JAKARTA - Walau potensi untuk menguat masih besar, rupiah nampaknya belum akan menguat secara signifikan pada awal pekan.
Menurut Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, rupiah baru akan menguat signifikan dengan kedatangan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama ke Indonesia.
"Nanti Senin depan (22 Maret) ketika Obama benar-benar datang, bisa jadi rupiah terus menguat menembus Rp9.100 bahkan bisa lebih kuat," katanya saat dihubungi okezone, di Jakarta, Senin (15/3/2010).
Sementara untuk hari ini, dia mengatakan, jika tidak ada faktor signifikan yang dapat mendorong penguatan rupiah.
"Saya pikir belum bisa nembus Rp9.100 pada hari ini. Saya prediksi rupiah menguat, namun baru sebatas Rp9.150. Tidak ada sentimen positif yang signifikan. Namun secara umum arahnya positif," jelas dia.
Dan dia mengatakan, dengan datangnya Obama ke Indonesia nampaknya membuktikan kondisi Indonesia memanglah cukup aman. Dimana isu teroris di Indonesia tidak membuat rencana kedatangan orang nomor satu di dunia tersebut batal.
"Tetap datangnya Obama ke Indonesia, meski mundur tiga hari, namun ini jauh lebih bagus daripada dugaan batalnya Obama karena kasus Dulmatin," jelasnya.
Ditambah lagi dengan meredanya kasus Bank Century, yang menurut Tony menghembuskan hawa segar bagi pergerakan rupiah.
Sebelumnya, rupiah pada Jumat (12/3/2010) ditutup di level Rp9.185 per USD, atau melemah tipis sebanyak dua poin ke posisi Rp9.183 per USD.
Sementara, dolar Amerika melemah secara global, akibat tidak ada indikasi jelas dari rilis data ekonomi Amerika tadi malam. Weekly jobless claims dirilis lebih pesimistis dari perkiraan.
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.