<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Produksi Gula 2026 Diproyeksikan Tembus 2,8 Juta Ton, Tertinggi dalam 10 Tahun</title><description>Hingga 6 November 2026, produksi tercatat sekitar 2,6 juta-2,7 juta ton, sementara sejumlah pabrik gula masih menyelesaikan musim giling.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2026/11/08/320/3252804/produksi-gula-2026-diproyeksikan-tembus-2-8-juta-ton-tertinggi-dalam-10-tahun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2026/11/08/320/3252804/produksi-gula-2026-diproyeksikan-tembus-2-8-juta-ton-tertinggi-dalam-10-tahun"/><item><title>Produksi Gula 2026 Diproyeksikan Tembus 2,8 Juta Ton, Tertinggi dalam 10 Tahun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2026/11/08/320/3252804/produksi-gula-2026-diproyeksikan-tembus-2-8-juta-ton-tertinggi-dalam-10-tahun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2026/11/08/320/3252804/produksi-gula-2026-diproyeksikan-tembus-2-8-juta-ton-tertinggi-dalam-10-tahun</guid><pubDate>Minggu 08 November 2026 12:04 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/11/08/320/3252804/tebu-qgOQ_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Produksi gula nasional berbasis tebu pada 2026 diproyeksikan mencapai 2,8 juta ton. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/11/08/320/3252804/tebu-qgOQ_large.jpg</image><title>Produksi gula nasional berbasis tebu pada 2026 diproyeksikan mencapai 2,8 juta ton. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Produksi gula nasional berbasis tebu pada 2026 diproyeksikan mencapai 2,8 juta ton, tertinggi dalam sekitar satu dekade terakhir. Hingga 6 November 2026, produksi tercatat sekitar 2,6 juta-2,7 juta ton, sementara sejumlah pabrik gula masih menyelesaikan musim giling.&#13;
&#13;
Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Dwi Purnomo mengatakan, peningkatan produksi tahun ini didorong oleh bertambahnya luas areal tebu, program bongkar ratun, serta kenaikan rendemen atau kandungan gula dalam tebu.&#13;
&#13;
Menurut Dwi, kondisi cuaca yang lebih kering akibat fenomena El Nino turut meningkatkan rendemen tebu. Meski demikian, cuaca kering juga menyebabkan penurunan bobot tebu sehingga dampaknya terhadap produksi perlu dilihat secara keseluruhan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Rendemennya tahun ini bagus. Salah satunya karena faktor El Nino yang membuat iklim lebih kering sehingga kandungan gula dalam tanaman meningkat. Memang ada penurunan bobot tebu, tetapi secara keseluruhan produksi nasional tetap meningkat karena luas areal juga bertambah,&amp;quot; kata Dwi, Minggu (8/11/2026).&#13;
&#13;
Selain peningkatan produksi, kondisi harga gula juga memengaruhi prospek industri pergulaan nasional. Dwi menyebut harga lelang gula saat ini berada di atas Rp17.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga acuan pembelian di tingkat produsen sebesar Rp14.500 per kilogram.&#13;
Kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani tebu dan pabrik gula sekaligus mendorong perluasan areal tanam pada musim berikutnya.&#13;
&#13;
Dwi memperkirakan harga gula yang menguntungkan dapat menarik lebih banyak petani untuk menanam tebu pada tahun depan. Dengan demikian, peningkatan luas areal dan produktivitas diharapkan dapat menopang kenaikan produksi nasional.&#13;
&#13;
Meski produksi gula konsumsi menunjukkan peningkatan, industri pergulaan nasional masih menghadapi tantangan untuk memenuhi kebutuhan gula secara mandiri. Pemerintah juga menargetkan swasembada gula industri serta pengembangan bioetanol melalui penerapan mandatori pencampuran etanol dalam bahan bakar, dari E5 menuju E20.&#13;
&#13;
Menurut Dwi, keberlanjutan program bongkar ratun dan stabilitas iklim usaha menjadi faktor penting untuk menjaga peningkatan produksi. Kepastian harga dan kebijakan pemerintah juga diperlukan agar petani tetap memiliki insentif untuk memperluas areal tanam.&#13;
&#13;
Peningkatan produksi pada 2026 menjadi salah satu perkembangan penting bagi industri gula nasional. Namun, pencapaian swasembada tetap membutuhkan peningkatan produktivitas, perluasan areal tebu, serta penguatan kapasitas industri pengolahan gula.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Produksi gula nasional berbasis tebu pada 2026 diproyeksikan mencapai 2,8 juta ton, tertinggi dalam sekitar satu dekade terakhir. Hingga 6 November 2026, produksi tercatat sekitar 2,6 juta-2,7 juta ton, sementara sejumlah pabrik gula masih menyelesaikan musim giling.&#13;
&#13;
Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Dwi Purnomo mengatakan, peningkatan produksi tahun ini didorong oleh bertambahnya luas areal tebu, program bongkar ratun, serta kenaikan rendemen atau kandungan gula dalam tebu.&#13;
&#13;
Menurut Dwi, kondisi cuaca yang lebih kering akibat fenomena El Nino turut meningkatkan rendemen tebu. Meski demikian, cuaca kering juga menyebabkan penurunan bobot tebu sehingga dampaknya terhadap produksi perlu dilihat secara keseluruhan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Rendemennya tahun ini bagus. Salah satunya karena faktor El Nino yang membuat iklim lebih kering sehingga kandungan gula dalam tanaman meningkat. Memang ada penurunan bobot tebu, tetapi secara keseluruhan produksi nasional tetap meningkat karena luas areal juga bertambah,&amp;quot; kata Dwi, Minggu (8/11/2026).&#13;
&#13;
Selain peningkatan produksi, kondisi harga gula juga memengaruhi prospek industri pergulaan nasional. Dwi menyebut harga lelang gula saat ini berada di atas Rp17.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga acuan pembelian di tingkat produsen sebesar Rp14.500 per kilogram.&#13;
Kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani tebu dan pabrik gula sekaligus mendorong perluasan areal tanam pada musim berikutnya.&#13;
&#13;
Dwi memperkirakan harga gula yang menguntungkan dapat menarik lebih banyak petani untuk menanam tebu pada tahun depan. Dengan demikian, peningkatan luas areal dan produktivitas diharapkan dapat menopang kenaikan produksi nasional.&#13;
&#13;
Meski produksi gula konsumsi menunjukkan peningkatan, industri pergulaan nasional masih menghadapi tantangan untuk memenuhi kebutuhan gula secara mandiri. Pemerintah juga menargetkan swasembada gula industri serta pengembangan bioetanol melalui penerapan mandatori pencampuran etanol dalam bahan bakar, dari E5 menuju E20.&#13;
&#13;
Menurut Dwi, keberlanjutan program bongkar ratun dan stabilitas iklim usaha menjadi faktor penting untuk menjaga peningkatan produksi. Kepastian harga dan kebijakan pemerintah juga diperlukan agar petani tetap memiliki insentif untuk memperluas areal tanam.&#13;
&#13;
Peningkatan produksi pada 2026 menjadi salah satu perkembangan penting bagi industri gula nasional. Namun, pencapaian swasembada tetap membutuhkan peningkatan produktivitas, perluasan areal tebu, serta penguatan kapasitas industri pengolahan gula.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
