nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ujian Berat Sri Mulyani di 2008

Rani Hardjanti, Jurnalis · Jum'at 26 Desember 2008 12:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2008 12 26 277 177114 WRiZtEbD5T.jpg

JAKARTA - Di penghujung 2007 silam, semua pihak berharap pada 2008 ekonomi bisa tumbuh menggeliat. Namun, siapa sangka justru tahun ini ekonomi rawan luluh-lantak.

Menteri-menteri ekonomi langsung berperan menjadi penjaga gawang sebagai imbas ekonomi global yang bermuara dari Amerika. Siapa pemimpinnya? Tak lain adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani yang juga pelaksana tugas menko perekonomian.

Sri Muyani resmi menjadi pelaksana tugas pemegang kendali ekonomi Indonesia, sejak Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia 17 Mei 2008. Ruang Graha Sawala, Gedung Departemen Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Selasa 24 Juni menjadi saksi bersejarah penyerahaan tongkat ekonomi orang nomor satu di Lapangan Banteng ini.

Namun Menkeu Sri Mulyani tampaknya sudah lihai menjadi menko. Kenaikan harga BBM pada 23 Mei lalu juga diumumkan oleh mantan direktur IMF ini.

Meski menjadi single fighter, bersama otoritas moneter yang dipimpin Boediono dan lembaga terkait, tak membuatnya kehilangan arah. Sri Mulyani habis-habisan bekerja, bahkan kerap kali hingga subuh. Memimpin rapat internal, rapat bersama Presiden dan Wakil Presiden, serta DPR menjadi rutinitas sehari-hari.

Contohnya, pada 20 November lalu, selepas mengikuti rapat di Istana Wakil Presiden, pemilik nama lengkap Sri Mulyani Indrawati ini, ternyata tidak langsung pulang ke kediamannya.

Melainkan, kembali ke kantornya di Jalan Wahidin sekira pukul 19.00 WIB, untuk menggelar rapat dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono dan Menneg BUMN, Sofyan Djalil. Dalam rapat tersebut juga dihadiri Kepala Eksekutif LPS Firdaus Djaelani, serta Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo.

Sejumlah pejabat eselon I Depkeu juga berkumpul, antara lain Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto, Direktur Jenderal Pajak Darmin Nasution, dan Ketua Bappepam-LK Fuad Rahmany. Pejabat-pejabat BI mulai dari Miranda S Goeltom beserta deputi-deputinya, juga ikut rapat.

Semuanya demi menjaga perekonomian dari hantaman krisis ekonomi yang sudah di depan mata. Bagaimana tidak? Tahun 2008 juga merupakan tahun pertaruhan kinerja Kabinet Indonesia Bersatu. Tahun depan, kinerja para pejabat sudah mulai tidak konsen karena akan digelar pemilu.

Boleh dibilang, apa yang dicita-citakan selama 2008 kandas di tengah jalan. Goncangan ini mengoyak target makroekonomi. Asumsi karam diterjang resesi ekonomi Si Paman Sam. Sebut saja pertumbuhan ekonomi. RAPBN-P 2008 sempat dipercepat karena sudah tidak realistis lagi. Rupiah jatuh dan indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat disuspensi pada 8 Oktober.

Harga minyak mentah terus meroket, menerabas USD100 per barel, lalu USD120 per barel hingga ke posisi termahal USD147 per barel pada Juni 2008. Jelas kondisi ini menggiring harga jual BBM bersubsidi hingga naik sebesar 28,7 persen, premium menjadi Rp6.500 per liter, dan solar Rp5.500 per liter.

Sebagai gate keeper APBN, Sri Mulyani kerap menjadi sasaran tembak pertanyaan mengenai kondisi APBN terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia.

"Semuanya menanyakan, apakah pemerintah bisa bertahan dengan harga minyak mentah yang sekarang sudah mendekati USD120 per barel?" ujar Sri Mulyani, beberapa waktu lalu.

Melihat kondisi APBN yang sudah tidak realistis, dia langsung meresponsnya. Saat rapat kerja dengan Panitia Anggaran DPR, di Jakarta, Senin 13 Oktober lalu Sri Mulyani, sempat mengusulkan perubahan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5-6,1 persen dari kesepakatan semula di Panitia Anggaran DPR sebesar 6,3 persen.

Sementara untuk nilai tukar rupiah diusulkan Rp9.500 per USD dari semula Rp9.150 dan inflasi menjadi tujuh persen dari sebelumnya 6,2 persen. Sedangkan suku bunga SBI 3 bulan menjadi 8,5 persen dari 8 persen dan harga minyak Indonesia USD85 per barel dari USD95.

Namun, keadaan berbalik arah dengan cepat. Harga minyak yang mencetak posisi termahal selama satu dekade, langsung turun tajam. Ke kisaran USD60, hingga ke posisi terendah USD36 per barel pada perdagangan Kamis 18 Desember waktu setempat.

Sri Mulyani sang Wonder Woman

Terlepas dari kondisi makro di atas, mengemban dua jabatan vital merupakan ujian berat bagi wanita kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962 ini. Dia kerap dituding sebagai kaki tangan IMF dan Bank Dunia. Masalahnya, kedua negara itu dicap sebagai lembaga donor yang mematikan bagi banyak negara. Namun, nada sumir itu tidak pernah digubris. Sri Mulyani sempat melontarkan akan menjaga ekonomi dari terpaan eksternal.

Benar saja. Sejak bursa Wall Street bergerak bak kuda liar, mantan wanita yang sempat menduduki kursi Menneg PPN/Bapenas ini juga bekerja tak kalah lincahnya. Memimpin rapat, memutuskan kebijakan dengan cepat sepertinya merupakan makanan setiap hari.

"Hari-hari belakangan ini situasinya memang sulit. Kami harus siaga penuh 24 jam memantau krisis global dan imbasnya buat ekonomi Indonesia," tuturnya.

Di tengah kesibukannya, Sri Mulyani tiba-tiba dihentakkan, oleh berita duka. Sang ibunda tercinta, Prof DR Retno Sri Ningsih meninggal dunia pada 10 September 2008.

Seperti tidak kenal lelah. Walau berduka, doktor kebijakan ekonomi jebolan Universitas Illinois Urbana, Amerika Serikat ini, tetap bekerja maksimal.

Tak heran dia menyabet berbagai penghargaan. Sri Mulyani dianugerahi sebagai 100 Wanita Paling Berpengaruh, penghargaan sebagai Finance Minister of The Year 2008 for Asia. Penghargaan diberikan oleh harian Emerging Markets. Serta Menteri Keuangan Terbaik 2008 versi majalah Euro Money dan Penghargaan Bung Karno sebagai tokoh anti korupsi.

Setiap tahun harian internasional keuangan, ekonomi, dan investasi tersebut memilih Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral terbaik dari berbagai kawasan, yakni Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, Eropa Timur, dan Asia.

Dia dinilai, mampu mendorong kinerja ekonomi Indonesia hingga mencapai di atas 6 persen tahun ini meskipun terdapat tekanan inflasi. Lalu keberhasilannya dalam melakukan reformasi di lingkungan Departemen Keuangan dan meletakkan dasar bagi reformasi birokrasi yang terfokus dan terkendali.

"Saya ucapkan terima kasih. Penghargaan ini untuk seluruh staf Departemen Keuangan," pungkasnya.

(rhs)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini