nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hubungan China-AS Semakin Erat

Koran SI, Jurnalis · Selasa 25 Mei 2010 07:50 WIB
https: img.okeinfo.net content 2010 05 25 213 336008 25fpmKCKg2.jpg Foto: Corbis

BEIJING - Pemerintah China menyatakan akan meningkatkan upaya dalam mendorong konsumsi domestik serta mempromosikan keseimbangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).

“Kami juga menolak segala bentuk proteksionisme dan akan menambah koordinasi ekonomi dan bekerja sama untuk mendukung pemulihan ekonomi yang menyeluruh,” kata Presiden China Hu Jintao saat membuka pertemuan bilateral antara China-AS di Beijing kemarin.

Kendati demikian, China tidak secara spesifik menyatakan akan mengubah kebijakan nilai tukar yuan yang dalam setahun terakhir dikritisi oleh mitra dagangnya, AS.

Hu hanya menegaskan bahwa dua negara kuat yakni AS dan China perlu berkoordinasi terkait kebijakan ekonominya. “China akan melanjutkan reformasi nilai tukar yuan yang kini stabil dengan mengacu pada prinsip independen, terkontrol, dan dilakukan secara bertahap,” tambah Hu.

Pernyataan tersebut merupakan reaksi atas desakan AS yang menginginkan China melepas patokan yuan dari nilai saat ini 8,6 per dolar AS (USD) atau USD0,14 per yuan.

AS beranggapan rendahnya nilai tukar yuan menjadi pemicu besarnya defisit perdagangan AS terhadap China dan harga barang-barang dari AS kalah bersaing dengan produk Negeri Panda.

Menteri Keuangan AS Timothy Geithner yang mendapat giliran berbicara sebelum Hu menyatakan, kedua negara akan menyepakati level perdagangan seperti yang diharapkan AS sebelumnya.

AS sangat menyambut baik keterbukaan yang ditawarkan China. Geithner yang bersama Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton memimpin delegasi AS juga meminta kepada Beijing untuk bekerja sama mengurangi hambatan perdagangan dan membangun keseimbangan ekonomi global. “Kami juga mengapresiasi langkah China yang akan mempertimbangkan reformasi nilai tukar karena ini bagian dari agenda bersama,” katanya.

Sementara itu, Wakil Kepala Komisi Nasional Reformasi dan Pembangunan China (NDRF) Zhang Xiaoqiang menyatakan, diskusi pada pertemuan AS-China tersebut akan membahas euro yang kini sedang bergejolak, bukan yuan seperti desakan AS.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Gubernur Bank Sentral China Zhou Xiaochuan yang menyatakan bahwa krisis Eropa harus menjadi perhatian kendati diperkirakan dampaknya terbatas. “Secara umum pandangan kami terhadap pemulihan ekonomi global akan tetap terjaga,” kata Zhou.

Media Pemerintah China juga menyatakan bahwa kenaikan nilai tukar yuan tidak akan membantu ekonomi AS memerangi defisit perdagangannya. Sekadar diketahui, defisit perdagangan AS ke China tahun lalu mencapai USD226,8 miliar, turun dari rekor 2008 yang mencapai USD268 miliar.

Menteri Perdagangan China Chen Deming menyatakan, pihaknya optimistis bahwa AS akan kehilangan kontrol produk-produk teknologi tinggi sehingga akan mengubah kebijakan pada sektor usaha kecil untuk menyeimbangkan perdagangannya.

Di Washington, Presiden AS Barack Obama menyatakan dukungannya untuk mereformasi sistem keuangan seperti yang sudah disepakati Kongres pekan lalu.

Menurut Obama, dukungan tersebut muncul karena dia melihat adanya upaya dari institusi keuangan di Wall Street untuk menjegal upaya reformasi keuangan dan memengaruhi para pembuat kebijakan. ”Industri keuangan tidak akan menyerah,” tulis Obama pada situs Organizing for America, Minggu (23/5).

”Mereka telah menghabiskan lebih dari USD1 juta per anggota Kongres untuk melobi masalah ini dan dalam beberapa hari mendatang. Mereka akan memperlemah atau bahkan membunuh reformasi karena mereka tidak terbiasa dengan kehilangan,” kata Obama.

Pekan lalu Senat AS menyetujui proposal reformasi keuangan yang diajukan pemerintah melalui voting dengan jumlah suara 59:39 suara. Disetujuinya proposal itu menandakan upaya perbaikan di sektor keuangan AS segara dilakukan untuk mencegah krisis seperti pada dua tahun silam.

“Ini pilihan antara belajar dari kesalahan di masa lalu atau membiarkannya (krisis) akan terjadi lagi,” kata Pimpinan Senat Mayoritas Harry Reid seusai pemungutan suara pekan lalu.

Kebijakan baru yang disepakati senat termasuk di antaranya mengubah aturan bisnis hipotek, sekuritas/investasi, perbankan komersial, dan lembaga keuangan asuransi. Kebijakan baru yang disepakati akan mengatur koordinasi antara Bank Sentral AS,Biro Perlindungan Konsumen, Otoritas Bursa AS (SEC), dan Biro Pembiayaan Perumahan. (yantokusdiantono)

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini