nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menjual Keunikan Buku Bekas

Bernadette Lilia Nova, Jurnalis · Minggu 09 Mei 2010 13:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2010 05 09 22 330798 81BSDom3Pc.jpg Foto: Koran SI
JAKARTA – Identik dengan buku-buku bekas bernuansa sastra, seni dan budaya, Galeri Buku Bengkel Deklamasi, ternyata terkenal di luar negeri. Konsep ini, bahkan diadopsi di beberapa daerah di Indonesia.

Keunikan dari buku bekas inilah yang juga membawa kebanggaan pemilik galeri karena pernah suatu waktu 500 koleksi bukunya dibeli untuk koleksi sebuah museum di Inggris. Ini karena buku-buku di toko ini berbeda dari toko buku konvensional lainnya, termasuk tata letaknya yang terbilang sederhananya.

Jika Anda penasaran, tidak ada salahnya berjalan-jalan di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Di tempat inilah galeri buku itu berada. Bagi penyuka seni dan pertunjukan sastra, TIM merupakan lokasi favorit buat melepas kepenatan setelah seharian beraktivitas. Bagi penyuka buku-buku lawas, Galeri Buku bengkel Deklamasi juga bisa menjadi pengobat rindu.

Letaknya di bagian paling pojok sebelah kanan dari arah depan pusat kesenian bersejarah itu, membuat toko buku ini mudah ditemui. Jika datang ke lokasi, pengunjung biasanya akan disambut seorang laki-laki paro baya berambut panjang. Dia adalah Jose Rizal Manua, yang dikenal sebagai pemilik Galeri Buku Bengkel Deklamasi itu. Dia menuturkan bahwa toko bukunya itu memiliki cerita yang panjang sebelum resmi dibuka.

Menurut Jose, demikian dia akrab disapa, toko buku itu dibuat karena pengalamannya menjelajahi berbagai belahan dunia serta darah seni yang mengalir di tubuhnya. Pria yang juga dikenal sebagai sutradara teater anak, dan Teater Tanah Air itu menambahkan, karena kecintaannya terhadap seni pula sehingga dia berpikiran membuka toko buku itu.Tak heran, jika galeri buku miliknya identik dengan buku-buku sastra, kesenian dan budaya.

”Galeri buku ini terinspirasi ketika saya berada di New York, Amerika tahun 1988-an bersama WS Rendra (penyair, almarhum). Selain buku bekas ada juga buku baru,”ujar Jose saat ditemui di galerinya belum lama ini.

Waktu di New York, lanjut dia, dirinya menyaksikan begitu banyak second hand book store (toko buku bekas) yang menjual beraneka ragam buku. Dan, itu bisa ditemukan di berbagai sudut kota. Setelah menyelesaikan kunjungannya ke New York, Jose lalu mulai berencana mengadaptasi sebuah second hand book store dengan lokasi di pusat kebudayaan Jakarta.

Karena menurutnya belum ada satu pun penjual buku bekas yang berdiri apik dengan format toko. Sekembali ke Jakarta,ide yang didapatnya di New York kemudian dibawanya menghadap ke Gubernur DKI Jakarta saat itu, Suryadi Sudirja. Setelah menghadap gubernur, Jose akhirnya diminta untuk membuat desain toko dan memilih lokasi di TIM. ”Ternyata ide saya diterima gubernur waktu itu,” ujarnya.

Selain mendapatkan ide mendirikan second hand book store dari New York, di kota itu pula Jose membeli banyak buku, bahkan buku yang dibelinya mencapai tiga koper. ”Sampai over weight di pesawat dan WS Rendra marah-marah, karena dia tidak bisa titip membeli buku,”kenang Jose. Dengan sebuah toko dan bukubuku yang dibelinya di New York ditambah ribuan buku koleksi pribadi, akhirnya Galeri Buku Bengkel Deklamasi resmi berdiri 28 April 1996 bersamaan dengan digelarnya acara Mengenang Wafatnya Chairil Anwar.

Saat itu WS Rendra membacakan puisi-puisi Chairil selama tiga hari. Banyaknya buku sastra, seni dan budaya yang dikoleksi Galeri Buku Bengkel Deklamasi, membuat toko buku ini dikunjungi berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari masyarakat umum, seniman, mahasiswa hingga politikus. ”Dalam sehari, pengunjung bisa 50-100 orang,bahkan ada juga peneliti yang membeli buku,” tandasnya.

Sejak Galeri Buku Bengkel Deklamasi berdiri,hal yang paling membanggakan kata Jose, adalah mulai bermunculannya toko-toko buku serupa di daerah lain di Indonesia dengan mengambil contoh dari Galeri Buku Bengkel Deklamasi.

Bahkan di daerah seperti di Pekanbaru dan Riau, toko buku bernuansa budaya dibangun dan dikelola oleh dewan kesenian daerah. Di Riau atau di Dewan Kesenian Riau (DKR), telah dibuka toko buku yang dinamakan Galeri Buku Ibrahim Sattah.Di sini dijual bukubuku sastra Melayu dulu dan kontemporer, seperti karya-karya sastrawan di Riau, Malaysia, dan Singapura.

”Itu yang membuat gembira, format toko buku seperti ini sudah menular ke daerah-daerah,” tambah Jose. Ya,gaya bisnis Jose memang cukup unik.Sambil menularkan hobi, dia sekaligus meraup untung dari buku bekas. Sebagai gambaran, kata dia, penjualan buku di galerinya bisa mencapai Rp200 ribu-Rp500 ribu setiap harinya.

(css)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini