<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cabai Merah hingga Tiket Pesawat Jadi Biang Kerok Inflasi Oktober 0,22 Persen</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan deretan kelompok komoditas utama yang memicu laju inflasi bulanan sebesar 0,22 persen pada Oktober 2026, yang mengerek angka inflasi tahunan (year-on-year) ke level 3,23 persen. &#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/11/02/320/3251577/cabai-merah-hingga-tiket-pesawat-jadi-biang-kerok-inflasi-oktober-0-22-persen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/11/02/320/3251577/cabai-merah-hingga-tiket-pesawat-jadi-biang-kerok-inflasi-oktober-0-22-persen"/><item><title>Cabai Merah hingga Tiket Pesawat Jadi Biang Kerok Inflasi Oktober 0,22 Persen</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/11/02/320/3251577/cabai-merah-hingga-tiket-pesawat-jadi-biang-kerok-inflasi-oktober-0-22-persen</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/11/02/320/3251577/cabai-merah-hingga-tiket-pesawat-jadi-biang-kerok-inflasi-oktober-0-22-persen</guid><pubDate>Senin 02 November 2026 12:24 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/11/02/320/3251577/harga_tiket_pesawat-w3gQ_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga Tiket Pesawat (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/11/02/320/3251577/harga_tiket_pesawat-w3gQ_large.jpg</image><title>Harga Tiket Pesawat (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan deretan kelompok komoditas utama yang memicu laju inflasi bulanan sebesar 0,22 persen pada Oktober 2026, yang mengerek angka inflasi tahunan (year-on-year) ke level 3,23 persen.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada awal kuartal IV/2026 ini didominasi oleh lonjakan harga aneka cabai dan sayuran hortikultura pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.&#13;
&#13;
Indeks Harga Konsumen nasional kembali bergerak menanjak pada Oktober 2026 seiring meningkatnya tekanan harga pada keranjang belanja masyarakat. Peningkatan biaya hidup tersebut tecermin dari akumulasi angka inflasi bulanan maupun kalkulasi tahun kalender yang dirilis otoritas statistik.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pada Oktober tahun 2026 terjadi inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen dari 112,31 pada September menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Secara tahun ke tahun terjadi inflasi sebesar 3,23 persen dan secara tahun kalender terjadi inflasi 2,40 persen,&amp;quot; ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).&#13;
&#13;
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau tercatat menjadi motor penggerak inflasi terbesar akibat terganggunya pasokan sejumlah bumbu dapur di berbagai daerah. Lonjakan harga pada komoditas sayuran segar menyumbang andil paling signifikan terhadap kenaikan indeks pengeluaran rumah tangga.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pendorong inflasi bulanan terbesar ada pada makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,51 persen dan andil 0,15 persen. Komoditas yang dominan terutama cabai merah dengan andil 0,13 persen, cabai rawit 0,05 persen, tomat 0,04 persen, menyusul sawi hijau, labu siam atau jipang, dan sawi putih atau petsai masing-masing 0,01 persen,&amp;quot; jelas Ateng.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kenaikan indeks harga juga merambat ke sektor jasa mobilitas penumpang yang mengalami penyesuaian tarif perjalanan udara. Namun, tekanan inflasi umum sempat diredam oleh melandainya harga logam mulia pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Di luar kelompok makanan, minuman, dan tembakau, komoditas yang memberikan andil inflasi dominan terutama tarif angkutan udara sebesar 0,01 persen. Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,06 persen dengan andil deflasi 0,01 persen yang didorong oleh komoditas emas perhiasan,&amp;quot; tutur Ateng.&#13;
&#13;
Ditinjau dari disagregasi komponen pembentuknya, seluruh pos pencatatan kompak berada di zona kenaikan harga kendati dengan besaran kontribusi yang variatif. Otoritas menegaskan bahwa pergerakan harga pangan segar tetap menjadi sumber tekanan utama terhadap dinamika pembentukan inflasi periode ini.&#13;
&#13;
&amp;quot;Semua kelompok komponen mengalami inflasi, tetapi utamanya didorong oleh kelompok bergejolak yang mengalami inflasi 0,77 persen dengan andil terbesar 0,13 persen dari cabai, tomat, dan aneka sayuran. Sementara komponen inti inflasi 0,12 persen tanpa komoditas dominan di atas cut-off 0,01 persen, serta harga yang diatur pemerintah inflasi 0,09 persen dengan andil 0,02 persen dari tarif angkutan udara,&amp;quot; beber Ateng.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan deretan kelompok komoditas utama yang memicu laju inflasi bulanan sebesar 0,22 persen pada Oktober 2026, yang mengerek angka inflasi tahunan (year-on-year) ke level 3,23 persen.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada awal kuartal IV/2026 ini didominasi oleh lonjakan harga aneka cabai dan sayuran hortikultura pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.&#13;
&#13;
Indeks Harga Konsumen nasional kembali bergerak menanjak pada Oktober 2026 seiring meningkatnya tekanan harga pada keranjang belanja masyarakat. Peningkatan biaya hidup tersebut tecermin dari akumulasi angka inflasi bulanan maupun kalkulasi tahun kalender yang dirilis otoritas statistik.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pada Oktober tahun 2026 terjadi inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen dari 112,31 pada September menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Secara tahun ke tahun terjadi inflasi sebesar 3,23 persen dan secara tahun kalender terjadi inflasi 2,40 persen,&amp;quot; ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).&#13;
&#13;
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau tercatat menjadi motor penggerak inflasi terbesar akibat terganggunya pasokan sejumlah bumbu dapur di berbagai daerah. Lonjakan harga pada komoditas sayuran segar menyumbang andil paling signifikan terhadap kenaikan indeks pengeluaran rumah tangga.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pendorong inflasi bulanan terbesar ada pada makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,51 persen dan andil 0,15 persen. Komoditas yang dominan terutama cabai merah dengan andil 0,13 persen, cabai rawit 0,05 persen, tomat 0,04 persen, menyusul sawi hijau, labu siam atau jipang, dan sawi putih atau petsai masing-masing 0,01 persen,&amp;quot; jelas Ateng.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kenaikan indeks harga juga merambat ke sektor jasa mobilitas penumpang yang mengalami penyesuaian tarif perjalanan udara. Namun, tekanan inflasi umum sempat diredam oleh melandainya harga logam mulia pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Di luar kelompok makanan, minuman, dan tembakau, komoditas yang memberikan andil inflasi dominan terutama tarif angkutan udara sebesar 0,01 persen. Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,06 persen dengan andil deflasi 0,01 persen yang didorong oleh komoditas emas perhiasan,&amp;quot; tutur Ateng.&#13;
&#13;
Ditinjau dari disagregasi komponen pembentuknya, seluruh pos pencatatan kompak berada di zona kenaikan harga kendati dengan besaran kontribusi yang variatif. Otoritas menegaskan bahwa pergerakan harga pangan segar tetap menjadi sumber tekanan utama terhadap dinamika pembentukan inflasi periode ini.&#13;
&#13;
&amp;quot;Semua kelompok komponen mengalami inflasi, tetapi utamanya didorong oleh kelompok bergejolak yang mengalami inflasi 0,77 persen dengan andil terbesar 0,13 persen dari cabai, tomat, dan aneka sayuran. Sementara komponen inti inflasi 0,12 persen tanpa komoditas dominan di atas cut-off 0,01 persen, serta harga yang diatur pemerintah inflasi 0,09 persen dengan andil 0,02 persen dari tarif angkutan udara,&amp;quot; beber Ateng.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
