<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dari Bumi Pomalaa Menuju Jantung Baterai Dunia</title><description>Vale Indonesia mengembangkan fasilitas pengolahan nikel berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL), yang dirancang menghasilkan MHP.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/31/320/3251263/dari-bumi-pomalaa-menuju-jantung-baterai-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/10/31/320/3251263/dari-bumi-pomalaa-menuju-jantung-baterai-dunia"/><item><title>Dari Bumi Pomalaa Menuju Jantung Baterai Dunia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/10/31/320/3251263/dari-bumi-pomalaa-menuju-jantung-baterai-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/10/31/320/3251263/dari-bumi-pomalaa-menuju-jantung-baterai-dunia</guid><pubDate>Sabtu 31 Oktober 2026 09:22 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/31/320/3251263/fasilitas_hpal-bPe8_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dari Bumi Pomalaa Menuju Jantung Baterai Dunia (Foto: Fasilitas HPAL/Dokumentasi Vale)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/31/320/3251263/fasilitas_hpal-bPe8_large.jpg</image><title>Dari Bumi Pomalaa Menuju Jantung Baterai Dunia (Foto: Fasilitas HPAL/Dokumentasi Vale)</title></images><description>JAKARTA - Dari perut bumi Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, sebuah perjalanan panjang sedang dimulai. Bijih nikel yang selama ini menjadi kekayaan alam Indonesia kini dipersiapkan untuk memasuki babak baru: diolah menjadi material penting bagi baterai kendaraan listrik yang menggerakkan transisi energi dunia.&#13;
&#13;
Di kawasan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP), deretan struktur baja, jaringan pipa, dan bejana bertekanan tinggi menjadi gambaran transformasi tersebut. Melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengembangkan fasilitas pengolahan nikel berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL), yang dirancang menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).&#13;
&#13;
Proyek ini bukan sekadar ekspansi pertambangan, tetapi menguatkan komitmen hilirisasi sebagai langkah untuk membawa Indonesia masuk lebih dalam ke rantai pasok global baterai kendaraan listrik.&#13;
&#13;
Namun, perjalanan nikel Pomalaa tidak semata tentang membangun pabrik, mengejar kapasitas produksi, atau menembus pasar global. Di balik investasi miliaran dolar dan teknologi pengolahan modern, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: seberapa besar kekayaan mineral ini mampu menciptakan nilai tambah bagi Indonesia dan masyarakat?&#13;
&#13;
Berbekal pengalaman mengelola industri nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan, sejak 1968, Vale Indonesia kini memperluas bisnisnya. Dari yang semula berfokus pada produksi nikel dalam matte, perusahaan mulai memasuki pengolahan bijih nikel limonit menjadi MHP, salah satu produk penting dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik.&#13;
&#13;
Dari Sorowako Menuju Babak Baru Hilirisasi&#13;
&#13;
Perjalanan Vale Indonesia merupakan bagian dari sejarah panjang industri nikel nasional. Berawal dengan nama PT International Nickel Indonesia (PT Inco) pada 1968, perusahaan memulai pembangunan fasilitas pertambangan dan pengolahan di Sorowako pada dekade 1970-an sebelum mengawali produksi pada 1977.&#13;
&#13;
Pengalaman mengelola pertambangan, pengolahan mineral, dan infrastruktur energi selama puluhan tahun menjadi modal bagi pengembangan proyek-proyek pertumbuhan perusahaan.&#13;
&#13;
Pada 2011, PT Inco berganti nama menjadi PT Vale Indonesia Tbk. Perubahan penting berikutnya terjadi pada 2024, ketika MIND ID memperkuat kepemilikannya menjadi sekitar 34 persen dan menjadi pemegang saham terbesar.&#13;
&#13;
Di Sorowako, Vale Indonesia mengembangkan infrastruktur energi terintegrasi melalui tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yakni Larona, Balambano, dan Karebbe, dengan total kapasitas terpasang sekitar 365 megawatt.&#13;
&#13;
Pada 2025, produksi nikel dalam matte perusahaan mencapai 72.027 ton, meningkat dibandingkan 71.311 ton pada 2024. Pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk memperluas bisnis melalui tiga proyek pertumbuhan utama, yakni Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonite.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Jika Sorowako menjadi saksi perjalanan panjang industri nikel Vale, Pomalaa merepresentasikan arah baru perusahaan dalam mendukung kebutuhan material baterai dunia..&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Fasilitas HPAL dan Ambisi 120 Ribu Ton Nikel&#13;
&#13;
IGP Pomalaa memiliki dua komponen utama, yakni pengembangan area pertambangan oleh Vale Indonesia dan pembangunan fasilitas pengolahan nikel berteknologi HPAL oleh PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), perusahaan patungan Vale Indonesia dan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd dan Ford Motor Company. Pengembangan tambang dan fasilitas HPAL tersebut membutuhkan investasi sekitar USD4,5 miliar.&#13;
&#13;
Teknologi HPAL menjadi jantung pengolahan proyek ini. Melalui kombinasi tekanan dan temperatur tinggi serta penggunaan larutan asam, teknologi ini dirancang untuk mengolah bijih nikel limonit berkadar rendah menjadi MHP.&#13;
&#13;
Ketika beroperasi sesuai kapasitas desain, fasilitas ini diproyeksikan menghasilkan 120.000 ton nikel per tahun dalam produk MHP dan 15.000 ton kobalt per tahun dalam produk MHP.&#13;
&#13;
Kapasitas tersebut diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok material baterai kendaraan listrik, industri yang kebutuhannya terus berkembang seiring percepatan transisi energi global.&#13;
&#13;
Project Manager JV Pomalaa Ridwan Setiawan menjelaskan bahwa fasilitas ini menggunakan autoclave berkapasitas besar dengan teknologi modern. Sistem energinya dirancang memanfaatkan kombinasi pembangkit listrik berbasis liquefied natural gas (LNG) dan panas dari Acid Plant melalui Heat Recovery System.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami tidak menggunakan PLTU batu bara. Kami menggunakan LNG Power Plant dan Heat Recovery System dari Acid Plant,&amp;quot; ujar Ridwan saat ditemui Okezone di Pomalaa, Senin, 26 Oktober 2026.&#13;
&#13;
Menurut dia, pemanfaatan empat Acid Plant memungkinkan pemenuhan kebutuhan energi untuk lima autoclave beserta infrastruktur pendukung fasilitas pengolahan.&#13;
&#13;
Rancangan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri hilir tidak hanya berorientasi pada kapasitas produksi, tetapi juga memperhatikan efisiensi energi dan teknologi yang digunakan.&#13;
&#13;
Menjelang Produksi, Tantangan Sesungguhnya Dimulai&#13;
&#13;
Hingga September 2026, pembangunan fasilitas HPAL Pomalaa telah mencapai progres fisik 96,97 persen. Sementara itu, progres konstruksi area pertambangan pada kuartal III 2026 tercatat sekitar 88,98 persen.&#13;
&#13;
Proyek pun memasuki tahap pengujian dan commissioning untuk memastikan seluruh fasilitas dapat berfungsi sesuai rancangan.&#13;
&#13;
Ridwan menjelaskan bahwa tahapan tersebut meliputi functional test setiap unit, connectivity test antarlini produksi, hingga pengumpanan bijih nikel atau ore ke fasilitas pengolahan.&#13;
&#13;
Untuk lini pertama dan kedua, proses penyelesaian serta persiapan commissioning terus dilakukan. Perusahaan juga menargetkan pengujian lima lini produksi secara bertahap hingga akhir 2026.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami masih optimistis dan confident bahwa partner kami akan menyalurkan produk HPAL MHP pertama di tahun ini,&amp;quot; kata Ridwan.&#13;
&#13;
Namun, kesiapan fasilitas bukan satu-satunya penentu keberhasilan operasional. Ketersediaan pasokan bijih nikel juga menjadi perhatian.&#13;
&#13;
Ridwan mengungkapkan bahwa keterbatasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi salah satu tantangan dalam memastikan kebutuhan material untuk proses produksi.&#13;
&#13;
Persoalan ini memperlihatkan bahwa pabrik berkapasitas besar membutuhkan kepastian pasokan bahan baku agar seluruh lini produksi dapat beroperasi optimal. Kesinambungan kegiatan pertambangan dan pengolahan pun menjadi faktor penting dalam keberhasilan hilirisasi.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Infrastruktur Lingkungan Mengiringi Pembangunan&#13;
&#13;
Di tengah pembangunan fasilitas industri berskala besar, pengelolaan lingkungan menjadi aspek penting dalam pengembangan Pomalaa. Aktivitas pertambangan dan pengolahan mineral membawa konsekuensi terhadap penggunaan lahan, pengelolaan air, limbah, dan emisi. Karena itu, infrastruktur pengendalian lingkungan dikembangkan seiring pembangunan fasilitas produksi.&#13;
&#13;
Salah satunya melalui jaringan sediment pond atau kolam pengendap. Hingga September 2026, terdapat 19 unit sediment pond dengan luas eksisting sekitar 60 hektare. Sebanyak 16 unit telah berfungsi, sedangkan tiga lainnya masih dalam tahap konstruksi. Progres fisik pembangunannya mencapai sekitar 98 persen.&#13;
&#13;
Fasilitas tersebut berfungsi menahan material padat dan sedimen dari limpasan air di area proyek sebelum dialirkan ke sistem pengelolaan berikutnya. Tujuannya mengendalikan potensi dampak pembukaan lahan sekaligus menjaga kualitas air di sekitar wilayah operasi.&#13;
&#13;
Selain pengelolaan air, Vale Indonesia mengembangkan fasilitas nursery modern di Kecamatan Tanggetada dengan luas sekitar 4,6 hektare di kawasan Kebun Raya Kolaka seluas 50 hektare.&#13;
&#13;
Fasilitas persemaian yang diresmikan pada akhir Februari 2026 tersebut disiapkan untuk mendukung reklamasi dan rehabilitasi lahan pascatambang melalui penyediaan sekitar satu juta bibit tanaman per tahun.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Nursery ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga keanekaragaman hayati. Sistem penyiramannya dilengkapi pengatur waktu dan sensor untuk merespons kondisi lingkungan ketika suhu melampaui 35 derajat Celsius dan kelembapan turun di bawah 60 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Semua bibit langka, bibit Kolaka kita kembangkan, di tempat lain mungkin tidak ada. Kapasitas 1 juta juga besar. Kita juga melibatkan tim ahli IPB merancang ini supaya berjalan,&amp;quot; kata Senior Manager Environment &amp;amp; Permit Management Vale Indonesia Firman Gunawan.&#13;
&#13;
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya Vale mengendalikan dampak operasional sekaligus menyiapkan pemulihan lahan pascatambang.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dari Sawah Puuroda, Hilirisasi Mengubah Kehidupan Petani&#13;
&#13;
Transformasi yang dibangun Vale Indonesia di Pomalaa tidak hanya berlangsung di kawasan industri. Di luar deretan fasilitas pengolahan nikel, perubahan juga tumbuh dari lahan pertanian masyarakat.&#13;
&#13;
Di Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, petani binaan Indah Susanti merasakan bagaimana pendekatan pertanian organik mengubah kehidupan keluarganya.&#13;
&#13;
Dengan lahan sekitar 27 are, Indah mengembangkan usaha pertanian berbasis metode System of Rice Intensification (SRI) Organik. Ia tidak hanya menanam padi, tetapi juga mengembangkan sayuran, seledri, tanaman herbal, tanaman obat keluarga, hingga memproduksi kompos organik.&#13;
&#13;
Sebelumnya, Indah mengaku keluarganya berada dalam kondisi ekonomi terbatas. Namun, setelah mengenal pertanian organik melalui program pemberdayaan Vale Indonesia, ia mulai melihat potensi ekonomi dari lahan dan pekarangan yang dimilikinya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sebelum saya mengenal pertanian organik, saya itu bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Saya tidak punya apa-apa. Setelah mengenal pertanian organik, kehidupan saya meningkat drastis,&amp;quot; ujar Indah saat berbincang dengan Okezone, Selasa, 27 Oktober 2026.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kini, lahan yang sebelumnya belum memberikan banyak nilai ekonomi berkembang menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya.&#13;
Dari kebun sayuran, Indah mengaku memperoleh pendapatan sekitar Rp5 juta per bulan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Tanaman seledri di pekarangan rumahnya menghasilkan sekitar Rp100 ribu per hari. Sementara dari sawah, ia bisa memperoleh sekitar Rp12 juta dalam satu kali panen.&#13;
&#13;
Penghasilannya tidak hanya berasal dari padi dan sayuran. Indah juga menjual kompos serta berbagai tanaman yang dibudidayakan di pekarangan rumahnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dulu kami sempat penasaran, apa iya hanya dengan rerumputan bisa membuat tanaman sehat? Alhamdulillah, sekarang kami bisa membuat pupuk organik dari sampah yang sebelumnya terbuang menjadi sesuatu yang bermanfaat,&amp;quot; kata Indah yang mengikuti program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB).&#13;
&#13;
Program ini mengubah pola tanam petani dari sistem konvensional berbasis bahan kimia menjadi metode organik yang ramah lingkungan.&#13;
&#13;
Bagi Indah, perubahan terbesar bukan semata peningkatan pendapatan, melainkan kemampuan keluarganya menciptakan sumber penghasilan sendiri. Limbah organik yang sebelumnya terbuang kini dapat diolah menjadi kompos, sementara pekarangan rumah berkembang menjadi sumber ekonomi tambahan.&#13;
&#13;
Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat menghadirkan nilai tambah yang langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Membangun Kemandirian dan Memperluas Ekonomi Lokal&#13;
&#13;
Program SRI Organik merupakan bagian dari Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Vale Indonesia melalui IGP Pomalaa. Program ini mulai diinisiasi pada 2021 melalui survei dan asesmen untuk mengidentifikasi kondisi, potensi, serta tantangan pertanian di wilayah pemberdayaan.&#13;
&#13;
Senior Manager Social Development Program Vale Indonesia Lalu Nofa Setiawan Putra menjelaskan bahwa ketika program dimulai, sebagian besar petani masih menggunakan metode pertanian konvensional.&#13;
&#13;
Mereka menghadapi berbagai persoalan, mulai dari produktivitas yang cenderung menurun, keterbatasan pupuk, sulitnya memperoleh sarana produksi, hingga persoalan permodalan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami melihat banyak petani yang melakukan kegiatan usahanya dalam keadaan rugi, dan itu terus-menerus. Program ini kami aplikasikan untuk mendorong kemandirian para petani di area pemberdayaan,&amp;quot; kata Lalu Nofa.&#13;
&#13;
Pengembangan budi daya padi organik yang dimulai sejak 2021 ini menjadi bukti komitmen Vale Indonesia. Perusahaan tidak hanya berfokus pada hilirisasi nikel, tetapi juga menciptakan nilai tambah berbasis keberlanjutan bagi masyarakat lokal.&#13;
&#13;
Program tersebut juga mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan tanaman herbal dan produk pertanian lainnya. Dengan demikian, sumber pendapatan petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas.&#13;
&#13;
Di tengah dominasi sektor pertambangan dalam perekonomian Kolaka, pengembangan pertanian menjadi salah satu upaya memperluas sumber pertumbuhan ekonomi daerah.&#13;
&#13;
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dirujuk dalam pengembangan program, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kolaka pada 2025 mencapai sekitar 6,9 persen. Sektor pertambangan menyumbang sekitar 53 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).&#13;
&#13;
Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan pentingnya sektor pertambangan bagi perekonomian Kolaka. Namun, kondisi itu sekaligus menegaskan perlunya pengembangan sektor ekonomi lain agar sumber pertumbuhan daerah semakin beragam.&#13;
&#13;
Sementara itu, MIND ID sebagai holding industri pertambangan Indonesia mengawal dan mendukung pengembangan proyek strategis IGP Pomalaa yang dikembangkan PT Vale sebagai bagian dari agenda hilirisasi mineral nasional.&#13;
&#13;
Komisaris MIND ID Komjen Pol Muhammad Fadil Imran menyebut kehadiran kawasan industri di Kolaka dan proyek IGP Pomalaa telah menggerakkan berbagai usaha penunjang, mulai dari transportasi, kuliner, perhotelan, hingga pariwisata.&#13;
&#13;
&amp;quot;Masyarakat sangat berterima kasih. Saya juga mendengarkan dari Pak Bupati bahwa dengan adanya kawasan industri dan kehadiran PT Vale memberikan dampak ikutannya, mulai dari bisnis truk, kuliner, wisata, hotel, dan sebagainya, termasuk penyerapan tenaga kerja,&amp;quot; kata Fadil.&#13;
&#13;
Di sisi lain, Ekonom CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai rantai nilai kendaraan listrik di Indonesia mulai menunjukkan integrasi dari sektor hulu hingga pengolahan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau di upstream kita sudah high maturity (tingkat kematangan tinggi), sementara di midstream dan downstream masih berkembang. Tapi ke depan ini bisa meningkat cepat, dan dampaknya terhadap perekonomian daerah juga akan semakin besar,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Ia mencontohkan Morowali dan Morowali Utara di Sulawesi Tengah yang mengalami perubahan struktur ekonomi dalam satu dekade terakhir, dengan semakin dominannya sektor industri pengolahan mineral.&#13;
&#13;
Menurut Faisal, manfaat hilirisasi tidak cukup diukur dari peningkatan kapasitas produksi dan investasi, tetapi juga dari keterkaitan industri dengan tenaga kerja lokal, usaha daerah, serta keberlanjutan lingkungan.&#13;
&#13;
Pandangan tersebut relevan bagi Pomalaa. Pembangunan industri perlu diikuti tumbuhnya usaha masyarakat, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan sektor ekonomi lain.&#13;
&#13;
Dari sisi ketenagakerjaan, Ridwan menyebut kebutuhan tenaga kerja fasilitas HPAL pada fase operasi diproyeksikan mencapai sekitar 4.000 hingga 6.000 orang.&#13;
&#13;
Perusahaan mengacu pada komposisi tenaga kerja 70:30 sesuai ketentuan dan arahan pemerintah daerah, dengan prioritas memperbesar penyerapan tenaga kerja nasional, regional, dan lokal seiring berkurangnya kebutuhan tenaga kerja asing dari fase konstruksi menuju operasi.&#13;
&#13;
Rencana tersebut membuka peluang bagi masyarakat sekitar. Namun, peningkatan kompetensi tetap diperlukan agar tenaga kerja lokal mampu mengisi posisi yang membutuhkan keterampilan teknis. Pelatihan vokasi, termasuk melalui Balai Latihan Kerja, menjadi salah satu instrumen untuk mempersiapkan kebutuhan tersebut.&#13;
&#13;
Karena itu, manfaat ekonomi Pomalaa juga ditentukan oleh sejauh mana masyarakat dan pelaku usaha lokal dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan kawasan.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dari Mineral Indonesia untuk Transisi Energi Dunia&#13;
&#13;
Kepala Departemen Pusat Penjadwalan Produksi PT KNI Yu Pan menjelaskan bahwa proyek Pomalaa bergerak dari tahap konstruksi menuju commissioning. Fasilitas tersebut dirancang mencapai kapasitas produksi 120.000 ton nikel per tahun ketika seluruh lini beroperasi sesuai kapasitas penuh.&#13;
&#13;
Produk MHP yang dihasilkan juga dipersiapkan untuk memasuki rantai pasok industri baterai dan otomotif global. Ford Motor Company disebut sebagai salah satu calon penerima produk KNI.&#13;
&#13;
Keterhubungan tersebut memperlihatkan bagaimana sumber daya mineral dari Pomalaa berpotensi menjadi bagian dari rantai industri kendaraan listrik dunia. Prospek pengembangan nikel juga tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan kendaraan listrik.&#13;
&#13;
Presiden Direktur dan CEO Vale Indonesia Bernardus Irmanto melihat kebutuhan nikel ke depan masih menjanjikan seiring perkembangan teknologi seperti robotika, kecerdasan buatan (AI), pusat data, hingga kendaraan terbang listrik.&#13;
&#13;
Menurut dia, diversifikasi produk dan kemitraan dengan produsen baterai maupun otomotif menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan pasar.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Namun, perjalanan menuju posisi strategis tersebut membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan pabrik. Kepastian pasokan bijih, kesiapan teknologi, kompetensi tenaga kerja, pengelolaan lingkungan, dan pemerataan manfaat ekonomi harus berjalan beriringan.&#13;
&#13;
IGP Pomalaa menjadi kelanjutan perjalanan Vale Indonesia dalam mengelola sumber daya nikel Indonesia.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dari Sorowako yang membangun fondasi industri sejak 1968, perusahaan kini mengembangkan kapabilitas baru melalui teknologi HPAL untuk memenuhi kebutuhan material baterai masa depan.&#13;
&#13;
Pada akhirnya, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari berapa ton nikel yang dihasilkan atau seberapa besar investasi yang ditanamkan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ukurannya juga terletak pada seberapa besar nilai yang tercipta bagi daerah asal sumber daya tersebut: pekerjaan yang terbuka, usaha masyarakat yang berkembang, lingkungan yang terjaga, dan generasi lokal yang ikut menikmati manfaat pembangunan.&#13;
&#13;
Dari perbukitan Kolaka hingga sawah-sawah Puuroda, Pomalaa memperlihatkan bahwa perjalanan mineral menuju rantai industri global seharusnya berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.&#13;
&#13;
Sebab, kekayaan mineral Indonesia baru benar-benar menjadi sumber nilai berkelanjutan ketika manfaatnya tidak hanya mengalir ke pasar dunia, tetapi juga kembali kepada masyarakat dan daerah tempat sumber daya itu berasal.&#13;
&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Dari perut bumi Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, sebuah perjalanan panjang sedang dimulai. Bijih nikel yang selama ini menjadi kekayaan alam Indonesia kini dipersiapkan untuk memasuki babak baru: diolah menjadi material penting bagi baterai kendaraan listrik yang menggerakkan transisi energi dunia.&#13;
&#13;
Di kawasan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP), deretan struktur baja, jaringan pipa, dan bejana bertekanan tinggi menjadi gambaran transformasi tersebut. Melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengembangkan fasilitas pengolahan nikel berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL), yang dirancang menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).&#13;
&#13;
Proyek ini bukan sekadar ekspansi pertambangan, tetapi menguatkan komitmen hilirisasi sebagai langkah untuk membawa Indonesia masuk lebih dalam ke rantai pasok global baterai kendaraan listrik.&#13;
&#13;
Namun, perjalanan nikel Pomalaa tidak semata tentang membangun pabrik, mengejar kapasitas produksi, atau menembus pasar global. Di balik investasi miliaran dolar dan teknologi pengolahan modern, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: seberapa besar kekayaan mineral ini mampu menciptakan nilai tambah bagi Indonesia dan masyarakat?&#13;
&#13;
Berbekal pengalaman mengelola industri nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan, sejak 1968, Vale Indonesia kini memperluas bisnisnya. Dari yang semula berfokus pada produksi nikel dalam matte, perusahaan mulai memasuki pengolahan bijih nikel limonit menjadi MHP, salah satu produk penting dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik.&#13;
&#13;
Dari Sorowako Menuju Babak Baru Hilirisasi&#13;
&#13;
Perjalanan Vale Indonesia merupakan bagian dari sejarah panjang industri nikel nasional. Berawal dengan nama PT International Nickel Indonesia (PT Inco) pada 1968, perusahaan memulai pembangunan fasilitas pertambangan dan pengolahan di Sorowako pada dekade 1970-an sebelum mengawali produksi pada 1977.&#13;
&#13;
Pengalaman mengelola pertambangan, pengolahan mineral, dan infrastruktur energi selama puluhan tahun menjadi modal bagi pengembangan proyek-proyek pertumbuhan perusahaan.&#13;
&#13;
Pada 2011, PT Inco berganti nama menjadi PT Vale Indonesia Tbk. Perubahan penting berikutnya terjadi pada 2024, ketika MIND ID memperkuat kepemilikannya menjadi sekitar 34 persen dan menjadi pemegang saham terbesar.&#13;
&#13;
Di Sorowako, Vale Indonesia mengembangkan infrastruktur energi terintegrasi melalui tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yakni Larona, Balambano, dan Karebbe, dengan total kapasitas terpasang sekitar 365 megawatt.&#13;
&#13;
Pada 2025, produksi nikel dalam matte perusahaan mencapai 72.027 ton, meningkat dibandingkan 71.311 ton pada 2024. Pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk memperluas bisnis melalui tiga proyek pertumbuhan utama, yakni Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonite.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Jika Sorowako menjadi saksi perjalanan panjang industri nikel Vale, Pomalaa merepresentasikan arah baru perusahaan dalam mendukung kebutuhan material baterai dunia..&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Fasilitas HPAL dan Ambisi 120 Ribu Ton Nikel&#13;
&#13;
IGP Pomalaa memiliki dua komponen utama, yakni pengembangan area pertambangan oleh Vale Indonesia dan pembangunan fasilitas pengolahan nikel berteknologi HPAL oleh PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), perusahaan patungan Vale Indonesia dan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd dan Ford Motor Company. Pengembangan tambang dan fasilitas HPAL tersebut membutuhkan investasi sekitar USD4,5 miliar.&#13;
&#13;
Teknologi HPAL menjadi jantung pengolahan proyek ini. Melalui kombinasi tekanan dan temperatur tinggi serta penggunaan larutan asam, teknologi ini dirancang untuk mengolah bijih nikel limonit berkadar rendah menjadi MHP.&#13;
&#13;
Ketika beroperasi sesuai kapasitas desain, fasilitas ini diproyeksikan menghasilkan 120.000 ton nikel per tahun dalam produk MHP dan 15.000 ton kobalt per tahun dalam produk MHP.&#13;
&#13;
Kapasitas tersebut diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok material baterai kendaraan listrik, industri yang kebutuhannya terus berkembang seiring percepatan transisi energi global.&#13;
&#13;
Project Manager JV Pomalaa Ridwan Setiawan menjelaskan bahwa fasilitas ini menggunakan autoclave berkapasitas besar dengan teknologi modern. Sistem energinya dirancang memanfaatkan kombinasi pembangkit listrik berbasis liquefied natural gas (LNG) dan panas dari Acid Plant melalui Heat Recovery System.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami tidak menggunakan PLTU batu bara. Kami menggunakan LNG Power Plant dan Heat Recovery System dari Acid Plant,&amp;quot; ujar Ridwan saat ditemui Okezone di Pomalaa, Senin, 26 Oktober 2026.&#13;
&#13;
Menurut dia, pemanfaatan empat Acid Plant memungkinkan pemenuhan kebutuhan energi untuk lima autoclave beserta infrastruktur pendukung fasilitas pengolahan.&#13;
&#13;
Rancangan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri hilir tidak hanya berorientasi pada kapasitas produksi, tetapi juga memperhatikan efisiensi energi dan teknologi yang digunakan.&#13;
&#13;
Menjelang Produksi, Tantangan Sesungguhnya Dimulai&#13;
&#13;
Hingga September 2026, pembangunan fasilitas HPAL Pomalaa telah mencapai progres fisik 96,97 persen. Sementara itu, progres konstruksi area pertambangan pada kuartal III 2026 tercatat sekitar 88,98 persen.&#13;
&#13;
Proyek pun memasuki tahap pengujian dan commissioning untuk memastikan seluruh fasilitas dapat berfungsi sesuai rancangan.&#13;
&#13;
Ridwan menjelaskan bahwa tahapan tersebut meliputi functional test setiap unit, connectivity test antarlini produksi, hingga pengumpanan bijih nikel atau ore ke fasilitas pengolahan.&#13;
&#13;
Untuk lini pertama dan kedua, proses penyelesaian serta persiapan commissioning terus dilakukan. Perusahaan juga menargetkan pengujian lima lini produksi secara bertahap hingga akhir 2026.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami masih optimistis dan confident bahwa partner kami akan menyalurkan produk HPAL MHP pertama di tahun ini,&amp;quot; kata Ridwan.&#13;
&#13;
Namun, kesiapan fasilitas bukan satu-satunya penentu keberhasilan operasional. Ketersediaan pasokan bijih nikel juga menjadi perhatian.&#13;
&#13;
Ridwan mengungkapkan bahwa keterbatasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi salah satu tantangan dalam memastikan kebutuhan material untuk proses produksi.&#13;
&#13;
Persoalan ini memperlihatkan bahwa pabrik berkapasitas besar membutuhkan kepastian pasokan bahan baku agar seluruh lini produksi dapat beroperasi optimal. Kesinambungan kegiatan pertambangan dan pengolahan pun menjadi faktor penting dalam keberhasilan hilirisasi.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Infrastruktur Lingkungan Mengiringi Pembangunan&#13;
&#13;
Di tengah pembangunan fasilitas industri berskala besar, pengelolaan lingkungan menjadi aspek penting dalam pengembangan Pomalaa. Aktivitas pertambangan dan pengolahan mineral membawa konsekuensi terhadap penggunaan lahan, pengelolaan air, limbah, dan emisi. Karena itu, infrastruktur pengendalian lingkungan dikembangkan seiring pembangunan fasilitas produksi.&#13;
&#13;
Salah satunya melalui jaringan sediment pond atau kolam pengendap. Hingga September 2026, terdapat 19 unit sediment pond dengan luas eksisting sekitar 60 hektare. Sebanyak 16 unit telah berfungsi, sedangkan tiga lainnya masih dalam tahap konstruksi. Progres fisik pembangunannya mencapai sekitar 98 persen.&#13;
&#13;
Fasilitas tersebut berfungsi menahan material padat dan sedimen dari limpasan air di area proyek sebelum dialirkan ke sistem pengelolaan berikutnya. Tujuannya mengendalikan potensi dampak pembukaan lahan sekaligus menjaga kualitas air di sekitar wilayah operasi.&#13;
&#13;
Selain pengelolaan air, Vale Indonesia mengembangkan fasilitas nursery modern di Kecamatan Tanggetada dengan luas sekitar 4,6 hektare di kawasan Kebun Raya Kolaka seluas 50 hektare.&#13;
&#13;
Fasilitas persemaian yang diresmikan pada akhir Februari 2026 tersebut disiapkan untuk mendukung reklamasi dan rehabilitasi lahan pascatambang melalui penyediaan sekitar satu juta bibit tanaman per tahun.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Nursery ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga keanekaragaman hayati. Sistem penyiramannya dilengkapi pengatur waktu dan sensor untuk merespons kondisi lingkungan ketika suhu melampaui 35 derajat Celsius dan kelembapan turun di bawah 60 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Semua bibit langka, bibit Kolaka kita kembangkan, di tempat lain mungkin tidak ada. Kapasitas 1 juta juga besar. Kita juga melibatkan tim ahli IPB merancang ini supaya berjalan,&amp;quot; kata Senior Manager Environment &amp;amp; Permit Management Vale Indonesia Firman Gunawan.&#13;
&#13;
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya Vale mengendalikan dampak operasional sekaligus menyiapkan pemulihan lahan pascatambang.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dari Sawah Puuroda, Hilirisasi Mengubah Kehidupan Petani&#13;
&#13;
Transformasi yang dibangun Vale Indonesia di Pomalaa tidak hanya berlangsung di kawasan industri. Di luar deretan fasilitas pengolahan nikel, perubahan juga tumbuh dari lahan pertanian masyarakat.&#13;
&#13;
Di Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, petani binaan Indah Susanti merasakan bagaimana pendekatan pertanian organik mengubah kehidupan keluarganya.&#13;
&#13;
Dengan lahan sekitar 27 are, Indah mengembangkan usaha pertanian berbasis metode System of Rice Intensification (SRI) Organik. Ia tidak hanya menanam padi, tetapi juga mengembangkan sayuran, seledri, tanaman herbal, tanaman obat keluarga, hingga memproduksi kompos organik.&#13;
&#13;
Sebelumnya, Indah mengaku keluarganya berada dalam kondisi ekonomi terbatas. Namun, setelah mengenal pertanian organik melalui program pemberdayaan Vale Indonesia, ia mulai melihat potensi ekonomi dari lahan dan pekarangan yang dimilikinya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sebelum saya mengenal pertanian organik, saya itu bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Saya tidak punya apa-apa. Setelah mengenal pertanian organik, kehidupan saya meningkat drastis,&amp;quot; ujar Indah saat berbincang dengan Okezone, Selasa, 27 Oktober 2026.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kini, lahan yang sebelumnya belum memberikan banyak nilai ekonomi berkembang menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya.&#13;
Dari kebun sayuran, Indah mengaku memperoleh pendapatan sekitar Rp5 juta per bulan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Tanaman seledri di pekarangan rumahnya menghasilkan sekitar Rp100 ribu per hari. Sementara dari sawah, ia bisa memperoleh sekitar Rp12 juta dalam satu kali panen.&#13;
&#13;
Penghasilannya tidak hanya berasal dari padi dan sayuran. Indah juga menjual kompos serta berbagai tanaman yang dibudidayakan di pekarangan rumahnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dulu kami sempat penasaran, apa iya hanya dengan rerumputan bisa membuat tanaman sehat? Alhamdulillah, sekarang kami bisa membuat pupuk organik dari sampah yang sebelumnya terbuang menjadi sesuatu yang bermanfaat,&amp;quot; kata Indah yang mengikuti program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB).&#13;
&#13;
Program ini mengubah pola tanam petani dari sistem konvensional berbasis bahan kimia menjadi metode organik yang ramah lingkungan.&#13;
&#13;
Bagi Indah, perubahan terbesar bukan semata peningkatan pendapatan, melainkan kemampuan keluarganya menciptakan sumber penghasilan sendiri. Limbah organik yang sebelumnya terbuang kini dapat diolah menjadi kompos, sementara pekarangan rumah berkembang menjadi sumber ekonomi tambahan.&#13;
&#13;
Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat menghadirkan nilai tambah yang langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Membangun Kemandirian dan Memperluas Ekonomi Lokal&#13;
&#13;
Program SRI Organik merupakan bagian dari Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Vale Indonesia melalui IGP Pomalaa. Program ini mulai diinisiasi pada 2021 melalui survei dan asesmen untuk mengidentifikasi kondisi, potensi, serta tantangan pertanian di wilayah pemberdayaan.&#13;
&#13;
Senior Manager Social Development Program Vale Indonesia Lalu Nofa Setiawan Putra menjelaskan bahwa ketika program dimulai, sebagian besar petani masih menggunakan metode pertanian konvensional.&#13;
&#13;
Mereka menghadapi berbagai persoalan, mulai dari produktivitas yang cenderung menurun, keterbatasan pupuk, sulitnya memperoleh sarana produksi, hingga persoalan permodalan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami melihat banyak petani yang melakukan kegiatan usahanya dalam keadaan rugi, dan itu terus-menerus. Program ini kami aplikasikan untuk mendorong kemandirian para petani di area pemberdayaan,&amp;quot; kata Lalu Nofa.&#13;
&#13;
Pengembangan budi daya padi organik yang dimulai sejak 2021 ini menjadi bukti komitmen Vale Indonesia. Perusahaan tidak hanya berfokus pada hilirisasi nikel, tetapi juga menciptakan nilai tambah berbasis keberlanjutan bagi masyarakat lokal.&#13;
&#13;
Program tersebut juga mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan tanaman herbal dan produk pertanian lainnya. Dengan demikian, sumber pendapatan petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas.&#13;
&#13;
Di tengah dominasi sektor pertambangan dalam perekonomian Kolaka, pengembangan pertanian menjadi salah satu upaya memperluas sumber pertumbuhan ekonomi daerah.&#13;
&#13;
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dirujuk dalam pengembangan program, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kolaka pada 2025 mencapai sekitar 6,9 persen. Sektor pertambangan menyumbang sekitar 53 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).&#13;
&#13;
Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan pentingnya sektor pertambangan bagi perekonomian Kolaka. Namun, kondisi itu sekaligus menegaskan perlunya pengembangan sektor ekonomi lain agar sumber pertumbuhan daerah semakin beragam.&#13;
&#13;
Sementara itu, MIND ID sebagai holding industri pertambangan Indonesia mengawal dan mendukung pengembangan proyek strategis IGP Pomalaa yang dikembangkan PT Vale sebagai bagian dari agenda hilirisasi mineral nasional.&#13;
&#13;
Komisaris MIND ID Komjen Pol Muhammad Fadil Imran menyebut kehadiran kawasan industri di Kolaka dan proyek IGP Pomalaa telah menggerakkan berbagai usaha penunjang, mulai dari transportasi, kuliner, perhotelan, hingga pariwisata.&#13;
&#13;
&amp;quot;Masyarakat sangat berterima kasih. Saya juga mendengarkan dari Pak Bupati bahwa dengan adanya kawasan industri dan kehadiran PT Vale memberikan dampak ikutannya, mulai dari bisnis truk, kuliner, wisata, hotel, dan sebagainya, termasuk penyerapan tenaga kerja,&amp;quot; kata Fadil.&#13;
&#13;
Di sisi lain, Ekonom CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai rantai nilai kendaraan listrik di Indonesia mulai menunjukkan integrasi dari sektor hulu hingga pengolahan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau di upstream kita sudah high maturity (tingkat kematangan tinggi), sementara di midstream dan downstream masih berkembang. Tapi ke depan ini bisa meningkat cepat, dan dampaknya terhadap perekonomian daerah juga akan semakin besar,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Ia mencontohkan Morowali dan Morowali Utara di Sulawesi Tengah yang mengalami perubahan struktur ekonomi dalam satu dekade terakhir, dengan semakin dominannya sektor industri pengolahan mineral.&#13;
&#13;
Menurut Faisal, manfaat hilirisasi tidak cukup diukur dari peningkatan kapasitas produksi dan investasi, tetapi juga dari keterkaitan industri dengan tenaga kerja lokal, usaha daerah, serta keberlanjutan lingkungan.&#13;
&#13;
Pandangan tersebut relevan bagi Pomalaa. Pembangunan industri perlu diikuti tumbuhnya usaha masyarakat, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan sektor ekonomi lain.&#13;
&#13;
Dari sisi ketenagakerjaan, Ridwan menyebut kebutuhan tenaga kerja fasilitas HPAL pada fase operasi diproyeksikan mencapai sekitar 4.000 hingga 6.000 orang.&#13;
&#13;
Perusahaan mengacu pada komposisi tenaga kerja 70:30 sesuai ketentuan dan arahan pemerintah daerah, dengan prioritas memperbesar penyerapan tenaga kerja nasional, regional, dan lokal seiring berkurangnya kebutuhan tenaga kerja asing dari fase konstruksi menuju operasi.&#13;
&#13;
Rencana tersebut membuka peluang bagi masyarakat sekitar. Namun, peningkatan kompetensi tetap diperlukan agar tenaga kerja lokal mampu mengisi posisi yang membutuhkan keterampilan teknis. Pelatihan vokasi, termasuk melalui Balai Latihan Kerja, menjadi salah satu instrumen untuk mempersiapkan kebutuhan tersebut.&#13;
&#13;
Karena itu, manfaat ekonomi Pomalaa juga ditentukan oleh sejauh mana masyarakat dan pelaku usaha lokal dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan kawasan.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dari Mineral Indonesia untuk Transisi Energi Dunia&#13;
&#13;
Kepala Departemen Pusat Penjadwalan Produksi PT KNI Yu Pan menjelaskan bahwa proyek Pomalaa bergerak dari tahap konstruksi menuju commissioning. Fasilitas tersebut dirancang mencapai kapasitas produksi 120.000 ton nikel per tahun ketika seluruh lini beroperasi sesuai kapasitas penuh.&#13;
&#13;
Produk MHP yang dihasilkan juga dipersiapkan untuk memasuki rantai pasok industri baterai dan otomotif global. Ford Motor Company disebut sebagai salah satu calon penerima produk KNI.&#13;
&#13;
Keterhubungan tersebut memperlihatkan bagaimana sumber daya mineral dari Pomalaa berpotensi menjadi bagian dari rantai industri kendaraan listrik dunia. Prospek pengembangan nikel juga tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan kendaraan listrik.&#13;
&#13;
Presiden Direktur dan CEO Vale Indonesia Bernardus Irmanto melihat kebutuhan nikel ke depan masih menjanjikan seiring perkembangan teknologi seperti robotika, kecerdasan buatan (AI), pusat data, hingga kendaraan terbang listrik.&#13;
&#13;
Menurut dia, diversifikasi produk dan kemitraan dengan produsen baterai maupun otomotif menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan pasar.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Namun, perjalanan menuju posisi strategis tersebut membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan pabrik. Kepastian pasokan bijih, kesiapan teknologi, kompetensi tenaga kerja, pengelolaan lingkungan, dan pemerataan manfaat ekonomi harus berjalan beriringan.&#13;
&#13;
IGP Pomalaa menjadi kelanjutan perjalanan Vale Indonesia dalam mengelola sumber daya nikel Indonesia.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dari Sorowako yang membangun fondasi industri sejak 1968, perusahaan kini mengembangkan kapabilitas baru melalui teknologi HPAL untuk memenuhi kebutuhan material baterai masa depan.&#13;
&#13;
Pada akhirnya, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari berapa ton nikel yang dihasilkan atau seberapa besar investasi yang ditanamkan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ukurannya juga terletak pada seberapa besar nilai yang tercipta bagi daerah asal sumber daya tersebut: pekerjaan yang terbuka, usaha masyarakat yang berkembang, lingkungan yang terjaga, dan generasi lokal yang ikut menikmati manfaat pembangunan.&#13;
&#13;
Dari perbukitan Kolaka hingga sawah-sawah Puuroda, Pomalaa memperlihatkan bahwa perjalanan mineral menuju rantai industri global seharusnya berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.&#13;
&#13;
Sebab, kekayaan mineral Indonesia baru benar-benar menjadi sumber nilai berkelanjutan ketika manfaatnya tidak hanya mengalir ke pasar dunia, tetapi juga kembali kepada masyarakat dan daerah tempat sumber daya itu berasal.&#13;
&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
