nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

ISS

Koran SI, Jurnalis · Kamis 11 Februari 2010 09:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2010 02 11 279 302518 jBsTzfDf0d.jpg Foto: Ist.

PADA 1997, seorang pemuda berbadan tegap terlihat asyik membersihkan lantai sebuah rumah sakit. Meski pasien dan keluarga yang tengah berobat di rumah sakit itu lalu-lalang di sekitarnya, dia tetap bekerja tenang menggerakkan mesin pemoles lantai elektrik sampai ke sudut-sudut siku beranda.

Bagi sebagian orang, pemandangan seperti itu bukanlah hal istimewa. OB atau office boy biasa Anda temui di lorong-lorong gedung dengan seragam biru garis-garis dan lambang perusahaan pengelola di dada sebelah kanan.

Namun OB yang satu ini terlihat berbeda. Badannya tegap, gerakannya sempurna. Berbeda dengan rata-rata OB yang berbadan kecil dan kurus, tingginya 170 cm. Dia gesit dan sebelumnya pernah bekerja sebagai petugas sales Electrolux. Di perusahaan itu, semua petugas salesterlatih memeragakan pemoles lantai atau alat-alat sejenisnya. Mereka piawai menggerakkan mesin secara zig-zag sampai ke sudut-sudut dinding.

Meski terlihat mudah, tak banyak OB yang mampu mengerjakannya. Semuanya serba otomatis, tetapi mesin ini cukup berat dan bisa membuat pinggang linu. Keberadaan dan gerakan kerja pemuda itu menarik perhatian orang yang lalu-lalang. Minggu esoknya di sebuah komunitas gereja di Jakarta beredar sas-sus seorang jemaat yang terpandang, eksekutif sebuah perusahaan asing, diceritakan tengah mengalami depresi. Karena sungkan, para jemaat meminta bantuan pastor menanyakan apa yang tengah terjadi. Pastor yang mendengar ternyata juga sungkan sehingga dia bertanya kepada istri orang itu. Setelah itu ceritanya menjadi lebih jelas.

Umat yang diceritakan dalam sas-sus itu bukan sedang mengalami kesulitan, tetapi baru saja memulai pekerjaan baru yang menuntut penjiwaan. Karena itulah dia sering tampak bergelayutan di atas metromini dan bus kota. Dengan berkendaraan umum, dia menelusuri permukiman di daerah-daerah pinggiran, mempelajari kehidupan masyarakat berpenghasilan rendah, rumah tempat tinggalnya, sanitasi, kebiasaan-kebiasaannya, berapa jauh jarak yang harus ditempuh untuk menuju kantor dan seterusnya. Masyarakat seperti itulah yang akan menjadi labor market dari usaha yang sedang ditanganinya. Sejak saat itu dia sering terlihat berbicara dengan para buruh, OB, juru parkir, dan mengikuti arah ke mana mereka pulang.

“Saya sangat ingin tahu siapa mereka. Hati saya sering teriris menyaksikan beratnya beban hidup mereka.Saya juga jadi mengerti mengapa perusahaan baru saya ini kurang begitu maju,” demikian refleksi yang mengalir dari pikirannya sekitar 10 tahun silam. Saat dia bergabung, lingkup bisnis dan jumlah klien perusahaan itu masih terbatas. Bahkan dapat dikatakan kurang berhasil. Seorang ekspatriat berkebangsaan Eropa pun ditarik pulang ke homebase- nya. Kini dia harus memimpin perusahaan itu seorang diri. Dari hanya beberapa ratus orang pada 1997, dia membangun tim berbasiskan tata nilai.

Nilainilai itu adalah honesty (kejujuran),  entrepreneurship, responsibility (tanggung jawab), dan quality (berkualitas). Lantas mengapa menjalankan pekerjaan seperti itu dianggap kurang waras? “Mungkin mereka kasihan sama saya. Mungkin ada di antara mereka yang melihat saya membersihkan lantai di rumah sakit,” ujarnya.

Di Bandung, 28 Januari 2010, saya kembali bertemu dengan pemuda yang dulu digunjingkan kurang waras itu. Di ball room sebuah hotel bintang lima, saat saya dipersilakan masuk, saya melihat seorang pria separuh baya di depan panggung. Dia sedang berbicara di hadapan sekitar 200 orang berusia antara 35 hingga 50 tahun yang tak lain adalah staf dan para manajer yang bekerja untuk orang itu.

Begitu melihat saya memasuki ruangan, dia pun berhenti sejenak dan memperkenalkan saya kepada hadirin dengan penuh percaya diri. Suaranya berat tapi penuh kasih terpancar ke seluruh isi gedung dari sebuah mikrofon kecil yang tergantung di depan bibirnya. Dia tampak sangat berwibawa seperti seorang coach yang tengah mempersiapkan tim basketnya melawan musuh.

“Di Eropa, perusahaan kita tahun lalu hanya tumbuh 0,5 persen. Di sini kita mengalami organic growth 38 persen. Namun perlu saya ingatkan, janganlah kalian lengah atau sombong. Kita tak boleh lagi kehilangan customer-customer yang sudah di tangan. Kita harus bisa tumbuh.Kita harus bertekad agar karyawan-karyawan kita bisa menyekolahkan anak-anaknya minimal sampai di SLTA,” ujarnya.

Anda mungkin bertanya apa nama perusahaan yang dipimpin orang tadi? Perusahaan ini adalah ISS yang bergerak dalam lima bidang jasa, yaitu cleaning service, katering, perparkiran, sekuriti, dan customer service. Orang yang saya ceritakan adalah Houtman Simanjuntak, CEO ISS Indonesia.

Di bawah pimpinannya ISS telah tumbuh dengan sekitar 50 ribu orang karyawan atau setara dengan pabrik-pabrik rokok besar yang didirikan 60 tahun yang lalu. Apa yang membuat ISS sukses? Itulah intangibles yang dibangun dengan miyelin, yaitu insulator yang membentuk muscle memory manusia. Dulu eksekutif cukup dibentuk melalui memori, yaitu brain memory. Namun sekarang terbukti pendekatan seperti itu kurang pas. Kalau perusahaan ingin maju, mau tak mau eksekutif perlu membentuk muscle memory atau miyelin. Itulah pesan penting mengelola perusahaan di era hypercompetition dewasa ini. (*)

RHENALD KASALI

Ketua Program MM UI

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini