Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

SBI Mulai Turun

Tomi Sujatmiko , Jurnalis-Minggu, 24 Februari 2008 |18:26 WIB
SBI Mulai Turun
A
A
A

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah simpanan perbankan dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI) mulai turun. Per 21 Februari jumlah SBI mencapai Rp278,1 triliun, bandingkan dengan Januari yang mencapai Rp300 triliun. Secara bersamaan BI mulai melakukan sosialisasi SBI Overnight sebagai target operasi moneter untuk mengawasi suku bunga antarbank.

"Jumlah SBI per 21 Februari mulai turun menjadi Rp278 triliun. Ini hasil positif dibandingkan periode sebelumnya," ujar Kepala Biro Humas BI Filianingsih Hendarta kepada wartawan belum lama ini.

Menurut Filianingsih, per 21 Februari 2008 pelunasan SBI mencapai Rp60,9 miliar, lelang SBI satu bulan sebesar Rp47,6 miliar dan SBI tiga bulan sebesar Rp17,42 miliar. Sedangkan SBI asing mencapai Rp39,6 triliun, SBI total Rp278, 1 triliun, Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp81,5 triliun sehingga total SUN mencapai Rp478,8 triliun.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto, mengatakan meski jumlah SBI mulai turun, namun jumlahnya masih besar karena bank masih memiliki ekses likuiditas yang besar. Untuk mengantisipasinya, bisa saja dialihkan ke SUN maupun Surat Perbendaharaan Negara (SPN).

Kendati demikian, lanjutnya, hal tersebut sekadar financial reengineeing, di mana seolah-olah bank tidak beli SBI namun beli membeli SUN atau SPN. Selanjutnya, SUN atau SPN ditempatkan ke BI akibat dibeli oleh BI.

"Jadi, ujung-ujungnya tetap saja BI harus membeli SUN atau SPN. Sementara pemerintah harus bayar kupon SUN atau SPN ke BI. Jadi, cuma muter-muter saja antara bank, BI, Pemerintah kepada Depkeu," papar dia.

Ryan menegaskan, jika sektor riil tidak agresif minta kredit, maka dengan pola apapun yang dijalankan tetap tidak akan menjawab persoalan mendasar mengapa SBI atau SUN dan SPN makin tertimbun. Hal ini disebabkan karena sektor riil tidak siap kredit dan tidak ada insentif dari pemerintah.

Pengamat Perbankan Tony Prasetyantono menyatakan, langkah tersebut sama-sama memberi beban moneter kepada BI karena BI tetap harus membayar bunga. Cara yang paling masuk akal adalah menurunkan bunga SBI. Namun, tetap ada risikonya yaitu terjadi tekanan inflasi dan nilai tukar rupiah melemah.

"BI memang terperangkap dalam jebakan ini. Sukses kendalikan inflasi dan kurs rupiah, tapi jebol di biaya moneter," urainya.

Cara lainnya adalah memperbesar porsi SUN, misal dengan sukubunga yang lebih menarik. Tapi ini juga hanya akan memindah beban ongkos dari BI ke Depkeu.

Secara bersamaan, BI mulai melakukan sosialisasi pemberlakuan instrumen kebijakan moneter SBI (Sertifikat Bank Indonesia) overnight. Rencananya, akan diterapkan pada semester I-2008 ini.
 
"Kami terus mensosialisasikan ini kepada peserta pasar. Pelaku lain supaya mengerti bahwa kita merasa perlu untuk mengalihkan target operasional yang semula dari suku bunga SBI 1 bulan ke suku bunga pasar uang atau overnight," jelas Deputi Gubernur BI Budi Mulya baru-baru ini.
 
Budi mengatakan pengalihan target operasional BI ini diperlukan agar BI punya kontrol untuk menjaga suku bunga pasar uang antarbank.
 
"Kalau SBI 1 bulan, BI tidak punya kontrol karena policy rate yang dicerminkan dari SBI 1 bulan itu SBI-nya sendiri merupakan hasil lelang. Kalau hasil lelang, tergantung bagaimana peserta lelang. Kami yang menghitung jumlah lelang itu," tuturnya.
 
Budi menuturkan penerapan SBI overnight ini tidak perlu diatur PBI (Peraturan Bank Indonesia), karena  tidak mengubah kebijakan BI melainkan hanya merapihkan instrumen moneternya.
 
"Kita juga punya OPT (operasi pasar terbuka), yang reguler yaitu lelang tadi. Lalu kita punya OPT ireguler yang namanya masuk pasar setiap hari setiap saat tergantung perhitungan likuiditas," tegasnya.

Alat ini, lanjut Budi bisa mempengaruhi, menjaga hingga mengarahkan suku bunga PUAB overnight. Namun, kalau target operasionalnya SBI 1 bulan, BI hanya menunggu hasil lelang.

(M Budi Santosa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement