nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Si Emas Hitam Berjungkat-Jungkit di 2008

Widi Agustian, Jurnalis · Jum'at 26 Desember 2008 07:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2008 12 25 277 176987 y8E2fEUgeT.jpg

JAKARTA - Tahun 2008 ini merupakan tahun yang sangat dramatis bagi perjalanan harga minyak. Di tahun ini, harga minyak naik turun hingga memecahkan rekor angka tertinggi, juga sekaligus harga terendah.

Si emas hitam di tahun tikus ini bergerak sangat agresif, sangat bertolak belakang. Di pasar New York Mercantile Exchange, harga minyak terus tancap gas menanjak hingga akhirnya duduk di level tertinggi pada Juni dalam satu dekade, USD147 per barel.

Tak ayal kondisi ini membuat banyak negara di berbagai negara kalang-kabut, termasuk Indonesia. Karena, kekuatan yang hanya dipatok harga minyak pada APBN 2008 dipatok pada angka USD63 per barel. Jika tidak dinaikkan maka APBN akan jebol.

Kemudian, menaikkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri dinaikan rata-rata 28,7 persen. Harga BBM per 24 Desember 2008, premium menjadi Rp6.000 per liter sedangkan solar Rp5.500 per liter.

Dalam menentukan harga BBM jenis tertentu yang disubsidi, pemerintah juga melihat suplai dan demand minyak mentah di pasar internasional. Pasalnya, hal tersebut dapat mempengaruhi harga minyak mentah dunia yang ujung-ujungnya akan mempengaruhi harga BBM di Indonesia. Secara kasar, pengaruh harga minyak dunia tersebut akan berdampak kepada harga minyak yang berlaku di pasar Singapura (Mean of Platts Singapore/MOPS) serta harga minyak mentah di Indonesia (Indonesia Crude Prices/ICP).

Dua harga inilah yang menjadi acuan pemerintah dalam menetapkan harga BBM subsidi. "Selain itu pemerintah juga memperhatikan juga kurs rupiah serta APBN," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR beberapa waktu lalu.

Sebagai gambaran, MOPS ini merupakan salah satu faktor dalam menentukan harga keekonomian dari BBM. Formula yang digunakan adalah MOPS plus alpha, di mana alpha terdiri dari marjin keuntungan untuk

Pertamina serta SPBU, serta biaya pengolahan serta transportasi. Sedangkan ICP merupakan asumsi yang digunakan oleh pemerintah dalam menentukan besaran subsidi yang akan diberikan, pada 2009 nanti, pemerintah telah mematok rata-rata harga minyak di Indonesia adalah USD80 per barel, angka tersebut menurun dari tahun 2000 ini yang sebesar USD95 per barel.

Setelah memecahkan rekor termahal, tiba-tiba minyak mentah melorot tajam hingga ke level USD70 per barel, lalu menerabas ke level USD60-50 per barel pada November-Oktober.

Para kartel minyak mentah dunia pun kalang kabut. Kejatuhan harga minyak ini dikarenakan efek domino dari krisis ekonomi Negeri Paman Sam yang melemahkan daya beli di seluruh penjuru dunia. Hal ini membuat suplai di pasaran menjadi berlebih. Akibatnya harga minyak terhempas ke level terendah di kisaran USD40 per barel. Para negara OPEC pun langsung mengambil kebijakan memangkas suplai minyak hingga 2,2 juta barel. Jika tidak, maka penerimaan negara mereka akan ikutan jatuh.

Sebab, para negara kartel minyak mengandalkan jualan minyak untuk menggerakkan ekonominya. Merespons kondisi ini membuat harga BBM bersubsidi, yakni premium dan solar menjadi kembali diturunkan. Premium yang awalnya berharga Rp6.000 per liter, diturunkan pada tanggal 1 Desember 2008 menjadi Rp5.500, lalu diturunkan lagi pada tanggal 15 Desember 2008. Sehingga, sekarang masyarakat dapat membeli premium dengan harga Rp5.000 per liternya.

Penurunan kali kedua premium ini dibarengi dengan penurunan harga solar menjadi Rp4.800 dari yang awalnya Rp5.500. Menteri ESDM sempat mengungkapkan, harga minyak tanah atau kerosin yang saat ini sebesar Rp2.500 per liter sebenarnya hanya bisa diberlakukan ketika harga minyak dunia di level USD11 per barel. "Sebenarnya untuk harga minyak tanah kita sudah rendah sekali," katanya beberapa waktu lalu.

Bahkan belakangan ini muncul kabar jika subsidi untuk minyak tanah akan dihapuskan, pasalnya pemerintah telah melakukan konversi energi agar masyarakat beralih menggunakan gas elpiji dari sebelumnya minyak tanah.

Hal tersebut membuktikan naik dan turunnya harga minyak dunia akan mempengaruhi harga BBM dalam negeri. Meski telah menurunkan harga premium dan solar, namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi kenaikan harga kembali.

"Mengingat pentingnya BBM dalam kehidupan kita dan juga perkembangan harga minyak internasional yang tidak pasti, harganya masih dapat naik ataupun turun, seiring juga dengan krisis ekonomi global," kata Menteri

Keuangan Sri Mulyani usai rapat terbatas dengan Presiden SBY dan sejumlah menteri, di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Suharso Monoarfa mengungkapkan, sebenarnya harapan masyarakat agar harga BBM bersubsidi turun kembali ke level seperti saat BBM dinaikkan bisa terealisasi. Asalkan harga minyak mentah bisa tetap berada di level USD40 per barel. Dengan demikian, premium bisa dijual Rp4.500 per liter dan solar Rp4.300 per liter.

"Kalau pemerintah mau, maka pada 1 Januari harga solar dan premium bisa turun minimal ke Rp5.000 per liter," kata Suharso, dalam diskusi forum PPP, di Jakarta, Selasa (9/12/2008).

Dengan menerapkan harga premium Rp4.500 dan solar Rp4.300 maka total subsidi yang dikeluarkan pemerintah mencapai Rp26 triliun. Sementara dengan menetapkan harga premium Rp5.000 maka beban subsidi yang ditanggung menjadi hanya Rp5 triliun.

"Ini berarti subsidi yang ditanggung menjadi sangat kecil dibandingkan alokasi di APBN 2009 sebesar Rp57,6 triliun," ujarnya.

Bahkan, pengamat perminyakan Kurtubi mengungkapkan, pada tahun 2009 nanti seharusnya premium dan solar masing-masing dapat berharga Rp4.000 per liternya. Karena menurutnya, harga minyak mentah dunia akan berkisar antara USD20-70 per barel dengan rata-rata USD45 per barel.

"Mestinya harga BBM diturunkan ke level biaya pokok BBM saat ini, yaitu Rp4.000 per liter, pada level tersebut subsidi BBM sama dengan Rp0. Pelaku usaha sudah dapat marjin dan negara sudah memperoleh pajak PPN dan pajak BBM," ucapnya.

Dia melanjutkan, harga minyak dunia tidak akan naik melejit pada tahun 2009 nanti walaupun kartel minyak OPEC telah menyepakati akan melakukan pemotongan produksi hingga mencapai 2,2 juta barel per hari.

Kurtubi melanjutkan cara OPEC ini tidak akan berhasil menghentikan harga minyak yang terus mengalami penurunan. Menurutnya, untuk membalikan keadaan, yakni menaikkan harga minyak seharusnya OPEC melakukan pemotongan secara sekaligus dengan volume yang besar.

"OPEC mengira penurunan harga yang terjadi bisa diatasi dengan pemotongan produksi mula-mula 500 ribu barel per hari, kemudian dipotong lagi 1,5 juta barel per hari, terakhir dipotong lagi 2,2 juta barel per hari. OPEC melakukan pemotongan dengan cara mencicil atau tidak sekaligus, ternyata harga terus turun, padahal untuk menaikkan harga, mestinya OPEC harus memotong secara besar-besaran dan sekaligus di atas 5 juta barel per hari," jelasnya.

Hal ini, lanjut Kurtubi sama seperti dengan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menurunkan harga BBM dengan dicicil, sehingga tidak berpengaruh banyak terhadap penurunan harga barang, maupun biaya transportasi.

Saat ini, harga minyak masih terus dalam tren pelemahan. Pasar tidak merespons kebijakan OPEC. Sejumlah kalangan menilai pada 2009 si emas hitam masih berpotensi terus melandai. Jika begini apakah harga jual BBM bersubsidi akan kembali dipangkas? Semoga saja.

(rhs)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini