Bermodal Rp3 Juta, Meraup Keuntungan Rp120 Juta

Wilda Asmarini, Jurnalis · Minggu 11 April 2010 14:22 WIB
https: img.okezone.com content 2010 04 11 22 321398 SeuJbSlPsA.jpg Foto: Koran SI

JAKARTA - Memulai bisnis baru ternyata tidak harus melulu dengan memproduksi barang baru. Anda bisa memulainya dengan mengemas kembali produk yang sudah jadi.

Seperti yang dilakukan Susanthi Dewi. Perempuan berkacamata ini justru melihat bisnis kemasan sebagai peluang besar dan menjanjikan. Dengan hanya bermodalkan Rp3 juta pada tiga tahun lalu, Susan memulai bisnis souvenirnya ini. Mulanya ide pembuatan souvenir ini datang dari keterampilan yang dimiliki temannya.

Susan melihat temannya ini memiliki potensi cukup besar dan bila ia diberi modal yang cukup untuk mengembangkan keterampilannya itu maka akan menjadikan keterampilannya itu sebagai sesuatu yang mendatangkan keuntungan besar.

"Saya punya teman yang rajin dan punya keterampilan serta pengalaman sebagai pengrajin berbagai produk. Tapi saya rasa kok dia tidak fokus ya menjalankan pekerjaannya itu. Saya lihat dia punya kemampuan, lalu saya ajak dia untuk fokus berbisnis di bidang souvenir ini. Saya bantu dalam permodalan," tutur Susan saat ditemui okezone di pameran Pesta Wirausaha 2010 di Balai Kartini, Sabtu (10/4/2010).

Ternyata kecermatan perempuan berkerudung ini dalam membaca peluang sangat tepat. Putusannya untuk menggaet rekannya itu ternyata tidak sia-sia. Dari mulanya hanya mengeluarkan modal Rp3 juta pada tiga tahun lalu, kini bisnis souvenirnya ini telah mendatangkan Rp120 juta per bulan. Wow, bayangkan berapa kali lipat hasilnya!

Padahal, bisnis yang dia kembangkan hanyalah dengan mengemas kembali barang-barang yang sudah jadi di pasaran. Misalnya souvenir kupu-kupu. Dia membeli hiasan kupu-kupu yang dijual di pasar, lalu dia membelinya dan dikemas kembali dalam bentuk yang unik dan lucu.

"Awalnya sih saya membeli hiasan kupu-kupu, lalu saya kemas lagi agar lebih menarik dan unik," ujarnya.

Meski di awal produk bisnis souvenirnya itu hanya berupa kemasan kupu-kupu, tapi saat ini dia telah menghasilkan ratusan produk.

Sebut saja seperti souvenir handuk mini yang dikemas dalam berbagai bentuk menjadi bolu panel, bolu cup, bolu pita, hati, hati panel, matahari, es krim, permen lolypop, muffin, hingga roll cake. Untuk satu jenis bahan handuk mini ini saja bisa diolah menjadi 14 bentuk. Belum bahan souvenir lainnya, seperti bahan tikar, mute, kipas, nampan, gelas, sendok-garpu, hingga keramik.

Untuk yang terbuat dari bahan tikar, dia bisa mengolahnya menjadi enam bentuk kemasan, seperti tempat tissue, tempat telepon genggam pita, tempat telepon genggam matahari, tempat koin, tempat tusuk gigi, dan tanggalan. Mulai dari cincin, gelang, dan sebagainya. Dari ukuran kecil hingga besar, dari berbentuk persegi, kristal sabit, hingga kristal anggur.

Karena dia memutuskan untuk berbisnis di bidang souvenir ini, maka Susan mengaku tidak bisa memasarkannya kepada konsumen langsung.

Dia memilih untuk bekerja sama dengan sejumlah agen souvenir lainnya maupun percetakan undangan atau pengelola pernikahan (wedding organizer) yang biasanya memang sudah memiliki paket pernikahan, termasuk souvenir.  Untuk agen, dia menjualnya ke sejumlah toko grosiran yang terdapat di pusat perdagangan grosir di Mangga Dua dan Jatinegara, Jakarta.

"Kami masih menjual produk kami ini di sejumlah agen seperti di toko-toko grosiran. Karena selama ini pembeli kan lebih banyak yang mencari dan membeli souvenir di pusat-pusat grosiran, seperti di Mangga Dua dan Jatinegara. Kami sudah bekerja sama dengan hampir 10 agen ya," ungkap perempuan yang juga memiliki usaha web hosting ini.

Meski demikian, dia menuturkan kini usaha "Istana Souvenir" itu akan merambah ke sejumlah daerah seperti Cirebon dan Semarang. Bahkan, guna melancarkan promosi usahanya ini, dia turut memanfaatkan media internet sebagai media pemasaran.

"Sekarang kami juga sudah membuat website supaya bisa langsung berhubungan dengan konsumen dan memperluas pasar kami," tuturnya.

Bahkan, menurutnya ikut serta dalam ajang-ajang pameran wirausaha juga cukup bermanfaat sebagai ajang promosi usahanya itu. "Ini baru kali pertama saya ikut pameran, nanti mau coba ikut lagi kalau ada pameran-pameran berikutnya," tukasnya.

 

Meski mengaku laba bersihnya hanya sekira 35 persen dari total pendapatannya itu, tapi tetap saja bisnis rumah tangga (home-made) ini turut membantu orang lain meningkatkan taraf hidupnya. Hingga saat ini, Susan mengatakan, jumlah karyawannya telah mencapai 60 orang.

Dari 60 karyawannya itu, beberapa di antaranya merupakan sekumpulan keluarga. Namun bukan berarti mereka terletak pada satu lokasi yang sama. Ternyata, Susan mengatakan, lokasi produksi usaha souvenirnya ini berada di dua tempat berbeda, yaitu di Pondok Kopi dan Klender, Jakarta Timur.

"Di Pondok Kopi itu tempat pengrajinnya. Kalau yang di Klender itu tempat packing (pengemasan)-nya. Untuk bayaran setiap karyawan itu beda-beda ya, tergantung berapa jumlah produk yang mereka kemas," katanya.

Walau bisa dikatakan sudah sukses merintis bisnis souvenirnya ini, Susan mengatakan usahanya ini tak terlepas dari sejumlah kendala. Salah satu kendala yang dia sering hadapi yaitu masalah keagenan. Dia mengaku walau telah bekerja sama dengan hampir 10 agen di Jakarta, marjin atau keuntungan yang diperolehnya itu masih kecil,

Sedangkan sang agen memiliki keuntungan yang lebih besar lagi saat menjualnya langsung ke konsumen. "Kendalanya sih seputar keagenan ya. Kalau keagenan itu kan marjinnya tipis, sedangkan agen menjual ke konsumennya kan lebih besar lagi," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, dia kini berusaha memperluas pangsa pasar ke luar kota. "Kami kan juga harus tetap menjaga etika bisnis. Kalau kami langsung menjual ke konsumen di Jakarta, rasanya tidak enak dengan agen-agen yang telah bekerja sama dengan kami sekian lama. Untuk itu, kami coba untuk mencari pasar baru di daerah-daerah," jelasnya.

Meski usahanya kini telah memiliki banyak kemajuan dibandingkan saat dimulai dulu, namun Susan mengatakan tidak akan berhenti untuk mengembangkan bisnis souvenirnya itu. Kini dia berencana untuk mencari informasi mengenai kredit usaha kecil menengah (UKM) yang telah dicanangkan pemerintah dengan sejumlah bank.

"Sampai saat ini saya belum pernah meminjam kredit usaha ke bank. Tapi sekarang saya tertarik untuk mencari informasi tentang kredit UKM supaya bisa mengembangkan usaha saya ini lagi," ungkapnya.

Jadi, bagi Anda yang kini tengah memikirkan bisnis apa yang akan Anda lakukan, mungkin kisah bisnis kemasan souvenir Susanthi Dewi ini bisa menginspirasikan Anda. Perlu diingat, untuk memulai bisnis, jangan terlalu sibuk memikirkan ide baru. Cukup dengan meniru yang sudah ada dan mengembangkannya dari sekarang, Anda sudah bisa mulai berbisnis. Siapa tahu akan mendatangkan keuntungan yang tak terduga.

Sebagai informasi, Susan berusia 35 tahun, memiliki empat orang anak. Suami beliau, Nasirudin melakukan bisnisnya web hosting, dengan nama eazysmart.com. Bisnis souvenir ini, berawal hanya satu orangg dengan melibatkan pengrajin sekira 10 orang, sekarang emapy orang dengan jumlah pengrajin 60-80 orang.

(css)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini