<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Catat Uang Beredar Tembus Rp10.587,9 Triliun di September 2026</title><description>Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.587,9 triliun pada September 2026.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/23/320/3249731/bi-catat-uang-beredar-tembus-rp10-587-9-triliun-di-september-2026</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/23/320/3249731/bi-catat-uang-beredar-tembus-rp10-587-9-triliun-di-september-2026"/><item><title>BI Catat Uang Beredar Tembus Rp10.587,9 Triliun di September 2026</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/23/320/3249731/bi-catat-uang-beredar-tembus-rp10-587-9-triliun-di-september-2026</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/23/320/3249731/bi-catat-uang-beredar-tembus-rp10-587-9-triliun-di-september-2026</guid><pubDate>Jum'at 23 Oktober 2026 11:44 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/23/320/3249731/uang_beredar-8iC9_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Beredar RI (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/23/320/3249731/uang_beredar-8iC9_large.jpg</image><title>Uang Beredar RI (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan&amp;nbsp;likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.587,9 triliun pada September 2026.&#13;
&#13;
Pertumbuhan M2 tercatat sebesar 8,3 persen secara tahunan (year on year/yoy), atau melanjutkan pertumbuhan pada Agustus 2026 sebesar 8,2 persen yoy.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uangberedar sempit (M1) sebesar 9,0 persen yoy dan uang kuasi sebesar 7,3 persen yoy,&amp;rdquo; tulis Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Jumat (23/10/2026).&#13;
&#13;
BI menjelaskan bahwa peningkatan M2 pada September 2026 dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus), aktiva luar negeri bersih dan penyaluran kredit.&#13;
&#13;
Tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 24,4 persen (yoy), setelah mengalami kontraksi sebesar 7,0 persen (yoy) pada Agustus 2026.&#13;
&#13;
Aktiva luar negeri bersih pada September 2026 tumbuh sebesar 1,0 persen (yoy), setelah mengalami kontraksi pada Agustus 2026 sebesar 6,6 persen (yoy).&#13;
&#13;
Demikian pula, penyaluran kredit tumbuh sebesar 12,7 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 13,3 persen (yoy).&#13;
&#13;
Sebagai catatan, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk Pinjaman (Loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (Debt Securities), tagihan akseptasi (Banker&amp;#39;s Acceptances), dan Tagihan Repo.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor Bank Umum yang berkedudukan di Luar Negeri, dan kredit yang disalurkan kepada Pemerintah Pusat dan Bukan Penduduk.&#13;
&#13;
Adapun Uang Primer (M0)  adjusted pada September 2026 tumbuh 9,3 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Agustus 2026 sebesar 16,3 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.353,1 triliun.&#13;
&#13;
Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 11,8 persen (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 3,9 persen (yoy).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted),&amp;rdquo; tulis laporan BI tersebut.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan&amp;nbsp;likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.587,9 triliun pada September 2026.&#13;
&#13;
Pertumbuhan M2 tercatat sebesar 8,3 persen secara tahunan (year on year/yoy), atau melanjutkan pertumbuhan pada Agustus 2026 sebesar 8,2 persen yoy.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uangberedar sempit (M1) sebesar 9,0 persen yoy dan uang kuasi sebesar 7,3 persen yoy,&amp;rdquo; tulis Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Jumat (23/10/2026).&#13;
&#13;
BI menjelaskan bahwa peningkatan M2 pada September 2026 dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus), aktiva luar negeri bersih dan penyaluran kredit.&#13;
&#13;
Tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 24,4 persen (yoy), setelah mengalami kontraksi sebesar 7,0 persen (yoy) pada Agustus 2026.&#13;
&#13;
Aktiva luar negeri bersih pada September 2026 tumbuh sebesar 1,0 persen (yoy), setelah mengalami kontraksi pada Agustus 2026 sebesar 6,6 persen (yoy).&#13;
&#13;
Demikian pula, penyaluran kredit tumbuh sebesar 12,7 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 13,3 persen (yoy).&#13;
&#13;
Sebagai catatan, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk Pinjaman (Loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (Debt Securities), tagihan akseptasi (Banker&amp;#39;s Acceptances), dan Tagihan Repo.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor Bank Umum yang berkedudukan di Luar Negeri, dan kredit yang disalurkan kepada Pemerintah Pusat dan Bukan Penduduk.&#13;
&#13;
Adapun Uang Primer (M0)  adjusted pada September 2026 tumbuh 9,3 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Agustus 2026 sebesar 16,3 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.353,1 triliun.&#13;
&#13;
Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 11,8 persen (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 3,9 persen (yoy).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted),&amp;rdquo; tulis laporan BI tersebut.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
