JAKARTA - Faktor eksternal nampaknya masih mendominasi kurs rupiah. Tren pelemahan dolar Amerika pun nampaknya bisa memicu nilai tukar rupiah untuk kembali mengalami penguatan di perdagangan hari ini.
"Mudah-mudahan bisa kembali menguat," kata analis valas dari BRI, Rahmat Wibisono saat dihubungi okezone, di Jakarta, Selasa (23/2/2010).
Dia menjelaskan, faktor pelemahan dolar atas Euro terjadi terkait dengan naiknya discount rate yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat (AS). Pasar mencerna langkah kenaikan suku bunga discount rate tersebut lebih sebagai suatu normalisasi dari kondisi resesi, ketimbang asumsi bahwa ini merupakan indikasi awal untuk pengetatan kebijakan moneter dan suku bunga Fed Fund-nya.
Karena biasanya, seperti masa sebelum resesi suku bunga discount rates AS selalu berada satu persen di atas suku bunga Fed Fund. Saat ini suku bunga Fed Fund AS masih di level 0,0-0,25 persen.
"Faktor yang mempengaruhi rupiah lebih kepada eksternal, karena dolar melemah atas euro. Karena secara jangka panjang, pemulihan ekonomi atas AS masih lama," jelasnya.
Menurutnya, rupiah akan berada di kisaran Rp9.260-Rp9.320 per USD. "Tapi kalau tiba-tiba dolar menguat, rupiah akan berada di atas Rp9.300," imbuhnya.
Sebelumnya, berdasarkan data dari yahoofinance Senin kemarin, rupiah ditutup di level Rp9.290 per USD. Sementara, data kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah hari ini berada di level Rp9.292 per USD, dibanding perdagangan pagi tadi di level Rp9.310 per USD.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.