nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perekonomian Suram di Tahun Tikus

Nurfajri Budi Nugroho, Jurnalis · Senin 22 Desember 2008 12:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2008 12 22 277 175866 MYeODUDZc3.jpg Ilustrasi (okezone)

Tahun 2008 adalah masa suram bagi perekonomian dunia. Tak ada kawasan yang luput dari krisis yang berpangkal di Amerika Serikat di tahun tikus ini. Kasus kredit perumahan berkualitas rendah (subprime mortgage) di Negeri Paman Sam telah menjadi benih krisis finansial yang menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Tak ada yang menyangka gejolak di jantung kapitalisme pekonomian dunia itu lantas taut bertaut dan memunculkan persoalan di negara lain.

Ekonomi global kini memasuki resesi lantaran motor pertumbuhan ekonomi dunia sudah mengalami kontraksi. Pada kuartal III tahun ini, perekonomian Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Singapura sudah mengalami pertumbuhan negatif. Gelombang kejut resesi diyakini masih akan menyebar ke negara-negara lain, termasuk negara-negara berkembang.

Kebijakan uang longgar pada 2001-2003 yang diterapkan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserves) adalah biangnya. Tingkat suku bunga yang sangat rendah membuat masyarakat berlomba untuk meminjam uang di bank dan membeli perumahan. Saat itulah bermunculan berbagai produk kredit perumahan, termasuk subprime mortgage. Namun sayangnya kebijakan itu tidak diikuti dengan prinsip kehati-hatian, dan kredit mengalir ke kalangan yang memiliki catatan kredit buruk, bahkan di bawah kata layak.

Hingga periode 2004-2006 memang belum terlihat dampak dari kredit berisiko tinggi tersebut, lantaran tingkat suku bunga masih dipatok rendah, sebesar 1 persen. Namun di saat suku bunga meningkat hingga level 5,25 persen, para debitur mulai sakit kepala untuk membayar cicilan mereka. Dari sinilah persoalan bermula.

Pada 15 September, bank investasi terbesar keempat di AS, Lehman Brothers, mengajukan perlindungan dari kepailitan. Persoalan subprime mortgage juga menghancurkan bisnis perusahaan pembiayaan perumahan Fannie Mace dan Freddie Mac, yang kemudian diambil alih pemerintah.

Kepemilikan Bank Investasi Merill Lynch bahkan sampai diambilalih oleh Bank of America dengan nilai akuisisi mencapai USD50 miliar. Sebelumnya lagi pada bulan Maret, bank investasi Bear Stearn dijual murah sebesar USD236 juta kepada JP Morgan Chase.

Buntutnya, krisis harus dibayar mahal. Untuk mengendurkan pasar yang berkontraksi, bank sentral banyak negara terpaksa menurunkan tingkat suku bunga acuannya. Pada Oktober lalu, The Fed menurunkan suku bunga bersama bank sentral negara lain seperti Jepang, Inggris, Bank Sentra Eropa (ECB), Kanada, dan Swiss.

Sayangnya langkah itu masih belum diikuti semakin lancarnya likuiditas di pasar. Pasar kredit masih mengkeret. Para pemangku otoritas moneter di berbagai negara lalu kembali memangkas suku bunga, bahkan hingga level "nyaris gundul" di level nol persen (zero rate). Awal bulan Desember, suku bunga acuan di Jepang, misalnya, mangkrak di angka 0,3 persen, sementara The Fed menggunting suku bunga pada kisaran 0-0,25 persen, terendah di seluruh dunia.

Ongkos mahal lain yang harus ditanggung adalah pengucuran dana segar ribuan miliar dolar untuk menyelamatkan aset-aset perusahaan bermasalah. Yang sempat menjadi perdebatan panas di AS adalah program Troubled Asset Relief Program (TARP) senilai USD700 miliar. Puluhan lembaga keuangan bank dan nonbank, baik berukuran besar maupun kecil, mendapatkan bagian dari dana itu.

Program dana talangan (bailout) yang diluncurkan pemerintah AS itu tidak dikucurkan dengan mudah. Kongres pada awalnya menolak rencana tersebut, lantaran dana yang digunakan berasal dari pembayaran pajak masyarakat.

Toh, meski akhirnya dana sebesar USD700 miliar disetujui, tak berarti krisis likuiditas berakhir. Kalangan analis bependapat, dana sebesar itu tidak cukup untuk mengatasi krisis yang telah menjalar dalam. Ibarat kata pepatah, pasak masih lebih besar daripada tiang. Apalagi kejatuhan perusahaan-perusahaan besar masih bakal terjadi, bahkan hingga tahun-tahun mendatang.

Menurut Mortgage Bankers Association yang berbasis di Washington, kerugian lembaga keuangan perbankan dan institusi keuangan nonbank mencapai USD1,4 triliun (sekira Rp13 ribu triliun). Bisa dipastikan angka itu bakal bertambah karena total kapitalisasi surat utang di pasar perumahan itu mencapai USD6 triliun. Itu belum termasuk perusahaan di luar sektor keuangan.

Terbukti, setelah program itu disetujui, masih terjadi kejatuhan sejumlah raksasa bisnis. Tiga produsen automotif, Ford, Chrysler, dan General Motors, sampai-sampai mengemis dolar kepada pemerintah. Sama seperti bailout sebelumnya, program penyelamatan bagi tiga produsen yang disebut sebagai The Big Three itu tidak mudah, karena sempat mengalami penolakan dari Senat AS.

Meski akhirnya dana bantuan senilai USD17,4 miliar itu disetujui, namun itu hanya cukup untuk mengulur waktu saja. Kelangsungan hidup industri automotif sangat bergantung pada kebijakan presiden selanjutnya, Barack Obama.

Di Inggris, pada Oktober lalu pemerintahan Perdana Menteri Gordon Brown mengumumkan program injeksi dana hingga 50 miliar poundsterling (USD87,2 miliar) kepada perbankan. Dana itu ditujukan bagi sembilan perbankan besar di Negeri Ratu Elizabeth itu, yaitu Abbey, Barclays, HBOS, HSBC, Lloyds TSB, Nationwide Building Society, Royal Bank of Scotland, dan Standard Chartered.

Pada 15 Desember, Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mengucurkan dana hingga 210 miliar euro atau setara USD288 miliar kepada perbankan di zona Eropa. Tercatat ada 729 bank yang mengajukan pinjaman total sebesar 209 miliar euro dengan patokan bunga 2,5 persen.

Reformasi sistem keuangan dunia

Institute of International Finance (IIF), asosiasi berbasis di Washington yang mewakili lebih dari 375 perbankan besar dunia, memproyeksikan ekonomi dunia akan susut 0,4 persen pada 2009, setelah mencapai pertumbuhan 2,0 persen tahun ini.

Negara-negara dengan perekonomian maju, seperti Amerika Serikat, 15 anggota Uni Eropa, dan Jepang, rata-rata akan berkontraksi 1,4 persen. Amerika Serikat, perekonomian terbesar di dunia, akan susut 1,3 persen pada 2009, setelah pertumbuhan 1,2 persen tahun ini. Kawasan eurozone akan berkontraksi lebih tajam sebesar 1,5 persen dari 0,9 persen pertumbuhan, dan Jepang akan susut 1,2 persen setelah pertumbuhan nol.

Tak ada yang bisa memastikan sampai kapan krisis ini akan berakhir. Butuh waktu yang cukup panjang untuk bisa pulih dari "tsunami keuangan" yang menurut mantan Gubernur The Fed Alan Greenspan sebagai peristiwa sekali dalam satu abad ini.

Guncangan krisis telah merusak sendi-sendi perekonomian, mengacaukan perdagangan di bursa saham, menggerus cadangan devisa dunia, hingga membuat susut perekonomian.

Data-data seretnya pertumbuhan dunia di tahun mendatang menegaskan perlunya upaya bersama dalam menangani krisis yang terjadi. Tidak ada satupun yang bisa mengatasi krisis sendirian. Hal itu juga menunjukkan urgensi dibentuknya sistem keuangan dunia untuk menjamin industri keuangan.

Seruan atas dibangunnya sistem keuangan dunia atau dahulu dikenal dengan sistem Bretton Woods, terutama dicetuskan oleh negara-negara Eropa yang dimotori Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown. Keduanya pemimpin itu menegaskan, gejolak yang terjadi saat ini menunjukkan arsitektur keuangan pasca-Perang Dunia II sudah tidak memadai lagi.

Bretton Woods merupakan sistem keuangan dunia yang berbasis pada kebijakan dua lembaga keuangan dunia, yaitu Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Kedua badan itu bertugas mengawasi kebijakan ekonomi dan moneter negara-negara anggota, agar sinergi dan tidak merusak perekonomiannya sendiri sehingga berdampak negatif kepada negara lain. Apalagi telah terbukti kekacauan sistem keuangan dunia saat ini disebabkan dari kegiatan sektor keuangan AS yang kacau.

(jri)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini