nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bank-Bank Internasional Temui Dubai World

Ade Hapsari Lestarini , Jurnalis · Selasa 08 Desember 2009 13:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2009 12 08 213 282910 hAEOaHLyti.jpg Menara Dubai.

LONDON - Sekelompok bank internasional dan regional bertemu dengan pihak Dubai World untuk pertama kalinya pada Senin kemarin untuk membicarakan upaya perusahaan dalam merestrukturisasi utang sebesar USD26 miliar.

Seperti dilansir dari Reuters, Selasa (8/12/2009), pertemuan tersebut dilaporkan Financial Times merupakan sebuah proses yang panjang. Di mana pertemuan ini juga melibatkan para kreditur utama yang berharap dibentuk sebuah komite.

Selain itu, proses kunci restrukturisasi utang tersebut akan menjadi obligasi syariah atau sukuk, yang dikeluarkan oleh Nakheel, sebuah perusahaan real estate anak usaha Dubai World, yang dijadwalkan akan ditebus pada pada 14 Desember sebesar USD4,05 miliar.

Adapun laporan tersebut dikutip dari seseorang yang dekat dengan perundingan yang mengatakan bahwa ada berbagai pendapat di antara para peminjam.

"Beberapa lender berpikir jika ada kredit macet, semua orang harus berhenti. Di sisi lain, beberapa orang percaya bahwa sukuk harus dibayar kembali dengan segala cara," demikian diungkapkan sumber tersebut.

Di samping itu, perusahaan tercatat di London Standard Chartered, HSBC, Lloyd, dan Roy Bank of Scotland (RBS.L) dijadwalkan menghadiri pertemuan tersebut bersama dengan peminjam dari Uni Emirat Arab yakni Abu Dhabi Commercial dan Emirates NBD.

Bank Sentral Uni Emirat Arab pun telah mengatakan kepada pemberi pinjaman setempat untuk melaporkan eksposur mereka ke Dubai World dan entitas terkait.

Seperti diketahui, konsorsium Dubai World belum lama ini meminta penangguhan pembayaran utang pokok (standstill) hingga enam bulan kepada para kreditor mancanegara. Dubai World meminta penangguhan hingga Mei 2010.

Utang pokok yang harus ditanggung Dubai World sebesar USD60 miliar. Bila termasuk bunga, beban yang harus ditanggung grup perusahaan dukungan pemerintah itu menjadi sekira USD80 miliar. 

(ade)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini