<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Mulai Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Bukti Ketegasan!</title><description>Pemerintah mulai mengurangi pasokan gas bumi ke Singapura sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) sejak hari ini.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/24/320/3249990/indonesia-mulai-kurangi-ekspor-gas-ke-singapura-bukti-ketegasan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/24/320/3249990/indonesia-mulai-kurangi-ekspor-gas-ke-singapura-bukti-ketegasan"/><item><title>Indonesia Mulai Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Bukti Ketegasan!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/24/320/3249990/indonesia-mulai-kurangi-ekspor-gas-ke-singapura-bukti-ketegasan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/24/320/3249990/indonesia-mulai-kurangi-ekspor-gas-ke-singapura-bukti-ketegasan</guid><pubDate>Sabtu 24 Oktober 2026 18:55 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/24/320/3249990/gas-5VuZ_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia Mulai Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Bukti Ketegasan!</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/24/320/3249990/gas-5VuZ_large.jpg</image><title>Indonesia Mulai Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Bukti Ketegasan!</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah mulai mengurangi pasokan gas bumi ke Singapura sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) sejak Sabtu (24/10/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Langkah ini menjadi sinyal tegas bahwa pemenuhan kebutuhan energi nasional mulai diprioritaskan di tengah ketidakpastian geopolitik global.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mulai hari ini pasokan gas ke Singapura dialihkan ke dalam negeri dari Natuna ke PLN Batam sebesar 15 juta standar kaki kubik,&amp;rdquo; kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto &amp;nbsp;seperti dikutip, Sabtu (24/10).&#13;
&amp;nbsp;&#13;
Terkait keputusan Pemerintah tersebut, Sofyano Zakaria, Pengamat kebijakan energi, sangat memberi apresiasi dan acungan dua jempol kepada Pemerintah khususnya kepada Presiden Prabowo Subianto dan jajaran terkait keputusan memangkas pasokan gas bumi ke Singapura.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Negeri kita sangat kekurangan dan sangat butuh gas maka keputusan memangkas pasokan gas ke Singapura adalah sebuah keputusan dan kebijakan politik dan ekonomi yang sangat luar biasa yang patut didukung oleh segenap lapisan masyarakat negeri ini,&amp;quot; ujar Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik Sofyano Zakaria.&#13;
&#13;
Ekspor gas ke luar negeri yang sudah dilakukan oleh pemerintah negeri ini sejak tahun 2003 sudah saat nya perlu ditinjau kembali dengan memangkas dan atau menghentikan pasokan ke negara manapun sepanjang ada klausul dalam perjanjian yang memperbolehkan hal tersebut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Di sisi lain gas yang ditarik kembali buat kebutuhan dalam negeri perlu diatur secara bijak dan adil oleh Pemerintah jangan sampai gas tersebut dinikmati bisa dibeli oleh pihak pihak tertentu saja,&amp;quot; kata Sofyano.&#13;
&#13;
Dia mendorong Pemerintahan Presiden Prabowo untuk sudah saatnya mengutamakan kepentingan nasional &amp;nbsp;untuk melakukan kebijakan terkait energi demi ketahanan energi bangsa, walau harus mengurangi nilai ekspor migas Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Rakyat pasti mendukung setiap kebijakan pemerintah yang diperuntukkan bagi kepentingan nasional,&amp;quot; &amp;nbsp;ucap Sofyano.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kebijakan yang diambil Pemerintah &amp;nbsp;ini sejalan dengan Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, yang menegaskan prioritas pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri.&#13;
&#13;
Pemerintah akan memantau perkembangan pasokan setiap hari.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah mempertimbangkan untuk menghentikan atau tidak memperpanjang kontrak ekspor gas ke negara tetangga apabila kebutuhan domestik belum terpenuhi.&#13;
&#13;
Bahlil menegaskan, ketahanan energi harus menjadi pertimbangan utama dalam menghadapi dinamika geopolitik global, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jadi kalau negara lain ada pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga karena harus survival, harus penuhi kebutuhan dalam negeri,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Kebijakan ini menandai penegasan prioritas energi nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalihan gas benar-benar memperkuat pasokan listrik domestik tanpa mengabaikan kepastian kontrak dan kepercayaan mitra dagang.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah mulai mengurangi pasokan gas bumi ke Singapura sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) sejak Sabtu (24/10/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Langkah ini menjadi sinyal tegas bahwa pemenuhan kebutuhan energi nasional mulai diprioritaskan di tengah ketidakpastian geopolitik global.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mulai hari ini pasokan gas ke Singapura dialihkan ke dalam negeri dari Natuna ke PLN Batam sebesar 15 juta standar kaki kubik,&amp;rdquo; kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto &amp;nbsp;seperti dikutip, Sabtu (24/10).&#13;
&amp;nbsp;&#13;
Terkait keputusan Pemerintah tersebut, Sofyano Zakaria, Pengamat kebijakan energi, sangat memberi apresiasi dan acungan dua jempol kepada Pemerintah khususnya kepada Presiden Prabowo Subianto dan jajaran terkait keputusan memangkas pasokan gas bumi ke Singapura.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Negeri kita sangat kekurangan dan sangat butuh gas maka keputusan memangkas pasokan gas ke Singapura adalah sebuah keputusan dan kebijakan politik dan ekonomi yang sangat luar biasa yang patut didukung oleh segenap lapisan masyarakat negeri ini,&amp;quot; ujar Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik Sofyano Zakaria.&#13;
&#13;
Ekspor gas ke luar negeri yang sudah dilakukan oleh pemerintah negeri ini sejak tahun 2003 sudah saat nya perlu ditinjau kembali dengan memangkas dan atau menghentikan pasokan ke negara manapun sepanjang ada klausul dalam perjanjian yang memperbolehkan hal tersebut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Di sisi lain gas yang ditarik kembali buat kebutuhan dalam negeri perlu diatur secara bijak dan adil oleh Pemerintah jangan sampai gas tersebut dinikmati bisa dibeli oleh pihak pihak tertentu saja,&amp;quot; kata Sofyano.&#13;
&#13;
Dia mendorong Pemerintahan Presiden Prabowo untuk sudah saatnya mengutamakan kepentingan nasional &amp;nbsp;untuk melakukan kebijakan terkait energi demi ketahanan energi bangsa, walau harus mengurangi nilai ekspor migas Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Rakyat pasti mendukung setiap kebijakan pemerintah yang diperuntukkan bagi kepentingan nasional,&amp;quot; &amp;nbsp;ucap Sofyano.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kebijakan yang diambil Pemerintah &amp;nbsp;ini sejalan dengan Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, yang menegaskan prioritas pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri.&#13;
&#13;
Pemerintah akan memantau perkembangan pasokan setiap hari.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah mempertimbangkan untuk menghentikan atau tidak memperpanjang kontrak ekspor gas ke negara tetangga apabila kebutuhan domestik belum terpenuhi.&#13;
&#13;
Bahlil menegaskan, ketahanan energi harus menjadi pertimbangan utama dalam menghadapi dinamika geopolitik global, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jadi kalau negara lain ada pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga karena harus survival, harus penuhi kebutuhan dalam negeri,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Kebijakan ini menandai penegasan prioritas energi nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalihan gas benar-benar memperkuat pasokan listrik domestik tanpa mengabaikan kepastian kontrak dan kepercayaan mitra dagang.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
