<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Pangkas SRBI, Kini Tinggal Rp900 Triliun</title><description>Bank Indonesia (BI) mengkalibrasi strategi penerbitan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai bagian dari langkah normalisasi dan penguatan operasi moneter.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/23/320/3249827/bi-pangkas-srbi-kini-tinggal-rp900-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/23/320/3249827/bi-pangkas-srbi-kini-tinggal-rp900-triliun"/><item><title>BI Pangkas SRBI, Kini Tinggal Rp900 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/23/320/3249827/bi-pangkas-srbi-kini-tinggal-rp900-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/23/320/3249827/bi-pangkas-srbi-kini-tinggal-rp900-triliun</guid><pubDate>Jum'at 23 Oktober 2026 19:00 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/23/320/3249827/bank_indonesia-lQd6_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BI Pangkas SRBI, Kini Tinggal Rp900 Triliun (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/23/320/3249827/bank_indonesia-lQd6_large.jpg</image><title>BI Pangkas SRBI, Kini Tinggal Rp900 Triliun (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengkalibrasi strategi penerbitan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai bagian dari langkah normalisasi dan penguatan operasi moneter demi mengelola likuiditas di pasar uang. Kebijakan ini untuk memastikan kecukupan pasokan dana di sistem keuangan agar transmisi suku bunga acuan berjalan efektif sekaligus menjaga pergerakan suku bunga jangka pendek tetap stabil.&#13;
&#13;
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menggarisbawahi ketersediaan likuiditas yang proporsional di pasar uang menjadi syarat agar efektivitas transmisi kebijakan moneter dapat bekerja optimal hingga ke perbankan dan pengendalian inflasi. Pengaturan volume likuiditas tersebut ditujukan untuk memagari pergerakan suku bunga antarbank agar tidak berfluktuasi secara ekstrem.&#13;
&#13;
&amp;quot;Fokus utama kami adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang agar suku bunga kebijakan tertransmisi dengan baik ke suku bunga pasar uang, tenor yang lebih panjang, perbankan, hingga ke inflasi. Transmisi ini bekerja baik bila jumlah likuiditas memadai, sebab jika kurang, volatilitasnya akan tinggi,&amp;quot; ujar Erwin dalam diskusi media di kantor BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).&#13;
&#13;
Dalam menjalankan operasi moneter tersebut, BI telah menurunkan posisi outstanding instrumen SRBI secara bertahap dari level tertingginya. Penyesuaian ini ditempuh dengan mengubah frekuensi lelang yang semula digelar setiap pekan menjadi dua pekan sekali secara tertib dengan volume penerbitan yang disesuaikan terhadap kondisi likuiditas pasar.&#13;
&#13;
Pelepasan likuiditas tersebut dilakukan dengan mengurangi penempatan dana perbankan yang selama ini terkunci pada instrumen tenor panjang. Strategi ini ditujukan mengalirkan kembali likuiditas segar ke instrumen-instrumen berjangka waktu lebih pendek.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dulu highest outstanding SRBI mencapai Rp1.070 triliun dan sekarang sudah jauh di bawah itu, di kisaran Rp900-an triliun bahkan di bawah Rp950 triliun. Kami merilis likuiditas dari SRBI sekitar Rp150 triliun ke tenor yang lebih pendek, serta menurunkan likuiditas yang tadinya banyak terkunci di tenor 6, 9, dan 12 bulan,&amp;quot; kata Erwin.&#13;
&#13;
Kendati volume penerbitan SRBI dikalibrasi, bank sentral tetap mempertahankan daya tarik instrumen berdenominasi rupiah tersebut bagi investor nonresiden melalui penguatan insentif lindung nilai valas, seperti swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sementara bagi perbankan domestik, BI mendorong penataan ulang portofolio likuiditas seiring penyesuaian suku bunga SRBI di pasar sekunder.&#13;
&#13;
Otoritas moneter memastikan instrumen moneter ini tetap memiliki imbal hasil kompetitif untuk memacu aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik. Pada saat yang sama, industri perbankan nasional diarahkan untuk terus mengoptimalkan pengelolaan aset likuid secara terukur.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami tetap menjaga SRBI sebagai aset rupiah yang menarik melalui penguatan insentif swap maupun DNDF untuk mendorong aliran modal asing. Bagi perbankan domestik, kami harapkan dengan rate yang ada mereka menghitung ulang portofolio likuiditasnya sejalan dengan kalibrasi volume penerbitan,&amp;quot; tutur Erwin.&#13;
&#13;
Di sisi lain, BI memastikan pintu fasilitas pembiayaan harian tetap terbuka lebar bagi perbankan yang menghadapi ketidaksesuaian jatuh tempo antara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) jangka pendek dan penyaluran kredit jangka panjang. Bank sentral menyiapkan fasilitas repo bertenor 1 minggu hingga 12 bulan dengan agunan Surat Berharga Negara (SBN) atau SRBI.&#13;
&#13;
Kesiapan instrumen pendukung likuiditas tersebut dirancang agar bank tetap mampu memenuhi kebutuhan dana harian tanpa mengalami gangguan operasional. Bank sentral bahkan menyediakan opsi penukaran valuta asing bagi bank yang tidak memiliki agunan surat berharga rupiah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Akses likuiditas repo mulai dari 1 minggu sampai 12 bulan terus tersedia dengan agunan SBN atau SRBI untuk mengelola mismatch liquidity harian perbankan. Jika tidak memiliki surat berharga tetapi punya valas, mereka bisa mengakses swap reguler bertenor 1, 3, 6, dan 12 bulan,&amp;quot; kata Erwin.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengkalibrasi strategi penerbitan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai bagian dari langkah normalisasi dan penguatan operasi moneter demi mengelola likuiditas di pasar uang. Kebijakan ini untuk memastikan kecukupan pasokan dana di sistem keuangan agar transmisi suku bunga acuan berjalan efektif sekaligus menjaga pergerakan suku bunga jangka pendek tetap stabil.&#13;
&#13;
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menggarisbawahi ketersediaan likuiditas yang proporsional di pasar uang menjadi syarat agar efektivitas transmisi kebijakan moneter dapat bekerja optimal hingga ke perbankan dan pengendalian inflasi. Pengaturan volume likuiditas tersebut ditujukan untuk memagari pergerakan suku bunga antarbank agar tidak berfluktuasi secara ekstrem.&#13;
&#13;
&amp;quot;Fokus utama kami adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang agar suku bunga kebijakan tertransmisi dengan baik ke suku bunga pasar uang, tenor yang lebih panjang, perbankan, hingga ke inflasi. Transmisi ini bekerja baik bila jumlah likuiditas memadai, sebab jika kurang, volatilitasnya akan tinggi,&amp;quot; ujar Erwin dalam diskusi media di kantor BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).&#13;
&#13;
Dalam menjalankan operasi moneter tersebut, BI telah menurunkan posisi outstanding instrumen SRBI secara bertahap dari level tertingginya. Penyesuaian ini ditempuh dengan mengubah frekuensi lelang yang semula digelar setiap pekan menjadi dua pekan sekali secara tertib dengan volume penerbitan yang disesuaikan terhadap kondisi likuiditas pasar.&#13;
&#13;
Pelepasan likuiditas tersebut dilakukan dengan mengurangi penempatan dana perbankan yang selama ini terkunci pada instrumen tenor panjang. Strategi ini ditujukan mengalirkan kembali likuiditas segar ke instrumen-instrumen berjangka waktu lebih pendek.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dulu highest outstanding SRBI mencapai Rp1.070 triliun dan sekarang sudah jauh di bawah itu, di kisaran Rp900-an triliun bahkan di bawah Rp950 triliun. Kami merilis likuiditas dari SRBI sekitar Rp150 triliun ke tenor yang lebih pendek, serta menurunkan likuiditas yang tadinya banyak terkunci di tenor 6, 9, dan 12 bulan,&amp;quot; kata Erwin.&#13;
&#13;
Kendati volume penerbitan SRBI dikalibrasi, bank sentral tetap mempertahankan daya tarik instrumen berdenominasi rupiah tersebut bagi investor nonresiden melalui penguatan insentif lindung nilai valas, seperti swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sementara bagi perbankan domestik, BI mendorong penataan ulang portofolio likuiditas seiring penyesuaian suku bunga SRBI di pasar sekunder.&#13;
&#13;
Otoritas moneter memastikan instrumen moneter ini tetap memiliki imbal hasil kompetitif untuk memacu aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik. Pada saat yang sama, industri perbankan nasional diarahkan untuk terus mengoptimalkan pengelolaan aset likuid secara terukur.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami tetap menjaga SRBI sebagai aset rupiah yang menarik melalui penguatan insentif swap maupun DNDF untuk mendorong aliran modal asing. Bagi perbankan domestik, kami harapkan dengan rate yang ada mereka menghitung ulang portofolio likuiditasnya sejalan dengan kalibrasi volume penerbitan,&amp;quot; tutur Erwin.&#13;
&#13;
Di sisi lain, BI memastikan pintu fasilitas pembiayaan harian tetap terbuka lebar bagi perbankan yang menghadapi ketidaksesuaian jatuh tempo antara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) jangka pendek dan penyaluran kredit jangka panjang. Bank sentral menyiapkan fasilitas repo bertenor 1 minggu hingga 12 bulan dengan agunan Surat Berharga Negara (SBN) atau SRBI.&#13;
&#13;
Kesiapan instrumen pendukung likuiditas tersebut dirancang agar bank tetap mampu memenuhi kebutuhan dana harian tanpa mengalami gangguan operasional. Bank sentral bahkan menyediakan opsi penukaran valuta asing bagi bank yang tidak memiliki agunan surat berharga rupiah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Akses likuiditas repo mulai dari 1 minggu sampai 12 bulan terus tersedia dengan agunan SBN atau SRBI untuk mengelola mismatch liquidity harian perbankan. Jika tidak memiliki surat berharga tetapi punya valas, mereka bisa mengakses swap reguler bertenor 1, 3, 6, dan 12 bulan,&amp;quot; kata Erwin.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
