Pemerintah AS Tunda Jual Saham Citigroup

Ade Hapsari Lestarini , Jurnalis · Kamis 17 Desember 2009 11:03 WIB
https: img.okezone.com content 2009 12 17 213 285932 xELOAJwQZd.jpg Logo Citigroup. Foto: AP

WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menunda penjualan saham raksasa perbankan, Citigroup. Ini karena permintaan hingga batas yang ditetapkan masih sedikit.

 

Pihak Citigroup mengatakan bahwa penundaan penjualan saham oleh pemerintah AS ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa harga saham yang lemah bisa menimbulkan kerugian besar-besaran bagi Departemen Keuangan (Depkeu) AS.

 

Seperti dilansir dari AFP, Kamis (17/12/2009), harga penawaran tersebut sebesar USD3,15 per saham, atau dengan nilai target USD17 miliar. Angka ini jauh di bawah harga rata-rata yang dibayar oleh pemerintah AS.

 

Sebagai bagian dari program bailout multimiliaran dolar, pemerintah AS pun diharuskan membayar USD3,25 untuk per lembar saham perusahaan. Hal ini mendorong Depkeu AS untuk memperpanjang penjualan saham perusahaan selama 90 hari ke depan.

 

"Depkeu AS mengumumkan akan memperpanjang periode penjualan atas 7,7 miliar ekuitas saham, sampai 90 hari dari 45 hari setelah menyelesaikan penawaran ini," demikian diungkapkan pihak Citigroup dalam pernyataannya.

 

Sebagai informasi, pemerintah AS sekarang memiliki sepertiga dari saham perusahaan. Adapun dalam menawarkan saham Citigroup, sebelumnya Depkeu AS dipuji menciptakan kemandirian perbankan.

 

Sebagai informasi, per 7 Desember 2009, Kuwait Investment Authority (KIA), lembaga pengelola dana investasi keemiran, menjual kepemilikannya di Citigroup untuk mendapatkan keuntungan berlimpah.

 

KIA membeli USD3 miliar saham preferen di Citigroup pada Januari tahun lalu. Lembaga pengelola dana itu mentransfer saham preferen menjadi saham biasa dan menjual seluruhnya seharga USD4,1 miliar.

 

KIA bergabung dengan investor-investor besar, termasuk Government of Singapore Investment Corp dan Pangeran Alwaleed bin Talal dari Arab Saudi, untuk menyuntikkan USD12,5 miliar ke Citi pada Januari 2008. Ketika itu, bank tersebut berupaya bangkit akibat merosotnya nilai mortgage.

 

Pada saat yang sama ketika KIA berinvestasi di Citi, lembaga itu membeli USD2 miliar saham di Merrill Lynch, yang juga membutuhkan dana akibat krisis kredit.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini