<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekspor Migas RI Anjlok 9,11 Persen Jadi USD8,96 Miliar per September 2026</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan tajam pada kinerja pengapalan minyak dan gas bumi (migas) nasional sepanjang sembilan bulan pertama 2026.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/11/02/320/3251586/ekspor-migas-ri-anjlok-9-11-persen-jadi-usd8-96-miliar-per-september-2026</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/11/02/320/3251586/ekspor-migas-ri-anjlok-9-11-persen-jadi-usd8-96-miliar-per-september-2026"/><item><title>Ekspor Migas RI Anjlok 9,11 Persen Jadi USD8,96 Miliar per September 2026</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/11/02/320/3251586/ekspor-migas-ri-anjlok-9-11-persen-jadi-usd8-96-miliar-per-september-2026</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/11/02/320/3251586/ekspor-migas-ri-anjlok-9-11-persen-jadi-usd8-96-miliar-per-september-2026</guid><pubDate>Senin 02 November 2026 12:49 WIB</pubDate><dc:creator>Rohman Wibowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/11/02/320/3251586/ekspor_migas-vb5r_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekspor Migas (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/11/02/320/3251586/ekspor_migas-vb5r_large.jpg</image><title>Ekspor Migas (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan tajam pada kinerja pengapalan minyak dan gas bumi (migas) nasional sepanjang sembilan bulan pertama&amp;nbsp;2026.&#13;
&#13;
Nilai ekspor migas Indonesia tercatat hanya mencapai 8,96 miliar dolar AS pada periode Januari&amp;ndash;September 2026, mengalami kontraksi sebesar 9,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.&#13;
&#13;
Pelemahan pengapalan komoditas energi tersebut terjadi di tengah perbaikan aktivitas manufaktur global yang tercermin dari Purchasing Managers&amp;#39; Index (PMI) mitra dagang utama di zona ekspansif, seperti Amerika Serikat di level 55,9, India 55,1, Jepang 54,1, serta Tiongkok 52,1.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Otoritas statistik memaparkan bahwa penurunan ekspor migas menahan laju ekspansi pengiriman barang secara keseluruhan pada periode Januari hingga September 2026.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sepanjang Januari sampai dengan September tahun 2026, total nilai ekspor mencapai 221,23 miliar US Dolar, atau naik sebesar 5,58 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Untuk nilai ekspor migas tercatat sebesar 8,96 miliar US Dolar atau turun sebesar 9,11 persen,&amp;quot; ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).&#13;
&#13;
Di sisi lain, ekspor nonmigas berhasil mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan sebesar 6,30 persen hingga menyentuh nilai 212,27 miliar dolar AS. Peningkatan pengapalan produk nonmigas tersebut terutama ditopang oleh komoditas lemak dan minyak hewani nabati (HS 15), nikel dan barang daripadanya (HS 75), serta bahan bakar mineral (HS 27).&#13;
&#13;
Secara sektoral, industri pengolahan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekspor nonmigas dengan kenaikan kumulatif mencapai 8,93 persen. Sektor manufaktur ini sekaligus memberikan andil sebesar 7,15 persen terhadap peningkatan keseluruhan nilai ekspor nasional.&#13;
&#13;
Akselerasi di sektor hilirisasi industri manufaktur terus menunjukkan peran vitalnya dalam menopang penerimaan devisa di tengah kelesuan migas. Otoritas mencatat sejumlah komoditas olahan logam dan hasil perkebunan menjadi penyumbang lonjakan ekspor terbesar.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Untuk ekspor sektor industri pengolahan dengan kenaikan terbesar terutama pada produk-produk olahan nikel, juga pada minyak kelapa sawit, pada kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, dari aluminium, serta juga dari tembaga,&amp;quot; jelas Ateng.&#13;
&#13;
Performa positif ekspor manufaktur tersebut tercermin dari tingginya permintaan pasar luar negeri, khususnya ke Tiongkok yang membukukan nilai ekspor nonmigas sebesar 54,17 miliar dolar AS atau melesat 16,70 persen dibandingkan periode Januari&amp;ndash;September 2025.&#13;
&#13;
Penguatan ekspor ke Negeri Tirai Bambu tersebut didorong oleh komoditas nikel dan barang daripadanya (HS 75), lemak dan minyak hewani nabati (HS 15), serta bahan bakar mineral (HS 27).&#13;
&#13;
Kendati permintaan dari beberapa pasar utama menunjukkan pertumbuhan yang solid, dinamika perdagangan antarwilayah tujuan ekspor masih menghadapi tantangan yang beragam. Perbedaan tren serapan komoditas terlihat jelas antara kawasan Asia-Amerika dengan pasar di benua biru.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jika dibandingkan secara kumulatif dengan periode yang sama di tahun 2025, maka pada bulan Januari sampai dengan September tahun 2026 ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan juga ke ASEAN mengalami peningkatan. Namun untuk ekspor ke Uni Eropa dan negara kawasan tujuan lainnya mengalami penurunan,&amp;quot; kata Ateng.&#13;
&#13;
Sementara itu, kinerja ekspor pada September 2026 tercatat mencapai 27,59 miliar dolar AS atau naik 11,87 persen dibandingkan September tahun sebelumnya. Pada bulan tersebut, ekspor migas kembali terkoreksi tipis 0,99 persen menjadi 0,95 miliar dolar AS, sedangkan ekspor nonmigas melonjak 12,39 persen menjadi 26,64 miliar dolar AS.&#13;
&#13;
Kenaikan tahunan ekspor nonmigas pada September 2026 disumbang oleh lonjakan lemak dan minyak hewani nabati (HS 15) yang naik 89,04 persen dengan andil 8,47 persen, serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) yang terkerek 24,37 persen dengan andil 1,61 persen terhadap total ekspor.&#13;
&#13;
Selain produk turunan sawit dan peralatan listrik, lonjakan pengiriman produk hasil tambang olahan juga memberikan kontribusi signifikan bagi kenaikan ekspor bulanan. Komoditas logam dasar mencatatkan ekspansi tahunan yang sangat tinggi pada penutupan kuartal ketiga.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tembaga dan barang daripadanya, ini HS yang 74, juga naik cukup tinggi yaitu naik sebesar 165,97 persen secara year-on-year-nya, dengan andilnya 1,64 persen terhadap kenaikan total ekspor,&amp;quot; jelas Ateng.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan tajam pada kinerja pengapalan minyak dan gas bumi (migas) nasional sepanjang sembilan bulan pertama&amp;nbsp;2026.&#13;
&#13;
Nilai ekspor migas Indonesia tercatat hanya mencapai 8,96 miliar dolar AS pada periode Januari&amp;ndash;September 2026, mengalami kontraksi sebesar 9,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.&#13;
&#13;
Pelemahan pengapalan komoditas energi tersebut terjadi di tengah perbaikan aktivitas manufaktur global yang tercermin dari Purchasing Managers&amp;#39; Index (PMI) mitra dagang utama di zona ekspansif, seperti Amerika Serikat di level 55,9, India 55,1, Jepang 54,1, serta Tiongkok 52,1.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Otoritas statistik memaparkan bahwa penurunan ekspor migas menahan laju ekspansi pengiriman barang secara keseluruhan pada periode Januari hingga September 2026.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sepanjang Januari sampai dengan September tahun 2026, total nilai ekspor mencapai 221,23 miliar US Dolar, atau naik sebesar 5,58 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Untuk nilai ekspor migas tercatat sebesar 8,96 miliar US Dolar atau turun sebesar 9,11 persen,&amp;quot; ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).&#13;
&#13;
Di sisi lain, ekspor nonmigas berhasil mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan sebesar 6,30 persen hingga menyentuh nilai 212,27 miliar dolar AS. Peningkatan pengapalan produk nonmigas tersebut terutama ditopang oleh komoditas lemak dan minyak hewani nabati (HS 15), nikel dan barang daripadanya (HS 75), serta bahan bakar mineral (HS 27).&#13;
&#13;
Secara sektoral, industri pengolahan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekspor nonmigas dengan kenaikan kumulatif mencapai 8,93 persen. Sektor manufaktur ini sekaligus memberikan andil sebesar 7,15 persen terhadap peningkatan keseluruhan nilai ekspor nasional.&#13;
&#13;
Akselerasi di sektor hilirisasi industri manufaktur terus menunjukkan peran vitalnya dalam menopang penerimaan devisa di tengah kelesuan migas. Otoritas mencatat sejumlah komoditas olahan logam dan hasil perkebunan menjadi penyumbang lonjakan ekspor terbesar.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Untuk ekspor sektor industri pengolahan dengan kenaikan terbesar terutama pada produk-produk olahan nikel, juga pada minyak kelapa sawit, pada kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, dari aluminium, serta juga dari tembaga,&amp;quot; jelas Ateng.&#13;
&#13;
Performa positif ekspor manufaktur tersebut tercermin dari tingginya permintaan pasar luar negeri, khususnya ke Tiongkok yang membukukan nilai ekspor nonmigas sebesar 54,17 miliar dolar AS atau melesat 16,70 persen dibandingkan periode Januari&amp;ndash;September 2025.&#13;
&#13;
Penguatan ekspor ke Negeri Tirai Bambu tersebut didorong oleh komoditas nikel dan barang daripadanya (HS 75), lemak dan minyak hewani nabati (HS 15), serta bahan bakar mineral (HS 27).&#13;
&#13;
Kendati permintaan dari beberapa pasar utama menunjukkan pertumbuhan yang solid, dinamika perdagangan antarwilayah tujuan ekspor masih menghadapi tantangan yang beragam. Perbedaan tren serapan komoditas terlihat jelas antara kawasan Asia-Amerika dengan pasar di benua biru.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jika dibandingkan secara kumulatif dengan periode yang sama di tahun 2025, maka pada bulan Januari sampai dengan September tahun 2026 ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan juga ke ASEAN mengalami peningkatan. Namun untuk ekspor ke Uni Eropa dan negara kawasan tujuan lainnya mengalami penurunan,&amp;quot; kata Ateng.&#13;
&#13;
Sementara itu, kinerja ekspor pada September 2026 tercatat mencapai 27,59 miliar dolar AS atau naik 11,87 persen dibandingkan September tahun sebelumnya. Pada bulan tersebut, ekspor migas kembali terkoreksi tipis 0,99 persen menjadi 0,95 miliar dolar AS, sedangkan ekspor nonmigas melonjak 12,39 persen menjadi 26,64 miliar dolar AS.&#13;
&#13;
Kenaikan tahunan ekspor nonmigas pada September 2026 disumbang oleh lonjakan lemak dan minyak hewani nabati (HS 15) yang naik 89,04 persen dengan andil 8,47 persen, serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) yang terkerek 24,37 persen dengan andil 1,61 persen terhadap total ekspor.&#13;
&#13;
Selain produk turunan sawit dan peralatan listrik, lonjakan pengiriman produk hasil tambang olahan juga memberikan kontribusi signifikan bagi kenaikan ekspor bulanan. Komoditas logam dasar mencatatkan ekspansi tahunan yang sangat tinggi pada penutupan kuartal ketiga.&#13;
&#13;
&amp;quot;Tembaga dan barang daripadanya, ini HS yang 74, juga naik cukup tinggi yaitu naik sebesar 165,97 persen secara year-on-year-nya, dengan andilnya 1,64 persen terhadap kenaikan total ekspor,&amp;quot; jelas Ateng.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
