nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Abu Dhabi Bersedia Bantu Dubai

Koran SI, Jurnalis · Minggu 29 November 2009 09:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2009 11 29 213 279963 MMiH80erk6.jpg Krisis keuangan global (Foto: Ist)

ABU DHABI - Krisis utang Dubai punya potensi teratasi. Abu Dhabi, tetangga keemiran Dubai dalam federasi Uni Emirat Arab, siap membantu krisis utang yang dialami Dubai.

Hanya saja, Abu Dhabi yang lebih kaya cadangan minyak belum menyatakan akan menalangi semua utang Dubai senilai USD59 miliar (Rp560 triliun). Abu Dhabi akan melihat kasus demi kasus sebelum membantu Dubai. "Kami akan melihat komitmen Dubai dan melakukan pendekatan pada kasus demi kasus. Itu bukan berarti Abu Dhabi akan menanggung semua utang mereka," ujar pejabat resmi Abu Dhabi seperti dikutip Reuters.

Seperti diberitakan, BUMN Pemerintah Dubai, Dubai World,mengajukan penundaan pembayaran utang yang berakibat gelombang shock di pasar global. Harga saham di Eropa dan Asia anjlok, sementara pasar Amerika Serikat (AS) terlindungi karena tutup liburan Thanksgiving Day. Harga komoditas turun, termasuk melemahnya harga minyak hingga 5 persen. Abu Dhabi selama ini menjadi tumpuan untuk membantu Dubai. Abu Dhabi menguasai 90 persen cadangan minyak di Uni Emirat Arab, negara terbesar ketiga pengekspor minyak di dunia. Abu Dhabi memiliki sovereign wealth funds (SWF) terbesar di dunia dengan kekayaan USD700 miliar.

Dengan jumlah itu Abu Dhabi bisa mudah membantu kesulitan Dubai di bidang properti. Secara konstitusional, setiap keemiran Uni Emirat Arab adalah entitas hukum yang terpisah, tetapi tergabung dalam federasi. Setiap keemiran punya kontrol sendiri atas sumber daya alam dan keuangan. Pemerintah federal tidak punya hak untuk mengakses sumber daya itu atau menjamin kewajiban setiap keemiran. Dipercaya, Abu Dhabi tidak akan bersedia menalangi semua utang Dubai. Abu Dhabi akan memilah dan tidak akan membantu perusahaan Dubai yang model bisnisnya ikut terpengaruh krisis ekonomi global.

"Beberapa entitas Dubai adalah komersial, ditangani semipemerintah. Abu Dhabi akan memilah kapan dan di mana harus membantu," kata seorang pejabat.

Dubai dan Abu Dhabi diyakini akan membuat kesepakatan sebelum pasar di negara Teluk dibuka seusai libur panjang Idul Adha, Senin besok. Sejauh ini, Abu Dhabi telah membantu Dubai secara tidak langsung sebesar USD15 miliar melalui Bank Sentral Uni Emirat Arab dan dua bank swasta Abu Dhabi.

Berapa banyak bantuan yang akan diberikan Abu Dhabi sangat bergantung pada penjelasan dari Dubai. "Sampai semuanya jelas, sangat sulit membuat keputusan. Banyak hal yang harus dijelaskan Dubai," ungkap pejabat Abu Dhabi itu. Kemarin, Bank Sentral Uni Emirat Arab mengaku memantau serius situasi yang dialami Dubai. Mereka berharap krisis utang Dubai tidak mengganggu Uni Emirat Arab.

Belum Berdampak

Sementara itu, krisis utang Dubai tidak perlu dikhawatirkan kalangan investor dalam negeri. Dibandingkan dengan seluruh investasi di Indonesia, investasi Dubai yang ditaksir mencapai USD7 miliar itu belum ada apa-apanya. Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kejatuhan saham-saham di Asia yang rata-rata mendekati 5 persen belum menunjukkan sinyal krisis akan terulang.

"Kemarin Amerika tidak begitu negatif, mereka juga sedang libur panjang Thanksgiving. Kalau seminggu ke depan stabil, reaksinya saya kira tidak akan dalam," kata Purbaya. Purbaya meyakini krisis utang Dubai World tidak berpengaruh signifikan terhadap pergerakan nilai tular rupiah. "Ini terlihat dari kondisi pasar modal Asia yang meski terkoreksi cukup tajam, rupiah masih tertahan karena sentimen dolar," kata Purbaya.

Pengamat pasar modal Viviet S Putri menilai, gejala kesulitan likuiditas Dubai World sebenarnya sudah terlihat sejak 5-6 bulan lalu.

Salah satu gejalanya tampak dari sejumlah karyawan asing di bidang konstruksi yang tidak menerima gaji. "Engineer di sana pernah tidak mendapat gaji, tetapi paspornya ditahan, hanya saja tidak banyak orang yang mengamati," katanya. Menurut dia, kesulitan likuiditas yang terjadi di Dubai Wolrd ditengarai karena sumber pembiayaan proyek yang sebagian besar dari pinjaman yang banyak diinvestasikan pada instrumen pasar modal seluruh dunia. Ketika pasar saham dunia belum stabil, sebagian investasi mereka tersendat.

"Mereka kan memiliki portofolio juga di Wall Street. Kalau sudah tersendat, maka membutuhkan waktu lama untuk kembali lagi," kata analis dari Anugerah Securindo Indah itu.

Pengamat perbankan Fauzi Ikhsan menilai, perbankan Indonesia tidak terpengaruh krisis utang Dubai World. "Perbankan kita aman karena tidak eksposur di sana," katanya saat dihubungi kemarin. Hanya saja, menurut dia, dampak penundaan pembayaran utang ini akan diantisipasi negatif oleh investor global. Pasalnya, mereka menilai krisis ekonomi global belum sepenuhnya pulih. "Investor di dunia akan bertanya-tanya, apakah ini krisis global jilid II? Memang bukan dipicu di AS, tapi di kawasan negara berkembang," kata ekonom Standard Chartered ini.

Pemerintah Memantau

Di sisi lain, pemerintah akan terus memantau perkembangan dan mengantisipasi dampak yang mungkin timbul akibat krisis utang dua BUMN Pemerintah Dubai. Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto, krisis utang di Dubai berpotensi mengakibatkan aliran dana ke negara-negara berkembang menurun.

"Sebagai langkah antisipasi, komunikasi antara pemerintah dengan pelaku pasar domestik dan internasional akan dilakukan lebih intensif sehingga jika ada halhal yang perlu disikapi bisa dijalankan secara cepat dan tepat," ujar Rahmat Waluyanto dalam pesan singkatnya.

Dia menilai krisis utang di Dubai terjadi akibat kurangnya keterbukaan serta lemahnya regulasi dan pengawasan. Sebagian utang mereka dicatat di luar pembukuan (off-balance sheet) dan rasio utangnya mencapai 103 persen.

Menurut Rahmat, pasar internasional sebenarnya sudah memperkirakan apa yang akan terjadi di Dubai sejak dua tahun lalu. "Beberapa bank besar Eropa yang menjadi kreditor disinyalir akan terpengaruh kinerja keuangannya akibat masalah ini. Kalau dampak terhadap Indonesia, sampai saat ini belum tampak," kata Rahmat. 

(mbs)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini