Pendapatan PLN Naik Rp1,3 Triliun

J Erna, Jurnalis · Senin 24 Agustus 2009 19:55 WIB
https: img.okezone.com content 2009 08 24 320 250945 RKPTEuYstS.jpg Ilustrasi. Foto: Corbis

JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mencatat kenaikan pendapatan sebesar 1,7 persen pada semester I-2009 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dikalkulasi, pendapatan yang berhasil dibukukan PLN menjual

listrik selama semester satu tahun ini mencapai Rp79,326 triliun atau meningkat sebesar Rp1,326 triliun.

Wakil Direktur Utama PT PLN (Persero) Rudiantara mengatakan, kenaikan pendapatan persero tersebut sejalan dengan kenaikan pertumbuhan konsumsi listrik pada enam bulan pertama di tahun ini. "Kalau pertumbuhan listrik satu persen, pendapatan juga naik satu persen, karena tidak ada kebijakan harga yang drastis dan harga tidak naik," kata dia

di Jakarta, Senin (24/8/2009).

Pada semester I-2008 lalu, pendapatan usaha PLN mencapai Rp78 triliun. Angka ini naik 50 persen dibandingkan periode yang sama 2007, yang ditopang tambahan subsidi listrik dari pemerintah.

Dia menjelaskan, konsumsi listrik PLN pada semester I-2009 secara overall naik satu persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dari 63,7 Terawatt hours (TWh) menjadi 64,8 TWh. Kenaikan tersebut, terutama terjadi pada segmen rumah tangga dan bisnis. Konsumsi listrik rumah tangga naik sebesar 6,8 persen dari 24,5 TWh menjadi 26,5 TWh dan konsusmsi listrik sektor bisnis naik hampir delapan persen dari 11 TWh menjadi 12 TWh.

"Kenaikan konsumsi terbesar di rumah tangga dan bisnis. Kenaikan pada triwulan kedua, lebih tinggi dari triwulan pertama, terutama bisnis. Kenaikan ini disebabkan masih tingginya konsumsi," ujar dia.

Sementara itu, untuk sektor industri justru mengalami penurunan hampir mencapai sembilan persen. Konsumsi listrik di sektor industri pada semester I-2008 hanya sebesar 22 TWh pada enam bulan pertama tahun ini dari sebelumnya di periode yang sama tahun lalu 24,2 TWH. Sedangkan konsumsi untuk segmen sosial meningkat dari sebelumnya 3,9 TWh pada semester I-2008 menjadi 4,2 TWh pada semester satu tahun ini.

Selain itu, dia menuturkan, jumlah pendapatan perusahaan meningkat selain disebabkan naiknya konsumsi listrik secara nasional, juga akibat menurunnya jumlah pemakaian bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya, penyusutan konsumsi BBM berkorelasi dengan biaya operasional perusahaan. "Penggunaan BBM lebih sedikit dibanding tahun lalu, sehingga biaya turun," imbuh dia.

Di samping itu, harga listrik per kilowat hour (kWh) sedikit turun dibandingkan tahun lalu, yang rata-rata mencapai lebih dari Rp1.300 per kWh. Harga listrik hingga semester I-2009, berkisar antara Rp1.000-Rp1.100 per kWh.

Penurunan harga listrik tersebut, menurut dua, dipengaruhi menurunnya harga BBM yang terjadi sejak akhir tahun lalu. Pada akhirnya, Rudi mengatakan, penurunan harga tersebut memberi imbas pada penurunan subsidi energi yang diterima PLN tahun ini. "Laba kita tidak turun, tapi subsidi yang turun karena kita kan disubsidi," tukas dia.

Besaran subsidi BBM dan elpiji dalam anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P) 2009 dipangkas sebesar Rp5,213 triliun menjadi Rp52,392 triliun dari sebelumnya Rp57,605 triliun.

Direktur Listrik PLN Jawa Madura Bali (Jamali) Murtaqi Syamsuddin mengungkapkan, konsumsi BBM pada semester I-2009 menurun sebesar tujuh persen dari sebelumnya 28 persen di semester I-2008 menjadi 21 persen pada semester satu tahun ini. "Sisanya gas, batu bara, panas bumi dan air," ungkap dia.

Konsumsi batu bara pada semester I-2009 mencapai 28 persen, gas alam sebesar 17 persen. Sedangkan sisanya, energi panas bumi dan air.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini