nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

AS-China Fokus Soal Pekerjaan & Ekonomi

Ade Hapsari Lestarini , Jurnalis · Sabtu 15 Mei 2010 15:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2010 05 15 213 332915 PpHb7ZWXhL.jpg Ilustrasi. Foto: Koran SI

WASHINGTON - Duta besar Amerika Serikat (AS) yang bertandang ke Beijing mengatakan bahwa kunci pembicaraan antara AS-China akhir bulan ini akan fokus pada pekerjaan dan vitalitas ekonomi sebagai transformasi ekonomi China yang bersejarah untuk merangsang ekspor AS.

"Pekerjaan dan vitalitas ekonomi akan menjadi pusat dari dialog ekonomi yang strategis," tukas Duta Besar AS Jon Huntsman mengatakan kepada wartawan di depan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dalam perjalanannya ke China, seperti dilansir dari AFP, Sabtu (15/5/2010).

Seperti diketahui, Kepala diplomat AS dan Menteri Keuangan Timothy Geithner akan mengadakan dialog dengan rekan-rekan mereka di Beijing China pada 24-25 Mei setelah Clinton menghabiskan beberapa hari di Shanghai untuk China World Expo.

"China sedang mengalami transformasi ekonomi bersejarah karena mereka berusaha untuk menciptakan jaring pengaman sosial yang akan memungkinkan mereka untuk berpindah dari sistem berbasis ekspor-sistem yang lebih berbasis konsumen. Kami mengekspor lebih banyak ke China," kata Huntsman.

Kendati demikian, Clinton dan Geithner tetap akan berkunjung ke China di tengah masih bergemuruhnya atas kekuatan mata uang China. Geithner terus berupaya untuk membujuk China untuk membiarkan yuan menguat terhadap dolar. Kritikus Beijing mengatakan, mata uang China dihargai sebanyak 40 persen, di mana membuat ekspor kompetitif artifisial.

Geithner sendiri telah dihindari tuntutan riuh dari Kongres untuk sanksi AS terhadap China untuk manipulasi mata uang, dan lebih memilih diplomasi yang tenang. Sementara itu, Huntsman mengatakan, kedua negara telah menempatkan ketegangan mereka di belakang yang katanya muncul dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Sebelumnya, Washington marah kepada Beijing pada Januari karena menyetujui penjualan senjata sebesar USD6,4 miliar ke Taiwan, dan sekali lagi ketika Presiden Barack Obama bertemu dengan Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet, di Gedung Putih pada Februari.

"Perginya kami kadang-kadang melalui beberapa bulan kesulitan dan tantangan dalam hubungan AS-China, berdasarkan keputusan tertentu yang dibuat oleh AS. Ini adalah sejarah. Kami sekarang pindah ke apa yang saya pikir merupakan fase yang sangat berbeda dari hubungan itu," pungkasnya.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini