<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bahlil: Ketegangan Geopolitik Bikin Minyak Lebih Dicari dari Emas</title><description>Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, ketegangan geopolitik global membuat minyak mentah semakin diburu dibandingkan emas.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/28/320/3250777/bahlil-ketegangan-geopolitik-bikin-minyak-lebih-dicari-dari-emas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/28/320/3250777/bahlil-ketegangan-geopolitik-bikin-minyak-lebih-dicari-dari-emas"/><item><title>Bahlil: Ketegangan Geopolitik Bikin Minyak Lebih Dicari dari Emas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/28/320/3250777/bahlil-ketegangan-geopolitik-bikin-minyak-lebih-dicari-dari-emas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/28/320/3250777/bahlil-ketegangan-geopolitik-bikin-minyak-lebih-dicari-dari-emas</guid><pubDate>Rabu 28 Oktober 2026 22:00 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/28/320/3250777/menteri_esdm_bahlil-IVr7_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri ESDM Bahlil (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/28/320/3250777/menteri_esdm_bahlil-IVr7_large.jpg</image><title>Menteri ESDM Bahlil (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, ketegangan geopolitik global membuat minyak mentah semakin diburu dibandingkan emas.&#13;
&#13;
Bahlil mengatakan, konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina berdampak terhadap perekonomian global, termasuk rantai pasok energi. Kondisi tersebut mendorong negara-negara memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi domestik.&#13;
&#13;
&amp;quot;Harga minyak dunia sedang naik dan kebutuhan dunia juga sedang tinggi. Sekarang ini, diumpamakan antara emas dan minyak, dulu orang mencari emas, tapi sekarang orang mencari minyak,&amp;quot; ujarnya dalam pembukaan Forek Hulu Migas 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).&#13;
&#13;
Menurut Bahlil, situasi tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi minyak guna mengurangi ketergantungan impor.&#13;
&#13;
Dia menyebutkan, konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi baru berkisar 600.000-650.000 barel per hari. Dengan demikian, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik.&#13;
&#13;
Melalui penerapan biodiesel B50, kebutuhan impor diperkirakan berkurang sekitar 250.000-300.000 barel per hari. Meski demikian, Indonesia masih perlu mengimpor sekitar 700.000-750.000 barel per hari.&#13;
&#13;
Karena itu, Bahlil meminta kontraktor kontrak kerja sama (K3S) migas mempercepat pengembangan lapangan, terutama yang telah menyelesaikan eksplorasi dan memperoleh persetujuan plan of development (POD).&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dia juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas sumur-sumur tua serta meminta perusahaan yang tidak mampu mengembangkan konsesinya agar menyerahkannya kepada negara untuk ditawarkan kepada investor lain.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau tidak mampu mengerjakan, serahkan konsesi tersebut kepada negara. Nanti pemerintah akan menawarkan kepada pihak lain yang mampu mengerjakannya,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Bahlil menilai, percepatan investasi dan peningkatan lifting minyak menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, ketegangan geopolitik global membuat minyak mentah semakin diburu dibandingkan emas.&#13;
&#13;
Bahlil mengatakan, konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina berdampak terhadap perekonomian global, termasuk rantai pasok energi. Kondisi tersebut mendorong negara-negara memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi domestik.&#13;
&#13;
&amp;quot;Harga minyak dunia sedang naik dan kebutuhan dunia juga sedang tinggi. Sekarang ini, diumpamakan antara emas dan minyak, dulu orang mencari emas, tapi sekarang orang mencari minyak,&amp;quot; ujarnya dalam pembukaan Forek Hulu Migas 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).&#13;
&#13;
Menurut Bahlil, situasi tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi minyak guna mengurangi ketergantungan impor.&#13;
&#13;
Dia menyebutkan, konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi baru berkisar 600.000-650.000 barel per hari. Dengan demikian, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik.&#13;
&#13;
Melalui penerapan biodiesel B50, kebutuhan impor diperkirakan berkurang sekitar 250.000-300.000 barel per hari. Meski demikian, Indonesia masih perlu mengimpor sekitar 700.000-750.000 barel per hari.&#13;
&#13;
Karena itu, Bahlil meminta kontraktor kontrak kerja sama (K3S) migas mempercepat pengembangan lapangan, terutama yang telah menyelesaikan eksplorasi dan memperoleh persetujuan plan of development (POD).&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dia juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas sumur-sumur tua serta meminta perusahaan yang tidak mampu mengembangkan konsesinya agar menyerahkannya kepada negara untuk ditawarkan kepada investor lain.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau tidak mampu mengerjakan, serahkan konsesi tersebut kepada negara. Nanti pemerintah akan menawarkan kepada pihak lain yang mampu mengerjakannya,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Bahlil menilai, percepatan investasi dan peningkatan lifting minyak menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
