nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mitsubishi Lirik Investasi Rp2,5 T di Merauke

Candra Setya Santoso, Jurnalis · Jum'at 02 Oktober 2009 14:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2009 10 02 320 262024 6jOUhncXIX.jpg Foto: Koran SI

JAKARTA - Mitsubishi Corp tertarik berinvestasi pangan senilai USD250 juta ke Marauke. Rencananya, investasi tersebut digunakan untuk membangun pelabuhan baru yang dibutuhkan Merauke saat ini.

"Investasi ini nantinya masih jangka panjang. Untuk kasus Marauke saja, dari Mitsubishi tertarik untuk investasi pangan senilai USD250 juta atau sekita Rp2,5 triliun untuk membuat pelabuhan jangka panjang mungkin tahunan tentunya," ujar Dirjen Bidang Pertanian dan Kelautan Depkeu Bayu Krisnamurthi, saat berbincang-bincang dengan wartawan di kantornya, di Gedung Depkeu, Jakarta, Jumat (2/10/2009).

Rencananya, dana investasi pangan tersebut untuk pembuatan pelabuhan. Pasalnya, Marauke merupakan daerah yang cukup gersang dan memiliki daerah daratan yang cenderung flat.

"Untuk masuk ke daratan dari pantai sampai ke lahan kira-kira jaraknya samapai 30 km. Marauke sangat datar, jika air pasang air laut muncul, maka bisa masuk ke daratannya," jelasnya.

Dikatakannya, daerah Marauke memiliki potensi alam yang cukup baik dalam investasi di bidang pangan. Setidaknya, ada perusahaan besar dibidang pangan yang memiliki minat yang sama dengan Mitsubishi tersebut, di antaranya Medco, Wilmar, Sinarmas, dan kelompok Bangun Cipta. "Jadi kita tunggu saja realisasinya, karena Marauke memang bagus untuk dijadikan tempat investasi," ungkapnya.

Hal tersebut sesuai dengan laporan International Food Policy Research Institute (IFPRI) yang memperkirakan harga pangan dunia untuk beras dan kedelai bakal mengalami lonjakan hebat pada akhir tahun ini.

Kenaikan harga pangan tersebut diperkirakan akan sama dengan kenaikan harga pada awal 2008 lalu. Kenaikan akan menyamai harga pada awal 2008, di mana pada saat itu harga pangan meningkat drastis, seperti kedelai atau beras. Meski, pada September-Oktober 2008 mulai turun.

Dikatakan Bayu, kenaikan pada akhir 2009 atau setidaknya awal 2010 tersebut belum tentu menjadi puncak peningkatan harga pangan dunia akibat krisis global. Sedangkan pertumbuhan harga pangan di masa mendatang, akan lebih cepat dibandingkan pemulihan ekonomi setelah resesi global.

Krisis menyebabkan kurangnya investasi di pertanian baik oleh pemerintah maupun swasta. Akibatnya, pertumbuhan produksi akan lebih kecil dan menekan harga ke atas, Sehingga, menurut Bayu, masyarakat pendapatan rendah dan miskin akan menghadapi masalah ekonomi yang belum membaik (recovery), tapi harga pangan sudah terlanjur naik.

"Diperkirakan harga pangan akan naik lebih cepat dibanding pemulihan ekonomi setelah resesi. Dengan growth turun, demand turun, harga turun. Tapi krisis juga menyebabkan investasi kurang di pertanian, baik pemerintah maupun swasta," tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan Bayu, perkiraan pertumbuhan harga pangan dunia yang melebihi pemulihan ekonomi bisa menimbulkan kekhawatiran tersendiri, yaitu perihal gizi buruk. "FRI sepakat untuk menyebarkan pesan adanya ketahanan pangan dan gizi," tegasnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini