karena itu, kepastian hukum, iklim investasi yang kondusif, serta kebijakan fiskal yang kompetitif menjadi faktor penting untuk mendorong investor terus melakukan eksplorasi dan menemukan cadangan baru.&#13;
&#13;
Dia menambahkan, pengembangan industri hulu migas membutuhkan pendekatan yang adaptif, termasuk melalui penguatan skema pembiayaan dan sinergi antar pemangku kepentingan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bagaimana mengubah potensi menjadi produksi merupakan pertanyaan penting yang harus kita jawab bersama. Kami berharap FOREK dapat terlaksana dengan baik dan menghasilkan solusi yang mendukung pencapaian target nasional,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Investasi Besar untuk Menjawab Kesenjangan Energi&#13;
&#13;
Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Bayu Kusuma Dewanto mengatakan, penguatan ketahanan energi Indonesia membutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh pemangku kepentingan. Pasalnya, kebutuhan energi nasional masih jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi domestik. Kebutuhan minyak Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta brrel per hari, sedangkan produksi nasional masih di atas 600.000 barel per hari.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau bicara angka hari ini, kebutuhan minyak kita itu sekitar 1,6 juta barrel per hari. Sedangkan produksi minyak kita ada di atas 600.000. Jadi ada kesenjangan yang cukup besar dari apa yang dibutuhkan oleh Indonesia dan apa yang bisa kita produksi,&amp;rdquo; ujar Bayu.&#13;
&#13;
Menurut Bayu, Indonesia memiliki potensi migas yang besar, tetapi sebagian masih menunggu untuk dikembangkan. Realisasi potensi tersebut membutuhkan investasi besar, teknologi, dukungan pembiayaan, serta koordinasi lintas sektor.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Komitmen kami sebagai pelaku usaha hulu migas adalah bekerja sama mencari solusi untuk ketahanan energi Indonesia. Kita memiliki potensi besar, tetapi sebagian masih menunggu untuk dikembangkan. Ini tidak mudah dan tidak murah, sehingga perlu kita pecahkan bersama,&amp;rdquo; ujar Bayu.&#13;
&#13;
Dia menjelaskan, investasi hulu migas memiliki karakteristik jangka panjang. Sejak tahap eksplorasi hingga minyak dapat diproduksikan, suatu proyek dapat membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun, bergantung pada karakteristik lapangan, kompleksitas pengembangan, dan kesiapan infrastruktur.&#13;
&#13;
Di sisi lain, banyak lapangan migas Indonesia telah memasuki fase matang dan menghadapi penurunan produksi alamiah. Kondisi tersebut menuntut investasi baru untuk menemukan cadangan, mengembangkan lapangan, serta menjaga keberlanjutan produksi dari aset yang telah beroperasi.&#13;
&#13;
Bayu menegaskan, kebutuhan investasi yang besar tidak dapat dipenuhi oleh satu perusahaan atau institusi saja. Dukungan pemerintah, SKK Migas, perbankan, investor, dan mitra strategis lainnya diperlukan untuk memastikan proyek dapat dikembangkan dengan skema pembiayaan yang tepat dan risiko yang terkelola.&#13;
&#13;
Selain pembiayaan, pengembangan proyek hulu migas juga menghadapi berbagai tantangan teknis dan operasional yang membutuhkan perencanaan matang serta kepastian aspek pendukung agar dapat bekerja secara optimal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Investasi ini sangat kompleks. Kita tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Dibutuhkan dukungan luar biasa, terutama dari SKK Migas, pemerintah, perbankan, investor, dan seluruh pihak terkait. Kami berharap melalui forum ini, solusi atas tantangan industri hulu migas dapat ditemukan bersama,&amp;rdquo; kata Bayu.&#13;
&#13;
Menurut dia, investasi yang dilakukan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi Indonesia, baik melalui peningkatan produksi, penguatan pasokan energi domestik, maupun kontribusi terhadap penerimaan negara.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Potensi Besar, Produksi Perlu Ditingkatkan&#13;
&#13;
Indonesia memiliki potensi geologi migas yang besar, tetapi pengembangannya masih membutuhkan percepatan. Dari 128 cekungan sedimen yang teridentifikasi, baru 20 cekungan yang telah dikembangkan secara komersial. Selain itu, terdapat 279 struktur temuan migas yang belum dikembangkan dan masih menunggu keputusan investasi.&#13;
&#13;
Hal yang menjadi latar belakang &amp;nbsp;penyelenggaraan FOREK adalah produksi minyak nasional masih di bawah target APBN 2026. Melalui FOREK 2026 diharapkan potensi yang ada bisa diubah menjadi produksi dengan mendorong percepatan investasi yang di tahun 2026 ditargetkan mencapai USD16 miliar agar produksi minyak dapat terus ditingkatkan untuk mencapai target tahun ini.&#13;
&#13;
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan energi tidak cukup hanya melalui peningkatan kegiatan eksplorasi. Diperlukan kesinambungan dari penemuan sumber daya, keputusan investasi, pengembangan fasilitas produksi, hingga penyerapan hasil produksi di pasar domestik.&#13;
&#13;
Karena itu, kepastian keekonomian proyek, efektivitas perizinan, kesiapan infrastruktur, dan kepastian komersialisasi menjadi bagian penting dalam mempercepat pengembangan potensi migas Indonesia.&#13;
&#13;
Perkuat Sinergi dan Solusi Industri&#13;
&#13;
Sementara, Ketua Organizing Committee FOREK Hulu Migas 2026 Nyimas Fauziah Rikani mengatakan, forum ini hadir di tengah tantangan industri hulu migas yang semakin kompleks. Menurut dia, diskusi formal saja tidak cukup untuk menjawab persoalan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;FOREK Hulu Migas hadir di tengah tantangan industri hulu migas saat ini. Kami menyadari bahwa untuk menjawab tantangan tersebut, diskusi formal saja tidak cukup. Diperlukan wadah kolaborasi yang mempertemukan berbagai pihak untuk duduk bersama, membangun perspektif yang sama, dan menghasilkan solusi konkret yang bisa ditindaklanjuti,&amp;rdquo; ujar Nyimas.&#13;
&#13;
Dia menjelaskan, FOREK Hulu Migas 2026 akan berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan sekitar 50 narasumber yang terbagi dalam tiga sesi pleno. Jumlah partisipan yang telah mencapai sekitar 1.100 orang juga melampaui estimasi awal sebanyak 750 peserta.&#13;
&#13;
Antusiasme tersebut mencerminkan besarnya perhatian terhadap berbagai isu keuangan, komersial, dan tata kelola yang memengaruhi keputusan investasi serta pengembangan industri hulu migas.&#13;
&#13;
Penyelenggara berharap forum ini dapat dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi/Menteri Energi dan sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia serta dihadiri Menteri Keuangan, Suahasil Nazara. Kehadiran para pemangku kebijakan diharapkan memperkuat dialog lintas sektor dalam merumuskan solusi untuk meningkatkan daya saing investasi hulu migas Indonesia.&#13;
&#13;
Sekadar informasi, Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Minyak dan Gas Bumi (FOREK Hulu Migas) 2026 akan diselenggarakan pada 28-29 Oktober 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta. Forum ini menjadi wadah kolaborasi bagi pemerintah, regulator, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), investor, lembaga pembiayaan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk merumuskan solusi dalam memperkuat iklim investasi serta meningkatkan produksi migas nasional.&#13;
&#13;
Melalui diskusi strategis dan pertukaran pandangan antar pakar serta pemangku kepentingan, forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang konkret dan implementatif untuk memperkuat kebijakan serta menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
3 Agenda Strategis&amp;nbsp;&#13;
&#13;
FOREK Hulu Migas 2026 akan berfokus pada tiga agenda utama yang saling berkaitan dalam mendukung penguatan industri hulu migas Indonesia. Pertama, penguatan daya saing investasi melalui transformasi kebijakan dan tata kelola yang terintegrasi. Agenda ini menitikberatkan pada pentingnya keselarasan kebijakan, kepastian berusaha, dan tata kelola yang efektif untuk meningkatkan daya tarik investasi.&#13;
&#13;
Kedua, penguatan komersialisasi untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Pembahasan diarahkan pada optimalisasi pemanfaatan hasil produksi migas melalui skema komersialisasi yang adaptif, kepastian penyerapan produksi, dan dukungan infrastruktur yang memadai.&#13;
&#13;
Ketiga, penguatan kemitraan dan pembiayaan industri hulu migas. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, perbankan, investor, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan memperluas dukungan pendanaan serta mempercepat realisasi proyek.&#13;
&#13;
Ketiga agenda tersebut diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang menjembatani kebutuhan regulator dan pelaku usaha, sekaligus memperkuat koordinasi dalam mengatasi hambatan investasi.&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
