<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Laba BJBR Tembus Rp1,1 Triliun, Naik 37,3 Persen hingga September 2026</title><description>Capaian laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tersebut tumbuh 37,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/30/278/3251037/laba-bjbr-tembus-rp1-1-triliun-naik-37-3-persen-hingga-september-2026</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/30/278/3251037/laba-bjbr-tembus-rp1-1-triliun-naik-37-3-persen-hingga-september-2026"/><item><title>Laba BJBR Tembus Rp1,1 Triliun, Naik 37,3 Persen hingga September 2026</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/30/278/3251037/laba-bjbr-tembus-rp1-1-triliun-naik-37-3-persen-hingga-september-2026</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/30/278/3251037/laba-bjbr-tembus-rp1-1-triliun-naik-37-3-persen-hingga-september-2026</guid><pubDate>Jum'at 30 Oktober 2026 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/30/278/3251037/grafik-hgjP_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb/BJBR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,1 triliun hingga September 2026. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/30/278/3251037/grafik-hgjP_large.jpg</image><title>PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb/BJBR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,1 triliun hingga September 2026. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb/BJBR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,1 triliun hingga September 2026. Capaian laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tersebut tumbuh 37,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.&#13;
&#13;
Pertumbuhan laba ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income, serta efisiensi operasional. Hingga September 2026, pendapatan bunga bersih bank bjb tumbuh 1,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sedangkan fee-based income mencapai Rp1,7 triliun.&#13;
&#13;
Dari sisi efisiensi, bank bjb berhasil menekan beban operasional sekitar 2 persen. Langkah tersebut turut mendorong pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan kerugian penurunan nilai atau Pre-Provision Operating Profit (PPOP) lebih dari 5,5 persen secara tahunan.&#13;
&#13;
Meski demikian, perseroan tetap memperhitungkan potensi risiko penurunan kualitas kredit dengan membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) secara konservatif sebesar Rp692 miliar. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi risiko pada portofolio kredit.&#13;
&#13;
&amp;quot;Konsistensi strategi bisnis dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja perusahaan di tengah dinamika industri perbankan,&amp;quot; ujar Direktur Utama bank bjb Ayi Subarna, Jumat (30/10/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dari sisi bisnis, hingga September 2026 total aset konsolidasi bank bjb mencapai Rp219,7 triliun. Dari jumlah tersebut, perusahaan anak menyumbang aset sebesar Rp44,9 triliun atau sekitar 20 persen dari total aset grup.&#13;
&#13;
Sementara itu, total kredit dan pembiayaan konsolidasi tercatat sebesar Rp142,3 triliun. Adapun penyaluran kredit secara bank only mencapai Rp112,9 triliun, meningkat Rp1,8 triliun dibandingkan posisi triwulan sebelumnya.&#13;
&#13;
Kredit konsumer masih mendominasi portofolio kredit bank bjb dengan nilai outstanding Rp74,4 triliun atau sekitar 66 persen dari total kredit bank only.&#13;
&#13;
Pada segmen ini, perseroan juga mengembangkan penyaluran kredit melalui produk digital KGB Pisan. Hingga September 2026, outstanding produk tersebut mencapai Rp271,4 miliar, tumbuh 39,4 persen secara kuartalan dan 216,6 persen secara tahunan.&#13;
&#13;
Sementara itu, penyaluran kredit produktif mulai menunjukkan pertumbuhan secara kuartalan. Kredit segmen korporasi meningkat Rp1 triliun atau 7 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Adapun kredit segmen komersial bertambah Rp495 miliar atau 4,2 persen.&#13;
&#13;
Ekspansi kredit produktif dilakukan secara selektif pada sejumlah sektor, antara lain aktivitas keuangan, pinjaman daerah, perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi. Perseroan juga menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dengan mempertimbangkan profil risiko debitur.&#13;
&#13;
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) konsolidasi bank bjb mencapai Rp155,6 triliun per September 2026. Jumlah tersebut terdiri atas kontribusi perusahaan anak sebesar Rp31,4 triliun dan dana bank only sebesar Rp124,2 triliun.&#13;
&#13;
Rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 86,8 persen, sedangkan rasio dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) mencapai 44,9 persen.&#13;
&#13;
Untuk memperkuat pendanaan, perseroan terus meningkatkan penghimpunan dana murah melalui akuisisi nasabah, perluasan kerja sama pengelolaan gaji (payroll), dan peningkatan transaksi. Pembukaan rekening melalui kanal digital tercatat berkisar 7.000 hingga 12.000 rekening setiap bulan.&#13;
&#13;
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada di level 2,87 persen. Sementara itu, rasio Loan at Risk (LAR) tercatat sebesar 9,92 persen.&#13;
&#13;
Perseroan melanjutkan perbaikan kualitas kredit melalui penyempurnaan proses analisis kredit (underwriting), restrukturisasi secara selektif, serta penguatan pedoman pengelolaan portofolio dan penetapan harga kredit berdasarkan profil risiko.&#13;
&#13;
Memasuki triwulan IV 2026, bank bjb akan melanjutkan strategi pertumbuhan berkualitas melalui penguatan dana murah, pengendalian biaya dana, penyaluran kredit secara selektif, peningkatan pendapatan nonbunga, dan efisiensi operasional. Perseroan juga akan memperkuat pemulihan kredit bermasalah serta meningkatkan kualitas analisis kredit untuk menjaga kinerja bisnis secara berkelanjutan.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb/BJBR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,1 triliun hingga September 2026. Capaian laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tersebut tumbuh 37,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.&#13;
&#13;
Pertumbuhan laba ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income, serta efisiensi operasional. Hingga September 2026, pendapatan bunga bersih bank bjb tumbuh 1,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sedangkan fee-based income mencapai Rp1,7 triliun.&#13;
&#13;
Dari sisi efisiensi, bank bjb berhasil menekan beban operasional sekitar 2 persen. Langkah tersebut turut mendorong pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan kerugian penurunan nilai atau Pre-Provision Operating Profit (PPOP) lebih dari 5,5 persen secara tahunan.&#13;
&#13;
Meski demikian, perseroan tetap memperhitungkan potensi risiko penurunan kualitas kredit dengan membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) secara konservatif sebesar Rp692 miliar. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi risiko pada portofolio kredit.&#13;
&#13;
&amp;quot;Konsistensi strategi bisnis dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja perusahaan di tengah dinamika industri perbankan,&amp;quot; ujar Direktur Utama bank bjb Ayi Subarna, Jumat (30/10/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dari sisi bisnis, hingga September 2026 total aset konsolidasi bank bjb mencapai Rp219,7 triliun. Dari jumlah tersebut, perusahaan anak menyumbang aset sebesar Rp44,9 triliun atau sekitar 20 persen dari total aset grup.&#13;
&#13;
Sementara itu, total kredit dan pembiayaan konsolidasi tercatat sebesar Rp142,3 triliun. Adapun penyaluran kredit secara bank only mencapai Rp112,9 triliun, meningkat Rp1,8 triliun dibandingkan posisi triwulan sebelumnya.&#13;
&#13;
Kredit konsumer masih mendominasi portofolio kredit bank bjb dengan nilai outstanding Rp74,4 triliun atau sekitar 66 persen dari total kredit bank only.&#13;
&#13;
Pada segmen ini, perseroan juga mengembangkan penyaluran kredit melalui produk digital KGB Pisan. Hingga September 2026, outstanding produk tersebut mencapai Rp271,4 miliar, tumbuh 39,4 persen secara kuartalan dan 216,6 persen secara tahunan.&#13;
&#13;
Sementara itu, penyaluran kredit produktif mulai menunjukkan pertumbuhan secara kuartalan. Kredit segmen korporasi meningkat Rp1 triliun atau 7 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Adapun kredit segmen komersial bertambah Rp495 miliar atau 4,2 persen.&#13;
&#13;
Ekspansi kredit produktif dilakukan secara selektif pada sejumlah sektor, antara lain aktivitas keuangan, pinjaman daerah, perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi. Perseroan juga menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dengan mempertimbangkan profil risiko debitur.&#13;
&#13;
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) konsolidasi bank bjb mencapai Rp155,6 triliun per September 2026. Jumlah tersebut terdiri atas kontribusi perusahaan anak sebesar Rp31,4 triliun dan dana bank only sebesar Rp124,2 triliun.&#13;
&#13;
Rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 86,8 persen, sedangkan rasio dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) mencapai 44,9 persen.&#13;
&#13;
Untuk memperkuat pendanaan, perseroan terus meningkatkan penghimpunan dana murah melalui akuisisi nasabah, perluasan kerja sama pengelolaan gaji (payroll), dan peningkatan transaksi. Pembukaan rekening melalui kanal digital tercatat berkisar 7.000 hingga 12.000 rekening setiap bulan.&#13;
&#13;
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada di level 2,87 persen. Sementara itu, rasio Loan at Risk (LAR) tercatat sebesar 9,92 persen.&#13;
&#13;
Perseroan melanjutkan perbaikan kualitas kredit melalui penyempurnaan proses analisis kredit (underwriting), restrukturisasi secara selektif, serta penguatan pedoman pengelolaan portofolio dan penetapan harga kredit berdasarkan profil risiko.&#13;
&#13;
Memasuki triwulan IV 2026, bank bjb akan melanjutkan strategi pertumbuhan berkualitas melalui penguatan dana murah, pengendalian biaya dana, penyaluran kredit secara selektif, peningkatan pendapatan nonbunga, dan efisiensi operasional. Perseroan juga akan memperkuat pemulihan kredit bermasalah serta meningkatkan kualitas analisis kredit untuk menjaga kinerja bisnis secara berkelanjutan.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
