JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memprediksi rupiah akan tetap menguat dalam jangka pendek. Bahkan masih berpeluang untuk menembus level Rp8.000 per USD.
"Rupiah akan berpeluang menguat dalam jangka waktu cukup lama," ungkap Direktur Direktorat Riset dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo dalam diskusi BI Bareng Media di Gedung BI Jakarta, Selasa (30/3/2010).
Perry menyebutkan ada tiga hal yang membuat penguatan rupiah dalam jangka pendek. Pertama,Kebijakan Bank-bank Sentral Eropa dan IMF yang memberikan pinjaman kepada Yunani sebesar Euro 22 miliar untuk menyelamatkan perekonomian Yunani. Hal ini membuat risk appertite Indonesia semakin baik.
Kedua, premi resiko bagus dan surplus neraca pembayaran yang cukup besar. Serta kondisi perekonomian global yang membaik. "Kita meyakini tren nilai tukar lintasan optimistis mengarah pada apresiasi nilai tukar rupiah," tambahnya.
Ketiga, terkait dengan operasi moneter dan kondisi likuiditas dalam negeri. Berdasarkan review dari 22-26 Maret 2010, BI melihat secara keseluruhan pasokan likuiditas lebih tinggi dan jatuh tempo instrumen moneter BI sebesar Rp92,5 triliun.
Selain itu ada juga net eskspansi pemerintah Rp2,9 triliun. Serta ada kebutuhan likuid yang terkait permintaan, aliran masuk uang kartal dan faktor terkait giro bank dan swasta sebesar Rp4,7 triliun. "Selama minggu lalu ada potensi likuid sebesar Rp100 triliun," tegasnya.
Sebelumnya pada minggu lalu nilai tukar rupiah karena krisis Yunani dan kebijakan Bank Sentral dunia menaikkan suku bunga.
Menurut Direktur Direktorat Pengelolaan Devisa BI Rasmo Samiun menjelaskan Rupiah bisa berpeluang menembus level Rp8.000. Namun peluangnya untuk melampaui level Rp8.800-Rp8.700 cenderung agak susah.
"Level Rp8.800-Rp8.700 per USD sudah cukup kuat. Tapi untuk menembus level itu cukup susah," katanya.
Selama ini rupiah telah menguat di kisaran Rp9.000 per USD. Hal itu cukup berpeluang menguat cukup panjang. Masalahnya, dengan penguatan rupiah tersebut apakah berdampak pada penguatan impor barang modal atau barang konsumsi. Sehingga membuat neraca pembayaran (balance of payment/BOP) cenderung tidak kondusif.
"Kini harus dilihat apakah penguatan tersebut berdampak pada penguatan impor. Apalagi diperkirakan akan meningkat hingga akhir semester I atau awal semester II ini," pungkasnya.
Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, Rupiah menguat di level Rp9.070 dari posisi kemarin di level Rp9.090 per USD.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.